Monday, April 22, 2019

Jangan Lalai, teruslah tingkatkan taqwa



Setiap orang pasti memiliki keinginan yang sama untuk selalu terhindar dari berbagai kecelakaan. Bahkan, mungkin tidak seorang pyang memohon secara diam-diam agar Allah Swt. menimpakan kecelakaan atasnya. Karena itu, berbagai cara dilakukan agar kita tidak ditimpa nasib sial berupa kecelakaan, minimal dengan berdoa.

Image result for muslim bergosip
Kalau kita melintas di jalan-jalan raya, maka kita selalu berpapasan dengan rambu-rambu lalu lintas. Tujuan dibuatnya rambu-rambu lalu lintas tersebut tidak lain agar setiap pengendara berlaku disiplin dalam perjalanan. Sehingga, dari kedisiplinan itu tercipta situasi ama, terutama aman dari kecelakaan.

Namun, keberadaan rambu-rambu lalu lintas sebenarnya menghadirkan sebuah ironi, yakni bahwa di jalanan kita sesungguhnya berada dalam situasi yang selalu terancam kecelakaan. Karenanya, dibuatlah rambu-rambu itu. Pada saat mengendarai kendaraan, kita bisa mengalami dua kemungkinan untuk celaka; menabrak atau dirabrak orang lain. Saat kita menabrak , penyebabnya bisa karena kita lalai atau orang yang tertabrak itulah yang lalai. Maka, di sini kelalaian merupakan salah satu factor bagi terjadi atau tidaknya suatu kecelakaan.

Sering kali, kita menyaksikan terjadinya kecelakaan tragis yang menguras air mata. Tabrakan maut, kecelakaan pesawat, kapal tenggelam, dan lain sebagainya. Akibat peristiwa kecelakaan itu, banyak orang yang harus terpisah dari orang tersayang mereka. Kesedihan dan kepiluan begitu mengharu biru. Dan, penyebab dari semua kejadi tersebut sering kali berasal dari kelalaian.
Maka, sungguh hebat akibat dari kelalaian itu, yang menimbulkan kecelakaan-kecelakaan bagi manusia itu. Mungkin saja, tidak terperikan rasa sakit, duka-cita, dan penderitaan yang dirasakan oleh mereka yang mengalami kecelakaan-kecelakaan semacam itu.

Meskipun demikian, dalam kehidupan ini, peristiwa kecelakaan (Khususnya kecelakaan fisik)  yang kita alami bukanlah suatu hal yang harus dirisaukan sedemikian rupa. Kita boleh sedih saat tertabrak kendaraan sampai kaki atau tangan kita patah, misalnya. Itu manusiawi. Tetapi, hancurnya fisik akibat kecelakaan-kecelakaan semacam ini sama sekali tidak membuat hancur reputasi kemanusiaan kita di hadapan Allah Swt. dan sasama, selagi kita mampu mengolah sesuatu yang paling sejati dari diri kita.

Allah Swt. tidak akan memandang kita jelek hanya karena fisik kita rusak oleh sebuah peristiwa kecelakaan. Mengapa? Sebab, pada dasarnya terdapat jenis-jenis kecelakaan yang secara fisik tidak menimbulkan kecacatan, namun secara hati ruhani dan batin justru membuat reputasi kemanusiaan kita “rusak”, “cacat”, dan “jelek” di hadapan Allah Swt.

Salah satu macam kecelakaan ialah keras hati. Dan, termasuk hati yang keras adalah yang selalu diliputi kelalaian. Kita shalat, tetapi hati kita sama sekali tidak terlibat di dalamnya. Kita mengucap kalimat takbir, tasbih, tahmid, dan tahlil, namun hati kita dibiarkan terjerumus dalam persoalan-persoalan remeh-temeh dari kehidupan dunia. Ucapan “Allahu Akbara” yang setiap hari kita kumandangkan tak membuat hati kita tawadhu’, merendahkan hati serendah-rendahnya di hadapan keagungan dan kemahabesaran Allah Swt. Sehingga, kita selalu menyimpan kesombongan seiring mulut kita mengucap takbir.  Kita berdoa, namun hati kita tidak benar-benar merasakan dan menghayati posisi Allah Swt. di hadapan doa-doa kita. Apakah kita benar-benar menempatkan-Nya sebagai penentu utama dari terkabulnya doa kita atau hanya sekadar sampingan karena kita sebenarnya lebih percaya pada kekuatan, keterampilan, relasi, dan kepandaian diri sendiri daripada kuasa-Nya?

Rasulullah Saw. Bersabda, “Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi).
Lalai dalam berdoa bisa berarti kita tidak serius dalam meminta, tidak paham makna doa yang kit abaca, atau tidak memahami hal utama yang harus kita prioritaskan dalam doa-doa kita; urusan akhiratkah atau semata-mata urusan dunia?
Lalu, mata yang keras juga termasuk jenis kecelakaan yang lain. Mata yang keras maksudnya mata yang sulit sekali menangis sebagai wujud dari penyesalan yang luar biasa atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat.

