Google

Friday, November 2, 2018

Kehidupan Dunia Bagaikan Curahan Air Hujan dari langit




Betapa indah dan gamblang penggambaran Allah Swt. ketika menjelaskan tentang kehidupan dunia. Salah satunya, digambaran bahwa kehidupan dunia layaknya curahan air hujan dari langit. Hal ini seseuai dengan ayat sebagai berikut:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS.Al-Kahfi: 45)

Image result for kesenangan dunia

Air hujan memang sejuk, segar, dan menyuburkan tanah-tanah sehingga timbul segala macam tumbuhan. Ada tanaman yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, namun tidak sedikit pula tumbuhan yang hanya berfungsi sebagai penghias pemandangan.
Namun, apakah dengan suburnya tanah oleh air hujan tersebut maka tumbuha yang bermunculan akan abadi?

Tentu saja tidak. Tumbuhan itu hanya bertahan dalam hitungan waktu. Ada yang bertahan dalam hitungan tahun, bahkan puluhan. Tetapi, intinya tumbuhan pasti berakhir, musnah, dan kering diiterpa angin. Sesubur apa pun tanah yang menumbuhkan suatu pohon pasti pohon tersebut tumbang juga suatu ketika.
Itulah dunia dan kesenangan-kesenangan yang ada di dalamnya. Sekuat apa pun tenaga kita menjaga kesenangan dunia, tetapi pada akhirnya kesenangan ini akan musnah. Itulah sebabnya, orang yang hanya mementingkan kehidupan dunia disebut orang-orang yang mengalami kerugian.

Jadi, marilah kita gunakan kehidupan kita di dunia sebagai satu-satunya kesempatan untuk meraih kebahagiaan akhirat. Ibnu Umar berkata, "Rasulullah Saw. pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir. Jika engkau berada pada sore hari, jangan menunggu datangnya pagi. Jika engkau berada pada waktu pagi, jangan menunggu datangnya sore hari. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit, dan masa hidupmu sebelum mati." (HR. Bukhari).
Hadist diatas berisi nasehat yang apabila direnungkan dengan baik-baik dapat mengidupkan hati kita. Di dalamnya terdapat peringatan agar kita menjauhkan diri dari tipuan dunia, masa muda, masa sehat, umur, dan lain sebagainya.
Jika kita perhatikan kata-kata Ibnu Umar tersebut, rasulullah Saw. pernh memegang kedua pundaknya. Ini menunjukkan betapa besar perhatian rasulullah kepada Ibnu Umar, yang saat itu berumur 12 tahun.


Jika kita memahami hadist tersebut, di dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai dengan realitas. kita lihat bahwasesungguhnya manusia (Adam) memulai kehidupannya di surga, kemudian diturunkan ke bumi. Penurunan Adam dari surga, selain bermakna sebagai cobaan, juga mengandung sebuah isyarat bahwa manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya.
Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) seperti datangnya orang asing. Padahal, sebenarnya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid, dan keikhlasan kepada Allah Swt. adalah surga. Sesungguhnya, Adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya.
Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan, dan harapan seorang muslim akan surga terjadi karena surga merupakan tempat tinggal mereka semula. Surgalah muasal tempat tinggal manusia-manusia berinan. Karena itu, keinginan memperoleh surga layaknya perantau yang rindu kampung halamannya.


Seorang penyair berkata:
Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai
Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu
Yaitu Allah Azza wa Jalla
Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang
Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula
Yaitu surga

Dengan begitu, kehidupan kita di dunia laksana perantauan yang sedang melintas di sebuah daerah. Selama kita berada di tanah rantau, pasti selalu muncul kerinduan untuk kembali pulang ke kampung halaman.
Namunm seberapa banyak di antara kita yang benar-benar sampai kemabli ke kampung halaman? Tergantung besarnya usaha kita untuk mewujudkannya.
Ada yang bisa benar-benar kembali pulang kampung halamannya dengan selamat. Tapi, tidak sedikit juga yang tersesat di tengah perjalanan, sehingga mereka terdampar di sebuah daerah yang tak diinginkan. Begitulah dunia.

