Google

Tuesday, October 23, 2018

cerita yang ditulis Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi dalam Al-Maw'id; jannatun Na'im


Abu Al-Faraj, Ibnu al-Jauzi, dan ulama lainnya menyebutkan bahwa ada seorang wanita cantik tinggal di Mekah, dan ia telah bersuami. Suatu ketika, ia melihat paras cantiknyya di depan cermin, lalu berkata kepada sang suami, "Apakah menurutmu ada orang yang tidak tergoda sedikit pun melihat paras cantikku ini?"

Hasil gambar untuk Ubaid bin Umar

"Ya, ada," jawab sang suami.
"Siapa orangnya?" Tanyanya penasaran.
"Ubaid bin Umar." jawab suaminya.
"Izinkan aku untuk menggodanya," pintanya.
"Ya, aku izinkan," jawab suaminya.

Lalu, istrinya mendatangi orang tersebut, dan menyamar sebagai seorang wanita yang meminta fatwa. Akhirnya, Ubaid bersamanya di sebuah pojok Masjid Haram. lalu, si wanita itu menmpakkan wajahnya yang bagaikan belahan rembulan.
Seketika, Ubaid berkata kepadanya, " wahai hamba Allah, tutplah dirimu!"

"Aku terpikat padamu," kata wanita cantik itu.
"Aku akan bertanya padamu satu hal, bila kamu jujur," jawab Ubaid.

"Tidak ada satu pertanyaan satu pun yang engkau tanyakan kepadaku, melainkan akan akau jawab dengan sejujur-jujurnya," jawab wanita itu.

"Tolong beritahukan kepadaku, andai kata sekarang malaikat maut datang kepadamu untk mencabut naywamu, apakah kau tetap merasa senang bila aku mengabulkan permohonanmu ini?" tanyanya.

"Jelas, tidak," jawab si wanita.
"kalau begitu, kamu sudah berkata jujur," kata Ubaid.

kemudia, ia melanjutkan, "Andai kata engkau masuk kuburmu, lalu didudukkan, lalu ditanyai, apakah menyenangkanmu bila aku mengabulkan permohonanmu ini?"

"Jelas, tidak," jawab si wanita itu lagi.
"Kalau begitu, kamu sudah berkata jujur lagi."

lalu, Ubaid melanjutkan, "Bertakwalah kepada Allah, sebab Allah telah memberikan nikmat dan berbuat baik kepadamu!"
lalu, si wanita itu pulang menghadap sang suami. Sang suami bertanya kepadanya, "Apa yang telah engkau lakukan?"

"Kamu banyak menganggur, dan kita adalah orang-orang pengangguran!" jawabnnya.

Setelah kejadian itu, si wanita ini mulai rajin shalat, puasa dan beribadah. Suaminya selalu berkata kepadanya, "Apa gerangan yang terjadi antara aku dan si Ubaid bin Umar sehingga ia berhasil mempengaruhi istriku. Dulu, istriku adalah pengantinku di malam hari. Namun, sekarang ia sudaah berubah menjadi rahibah."


Kisah ini mengingatkan kita bahwa kekaguman berlebihan kepada dunia membuat kita layaknya pengangguran. Disebut pengangguran karena kita tidak bekerja mempersiapkan diri menuju akhirat. Kita tidak tahu bahwa kehidupan akhirat itu perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Tapi, bagaimana mungkin kita akan bekerja untk akhirat jika waktu kita habis dipakai untuk mengegumi hal yang duniawi

Sunday, October 21, 2018

kehidupan jika tidak baik dan benar maka akan Berujung pada Neraka



Bila tidak kita sikapi dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, kehidupan di dunia ujungnya bukan hanya kehancuran dan kebinasaan. Lebih daripada itu, juga mengantarkan kita pada penderitaan yang tiada akhir.
Oleh sebab itu, kita tidak diperkenankan berpuas diri dengan kehidupan dunia, atau menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan dalam melakukan berbagai aktivitas. Bgaimanapun juga, dunia akan berakhir. Tatanannya yang teratur ini akan berhenti, dan berganti dengan kekacauan Maha dasyat yang kita sebut sebagai kiamat.
Allah SWT. Berfirman:
 tulisan arab alquran surat yunus ayat 7-8
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan di dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, (QS. 10:7) mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." 

Tak hanya di akhirat, kecintaan yang begitu tiggi
Saad Abdul Wahid mengatakan bahwa ayat diatas menyiratkan bahwa manusia semuanya akan kembali kepada Allah SWT. Dia-lah yang menciptakan manusia, mematikan, dan membangkitkan mereka pada hari Kebangkitan untuk memberikan balasan kebaikan kepada orang-orang yang beriman dengan seadil-adilnya, dan memberikan azab kepada orang-orang yang ingkar.
Akan tetapi, banyak di antara manusia yang tidak percaya akan peristiwa yang pasti terjadi itu. Yang demikian ditandai oleh kecintaan mereka yang berlebihan terhadap dunia sehingga menyebabkann mereka ingkar kepada Allah SWT.