Mata yang sulit menangis disebut kecelakaan karena mata merupakan salah satu organ yang sangat dominan dalam membuat kita lalai kepada Allah Swt. Melalui mata, kita kerap kali menyaksikan kemaksiatan-kemaksiatan, lebih memilih melihat hal-hal yang diharamkan daripada membaca ayat-ayat-Nya, serta lebih banyak terlelap daripada terjaga dan hanyut dalam dzikir kepada-Nya.

Ketika hati sudah sedemikian lalai dari Allah Swt. dan mata kita tidak mampu melihat hakikat kebenaran yang diturunkan, maka yang terjadi adalah hilangnya kejernihan dan kesucian. Tindakan kita lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan hawa nafsu daripada mengikuti ketaatan kepada-Nya. Puncaknya adalah kecenderungan untuk selalu melampaui batas, tamak, serakah, dan lebih banyak terbuai dalam lautan angan-angan daripada bertindak dalam kenyataan.
Sesungguhnya, muara dari terjadinya kecelakaan itu hanyalah satu, yaitu hati yang keras dan lalai, hati yang tinggi terhadap dunia, hati yang dibiarkan tidak terisi dengan pelajaran-pelajaran berharga, serta hati yang tidak terlatih agar selalu tergetar melihat tanda-tanda kekuasaan Allah Swt.

Thursday, April 18, 2019

Dekatilah Allah Swt. dengan Dzikir



Bagi orang yang hatinya benar-benar beriman kepada Allah Swt., tidak ada sesuatu yang membahagiakan bagi mereka, kecuali mendekatkan diri dengan Allah Swt. Tidak ada yang lebih diburu bagi orang yang khusyuk, selain “bermesraan” dengan-Nya. Orang-orang seperti ini  tidak bisa lepas dari Allah Swt. Tiap tarikan dan hembusan napasnya senantiasa berdzikir, mengingat Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Image result for muslim bergosip
Kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya merupakan peristiwa luar biasa yang tidak bisa dilukiskan oleh kalimat apa pun. Kata-kata tak akan pernah sanggup merangkum dan menggambarkan seperti apa nikmatnya hati yang selalu dekat dengan-Nya. Maka, tidak heran kalua orang yang hatinya sekali saja merasakan suasana kedekatan dengan Allah Swt., maka orang itu akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk bisa kembali merasakan suasana taqarrub seperti itu.efek dari hati yang dekat dengan Allah Swt. akan memunculkan energy yang berlimpah. Energy inilah yang digunakan untuk melakukan perbuatan (Ibadah) sebanyak-banyaknya, yang dengannya seseorang dapat terus menjaga suasana kedekatannya dengan Allah Swt. rasulullah Saw. Bisa melakukan shalat semalam suntuk sampai kedua kaki beliau bengkak tidak lain karena beliau memiliki energy yang kuat akibat dekatnya dengan Sang Maha Pencipta.

Sebagai sebuah ilustrasi, cobalah Anda kembali ingat masa-masa Anda pernah jatuh cinta kepada seseorang. Ketika Anda berada di dekat orang tersebut, maka Anda tak akan memiliki rasa lelah sedikit pun. Anda akan selalu siap menemani ngobrol kekasih hati Anda semalam jika ia memang meminta Anda melakukan itu.

Nah, hati yang dekat dengan Allah Swt. jauh lebih dahsyat kesan dan pengaruhnya. Mengapa demikian?  Sebab, Allah Swt adalah Dzat Yang Maha Cinta, dan Dia akan jauh lebih besar mencurahkan cinta-Nya kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang juga menaruh rasa cinta kepada-Nya. Rasulullah Saw. Pernah menegaskan bahwa siapa pun yang berjalan menuju Allah Swt., maka Dia akan “Berlari” menyambutnya.

Pembuktian utama dari rasa cinta kita kepada Allah Swt. adalah pembuktian dalam hati. Itu sebabnya, Allah Swt. tidak peduli bentuk dan rupa hamba-hamba-Nya, karena yang Dia utamakan adalah hati dan perbuatan dari para hamba-Nya itu. Ingat, bahwasanya poin utama di sini adalah hati, kemudian perbuatan. Bukan sebaliknya.