Dari beberapa uraian tersebut, dapat dipahami bahwa kehidupan dunia tidaklah abadi. Banyak hal yang bersifat semu dan tipuan dalam kehidupan ini, yang apabila kita tidak berhati-hati, semuanya menjadi penyebab penyesalan dan kerugian.
Banyak gambaran yang terkait dengan hakikat kehidupan dunia. Semua penggambaran itu menunjukkan bahwa kehidupan di dunia ini tidak dapat dijadikan tujuan utama bagi aktivitas kita. Kita tidak boleh sekadar mencari kesenangan dunia. Sebab, di satu sisi, kesenangan itu bersifat nisbi, sedangkan di sisi lain masih ada kehidupan yang tidak kalah penting daripada kehidupan duni.

Saturday, October 27, 2018

Kehidupan di Dunia tak Lebih Seperti Kulit Luar


Bila Anda menilai keindahan sebuah barang dari kulit yang membungkusnya, maka kemungkinan besar Anda akan banyak tertipu. Memang, bungkus yang indah dan rapih menyilaukan setiap mata yang memandangnya. Tetapi, isi sering kali tidak sama dengan pembungkusnya.

Coba Anda perhatikan buah salah atau durian. kalau orang hanya melihat kulitnya, tentu tidak akan tertarik untuk membeli buah-buahan tersebut. dari tampilannya saja sudah tidak menarik, tajam berduri dan keras. Tetapi, apakah isinya sama dengan kulitnya? Tidak, bukan.
Selain itu, perhatikanlah juga buah kedondong atau pisang biji. Tampilannya mulus dan bagus. Namun, di dalamnya penuh serat dan biji-biji keras yang tidak dapat dimakan. Begitulah gambaran dunia dan akhirat.

Kebahagiaan untuk kehiduoan akhirat memang tidak menyenangkan. Kita harus mengekang hawa nafsu, mendirikan ibadah, memurnikan iman dengan aktivitas-aktivitas yang membuat kita terkadang capai dan lelah. Sama dengan orang yang ingin menikmati isi buah durian. Mereka harus bergelut dengan duri, membelah kulitnya dengan susah payah sebelum akhirnya dapat menikmati isinya yang begitu manis dan harum.

Untuk sekadar mengejar kesenangan dunia, memang kita tidak perlu terikat oleh sekian ketentuan yang memberatkan. Tetapi, apa yang nanti kita peroleh? Tidak lain hanyalah serat dan biji-biji keras yang sama sekali tidak dapat kita nikmati.
Ada sebuah peribahasa yang menjelaskan tentang kehidupan dunia dan akhirat:
"Akhirat itu ibarat padi. Sedang dunia ibarat rumput. Jika engkau menanam rumput, jangan berharap padi akan ikut tumbuh. Sebaliknya, jika engkau menanam padi, maka pasti rumput akan ikut tumbuh juga di dalamnya."

Artinya orang yang hanya fokus mengejar kesenangan dunia pasti lalai mengupayakan kesenangan akhirat. Tetapi, orang yang berusaha mengejar kesenangan akhirat pasti Allah Swt. menjaminnya di dunia
Allah Swt. berfirman:
 يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.


Orang yang hanya fokus pada satu hal dan mengabaikan hal lain yang tak kalah penting maka ia pasti mengalami kerugian. yang paling benar dari keduanya adalah berusaha menciptakan keseimbangan. Orang hanya fokus pada kesenangan dunia pasti rugi karena telah melalaikan akhirat.
Orang yang hanya fokus pada akhirat juga rugi karena melupakan kebutuhan yang bersifat duniawi. Tetapi, orang yang berusaha mencapai kebahagiaan akhirat sambil tidak melupakan dunia, itulah orang yang akan memperoleh kesenangan.