Dalam ayat tersebut, Allah Swt. menegaskan bahwa orang-orang yang merasa puas dengan kehidupan di dunia, ingkar terhadap-Nya, serta ingkar pada hari Kebangkitan sehingga mereka tidak mengharapkan bertemu dengan-Nya, maka mereka akan menjadi penghuni neraka karena dosa-dosa mereka selama di dunia, seperti dosa syirik, khurafat, takhayul, mengikuti keinginan hawa nafsu, dan dosa lainnya yang mengotori diri mereka.

Ancaman Allah Swt. terhadap orang-orang yang lebih mencintai masalah keduniaan daripada keakhiratan diulang tidak kurang dari 82 kali di dalam Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa kecintaan yang berlebihan kepada dunia sehingga melalaikan kewajiban kepada Allah ancamannya sangatlah berat.
Tak hanya di akhirat, kecintaan yang begitu tinggi dan berlebihan terhadap pesona harta dunia sering kali menyebabkan terjadinya disharmoni dalam kehidupan ini. Seseorang berani korupsi, mencuri kekayaan hutan, mencemari lingkungan, menipu, dan membunuh lebih banyak disebabkan oleh motivasi mereka yang lebih mengutamakan kesenangan dunia.

Maka, benarlah pernyataan tokoh spiritual India, Mahatma Gandhi (1869-1948). Ia berkata, "Dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang. Akan tetapi, dunia tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan satu orrang."


Friday, October 19, 2018

Gambaran dunia bagaikan Permainan yang Melalaikan



Setiap permainan pasti selalu melahirkan rasa senang. Namun, di balik kesenangan yang ditimbulkan, setiap permainan pasti juga membuat pelakunya terejerumus ke dalam kelalaian. Seseorang yang sudah "gila" terhadap permainan, maka persentase kelalaiannya jauh lebih besar daripada mereka yang tidak terlalu menggilai permainan tersebut.
Kita bisa lihat seorang anak yang gila terhadap beragam permaianan remote control. Ketika mereka sudah mengoperasikan permianan itu, mereka jadi lupa akan waktu. Mereka lupa waktunya makan, belajar, beribadah, dan istirahat, karena yang ada dalam pikiran hanya bagaimana memenangkan permainan demi permainan.

Bahkan, tidak jarang mereka lalai pergi ke sekolah demi memenuhi hasrat atau ajakan teman-temannya untuk bermain. Begitulah sifat atau watak dari sebuah permainan. Saat dimainkan, maka ia akan selalu menantang untuk terus dilakukan.
Menurut Brooks (1971), permainan merupakan istilah yang digunakan secara bebas, sehingga arti utamanya mungkin hilang. Arti yang paling tepat dari permainan ialah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir.

Ada permainan yang dilakukan untuk mencapai kemenangan. Kemenangan ini dijadikan sebagai tujuan akhir dari sebuah permainan. Sebut saja permainan olahraga. Tetapi, ada juga permainan yang tidak memepertimbangkan hasil akhir. Permainan ini dilakukan bukan untuk memperoleh hasil akhir, tetapi sekadar menikmati sensasi kesenangan yang ditimbulkan.
Sebut saja anak yang bermain layang-layang. Bermain layang-layang umumnya dilakukan hanya karena sensasi kesenangan yang ditimbulkan dari permainan itu. Tidak ada hasil akhir berupa kemenangan yang ingin diperoleh.

Allah SWT mengibaratkan dunia sebagai suatu permainan. Seseorang yang menyukai permainan ini tidak akan pernah menghiraukan hasil akhirnya. karena yan diburu hanya kesenangan semata, tentu saja akibat dari permainan ini hanyalah kelalaian demi kelalaian.
Maka, Allah  SWT berfirman dalam QS Al-Hadid : 20

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."


Perhiasan, kemegahan materi, berlomba dalam kebanggan tentang siapa yang paling memiliki banyak harta dan anak merupakan faktor-faktor yang menimbulkan aspek kesenangan sebagaimana halnya permainan.
Kata lai'ib dalam ayat tersebut biasa diterjemahkan dengan "Permainan", yang digunakan Al-Qur'an untuk menyatakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh pelakunya bukan untuk tujuan yang wajar, dalam arti membawa manfaat atau mencegah mudharat. Permainan itu dilakukan tanpa tujuan, bahkan hanya untuk menghabiskan waktu.