Jika hati kita benar-benar cinta dan dekat dengan Allah Swt., maka kita akan terobsesi untuk melakukan amal ibadah sebanyak-banyaknya sebagai bukti rasa cinta kita kepada-Nya. Karena hati sudah begitu cinta dan dekat dengan Allah Swt. Abu Bakar ash-Shiddiq rela menyerahkan seluruh harta kekayaannya. Dan, kita akan tercengang mendengar jawabannya yang penuh cinta ketika ditanya oleh Rasulullah Saw. Tentang nasib keluarganya jika seluruh hartanya diserahkan di jalan Allah Swt.
“Urusan keluargaku, aku serahkan kepada Allah.” Itulah jawaban Abu bakar.
Ya. Begitulah hati yang selalu dekat dengan Allah Swt. dan diliputi oleh rasa cinta kepada-Nya. Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah hati kita telah sepenuhnya berpaut dekat dengan Allah Swt? Ataukah sebaliknya, kita malah semakin terobsesi untuk mendekatkan hati kita kepada selain-Nya? Entah harta, jabatan, dan lain sebagainya.

Kita memang tidak mungkin menjadi Abu Bakar ash-Shiddiq, apalagi menyamai Nabi Muhammad Saw. Tetapi, kita masih memiliki kesempatan untuk meniru dan meneladani semangat mereka yang memiliki hati penuh cinta dan begitu dekat dengan Allah Swt. Saat ini, hati kita mungkin sedemikian jauhnya dari Allah Swt. sehingga menyebabkan kita terlena dan menikamti kemaksiatan-kemaksiatan setiap saat.

Maka, alangkah bijak apabila kita belajar mencurigai hati kita sendiri setiap detik. Meneror hati sendiri, atau tidak memberinya kesempatan untuk senantiasa lupa kepada Allah Swt. Mencurigai hati sendiri merupakan sikap berupa tidak boleh menaruh kesimpulan-kesimpulan di dalam hati bahwa kita adalah manusia suci, paling benar, paling diampuni dosanya, dan paling dijamin masuk surga.
Jika kecurigaan-kecurigaan kepada hati kita sudah hilang, dan berganti dengan kesimpulan-kesimpulan yang diyakini sepenuhnya bahwa kesimpulan kita atas diri kita sendiri itu pasti benar, maka hilanglah cinta itu dari dalam hati kita. Kita akan memandang orang lain dengan pandangan sinis karena mereka pasti kita yakini banyak dosa, banyak tidak benarnya, manusia kotor, dan tempatnya di neraka.

Haruslah kiranya kita selalu mengingat bahwa sejatinya kita tidak memiliki kemampuan apa pun untuk mengontrol dan menetapkan kondisi hati sendiri. Hati bisa dengan cepat mengalami perubahan dari yang semula baik dan khusyuk menjadi buruk dan liar. Baik-buruknya hati tidak bisa kita rekayasa, bahkan dengan kecerdasan intelektual kita sekalipun. Ilmu hanyalah alat untuk mendeteksi hati, memberikan pengertian dan informasi tentang sesuatu yang seharusnya dilakukan atau ditinggalkan. Sementara, selamat atau tidaknya hati itu sepenuhnya bergantung pada pertolongan Allah Swt.

Kita harus senantiasa memohon kepada Allah Swt. agar hati kita tidak keras; keras dari keengganan menerima iman, Islam, nasehat yang baik, ilmu, khusyuk, meskipun sering kali kita mendengar peringatan tentang alam kubur dan akhirat. Begitu berbahaya apabila hati kita benar-benar menjadi keras. Sebab, dengan itu, kita justru menjadi jauh dari Allah Swt.
Jauh dari Allah Swt. menunjukkan kondisi kita terus berkubang di dalam kegelapan, kekeliruan, dan kemaksiatan yang semuanya justru kita anggap sebagai kewajaran atau bahkan kebenaran. Karena itu, Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad menganjurkan agar kita membaca sebuah doa berikut:
“(Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 8)

Monday, April 15, 2019

Jagalah Baik-baik Hati Kita


Agar hidup kita tidak berjalan dan berujung kesia-siaan, tidak ada salahnya bila kita mencoba melakukan permenungan-permenungan tentang siapa diri kita yang sebenarnya. Perlu kita bertanya, dari mana kita berasal, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup, dank e mana kita akan menuju agar hidup kita memiliki visi-misi yang jelas sebelum ajal menjemput kita?

Inilah beberapa hal yang parlu kita renungkan tentang diri kita yang sebenarnya agar keberadaan dan hidup kita menjadi benar-benar lebih berarti:
Image result for muslim bergosip
Di hadapan Allah Swt., tidak berlaku lagi segala bentuk materi dunia bila tidak disikapi dan digunakan sesuai dengan yang diperintahkan-Nya. Segala hal yang selama ini kita banggakan, baik pangkat, kedudukan, harta, ataupun keelokan akan sirna dan benar-benar tidak berharga. Jika selama ini kita cenderung mendewakan harta kekayaan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat menjadikan kita terlihat mulia, maka di hadapan-Nya semua itu akan terperosok ke dalam ketidakberartian

Bagi Allah Swt. keelokan fisik tidak masuk dalam perhitungan-Nya. Dia tidak memberikan penilaian terhadap manusia berdasarkan ketampanan rupa, bagusnya pakaian, banyaknya harrta kekayaan, atau tingginya pangkat maupun jabatan. Tetapi sebaliknya, Allah Swt. menilai manusia berdasarkan kualitas hatinya, bagus tidaknya jiwa, benar atau bejatnya akal pikiran dan perbuatan.