Ada sebuah kisah tentang tiga orang sopir yang memiliki gaya mengemudi yang berbeda-beda. Sopir pertama selalu melihat spion. Ia ingin tahu kondisi yang berada di belakang mobil yang dikendarai. Akibatnya, ia selalu menginjak rem mendadak saat berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan.
Sopir kedua justru tak pernah memperhatikan keadaan di belakang mobil yang sedang dikendarainya. Ia seperti sopir yang menganggap bahwa mobilnya tidak ada spion sama sekali. Saat mengemudi, pandangannya fokus kedepan. Tidak mau menoleh ke arah spion yang ada di tengah dan samping kiri-kanan mobil. Akibatnya, ia selalu terkaget-kaget saat ada sebuah kendaraan yang mendahuluinya.
Sementara itu, sopir ke tiga berbeda dengan kedua sopir sebelumnya. Saat mengemudi, pandangannya lurus ke depan, namun sesekali ia memperhatikan keadaan yang ada di belakang lewat kaca spion mobilnya. Dengan begitu, mobil yang dikendarainya berjalan dengan tenang tanpa banyak mengalami gangguan.

Jadi, janganlah perhatian kita hanya tertuju pada satu hal. meski kita hidup di dunia, jangan sampai dunia ini menjadi satu-satunya pusat perhatian kita. Jika demikian, kita hanya akan mengalami kerugian dan kecelakaan yang penderitaannya tiada akhir.

Thursday, October 25, 2018

kehidupan dunia itu bagaikan Senda Gurau dan Main-main

Allah Swt. menjelaskan bahwa kehidupan di dunia hanyalah tempat senda gurau dan main-main. Hal ini sesuai dengan ayat berikut:
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."

Kata lahwun dan  la'ibun yang diterjemahkan sebagai senda gurau dan main-main juga disebutkan dalam tiga tempat lainnya. Yaitu, dalam surat Al-An'aam ayat 32, surat al-haid ayat 20, dan surat Muhammad ayat 36.
Menurut Quraish Shihab, kata la'ibun wa lahwun dapat diartikan sebagai aktivitas manusia yang sia-sia yang dilkukan tanpa tujuan nyata. Sesuatu yang dihasilkan tidak lain hanyalah hal-hal yang menyenangkan hati, tetapi menghabiskan waktu. Selain itu, kehidupan berarti juga kelengahan, lahwun, yaitu melakukan kegiatan yang menyenangkan hati,tetapi tidak penting sehingga melengahkan pelakunya dari hal-hal yang penting atau jauh lebih penting.

Jika anda termasuk salah seorang penggemar acara-acara televisi, mungkin anda akan menemukan betapa banyak acara yang dibuat hanya untuk main-main dan senda gurau. Tidak ada tujuan hakiki dari acara tersebut, selain hanya untuk bersenang-senang dan mengumpulkan harta.
Atau, justru dalam kehidupan sehari-hari, kita sendiri banyak melakuakn perbuatan yang tidak jelas tujuannya. Sehingga, dengan mengerjakan perbuatan itu, waktu kita habis terbuang percuma, dan kita lalai dari melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi hidup kita di dunia maupun akhirat nanti.

Oleh sebab itu, kita harus senantiasa memohon petunjuk Allah Swt. agar kita senantiasa dibimbing dalam mengisi kehidupan di dunia dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan perintah-Nya.
Itulah sebabnya, kita harus benar-benar menghayati bacaan ihdinash shiratal mustaqim ketika sedangan membaca surat al-Fatihah, baik waktu shalat atau di luar waktu shalat. Sebab, dalam bacaan itu, kita memohon petunjuk kepada Allah Swt. agar dibimbing kepada jalan yang benar, yang menghindarkan kita dari keisa-siaan hidup.