Sedangkan, kata lahwun adalah suatu perbuatan yang mengakibatkan kelengahan pelakunya dari pekerjaan yang bermanfaat atau lebih penting dari-nya.
Susunan kegiatan-kegiatan yang disebut dalam ayat tersebut, menurut Rasyid Ridha, salah seorang pakar tafsir asal Lebanon, dan sebagaimana disinggung juga oleh Thabathaba'i, merupakan gambaran dari awal perkembangan manusia hingga mencapai kedewasaan, kematangan, dan ketuaannya.

Permainan merupakan gambaran keadaan anaka kecil yang merasakan lezatnya permainan, walaupun ia melakukannya tanpa tujuan apa-apa, kecuali hanya bermain. Permainan ini menimbulkan kelalaian karena pelakunya sangat mungkin berpikir sebagaimana halnya anak kecil. Ia tidak memiliki kesadaran yang membuatnya mengerti dari mana kita berasal, bagaimana harus mengisis hidup, dan ke mana akhir tujuan hidup kita. Akibatnya, mereka tidak mengetahui bagaimana seharusnya mengisi waktu dengan sebaik-baiknya.

Disebutkan kata perhiasan karena berhias merupakan salah satu kebiasaan remaja. lalu, disusul dengan ungkapan berbangga-bangga, yang merupakan sifat anak kecil. Kemudian, diakhiri dengan pernyataan memperbanyak harta dan anak, yang menggambarkan bahwa itulah sifat orang tua atau dewasa.
Karena seperti itulah sifat dunia, alangkah penting kita merenungkan pernyataan Ali bin Abi Thalib kepada seseorang yang datang dan bertanya tentang ciri-ciri dunia:
"Dunia ini tidak lain adalah suatu tempat yang awalnya adalah kesusahan dan akhirnya adalah kehancuran. Yang halal darinya akan dihisab, sedangkan yang haram darinya akan diberi hukuman. Yang kaya di dalamnya terkena fitnah, dan yang fakir di dalamnya bersedih hati"

Pada akhirnya ayat tersebut, Allah SWT kembali menegaskan bahwa kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah kesenangan yang sifatnya menipu.

Wednesday, October 17, 2018

Kesenangan yang Sedikit Kehidupan di Dunia

kehidupan di Dunia
Banyak oran berlomba-lomba menggapai kesenangan-kesenangan hidup di dunia. Tidak peduli cara yang harus mereka tempuh, mereka tidak peduli halal dan haram, karena yang menjadi tujuan utama hanyalah meraih kesenangan. Asalkan kesenangan bisa diraih, cara yang buruk pun mereka lakukan.
Sekalipun kesenangan di dunia bisa dicapai, tetapi Alllah SWT menyatakan bahwa kesenangan itu hakikatnya sedikit. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT sebagi berikut:
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). [QS Ar-Ra'ad :26]

Ayat tersebut memberi penjelasan kepada kita bahwa rezeki yang diberikan kepada manusia sesungguhnya mutlak menjadi urusan Allah SWT. Tidak seorang pun yang dapat menentukan sendiri secara tepat tentang jumlah rezeki yang dapat diperoleh hari ini.
meskipun demikian, rasionalitas manusia dapat memperhitungkan bahwa bagi sipa saja yang sudi bekerja keras, tentu mereka mendapatkan hasil yang lebih daripada mereka yang hanya bermalas-malasan.
Di sisi lain, harta benda yang menyenangkan itu memang mengandung daya pukau luar biasa. Tidak heran kalau banyak orang yang membanting tulang tanpa kenal waktu demi mengejar pesona harta dan kesenangan dunia lainnya. Mereka melupakan kewajiban,; mengabdi dan menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah SWT. 
Untuk apa itu semua dilakukan? Tidak lain, kecuali untuk mengejar kesenangan.
Akan tetapi, akhir dari ayat tersebut menjadi sanggahan yang harus kita renungkan bersama. Ternyata, kesenangan dunia yang dicari begitu rupa itu tidaklah seberapa. Kesenangan tersebut hanya bersifat sementara. Seseorang tidak seharusnya mencurahkan tenaga untuk menggapai kesenangan yang sementara, karena sesudah kehidupan dunia ini masih terdapat kehidupan akhirat yang menawarkan kesenangan yang jauh lebih berharga dibandingkan dengan kesenangan dunia.

Terkait ayat tersebut, sebuah riwayat dari Tirmidzi dan Ibnu Mas'ud menjelaskan bahwa suatu ketika, rasulullah saw, pernah tidur di atas sehelai tikar. kemudia, beliau bangun dari tidurnya dan kelihatan bekas tikar itu disamping tubuhnya. lalu, para sahabat berkata, "ya Rasulullah, seandainya kami ambilkan tempat untukmu?"
Rasulullah menjawab, "Aku dan dunia ini tidak ada artinya. Aku hidup di dunia hanya laksana seoarang pengendara yang bereteduh sejenak di bawah sebatang pohon kayu, kemudian ia berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu."
Demikianlah kehidupan dunia. Seperti apa pun bentuk kesenangan yang ditawarkan olehnya, suatu ketika kita pasti meninggalkannya.