Rasulullah Saw. Menegaskan dalam salah satu sabdanya bahwa Allah Swt. sama sekali tidak menilai bentuk rupa dan kekayaan seseorang, melainkan hatinya. Allah Swt. menjadikan hati manusia sebagai focus dari pandangan-Nya, karena inti dan sejatinya seorang manusia itu terletak pada hatinya. Di dalam hati yang bersih itulah, ketakwaan berada.
Namun, sayangnya, manusia lebih memilih untuk menata wajah dan keelokan penampilannya ketimbang berpikir untuk memperbaiki kualitas hati dan batinnya. Padahal, berkonsentrasi untuk hanya memperbaiki penampilan fisik, efeknya hanyalah dilihat manusia, dipuji oleh sesame kita sendiri. Tetapi sebalikya, berusaha memperbaiki kualitas hati, efeknya adalah kita menjadi pusat perhatian Allah Swt. manakala yang kita inginkan; menjadi pusat perhatian manusia yang nisbi atau menjadi perhatian Allah Swt. yang hakiki?

Maka, sesungguhnya ironis apabila manusia berlomba membangun pusat-pusat kebugaran fisik, tanpa pernah berpikir untuk membugarkan hatinya. Dan, sungguh disayangkan apabila dengan itu, manusia masih beranggapan bahwa dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Seorang koruptor itu memiliki tubuh yang sehat. Tetapi, tubuh fisiknyayang sehat itu ternyata tidak pararel dengan kondisi hati dan batinnya, sehingga kesehatan fisik yang mereka miliki tidak menyebabkna lahirnya tindakan dan sikap-sikap yang juga “sehat”.
Harus disadari bahwa hati adalah dasar, landasan, atau cermin yang dapat menyadarkan seseorang tentang bagaimana ia harus bersikap. Itu sebabnya, para ulama berkata, “Luruskan ucapanmu dengan perbuatan. Luruskan perbuatanmu dengan niat. Luruskan niatmu dengan keikhlasan. Dan perlu diketahui bahwasanya niat dan keikhlasanmu dibenarkan oleh hatimu.”

Sekali lagi, hati adalah muaranya. Manusiatidak akan melakukan pelanggaran jika ia menjadikan hatinya (jiwa, batin) sebagai tempat untuk meminta pertimbangan. Hai adalah sesuatu yang menjadi pusat perhatian Allah Swt. Karena itu, menjaga dan merawat hati sama halnya dengan menjaga perhatian-Nya agar selalu tertuju kepada kita. Jika kita merawat hati dengan baik, perhatian Allah Sw. juga akan terawatt dengan baik. Dan, apabila perhatian Allah Swt. sudah kita rawat dengan baik, maka kita tidak akan melangkah, kecuali hanya manuju kepada ridha dan belas kasih-Nya.
Tetapi, masalahnya, menjaga dan merawat hati itu sungguh bukan pekerjaan yang mudah, meskipun juga tidak terlalu sulit. Semuanya kembali dan bergantung pada kehendak dan pertolongan Allah Swt. Bahkan, Rasulullah Saw. Mengibaratkan hati seperti sesuatu yang berada di anatara dua jari, dan jari-jari-Nya. Kalua Allah Swt. menghendaki maka ia (hati) bisa tegak, atau sebaliknya bengkok. Dan, yang bisa menolong memperbaiki hati tidak lain adalah Allah Swt. Karena bergantung kepada-Nya, maka Rasulullah Saw. Juga menganjarkan kita tentang sebuah doa, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.

Memang, hanya Allah Swt. yang mampu menjaga kualitas hati kita. Namun, sebagaimana kita sering berolahraga untuk menjaga kesehatan fisik, maka untuk menjaga kesehatan hati, kita juga memerlukan sebuah aksi, sebuah upaya yang benar-benar nyata, istiqamah, dan penuh kesungguhan.
Di tengah percaturan hidup yang semakin tidak menentu, sungguh hati manusia kerap mengalami gncangan yang dapat mengubah kualitas hati itu menjadi semakin buruk.tanpa pertolongan Allah Swt., manusia tidak akan sanggup memprediksi terjadinya perubahan hati akibat didera berbagai godaan dan cobaan yang datang silih berganti. Sikap sombong, rasa ingin dipuji dan dihormati, kedengkian, iri hati, dan perilaku tipu menipu dalam berbagai skala ukuran merupakan sesuatu yang dapat seketika mengubah kemurnian hati manusia menjadi lebih baik.
Karena itu, nasib manusia di hadapan Allah swt. menjadi sedemikian rawan oleh kondisi hatinya sendiri. Rasulullah Saw. Bersabda bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpa daging. Jika segumpal daging itu bagus, maka semuanya akan bagus. Sebaliknya, jika segumpal daging ini buruk maka semuanya akan ikut menjadi buruk. Segumpal daging itulah yang disebut hati. Kata-kata “Segumpal daging” dalam hadist ini tidak lain adalah kiasan, sedangkan hati yang dimaksud sesungguhnya adalah jiwa, batin kita.