Menurut Muhammad Abduh dan al-Maraghi, setidaknya kita terdapat lima bentuk petunjuk yang diberikan Allah Swt. kepada manusia.
  1. Pertama, petunjuk fitrah yang sudah diberikan kepada kita sejak lahir. Kita sewaktu bayi bisa menghisap air susu ibu tanpa belajar terlebih dahulu. Itu adalah bentuk petunjuk-Nya yang diberikan kepada kita.
  2. Kedua, petunjuk pancaindra. Tanpa harus dilatih terlebih dahulu, mata kita bisa difungsikan untuk melihat, telinga mendengar, hidung untuk mencium, yang kesemuanya itu berjalan sesuai dengan petunjuk-Nya.
  3. Ketiga, petunjuk akal, yang dengannya kita bisa berpikir rasioanl. Lewat akal, kita dapat memikirkan sesuatu. Dengannya pula, kita mampu menyusun berbagai hal yang bermanfaat bagi hidup kita. Kita mampu membuat baju dengan bentuk yang begitu rupa, yang semua itu bisa diperoleh karena petunjuk Allah Swt. lewat akal kita.
  4. Keempat, petunjuk taufik. Petunjuk ini diberikan oleh Allah Swt. setiap hari kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Dengan petujuk ini, seseorang dalam melangkah senantiasa ditemani oleh-Nya sehingga tidak mungkin tergelincir ke dalam kekeliruan dan kesalahan. Petunjuk ini sangat kita harpakan dalam hidup agar kita tidak cenderung mengisi hidup dengan senda gurau dan kesia-siaan.
  5. Kelima, petunjuk wahyu berupa al-Qur'an. dari inilah kita bisa mengetahui bagaimana sifat dari kehidupan di dunia, serta kehidupan apa lagi sesudah kehidupan dunia.



Tuesday, October 23, 2018

cerita yang ditulis Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi dalam Al-Maw'id; jannatun Na'im


Abu Al-Faraj, Ibnu al-Jauzi, dan ulama lainnya menyebutkan bahwa ada seorang wanita cantik tinggal di Mekah, dan ia telah bersuami. Suatu ketika, ia melihat paras cantiknyya di depan cermin, lalu berkata kepada sang suami, "Apakah menurutmu ada orang yang tidak tergoda sedikit pun melihat paras cantikku ini?"

Hasil gambar untuk Ubaid bin Umar

"Ya, ada," jawab sang suami.
"Siapa orangnya?" Tanyanya penasaran.
"Ubaid bin Umar." jawab suaminya.
"Izinkan aku untuk menggodanya," pintanya.
"Ya, aku izinkan," jawab suaminya.

Lalu, istrinya mendatangi orang tersebut, dan menyamar sebagai seorang wanita yang meminta fatwa. Akhirnya, Ubaid bersamanya di sebuah pojok Masjid Haram. lalu, si wanita itu menmpakkan wajahnya yang bagaikan belahan rembulan.
Seketika, Ubaid berkata kepadanya, " wahai hamba Allah, tutplah dirimu!"

"Aku terpikat padamu," kata wanita cantik itu.
"Aku akan bertanya padamu satu hal, bila kamu jujur," jawab Ubaid.

"Tidak ada satu pertanyaan satu pun yang engkau tanyakan kepadaku, melainkan akan akau jawab dengan sejujur-jujurnya," jawab wanita itu.

"Tolong beritahukan kepadaku, andai kata sekarang malaikat maut datang kepadamu untk mencabut naywamu, apakah kau tetap merasa senang bila aku mengabulkan permohonanmu ini?" tanyanya.

"Jelas, tidak," jawab si wanita.
"kalau begitu, kamu sudah berkata jujur," kata Ubaid.

kemudia, ia melanjutkan, "Andai kata engkau masuk kuburmu, lalu didudukkan, lalu ditanyai, apakah menyenangkanmu bila aku mengabulkan permohonanmu ini?"

"Jelas, tidak," jawab si wanita itu lagi.
"Kalau begitu, kamu sudah berkata jujur lagi."

lalu, Ubaid melanjutkan, "Bertakwalah kepada Allah, sebab Allah telah memberikan nikmat dan berbuat baik kepadamu!"
lalu, si wanita itu pulang menghadap sang suami. Sang suami bertanya kepadanya, "Apa yang telah engkau lakukan?"

"Kamu banyak menganggur, dan kita adalah orang-orang pengangguran!" jawabnnya.

Setelah kejadian itu, si wanita ini mulai rajin shalat, puasa dan beribadah. Suaminya selalu berkata kepadanya, "Apa gerangan yang terjadi antara aku dan si Ubaid bin Umar sehingga ia berhasil mempengaruhi istriku. Dulu, istriku adalah pengantinku di malam hari. Namun, sekarang ia sudaah berubah menjadi rahibah."