Aisyah berkata, "Suatu ketika, aku memakai baju besi baruku. Aku terus memandangnya dan merasa kagum terhadapnya. lalu, ayahku (Abu Bakar ash-Shiddiq) berkata, 'Apa yang engkau lihat? Sesungguhnya, Allah tidak melihat (tidak menilai) kepadamu (harta, perhiasan yang kamu kagumi)! Aku bertanya, 'Kenapa bisa begitu? Ayahku menjawab, 'Tidakkah engkau ketahui, ketika seorang hamba dihinggapi asa takjub (berlebihan) terhadap perhiasan dunia maka Allah SWT murka kepadanya hingga Dia memisahkan perhiasan itu dengannya.' lau, aku lepas pakaian itu, dan aku sedekahkan.' Ayahku berkata, 'Mudah-mudahan yang engkau lakukan bisa menghapus dosa-dosamu."

begitulah spirit dan cara pandang para sahabat dan keluarga Rasulullah saw. Dalam memandang kehidupan dunia. Tentu, kita patut mengambil spirit dan teladannya.

Monday, October 15, 2018

Hakikat Kehidupan di Dunia dalam Pandangan Islam


Jangan Mati Sia-Sia!
Kita sering kali menedengar bahwa kehidupan di dunia hanyalah smentara. Setelah kehidupam ini, masih ada kehidupan lanjutan yang akan dialami oleh semua manusia. Orang jawa mengibaratkan bahwa kehidupan di dunia ini seperti orang yang sedang berada dalam perjalan panjang, lalu berhenti sejenak untuk sekadar minum.
Ibarat tersebut, secara gamblang memberikan pengertian betapa singkatnya kehidupan seseorang di dunia. Tidak ada sesuatu yang abadi di alam dunia. Semuanya senantiasa mengalami perubahan yang mengisyaratkan pada terjadinya kebinasaan dan ketiadaan.

Begitu juga dengan kehidupan manusia. Selama di dunia, tidak seorang pun yang bisa hidup dalam keabadian, baik keabadian usia, fisik, pikiran, dan seterusnya.Ada tiga fase kehidupan manusia di dunia, yang senantiasa berubah dan berjalan menuju ketiadaan atau ketidakabadian.

Fase pertama ketika manusia masih berupa janin yang terbentuk oleh bertemunya sperma (Laki-laki) dan ovum (perempuan). Bertemunya kedua unsur ini meneyebabkan terjadinya pembuahan, ang sekaligus merupakan cikal-bakal terbentuknya janin. Kita tahu bahwa janin bisa bertahan hidup hingga lahir sempurna sebagai manusia. Namun, tidak sedikit juga janin yang tidak bisa bertahan, baik karena sebab tertentu atau tidak sama sekali.
Kejaidan-kejadian seperti itu menunjukkan bahwa selalu terjadi perubahan dalam kehidupan manusia selama hidup di dunia. Perubaha-perubahan itu menunjuk pada satu kenyataan tentang betapa tidak ada yang abadi di dunia. Semua mengarah kepada ketiadaan.

kedua, fase manusia ketika lahir. Saat lahir, manusia disebut bayi. kemudia, ia memasuki fase anak-anak, remaja, dan kemudian dewasa. Dalam fase-fase itu, kita juga sering kali menyaksikan berlakunya hukum kesementaraan. Ada manusia yang meninggal di kala masih anak-anak, remaja, atau dewasa.
Seandainya kehidupan manusia di dunia tidak dibatasi oleh hukum kesementaraan hidup, tentu tidak akan ada peristiwa kematian semacam ini.

ketiga, fase tua. memang, ada manusia yang usianya mencapai seratus tahun atau bahkan lebih dari itu. Tetapi, coba perhatikan, apakah kondisi ini masih dapat diandalkan sebagaimana mereka masih berusia 20-30 tahunan?
Tidak
Usia mereka memang panjang. Tetapi, kondisi fisik dan pikiran mereka sudah menunjukkan tanda-tanda ketidaksempurnaan. mata sdah tidak bisa melihat dengan jelas, Pikiran sudah tidak bekerja dengan jernih, bahkan mungkin mereka sudah tidak bisa berjalan dengan baik.

Dalam keadaan seperti itu, semakin jelas bagi kita bahwa usia kehidupan tak bisa begitu lama dipertahankan. Tiap-tiap sesuatu dapat dicari penggantinya. Kecuali usia. Usia yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan, dan ia pergi selamanya.