Tugas kita selanjutnya sebagai manusia adalah menjaga agar “segumpal daging” yang terdapat di dalam tubuh ini tetap terwat kualitasnya dengan baik. Dalam setiap hal, kitaperlu focus untuk memberikan perhatian yang besar kepada hati. Kita perlu meningkatkan perhatian agar hati kita tidak mudah goyah dan limbung. Kita juga harus menata setiap gerak hati agar senantiasa lurus menuju hadirat-Nya.
Tetapi, semuanya perlu latihan. Perlu motivasi dan rangsangan.

Thursday, April 11, 2019

Tujuh Hal yang Bisa Kita Coba untuk selamat



Ketika hari kiamat tiba, dan miliaran umat manusia secara bersama-sama dibangkitkan dari kubur, lalu digiring menuju padang Mahsyar untuk menghadapi proses hisab (perhitungan) atas amal-amal perbuatan selama di dunia, maka siapakah yang akan kita mintai pertolongan untuk mengatasi kekhawatiran hati ketika itu?

Image result for muslim bergosip
Tidak ada manusia yang tidak dicekam rasa was-was dalam peristiwa yang akan terjadi itu. Di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil, tidak sedikit pun terjadi kekeliruan atas catatan amal perbuatan kita. Semua orang didera ketakutan, kekhawatiran, kebingungan, dan rasa nelangsa yang menjadi-jadi.

Mungkin, banyak alasan yang menyebabkan kita didera habis-habisan oleh sekian perasaan yang tidak menentu itu. Salah satunya adalah tertutupnya peluang untuk berkelit. Kita boleh berkelit dengan memanfaatkan sekian banyak pengacara ketika kita menghadapi pengadilan di dunia. Kita bebas melakukan manipulasi fakta atas kasus-kasus hokum yang kita alami selama di dunia. Kita boleh melakukan kecurangan hokum, mengkhianati keadilan saat kita masih hidup di dunia. Tetapi, itu tidak bisa kita lakukan saat menghadapi pengadilan Allah Swt.

Allah Swt. tak bisa kita tipu dengan cara apa pun. Bahkan, Dia tidak memerlukan bantuan pengacara untuk membuktikan apakah kita bersalah dan karenanya harus menerima sanksi atas kesalahan kita. Allah Swt. bahkan berkuasa untuk meminta persaksian kepada tangan dan kaki-kaki kita sendiri, sementara mulut kita yang gemar sekali berkelit dan berbohong dibuat-Nya tertutup rapat-rapat. Mari kita simak firman-nya sebagai berikut :
“Pada hari ini, Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
(QS. Yaasiin [36]: 65)

Maka, selain pertolongan Allah Swt. tidak ada lagi yang bisa kita percayai untuk dapat memberikan perlindungan kepada kita. Saat hari kiamat, orang tua sudah tidak lagi berpikir tentang nasib anaknya. Pemimpin tidak lagi peduli kepada rakyatnya. Ulama sudah tidak lagi perhatian kepada jamaahnya. Bahkan, para nabi dan rasul pun tidak memiliki keberanian untuk memberikan jaminan keselamatan kepada umat mereka. Setiap manusia dibiarkan bergelut dengan kekhawatirannya sendiri-sendiri. Setiap manusia hadir dengan wajah kusut, linangan air mata, tangis, raungan, dan sebagian dengan senyum kebahagiaan sendiri-sendiri.
Pada hari itu, semua orang berharapmendapat perlindungan dari Allah Swt., memperoleh jaminan keselamatan dari hadirat-Nya. Namun, suasana padang Mahsyar sangat mencekam. Semua orang hanya berpikir tentang nasib mereka sendiri. Lalu, tersebutlah sebuah nama yang diberikan wewenang oleh Allah Swt. untuk memberikan pertolongan (syafaat) kepada sebagian manusia yang mempercayainya. Dialah Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. Menjadi satu-satunya manusia yang diperkenankan untuk menawar nasib kita di hadapan Allah Swt. Maka, beruntunglah orang yang yang percaya kepada kenabian dan kerasulan beliau. Beruntunglah orang yang mengikuti seruan beliau. Beruntunglah orang yang bersedia menjadi pembela atas fatwa dan petuah-petuah beliau. Serta, beruntunglah orang yang patuh kepada firman Allah Swt. yang telah diwahyukan kepada beliau.
Pada hari kiamat, jelas kita sangat membutuhkan perlindungan Allah Swt. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Saw. Pernah menyatakan bahwa pada hari kiamat itu, Allah Swt. akan memberikan perlindungan kepada tujug golongan manusia, yang pada hari itu  tidak ada satu pun yang dapat memberikan perlindungan selain perlindungan yang disediakan oleh Allah Swt. Maka, berbahagialah jika kita termasuk salah satu dari ketujuh golongan ini, yaitu:
  1. Pemimpin yang adil,
  2. Pemuda yang giat beribadah,
  3. Orang yang hatinya selalu terikat dengan masjid,
  4. Laki-laki yang menolak ajakan perempuan cantic dan berpangkat untuk melakukan zina, dengan alasan karena ia tekut kepada Allah Swt.,
  5. Dua orang yang saling menyayangi karena Allah Swt.; mereka berkumpul dan berpisah juga karena –Nya,
  6. Seorang ahli shadaqah yang tidak pamer,
  7. Orang yang banyak mengingat Allah Swt. dan sering meneteskan air mata karenanya.