Kisah ini mengingatkan kita bahwa kekaguman berlebihan kepada dunia membuat kita layaknya pengangguran. Disebut pengangguran karena kita tidak bekerja mempersiapkan diri menuju akhirat. Kita tidak tahu bahwa kehidupan akhirat itu perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Tapi, bagaimana mungkin kita akan bekerja untk akhirat jika waktu kita habis dipakai untuk mengegumi hal yang duniawi

Sunday, October 21, 2018

kehidupan jika tidak baik dan benar maka akan Berujung pada Neraka



Bila tidak kita sikapi dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, kehidupan di dunia ujungnya bukan hanya kehancuran dan kebinasaan. Lebih daripada itu, juga mengantarkan kita pada penderitaan yang tiada akhir.
Oleh sebab itu, kita tidak diperkenankan berpuas diri dengan kehidupan dunia, atau menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan dalam melakukan berbagai aktivitas. Bgaimanapun juga, dunia akan berakhir. Tatanannya yang teratur ini akan berhenti, dan berganti dengan kekacauan Maha dasyat yang kita sebut sebagai kiamat.
Allah SWT. Berfirman:
 tulisan arab alquran surat yunus ayat 7-8
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan di dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, (QS. 10:7) mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." 

Tak hanya di akhirat, kecintaan yang begitu tiggi
Saad Abdul Wahid mengatakan bahwa ayat diatas menyiratkan bahwa manusia semuanya akan kembali kepada Allah SWT. Dia-lah yang menciptakan manusia, mematikan, dan membangkitkan mereka pada hari Kebangkitan untuk memberikan balasan kebaikan kepada orang-orang yang beriman dengan seadil-adilnya, dan memberikan azab kepada orang-orang yang ingkar.
Akan tetapi, banyak di antara manusia yang tidak percaya akan peristiwa yang pasti terjadi itu. Yang demikian ditandai oleh kecintaan mereka yang berlebihan terhadap dunia sehingga menyebabkann mereka ingkar kepada Allah SWT.

Dalam ayat tersebut, Allah Swt. menegaskan bahwa orang-orang yang merasa puas dengan kehidupan di dunia, ingkar terhadap-Nya, serta ingkar pada hari Kebangkitan sehingga mereka tidak mengharapkan bertemu dengan-Nya, maka mereka akan menjadi penghuni neraka karena dosa-dosa mereka selama di dunia, seperti dosa syirik, khurafat, takhayul, mengikuti keinginan hawa nafsu, dan dosa lainnya yang mengotori diri mereka.

Ancaman Allah Swt. terhadap orang-orang yang lebih mencintai masalah keduniaan daripada keakhiratan diulang tidak kurang dari 82 kali di dalam Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa kecintaan yang berlebihan kepada dunia sehingga melalaikan kewajiban kepada Allah ancamannya sangatlah berat.
Tak hanya di akhirat, kecintaan yang begitu tinggi dan berlebihan terhadap pesona harta dunia sering kali menyebabkan terjadinya disharmoni dalam kehidupan ini. Seseorang berani korupsi, mencuri kekayaan hutan, mencemari lingkungan, menipu, dan membunuh lebih banyak disebabkan oleh motivasi mereka yang lebih mengutamakan kesenangan dunia.

Maka, benarlah pernyataan tokoh spiritual India, Mahatma Gandhi (1869-1948). Ia berkata, "Dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang. Akan tetapi, dunia tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan satu orrang."


Friday, October 19, 2018

Gambaran dunia bagaikan Permainan yang Melalaikan



Setiap permainan pasti selalu melahirkan rasa senang. Namun, di balik kesenangan yang ditimbulkan, setiap permainan pasti juga membuat pelakunya terejerumus ke dalam kelalaian. Seseorang yang sudah "gila" terhadap permainan, maka persentase kelalaiannya jauh lebih besar daripada mereka yang tidak terlalu menggilai permainan tersebut.
Kita bisa lihat seorang anak yang gila terhadap beragam permaianan remote control. Ketika mereka sudah mengoperasikan permianan itu, mereka jadi lupa akan waktu. Mereka lupa waktunya makan, belajar, beribadah, dan istirahat, karena yang ada dalam pikiran hanya bagaimana memenangkan permainan demi permainan.