Terkait dengan hal itu, Allah SWT, memberikan beberpa gambaran tentang kehidupan di dunia, sebagai berikut:

  1. Kesenangan yang sedikit
  2. Permainan yang melalaikan
  3. Sesuatu yang berujung pada neraka
  4. Senda gurau dan main-main
  5. Tak lebih seperti kulit luar
  6. bagai curahan air hujan



Saturday, October 13, 2018

Jangan mati Sia-Sia !! Karena Hidup tak Sekadar menunggu mati, berbuat Kebikanlah


Manusia pasti mengalami kerugian-kerugian. itulah sumpah Allah SWT dalam terjemahan ayat QS Al-'Ashr 1-3. Namun, Dia juga memberikan jaminan bahwa yang tidak akan merugi hanyalah orang-orang yang beriman kepada-Nya dan melakukan kebaikan. Termasuk, mereka yang selalu memberikan nasehat agar mentaati kebaikan dan bersabar.
karena yang memberikan jaminan langsung adalah Allah SWT, tentulah jaminan tersebut bukanlah mengada-ada. Jaminan itu pasti benar adanya. Hanya saja, persoalannya adalah seberapa banyak manusia yang bersedia menerima jaminan itu dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sebelumnya.

Hasil gambar untuk QS Al-'Ashr 1-3

Jika kita mengikuti ringkasan ayat tersebut, maka yang harus kita lakukan pertama kali agar terhindar dari kerugian itu adalah beriman kepada Allah SWT dan terhadap lima rukun iman yang lainnya, yaitu beriman kepada para rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, para malaikat, hari akhir, dan ketentuan-ketentuan baik dan buruk.
Iman menempati urutan pertama agar manusia tidak rugi atau tidak sia-sia dalam menjalani kehidupannya. Dengan keimanan, seseorang memiliki sandaran hidup yang jelas, tujuan hidup yang pasti, harapan dan sekaligus tempat bergantung yang kokoh.

Iman bukan sekadar percaya akan keberadaan Allah SWT. Adapun yang terpenting dari kepercayaan kepada-Nya adalah adanya kepastian bahwa kita akan menjadikan-Nya sebagai apa. Sebab, sedikit orang yang percaya bahwa Allah SWT itu ada. Tetapi, mereka tidak benar-benar menjadikan-nya sebagai sandaran utama dalam hidup mereka.
Rukun iman hafal di luar kepala. hanya saja, banyak diantara kita yang tidka memahami akan dikemanakan hafalan tentang rukun iman yang enam tersebut. Karenanya, makan beriman kepada Allah SWT, bukanlah sekadar yakin bahwa Allah ada, melainkan harus dipastikan bahwa memang kepada-nya saja kita tunduk dan patuh akan perintahnya dalam hidup ini.

Sesudah beriman, Allah SWT emberika syarat agar kita melakukan amal shalih agar terhindar dari kerugian dan kesia-siaan. Tetapi, tentang seperti apa amal kebaikan itu dan bagaimana cara melakukannya lewat Al-Qur'an, menghadirkan contoh Rasulullah saw, yang kemudian ajaran-ajaran kebikan itu dilakukan dalam agama Islam.
Sejatinya, manusia mampu merumuskan sendiri makna kebaikan itu. Akan tetapi, tanpa bimbingan wahyu, tanpa keteladanan dari manusia-manusia pilihan, kebaikan yang diciptakan manusia bisa saja sangat berbahaya karena nantinya akan mengalami kontra kepentingan dengan manusia-manusia lainnya.

Karena itu, dijelaskan bahwa yang terpennting hanyalah saling mengingatkan tentang kebaikan, terutama kebaikan berdasarkan Al-Qur'an dan hadist. Bukan kebaikab menrut subjektifitas masing-masing manusia.
Jika ajaran dalam kandungan ayat yang telah disebutkan sebelumnya benar-benar mampu diterapkan, tidak akan adal manusia yang hidupnya sia-sia. Benarlah pernyataan Imam Syafi'i "Seandainya umat Islam memahami surat Al-'Ashr, maka itu sudah cukup bagi hidup mereka".




Sumber : Kamil Ahmad Al-Jauzi. Jangan Mati Sia-Sia!

