Thursday, February 21, 2019

Suka mengingkari Janji



Kita tahu betapa tidak menyenangkan saat seseorang berjanji lalu mengingkarinya. Janji yang diingkari bukan hanya mendatangkan kerugian bagi para pelakunya.
Ingkar janji akan membuat kita tidak mudah dipercaya. Ketika sudah tidap dapat dipercaya lagi, maka dengan sendirinya kita terkucilkan dari pergaulan. Tidak aka nada yang bersedia mengajak kerja sama bagi orang-orang yang suka mengingkari janji.

Image result for Pria muslim sejati
Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. memmberikan celaan kepada orang-orang yang suka mengingkari janji. Salah satunya, Dia menyebut orang yang mengingkari janji sebagai orang yang rugi. Simaklah firman-Nya sebagai berikut:
“(Yaitu), orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 27)

Ketika Allah Swt. sudah menyatakan bahwa hanya kerugianlah yang akan diterima oleh orang-orang yang suka ingkar janji, maka pernyataan itu tidak dapat dibantah lagi kebenarannya. Kita mungkin pernah merasakan akibat buruk dari kebiasaan ingkar janji. Semuanya pasti berakhir dengan kerugian semata.

Di antara bentuk-bentuk kerugian akibat kebiasaan mengingkari janji adalah sebagai berikut:
Pertama, pelakunya cenderung terkucilkan dari pergaulan. Orang yang suka ingkar janji biasanya banak ditingalkan oleh rekan-rekannya. Mereka cenderung bersikap waspadasehinga persahabatan yang terjalin pun menjadi persahabatn yang kaku, penuh kecurigaan satu sama lainnya.

Kedua, sumber perpecahan. Tidak sedikit pertengkaran yang terjadi karena perbuatan berupa janji yang diingkari. Sepasang suami-istri akan terlibat pertengkaran bahkan perceraian apabila ikatan janji pernikahan di antara mereka dinodai oleh pengingkaran.
contohnya adalah perselingkuhan. Selingkuh adalah bentuk dari pengingkaran janji setia yang mereka ikrarkan pada saat menjalani ikatan pernikahan. Banyak sekali kasus perselingkuhan (ingkar janji pernikahan) yang menyebabkan retaknya persaudaraan, menyebabkan permusuhan dan pertengkaran.

Ketiga, musuh banyak orang. Kita boleh saja ingkar janji kepada satu orang. Tetapi, percayalah bahwa pada akhirnya aka nada puluhan hingga ratusan orang yang tidak akan mempercayai kita lagi. Sebab, bisa jadi satu orang yang kita ingkari itu akan mengingatkan rekannya yang lain untuk berhati-hati saat berhubungan dengan kita.

Keempat, pemicu terjadinya keburukan lain. Mengingkari janji, apabila tidak disadari sebagai sebuah kesalahan dan keburukan, hanya akan mengarahkan kita terjerumus ke dalam perilaku buruk lainnya.
Seseorang yang mengingkari janji dan tidak mau menyadari bahwa perbuatannya itu mendatangkan kerugian pada orang alin maka ia akan menganggap bahwa perbuatan itu benar. Bisa kita bayangkan jadinya apabila kebohongan dianggap sebagai kebenaran, apalagi diyakini sebagai jalan menguntungkan. Satu kebohongan akibat igkar janji bila dianggap dapat menguntungkan pelakunya maka akan menjadikan pelakunya kembali mengulangi perbuatan itu lagi. Begitulah seterusnya.


Rasulullah Saw. Bersabda, “Jika amanat itu telah hilanga maka tunggulah datangnya kehancuran.”
Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana bentuk hilangnya, ya rasulullah?”
Beliau menjawab, “Jika diserahkan suatu perkara kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”
(HR. bukhari)
Kita bisa saksikan orang-orang yang mengincar kursi kekuasaan selalu memberikan janji-janji saat mereka kampanye. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Tidak sedikit di antara mereka yang ingkar janji. Berjanji memberantas korupsi malah menjadi pihak yang paling tinggi korupsinya. Akibatnya bisa kita saksikan sendiri. Kerusakan, kekacauan, dan ketidaktenteraman. Itulah bentuk kehancuran yang paling tampak kita saksikan

Monday, February 18, 2019

Suka Pamer dan Membanggakan Diri



Apa yang harus kita banggakan bila hakikat dari semua yang kita miliki pada akhirnya akan kita tinggalkan? Harta yang banyak tak akan pernah sanggup menghalangi datangnya kematian. Istri atau suami yang memikat taka akan pernah mampu menghibur kita di kala sekarat. Anak-anak yang lucu dan  menggemaskan tidak akan pernah menjadi hiburan ketika kita terkapar menunggu datangnya ajal yang akan segera datang.