Bahkan, tidak jarang mereka lalai pergi ke sekolah demi memenuhi hasrat atau ajakan teman-temannya untuk bermain. Begitulah sifat atau watak dari sebuah permainan. Saat dimainkan, maka ia akan selalu menantang untuk terus dilakukan.
Menurut Brooks (1971), permainan merupakan istilah yang digunakan secara bebas, sehingga arti utamanya mungkin hilang. Arti yang paling tepat dari permainan ialah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir.

Ada permainan yang dilakukan untuk mencapai kemenangan. Kemenangan ini dijadikan sebagai tujuan akhir dari sebuah permainan. Sebut saja permainan olahraga. Tetapi, ada juga permainan yang tidak memepertimbangkan hasil akhir. Permainan ini dilakukan bukan untuk memperoleh hasil akhir, tetapi sekadar menikmati sensasi kesenangan yang ditimbulkan.
Sebut saja anak yang bermain layang-layang. Bermain layang-layang umumnya dilakukan hanya karena sensasi kesenangan yang ditimbulkan dari permainan itu. Tidak ada hasil akhir berupa kemenangan yang ingin diperoleh.

Allah SWT mengibaratkan dunia sebagai suatu permainan. Seseorang yang menyukai permainan ini tidak akan pernah menghiraukan hasil akhirnya. karena yan diburu hanya kesenangan semata, tentu saja akibat dari permainan ini hanyalah kelalaian demi kelalaian.
Maka, Allah  SWT berfirman dalam QS Al-Hadid : 20

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."


Perhiasan, kemegahan materi, berlomba dalam kebanggan tentang siapa yang paling memiliki banyak harta dan anak merupakan faktor-faktor yang menimbulkan aspek kesenangan sebagaimana halnya permainan.
Kata lai'ib dalam ayat tersebut biasa diterjemahkan dengan "Permainan", yang digunakan Al-Qur'an untuk menyatakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh pelakunya bukan untuk tujuan yang wajar, dalam arti membawa manfaat atau mencegah mudharat. Permainan itu dilakukan tanpa tujuan, bahkan hanya untuk menghabiskan waktu.

Sedangkan, kata lahwun adalah suatu perbuatan yang mengakibatkan kelengahan pelakunya dari pekerjaan yang bermanfaat atau lebih penting dari-nya.
Susunan kegiatan-kegiatan yang disebut dalam ayat tersebut, menurut Rasyid Ridha, salah seorang pakar tafsir asal Lebanon, dan sebagaimana disinggung juga oleh Thabathaba'i, merupakan gambaran dari awal perkembangan manusia hingga mencapai kedewasaan, kematangan, dan ketuaannya.

Permainan merupakan gambaran keadaan anaka kecil yang merasakan lezatnya permainan, walaupun ia melakukannya tanpa tujuan apa-apa, kecuali hanya bermain. Permainan ini menimbulkan kelalaian karena pelakunya sangat mungkin berpikir sebagaimana halnya anak kecil. Ia tidak memiliki kesadaran yang membuatnya mengerti dari mana kita berasal, bagaimana harus mengisis hidup, dan ke mana akhir tujuan hidup kita. Akibatnya, mereka tidak mengetahui bagaimana seharusnya mengisi waktu dengan sebaik-baiknya.

Disebutkan kata perhiasan karena berhias merupakan salah satu kebiasaan remaja. lalu, disusul dengan ungkapan berbangga-bangga, yang merupakan sifat anak kecil. Kemudian, diakhiri dengan pernyataan memperbanyak harta dan anak, yang menggambarkan bahwa itulah sifat orang tua atau dewasa.
Karena seperti itulah sifat dunia, alangkah penting kita merenungkan pernyataan Ali bin Abi Thalib kepada seseorang yang datang dan bertanya tentang ciri-ciri dunia:
"Dunia ini tidak lain adalah suatu tempat yang awalnya adalah kesusahan dan akhirnya adalah kehancuran. Yang halal darinya akan dihisab, sedangkan yang haram darinya akan diberi hukuman. Yang kaya di dalamnya terkena fitnah, dan yang fakir di dalamnya bersedih hati"

Pada akhirnya ayat tersebut, Allah SWT kembali menegaskan bahwa kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah kesenangan yang sifatnya menipu.