Monday, September 17, 2018

Pengendalian Mutu Statistik



Seperti telah dijelaskan dimuka, pengendalian mutu statistik (statistical quality control) adalah salah satu metode dalam perjalanan panjang sejarah perbaikan/peningkatan mutu pada perusahaan industry manufaktur. Walaupun hingga saat ini tidak sedikit perusahaan masih menggunakan teknik pengendalian mutu statistic, konsep ini cenderung tidak digunakan lagi karena dipandang tidak memberikan penyelesaian tuntas terhadap amasalah mutu karena masih memberi peluang terjadinya variasi pada produk. Namun demikian, pemahaman terhadap konsep ini masih diperlukan untuk memudahkan pengembangan system mutu.
            Pengendalian mutu statistic terdiri dari tiga isu pokok yaitu rencana sampling penerimaan (acceptance sampling plan), inspeksi perbaikan (rectifying inspection) dan peta kendali (control chart). Tidak diketahui siapa yang mengembangkan ide rencana sampling penerimaan, tapi Duncan mengatakan bahwa sampling penerimaan adalah salah satu bidang utama pengendalian mutu statistic. Ide inspeksi perbaikan dikembangkan oleh Harold F. Dodge dan Harry G. Roming pada The Bell Telepon Laboratories sebelum Perang Dunia II. Ide inspeksiperbaikan pada awalnya terbatas digunakan untuk pengendalian mutu secara sampling lot-for lot tetapi kemudian pada tahun 1943 diperluas untuk produksi secara kontinu. Pada tahap selanjutnya diperluas lagi oleh G.A. Baenard dan F.J. Anscombe. Pengendalian mutu dengan menggunakan teknik peta kendali dikembangkan oleh Dr. Walter A. Schewhart juga dari The Bell Telephone Laboratories untuk mempelajari dan mengendalikan proses yang bersifat repetitive. Dr. Schewhart adalah orang yang pertama sekali mengembangkan prinsip dasar pengendalian mutu pada tahun 1931 menulis buku tentang pengendalian mutu statistic.
a.       Sampling Penerimaan
Setiap perusahaan memiliki tradisi bahwa setiap kali menerima pesanan dari pemasoknya apakah berupa bahan baku, komponen/part untuk proses operasi perakitan dan lain-lain tidak lupa memeriksa barang pesanan tersebut. Jika jumlah barang yang diterima relative sedikit maka mungkin pemeriksaan satu per satu terhadap seluruh item dilakukan. Tetapi, apabila dalam volume yang cukup besar, pemeriksaan dilakukan dengan cara mengambil sampel, kemudian menguji sampel tersebut dan membuat keputusan menerima atau menolak kiriman tersebut. Kiriman dikatakan dapat diterima apabila hasil pemeriksaan sampel menunjukkan bahwa mutu sesuai dengan standar yang ditentukan dan ditolak apabila berada di bawah standar.
Sampling penerimaan ditujukan hanya untuk mendapatkan informasi tentang tindakan yang akan diambil yaitu menerima atau menolak kiriman karena factor mutu dan sama sekali tidak untuk mengestimasi mutu barang kiriman tersebut. Sampling penerimaan menjelaskan prosedur bagaimana pemeriksaan dilakukan dan apabila diikuti akan diperoleh sebuah risiko tentang setiap alternative tindakan yang diambil yaitu risiko karena menerima atau risiko karena menolak.