Ya. Itulah tujuh golongan manusia yang akan diperkenankan berteduh di dalam perlindungan Allah Swt. pada hari kiamata nanti. Adakah yang lebih menjanjikan keselamatan bagi kita pada hari kiamat nanti selain perlindungan Allah itu?

Monday, April 8, 2019

Bergosip


Bergosip bukan hal yang aneh bagi sebagian masyarakat kita. Istilah yang satu ini bahkan sudah akrab dan kerap menjadi hiburan sehari-hari. Setiap hari dan malam, selalu saja ada acara seperti ini.
Sebagai sebuah istilah, gossip memang tidak bermasalah. Tetapi, ketika isi gossip sudah mengarah pada fitnah atau ghibah, maka inilah yang bermasalah. Gossip memang merupakan sebuah berita yang banyak mengangkat romantika kehidupan orang-orang tenar, terutama artis.

Image result for bergosip
Tetapi, gossip juga bisa berarti gaya hidup seseorang yang senang membicarakan orang lain. Gaya hidup seperti ini diistilahkan ngerumpi dan lain sebagainya. Sejauh yang dibicarakan itu mengenai kebaikan orang lain, hal yang positif, dan menginspirasi, mungkin tidak ada masalah. Namun, kenyataannya, tidak sedikit gossip yang justru membicarakan sisi negative orang lain maupun hal-hal yang tidak sepantasnya dibicarakan dari mereka.

Jika usdah mengarah kepada hal-hal seperti ini, maka gossip atau ngerumpi menjadi sesuatu yang penting kita waspadai. Sebab, tidak menutup kemungkinan yang digosipkan akna mengarah kepada fitnah atau ghibah. Dua hal ini merupakan perbuatan yang sangat dilarang di daam Islam.
Kita dilarang bergosip kalua di dalamnya memang sarat dengan fitnah atau ghibah karena perbuatan ini sama halnya dengan membeberkan aib saudara sendiri. Saudara macam apakah yang begitu senang mengumbar keburukan saudaranya?

Untuk memahami betapa tidak etis fitnah, ghibah, yang bisa saja terjadi dalam acara-acara gossip itu kita dapat mengukurnya lewat diri sendiri. Apa yang kita rasakan ketika mengetahui bahwa keburukan, kejelekan, atau aib kita disebarluaskan kepada orang lain? Rasa malu dan marah pastinya. Itu wajar karena kita adalah manusia. Nah, perasaan itu juga berlaku bagi orang lain ketika kita menyebarkan keburukan mereka. Karenanya, manusia yang benar-benar manusia tidak akan pernah melakukan gossip, fitnah, dan ghibah karena mereka masih memiliki perasaan malu dalam diri mereka.

Tentang hal ini, Rasulullah Saw. Bersabda, “Tahukah kalian, apa itu ghibah?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Rasulullah Saw. Bersabda, “Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang tidak disukainya.”
“Bagaimana jika pada diri saudara kami itu memang benar terdapat hal yang dibicarakan?”
“Jika sesuatu yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya, maka kamu telah melakukan ghibah. Jika yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat dusta (fitnah) atasnya.” (HR. muslim).

Rasulullah Saw. Mempertegas lagi dalam sabdanya, “Tidak akan masuk surge orang yang menghambur-hamburkan fitnah.”
(HR. abu dawud dan Tirmidzi)

Thursday, April 4, 2019

Sombong



Bentuk kesia-siaan hidup lainnya yang sering sekali dipamerkan manusia adalah sombong. Banyak alasan manusia menyombongkan diri. Di antaranya adalah kekayaan, kepandaian, jabatan, keluarga, ketampanan, dan banyak hal lainnya.
Kesombongan bersemayam di dalam hati, yang kemudian terwujud dalam sikap. Karena itu, ada kesombongan yang tampak oleh mata, namuun ada juga kesombongan yang hanya diketahui oleh Allah Swt. semata.