Wednesday, October 17, 2018

Kesenangan yang Sedikit Kehidupan di Dunia

kehidupan di Dunia
Banyak oran berlomba-lomba menggapai kesenangan-kesenangan hidup di dunia. Tidak peduli cara yang harus mereka tempuh, mereka tidak peduli halal dan haram, karena yang menjadi tujuan utama hanyalah meraih kesenangan. Asalkan kesenangan bisa diraih, cara yang buruk pun mereka lakukan.
Sekalipun kesenangan di dunia bisa dicapai, tetapi Alllah SWT menyatakan bahwa kesenangan itu hakikatnya sedikit. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT sebagi berikut:
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). [QS Ar-Ra'ad :26]

Ayat tersebut memberi penjelasan kepada kita bahwa rezeki yang diberikan kepada manusia sesungguhnya mutlak menjadi urusan Allah SWT. Tidak seorang pun yang dapat menentukan sendiri secara tepat tentang jumlah rezeki yang dapat diperoleh hari ini.
meskipun demikian, rasionalitas manusia dapat memperhitungkan bahwa bagi sipa saja yang sudi bekerja keras, tentu mereka mendapatkan hasil yang lebih daripada mereka yang hanya bermalas-malasan.
Di sisi lain, harta benda yang menyenangkan itu memang mengandung daya pukau luar biasa. Tidak heran kalau banyak orang yang membanting tulang tanpa kenal waktu demi mengejar pesona harta dan kesenangan dunia lainnya. Mereka melupakan kewajiban,; mengabdi dan menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah SWT. 
Untuk apa itu semua dilakukan? Tidak lain, kecuali untuk mengejar kesenangan.
Akan tetapi, akhir dari ayat tersebut menjadi sanggahan yang harus kita renungkan bersama. Ternyata, kesenangan dunia yang dicari begitu rupa itu tidaklah seberapa. Kesenangan tersebut hanya bersifat sementara. Seseorang tidak seharusnya mencurahkan tenaga untuk menggapai kesenangan yang sementara, karena sesudah kehidupan dunia ini masih terdapat kehidupan akhirat yang menawarkan kesenangan yang jauh lebih berharga dibandingkan dengan kesenangan dunia.

Terkait ayat tersebut, sebuah riwayat dari Tirmidzi dan Ibnu Mas'ud menjelaskan bahwa suatu ketika, rasulullah saw, pernah tidur di atas sehelai tikar. kemudia, beliau bangun dari tidurnya dan kelihatan bekas tikar itu disamping tubuhnya. lalu, para sahabat berkata, "ya Rasulullah, seandainya kami ambilkan tempat untukmu?"
Rasulullah menjawab, "Aku dan dunia ini tidak ada artinya. Aku hidup di dunia hanya laksana seoarang pengendara yang bereteduh sejenak di bawah sebatang pohon kayu, kemudian ia berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu."
Demikianlah kehidupan dunia. Seperti apa pun bentuk kesenangan yang ditawarkan olehnya, suatu ketika kita pasti meninggalkannya.

Aisyah berkata, "Suatu ketika, aku memakai baju besi baruku. Aku terus memandangnya dan merasa kagum terhadapnya. lalu, ayahku (Abu Bakar ash-Shiddiq) berkata, 'Apa yang engkau lihat? Sesungguhnya, Allah tidak melihat (tidak menilai) kepadamu (harta, perhiasan yang kamu kagumi)! Aku bertanya, 'Kenapa bisa begitu? Ayahku menjawab, 'Tidakkah engkau ketahui, ketika seorang hamba dihinggapi asa takjub (berlebihan) terhadap perhiasan dunia maka Allah SWT murka kepadanya hingga Dia memisahkan perhiasan itu dengannya.' lau, aku lepas pakaian itu, dan aku sedekahkan.' Ayahku berkata, 'Mudah-mudahan yang engkau lakukan bisa menghapus dosa-dosamu."

begitulah spirit dan cara pandang para sahabat dan keluarga Rasulullah saw. Dalam memandang kehidupan dunia. Tentu, kita patut mengambil spirit dan teladannya.