Dalam konteks perbaikan mutu, sampling penerimaan merupakan sebuah peringatan yang efektif kepada para manjer produksi untu menghasilkan produk-produk bermutu dan teruji sebelum dikirimkan kepada perusahaan yang memesannya untuk menghindarkan penolakan. Setiap penolakan atas barang kiriman akan menjadi kerugian sehubungan dengan factor klaim kerugian oleh pemesan disamping biaya untuk pengerjaan ulang atau mungkin pula barang kiriman itu sepenuhnya mejadi skrap. Tidak jarang pula apabila terjadi penolakan maka reputasi perusahaan yang membuat produk tersebut akan merosot dimata pelanggannya.
Pengambilan sampel dalam sampling penerimaan pada umumnya dilakukan apabila:
·         Biaya inspeksi terhadap setiap item yang diterima cukup mahal serta risiko biaya yang akan diderita perusahaan penerima apabila ada item cacat yang lolos tidak besar.
·         Pelaksanaan pemeriksaan 100% sangat melelahkan sehingga kemerosotan terhadap tingkat ketelitian para pemeriksa sulit dihindarkan.
·         Pemeriksaan bersifat merusak sehinga item yang iperiksa menjadi skrap atau harus dibuang.
Sampling penerimaan bersifat inspeksi atribut (attribute sampling) dalam arti hasil pemeriksaan hanya mengkategorikan item yang diperiksa sebagai cacat atau tidak cacat. Untuk itu, definisi cacat dirumuskan dengan jelas sehingga terhindar dari berbagai interpretasi. Semua item yang berada di luar definisi dinyatakan sebagai item cacat.
Sampling penerimaan dapat dilakukan atas sampel tunngal atau sampel berganda tergatung kepada kesediaan menerima besarnya risiko atas keputusan menolak atau menerima. Perlu dipahami bahwa risiko terjadi karena pemeriksaan yang dilakukan hanya atas sampel secara sensus sehingga ada kemungkinan item cacat turut dalam lot yang dinyatakan dapat diterima. Berikut ini akan diuraikan secara ringkas masimg-masing dari kedua sampling tersebut.
1)      Sampling penerimaan tunggal
Rencana sampling penerimaan tunggal (a single sample fraction defective plan) menjelaskan ukuran sampel yang diambil secara random, kemudian menghitung jumlah cacat dalam sampel tersebut sesuai hasil pemeriksaan dan selanjutnya membandingkan jumlah item cacat dengan jumlah maksimum yang diperkenankan. Jika jumlah item cacat lebih kecil atau sama dengan jumlah maksimum yang dipersyaratkan maka lot yang dikirimkan dinyatakan layak diterima sebaliknya akan dinyatakan ditolak. Prosedur sampling penerimaan ini ditulis dengan notasi dua bilangan n dan c yaitu:
§  Ambil sampel berukuran n dari lot berukuran N
§  Periksa sampel berukuran n tersebut dan hitung jumlah item cacat d.
§  Terima lot berukuran N apabila jumlah item cacat lebih kecil atau sama dengan batas maksimum yang ditetapkan, sebaliknya ditolak lot terssebut. Atau
§  Bila d ≤ c, maka lot diterima,
§  d > c , maka lot ditolak
Pada umumnya perusahaan yang mengirimkan lot menyatakan mutu item atau produk yang dikirimkannya dalam bentuk persentasi cacat berdasarkan hasil pemeriksaan atas kemampuan proses produksinya. Misalnya dikatakan bahwa proses produksi mempunyai karakteristik 2% cacat. Hal ini tidak berarti bahwa setiap berproduksi selalu menghasilkan produk dengan jumlah cacat sebanyak 2%, tetapi berfluktuasi dengan   rata-rata 2%. Dengan demikian, sebuah lot yang dikirim mungkin tidak memiliki item cacat tetapi mungkin pula memiliki banyak item cacat. Sehubungan dengan itu, perusahaan yang mengirimkan lot perlu mengetahui probabilitas kirimannya akan diterima atau ditolak setelah perusahaan pelanggannya menetapkan batas maksimum jumlah cacat yang dapat diteolerir setelah pemeriksaan.
2)      Sampling penerimaan berganda
Rencana sampling penerimaan berganda (double and sequential frction- fective plan) memiliki 5 bilangan n1, n2, c1, c2 dan c3 dimana c<c≤c. prosedur pengambilan keputusan terhadap lot yang dikirim ialah:
·         Ambil sampel pertama berukuran n1 dari lot berukuran N
·         Periksa sampel berukuran n1, dan hitung jumlah item cacat
·         Bila jumlah item cacat lebih kecil atau sama dengan c1 maka lot N diterima, dan bila c maka lot ditolak. Bila jumlah item cacat lebih besar dari c1 tetapi tidak lebih besar dari c2, maka ambil sampel kedua berukuran n2.
·         Jika dalam kedua sampel tersebut secara bersama-sama jumlah item cacat ≤c3 maka lot berukuran tersebut diterima.