Image result for muslim indonesia kartun
Secara sederhana, sombong adalah kecenderungan memandang diri sendiri lebih hebat, lebih agung, lebih segalanya dibandingkan orang lain, sehingga perasaan ini menjadikan yang bersangkutan melupakan Allah Swt. hingga meninggalkan perintah-Nya.

Di dalam al-Qur’an, kesombongan yang berarti perasaan lebih hebat ini ditunjukkan, salah satunya, oleh sanggahan iblis ketika diperintah agar bersujud (menghormati) Adam:
“Dan, (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka, kecuali iblis; ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 34)

Bentuk kesombongan yang ditunjukkan oleh iblis adalah ia merasa lebih baik disbanding nabi Adam, karena ia dicipta dari api sedangkan Adam dari tanah. Merasa lebih hebat dan baik, lalu perasaan itu menjadikan kita tidak rendah hati di hadapan Allah, maka itulah kesombongan.
Tetapi, mari kita renungkan, untuk apakah kesombongan itu dibiarkan menguasai perasaan kita?
Boleh saja, kita merasa senang dan puas dengan menyombongkan kapandaian kita, kekayaan kita, keelokan kita. Namun, seberapa lama rasa puas itu akan bertahan? Rasa puas atas kesombongan yang kita pelihara tidak akan sampai membawa kita kepada masa depan yang lebih baik.

Masa depan yang sesungguhnya adalah ketika kita dikumpulkan di bawah naungan rahmat dan ampunan Allah Swt., atau al-Qur’an menyebutnya dengan Jannah, surge. Sementara, surge hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang di dalam hatinya tak lagi bersemayam biji-biji kesombongan. Surge adalah tempat bagi orang yang bangga karena ketaatannya kepada Allah Swt., bukan bangga atasdiri sendiri. Surge adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang rendah hati. Bukan sebaliknya.
Karena itu, Rasulullah Saw. Berpesan bahwa tidak akan masuk surge orang-orang yang di hatinya masih terdapat kesombongan walau sebesar biji dzarah. Jadi, sebaiknya kita hentikan laju kesombongan yang tiba-tiba menyeruak di dalam hati. Caranya, meyakini bahwa apa pun yang kita miliki sejatinya pinjaman sementara.
Jangan pernah merasa senang ketikakesombongan menguasai dada karena perasaan itu hanya akan membuat hidup kita sia-sia belaka.

Monday, April 1, 2019

Orang yang Egois



Islam tidak hanya mengajarkan shalat, puasa, zakat, haji, atau dua kalimat syahadat. Islam lebih dari sekadar itu. Memang benar, ibadah dalam Islam, terutama ibadah wajib, pelaksanaannyasangatlah individual. Sebut saja shalat, puasa, maupun haji.

Image result for muslim indonesia kartun
Diterima atau tidaknya shalat, puasa, atau haji kita ditentukan oleh kecakapan kita dalam melaksanakan ibadah. Terutama, kecakapan dalam memahami niat, syarat, rukun, dan semua aturan lainnya. Kita tidak akan menanggung dosa bila teman kita shalatnya tidak benar atau bahkan tidak shalat sama sekali.

Selain itu, islam juga mengajarkan kepada kita tentang ibadah yang bersifat individual, yaitu ibadah yang bersifat social. Ibadah-ibadah ini antara lain zakat, shadaqah, infaq, dan berbagai aktivitas lain yang memiliki efek social.
Dari sini, kita sudah dapat memahami betapa sesungguhnya islam tidak membenarkan adanya sifat egois di antara para pemeluknya. Kita tidak perlu muluk-muluk memberikan pengertian tentang egois. Kalua kita tidak mau perhatian, tidak mau berbagi, dan tidak mau memberikan sesuatu kepada orang yang benar-benar membutuhkannya, itu sudah cukup menggambarkan betapa kita tergolong orang-orang yang egois.
Secara sederhana, egois adalah kita merasa bahwa yang penting diperhatikan itu hanyalah diri sendiri, kalangan sendiri, orang yang satu pikiran dengan kita sendiri. Sementara di luar itu,  tidak harus diperhatikan.