Image result for Pria muslim sejati
Tetapi, betapa banyak orang yang tidak menyadari kenyataan ini. Betapa banyak orang yang dibuai oleh kemilau harta dunia. Mereka begitu bangga dengan harta, anak-anak dan keluarga, status jabatan, serta kecantikan maupun ketampanan yang dimiliki. Bahkan, kebanggaan itu sedemikian kuat menguasai pikiran sampai yang bersangkutan tidak menyadari bahwa sesuatu yang mereka banggakan pada akhirnya harus mereka tinggalkan.

Rasa bangga dengan hasil capaian dari usaha kita pada dasarnya bukanlah suatu kesalahan. Akan tetapi, jangan sampai sesuatu yang kita miliki menjadikan kita terlalu membanggakan diri, suka pamer di hadapan orang lain. Pamer atau kebiasaan membangga-banggakan diri tidak lain adalah perbuatan yang sia-sia.
Kita perlu menyadari penyebab pamer atau membangga-banggakan diri termasuk perbuatan yang sia-sia. Sebab, di balik perbuatan itu, pada dasarnya terselip benih-benihkesombongan yang hanya mendatangkan kecelakaan bagi kita pelakunya. Tidak ada ceritanya orang yang suka pamer dilarabelakangi oleh kerendahan hati. Sebaliknya, motif mendasar dari perbuatan itu adalah kesombongan.

Itulah sebabnya, Allah Swt. menyatakan ketidaksukaan terhadap orang yang suka membanga-banggakan diri disebabkan oleh perbuatan ini sangatlah dekat dengan kesombongan atau malah merupakan bagian dari kesombongan:
“…Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”
(QS. An-Nisaa’[4]: 36)

Sayyed Muhammad mengutip sebuah syair yang cukup indah:
Aku heran terhadap orang orang yang menyombongkan mukanya,
Padahal dia itu berasal dari setes air yang menjijikkan
Dan besok, ketika di liang lahat akan menjadi bangkai
busuk meskipun sebelumnya rupanya bagus
betapa bodoh orang yang telah tertipu oleh sikap
keterlaluan orang yang telah memuji-mujinya
Janganlah kebodohan orang yang berlebihan
Manyanjungmu itu menghanyutkanmu
Dia memuji dan berkata tanpa pengetahuan yang memadai
Padahal engkau lebih mengetahui apa yang dihasilkan dari keraguannya (perkataannya)

Thursday, February 14, 2019

Janganlah Suka mengumbar Rahasia



Setiap orang pasti memiliki rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain. Bahkan, kita juga memiliki rahasia yang jangankan orang lain, orang terdekat kita pun tidak boleh mengetahui rahasia kita.
Itu semua merupakan suatu kewajaran. Sebuah rahasia, apabila rahasia itu merupakan sesuatu yang dapat mendatangkan aib apabila kita membukanya, tentu harus kita simpan rapat-rapat. Terllebih lagi, jika rahasia itu adalah rahasia orang lain, maka tentu wajib kita menjaganya dengan baik.

Image result for muslim sejati
Ada sebuah ungkapan menarik yang dikemukakan oleh Ali bin Abi Thalib. Ia berkata, “rahasiamu adalah tawananmu. Jika engkau mengungkapkannya, maka engkau akan menjadi tawanannya.”
Tetapi, karena sesuatu yang bersifat rahasia itu memiliki daya tarik tersendiri, maka tidak banyak orang yang benar-benar sanggup menjaga sebuah rahasia. Terutama, rahasia orang lain. Karena itu, muncullah kemudian tindakan-tindakan seperti membuka rahasia orang lain yang pada akhirnya dapat berwujud fitnah, ghibah, dan lainnya.

Timbulnya fitnah atau ghibah pada dasarnya muncul akibat ketidaksanggupan seseorang menjaga rahasia orang lain, seperti halnya keburukan dan kejelekan seseorang. Keburukan dan kejelekan seseorang tidak lain adalah aib. Ia akan mendatangkan rasa malu, rasa tidak senang, dan rasa kurang nyaman apabila dibicarakan kepada orang lain. Karena itu, ia harus dirahasiakan. Menjaga rahasia sama halnya dengan menjaga sebuah amanah. Jika kita membuka rahasia itu, sama saja dengan mengkhianati amanah yang diberikan kepada kita. Sementara , kita tahu bahwa mengkhianati amanah merupakan tanda kemunafikan seseorang.