b.      Inspeksi Perbaikan
Inspeksi perbaikan adalah metode untuk mengetahui mutu rata-rata produk yang dihasilkan oleh suatu tahapan proses produksi dari kumpulan produksi, inspeksi sampling dan perbaikan terhadap lot yang telah ditolak. Metode ini efektif digunakan untuk inspeksi barang yang dating (incoming inspection), work-in-progress(work-in-progress inspection) dan lot yang telah ditolak (rectification of rejected lot) atau terhadap produk akhir (final inspection). Perlu diketahui bahwa terhadap lot yang telah ditolak, inspeksi perbaikan dilakukan secara 100% dalam arti item dalam lot tersebut diperiksa dan jika ditemukan item cacat maka kemudian diganti dengan item yang tidak cacat. Dengan demikian, lot tersebut sudah bebas dari item cacat.
Konsep mutu rata-rata (average quality) dalam inspeksi perbaikan ialah nilai yang diharapkan (expected value) akan diperoleh dalam proses jangka panjang apabila jumlah cacat rata-rata ialah p¹.
c.       Peta Kendali Mutu
Peta kendali mutu digunakan untuk mempelajari untuk mempelajari variasi-variasi yang terjadi pada produk yang dihasilkan seperti ukuran, kandungan komponen tertentu, kehalusan permukaan, dan lain-lain. Peta ini tidak membahas bagaimana variasi terjadi atau mengukur besarnya variasi yang terjadi tetapi lebih kepada menafsirkan arti daripada variasi yang ditemukan. Peta kendali mutu digunakan dengan berbagai tujuan antara lain ialah untuk menjaga proses operasi agar selalu berada pada batas-batas kendali, memberikan informasi kepada manajemen tentang kemampuan proses dalam memenuhi spesifikasi yang ditetapkan oleh manajemen dan menjadi dasar pertimbangan tentang tercapai tidaknyatujuan (mutu). Peta kendali beroperasi dengan menggunakan data-data yang diperoleh dari pengukuran atas sampel yang diambil dengan metode tertentu dan hasilnya diolah secara statistik.
Pada setiap proses operasi, walaupun bagaimana besarnya upaya dilakukan, hasil yang diperoleh tidak pernah persis sama. Katakanlah dalam hal proses, operasi penghalusan permukaan yang dilakukan oleh electronic polishing machine pada lembar-lembar plat logam. Mungkin dengan pemeriksaan secara kasat mata, setiap lembar yang dihasilkan terlihat persis sama tetapi apabila kehalusan permukaan diukur dengan electronic micrometer maka akan terlihat variasi hamper tidak mungkin dihilangkan maka para insinyur menggunakan terminology batas toleransi sebagai upaya mengambil keputusan bahwa suatu produk itu diterima atau ditolak. Produk dinyatakan dapat diterima apabila berada dalam batas toleransi dan ditolak karena berada diluar batas toleransi.
Variasi pada hasil proses operasi dapat ditimbulkan oleh slah satu atau kedua sebab berikut ini. Pertama ialah variasi karena factor random (random causes). Factor random adalah fenomena alam yang tidak dapat dihindarkan. Variasi yang terjadi karena factor random sangat beragam tetapi masing-masing memberikan kontribusi yang relative cukup kecil. Variasi yang terjadi karena factor random secara keseluruhan disebut change-variation. Variasi antar produk-produk yang dihasilkan oleh peralatan berteknologi tinggi pada umumnya bersumber pada factor random.
Kedua ialah variasi karena factor khusus (assignable error). Factor khusus yang dimaksud meliputi factor manusia (human error) misalnya karena kelalaian, kurangnya keterampilan dan lain-lain, factor bahan misalnya ketidaksesuaian mutu bahan, homogenitas (keseragaman mutu) bahan dan lain-lain. Variasi karena factor khusus relative cukup besaar dan pada dasarnya dapat dihindarkan atau paling tidak akan dapat ditekan melalui pelatihan, perawatan fasilitas produksi, pemeriksaan bahan secara teliti dan lain-lain sehingga tidak membawa pengaruh buruk secara signifikan terhadap produk.
Pemahaman terhadap sifat-sifat dari chance variation adalah fundasi dari analisis peta kendali. Jika sekelompok data misalnya data mengenai fraksi cacat produk yang diperoleh dari hasil pengujian sejumlah sampel dan ditemukan bahwa variasi fraksi cacat tersebut memenuhi pola distribusi tertentu maka cacat-cacat tersebut dapat diasumsikan bersumber dari factor random (chance variation) dan tidak disebabkan factor khusus. Kondisi system produksi dari mana sampel-sampel tersebut ditarik sepenuhnya dikatakan terkendali (under control) dalam arti bahwa jika hanya factor random yang menjadi sumber penyebab cacat maka jumlah dan karakter variasi dapat diprediksi. Sebaliknya, jika variasi data tersebut tidak sesuai dengan salah satu pola distribusi statistik maka dapat disimpulkan cacat-cacat yang terjadi adalah karena factor khusu dan system produksi dari mana sampel-sampel itu ditarik dikatakan out of control (di luar batas kendali).
Seperti telah dijelaskan sebelumnya peta kendali adalah sebuah alat untuk menjelaskna keadaan statistic yaitu, alat untuk melakukan pengendalian dan juga alat untuk mengetahui apakah pengendalian telah bekerja atau belum. Misalkan sampel-sampel berukuran tertentu ditarik secara sistematik dari sebuah proses dan data statistic X sampel-sampel tersebut misanya jumlah cacat pada sampel, atau rata-rata sampel kemudian dihitung. Misalkan data-data sampel tersebut memenuhi pola distribusi tertentu misalnya distribusi normal. Jika besar sampel memadai maka akan dapat diestimasi rata-rata dari distribusi X berdasarkan rata-rata masing-masing sampel tersebut untuk mengestimasi deviasi standar distribusi X dari variasi sampel-sampel. Sebuah peta kendali untuk sampel-sampel tersebut sudah dapat digambarkan seperti terlihat dalam gambar 5.6.


Gambar 5.16   Contoh Sebuah Peta Kendali
Duncan mengemukakan bermacam-macam peta kendali, namun tiga diantaranya yang paling banyak mendapat perhatian para praktisi pengendalian mutu ialah Peta p, Peta X dan Peta R, dan Peta c.