Coba perhatikan salah satu pesan Rasulullah Saw. Kepada Aisyah. Beliau berkata, “Wahai Aisyah, jangalah engkau tidur sebelum meminta ridha dari seluruh umat Islam.
Mungkin pesan ini terasa mustahil dilakukan. Bagaimana mungkin kita meminta ridha kepada seluruh umat Islam di dunia? Tetapi, itu artinya adalah jangan sampai kita buru-buru tidur pada malam hari sebelum memohonkan ampun kepada seluruh umat Islam di jagat raya.
Maka kemudian dikenal bacaan “Astaghfirullaahal ‘azhiim lijamii’il muslimiina wal muslimaat wal mu’miniina wal mu’minaat al-ahyaa-I min-hum wal amwaat (Aku memohon ampun kepada Allah yang maha Agung, dan juga memohonkan ampun atas semua kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal).

Perhatikan sekali lagi. Betapa tinggi nilai-nilai kepedulian yang diajarkan oleh Islam, dan dicontohkan oleh rasulullah Saw. Kita yang berpikir bahwa yang terpenting adalah diri sendiri, maka sebenarnya kita tidak sadar bahwa pemikiran seperti itu pada dasarnya adalah keliru.
Kita perlu ingat bahwa sehebat apa pun kita, pasti akhirnya kita dibatasi oleh kematian. Harta yang kita banggakan suatu ketika akan kita tinggalkan. Suatu ketika, egoism yang kita pelihara akan menyadarkan kita betapa sifat itu hanyalah sia-sia belaka.
Sedemikian pentingnya menghilangkan egoism, sampai-sampai rasulullah Saw. Mengingatkan bahwa seseorang yang rajin melakukan shalat malam tidak akan masuk surge bila di sekitarnya masih ada orang yang kelaparan yang ia baikan karena terlalu sibuknya beribadah.

Di dalam al-Qur’an, juga banyak ayat yang mengisyaratkan agar kita menaruh perhatian kepada orang lain, seperti perhatian kepada orang miskin, para peminta-minta, anak yatim, orang yang dililit hutang, dan berbagai pihak yang harus mendapat perhatian kita. Wujudnya adalah dengan shadaqah. Jadi, shadaqah bukan hanya ibadah, namun yang tidak kalah penting juga adalah cara meminimalisasi sifat egoism dan individualism yang semakin banyak menghinggapi pikiran orang zaman sekarang ini.

Lalu, untuk apa memelihara egoism dan individualism, berlebih jika Allah Swt. sangat membenci sifat ini?

Fudhail bi Iyadh pernah menceritakan:
Dulu, ada laki-laki yang keluar membawa benan tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepala kawannya. Ia lalu bertanya, “Ada apa?” orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham miliknya kepada keduanya, dan ia pun tak memiliki sesuatu.
Ia lalu mendatangi istrina seraya mengabarkan sesuatu yang telah terjadi. Sang istri mengumpulkan beberapa perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba, ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu berkata kepadanya, “Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula denganku. Apakah engkau mau menukarnya dengan barang (daganganku)?”

Ia pun mengiyakan.ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada istrinya, ia berkata. Segeralah urus (masak) ikan ini, kita hamper tak berdaya karena lapar.” Maka, sang istri segera mengurus ikan tersebut. Lalu, dibelahnya perut ikat. Tiba-tiba, sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut.
Wanita ini pun berkata gembira. “Dari perut ikan ini, keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, hampir sebesar telur burung dara.”
Suaminya berkata, “Perlihatkanlah kepadaku.” Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepada istrinya, “Saya kira, ini adalah mutiara.”

Sang istri menyahut, “tahukah engkau, berapa nilai mutiara ini?”
“Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini,” jawab suaminya. Lalu, ia mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat para penjual mutiara.
Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawabsalamnya. Selanjutnya, ia berkata kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara itu.
“Tahukah engkau, berapa nilai ini?” ia bertanya.

Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, “Aku menghargainya 40 dirham. Jika kamu mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi, jika engkau menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, ia akan memberimu harga lebih tinggi dariku.”
Maka, ia pun pergi ke si Fulan. Fulan memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, “Aku hargai barang itu 80 dirham. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, aku kira ia akan memberi harga lebih tinggi dariku.”

Segera, ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, “Aku hargai 12.000 dirham. Dan, saya kira tidak ada orang yang berani menambah sedikit pun dari harga itu.”
“Ya.” Ia pun setuju. Lalu, ia membawa 12 kantong uang. Pada masing-masingnya terdapat 1.000 dirham. Uang itu oun ia bawa ke rumah untuk disimpan.
Tiba-tiba, di pintu rumah seorang fakir meminta-minta. Maka, ia berkata, “Aku punya kisah, karena itu masuklah!” Orang itu pun masuk. Ia berkata, “Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mangambil enam kantong uang dan dibawanya.

Setelah agak jauh, ia kembali lagi, seraya berkata, “Sebenarnya, aku bukanlah orang miskin atau fakir. Tetapi, Allah ta’ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 12.000 dirham. Dan ini yang diberikan-Nya kepadamu adalah baru satu dari-Nya, dan Dia menyimpan untukmu balasan yang lain.”