Rasulullah Saw. Bersabda, “Tanda-tanda kemunafikan itu ada tiga; apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji tidak ditepati, apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. bukhari).
Seringkali, kita melihat orang-orang begitu senang membicarakan rahasia orang lain. Rahasia yang seharusnya dijaga malah dijadikan bahan perbincangan yang menyenangkan. Ngerumpi, ngegosip yang membicarakan rahasia orang lainseakan menjadi tren di kalangan tertentu. Bahkan, semakin banyak rahasia orang yang dibicarakan maka semakin seru obrolan mereka.

Sepintas, memang menyenangkan membicarakan rahasia orang lain. Tetapi, kesenangan itu hanyalah sia-sia karena dirayakan dengan cara yang tidak benar, yakni merugikan orang lain, membuat malu orang lain.

Monday, February 11, 2019

Tidak Segera Bertaubat adalah perbuatan yang sia-sia di dunia



Tidak seorang pun yang tidak pernah melakukan kesalahan. Apalagi, kesalahan yang dilakukan kepada Allah Swt. Dosa dan kesalahan adalah sesuatu yang akrab bagi manusia. Karenanya, di dalam Islam, dikenal adanya perintah bertaubat dan meminta maaf.

Ajaran dan keutamaan bertaubat serta memohon maaf menjadi urgen karena manusia tidak bisa lepas dari kesalahan. Tetapi, seerapa banyak orang yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat karenanya?
Hanya orang-orang yang memiliki kesadaran jiwa dan rendah hati yang mampu memahami kesalahannya serta mengetahui sesuatu yang harus dilakukan untuk menebus kesalahan tersebut. Di luar semua itu, banyak orang yang sudah melakukan kesalahan, namun enggan meminta maaf atau bertaubat.

Padahal, dosa dan kesalahan adalah sebuah noda. Menurut Imam Al-Ghazali, dosa atau kesalahan yang kita lakukan itu bagaikan butiran debu yang menempel pada sebuah cermin. Semakin debu itu dibiarkan menumpuk maka kebeningan cermin lama-lama akan menghilang. Cermin itu tidak akan mampu memantulkan apa pun. Cermin itu tidak lain adalah hati. Dengan demikian, dosa yang dibiarkan menumpuk akan membuat hati pelakunya menjadi pekat dan tidak bisa menerima pantulan hidayah Allah Swt. karena itu, dosa dan kesalahan harus segera dihapus dengan cara memohon ampun dan bertaubat.

Seseorang yang tidak mau memnta maaf atau enggan bertaubat setelah melakukan kesalahan, maka tindakannya itu akan mendatangkan kesia-siaan belaka. Hidup seseorang akan tidak berguna jika tidak diisi dengan pertaubatan yang dilakukan secara terus-menerus. Bahkan, Rasulullah Saw. Membaca istighfar tidak kurang seratus kali setiap hari, sekalipun kita tahu beliau adalah satu-satunya hamba yang selalu mendapat pengampunan dari Allah Swt.
Akan tetapi, sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Itu tidak lain untuk mengajarkan kita tentang pentingnya bertaubat sehingga hati dan jiwa kita menjadi bersih dan mudah menerima petunjuk Allah Swt.

Image result for muslim sejati 
Diriwatkan bahwa suatu ketika, jibril datang menemui rasulullah Saw. Dan berkata, “Hai Muhammad! Tuhan menyampaikan salam dan berpesan bahwa barang siapa dari umatmu bertaubat satu tahun sebelum matinya maka diterimalah taubatnya.”

Rasulullah Saw. Menjawab, “Tempo satu tahun untuk umatku adalah panjang karena kealpaan dan harapan panjang yang menguasai mereka.”
Lalu, Jibril pergi dan kemudian datang kembali seraya berkata, “Tuhanmu berfirman, ‘Barang siapa dari umatmu bertaubat sebulan sebelum matinya maka taubatnya diterima.”
Rasulullah Saw. Menjawab, “Satu bulan pun masih panjang bagi umatku.”
Dan, pergiah Jibril untuk kembali lagi dan membawa pesan bahwa Allah Swt. akan menerima taubat hamba-Nya satu hari sebelum mereka meninggal.
Rasulullah Saw. Menjawab, “Satu hari pun itu masih panjang bagi umatku.”
Jibril pergi, dan kembali lagi. “Hai Muhammad! Barang siapa dari umatmu satu jam sebelum kematiannya maka taubatnya diterima.”
Beliau menjawab, “Satu jam bagi umatku masih panjang.”
Jibril pun pergi, kemudian datang kembali sambil berkata, “Hai Muhammad! Allah Swt. menyampaikan salam dan berfirman, “Barang siapa dari umatmu menghabiskan semua umurnya dalam maksiat dan tidak kembali kepada-Ku (taubat) dalam setahun, sebulan, sehari, atau sejam sebelum matinya samapai detik ia sekarat, sedangkan rohnya sudah berada di tenggorokan dalam keadaan ia tidak dapat mengucapkan taubat dan permintaan ampun dengan lidahnya, tetapi merasa menyesal dengan hatinya, maka Aku mengampuninya.

Bagi sebagian kalangan, redaksional, riwayat tersebut dianggap bertentangan dengan beberapa kaidah lain yang menjelaskan bahwa Allah Swt. tidak akan mengampuni pertaubatan seseorang manakala ia sedang sakaratul maut.
Riwayat tersebut lebih pas jika diartikan sebagai motivasi bagi kita agar tidak berputus asa mengharap ampunan Allah Swt. Hal ini selama kita masih diberi kehidupan dan keyakinan akan sifat Allah Yang Maha Pengampun.
Selain itu, riwayat tersebut juga harus kita jadikan spirit untuk bertaubat dan meyakini betapa Allah Swt. selalu terbuka dan sangat pemurah terhadap hamba-nya yang datang untuk meminta pengampunan. Boleh jadi, riwayat tersebut dipertanyakan status kesahihannya. Tetapi, pesan-pesannya menyiratkan betapa pemurah-Nya Allah Swt. sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk putus asa dalam memohon ampun kepada-Nya.

Oleh sebab itu, jangan kita sia-siakan belas kasih Allah Swt. Jangan tunda, segera bertaubat kepada-Nya. Sebab, kita tidak pernah tahu kapan Allah Swt. menyabut nyawa kita. Jadi, selama masih diberi kesempatan hidup, perbanyaklah bertaubat agar kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan tidak membuat hidup kita jadi sia-sia.

Thursday, February 7, 2019

Memasuki Masjid tanpa Shalat



Masjid adalah tempat yang sangat suci bagi agama Islam. Bukan hanya tempat yang suci, masjid juga merupkana tempat yang memiliki peranan penting dalam islam. Bahkan, dalam peristiwa Hijrah, hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Ketika tiba di madinah adalah dengan membangun masjid yang hingga sekarang dikenal dengan masjid nabawi.

Image result for muslim sejati
Rasulullah Saw, tidak menjadikan masjid hanya sebagai tempat ibaah. Namun, di dalam masjid ini, beliau juga banyak membicarakan hal-hal penting menyangkut masa depan Islam, mulai dari masalah politik, mangatur strategi perjuangan, dan lain sebagainya.
Banyak hadist yang menjelaskan tentang seseuatu yang harus dilakukan oleh umat islam dalam memperlakukan masjid. Seperti halnya larangan masjid, membuat kegaduhan di dalam masjid, serta menjaga kesucian masjid. Bahkan, wanita yang sedang haid diharamkan memasuki masjid semata-mata untuk menjaga kesucian tempat yang mulia ini.

Karena itu, bagi umat Islam, masjid harus benar-benar diperlakukan dengan baik. Termasuk salah satu cara memuliakan dan menghormati masjid adalah dengan tidak memasuki masjid dan meninggalkannya tanpa melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid.
Sebagaimana artinya, shalat ini dilakukan sebagai wuud penghormatan kita kepada masjid. Berbeda halnya dengan kepercayaan lain yang menghornati sebuah tempat dengan meletakkan sesajen dan hias-hiasan, bagi umat Islam menghormati tempat ibadahnya justru dengan jalan melakukan shalat tahiyatul masjid selain shalat wajib berjamaah di dalamnya.

Bahkan, dalam sabdanya, Rasulullah saw. Juga menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang di akhirat nanti akan mendapatkan perlindungan langsung dari Allah Swt. adalah mereka yang memakmurkan masjid.
Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. menjelaskan bahwa di antara tanda keimanan seseorang adalah mereka yang memakmurkan masjid, melakukan shalat, berzakat, dan hanya takut kepada-Nya. Bahkan, Allah Swt. menyebut orang-orang seperti inilah yang akan mendapatkan petunjuk-Nya:
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Alah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut  (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah [9]: 18)


Karena itu, masukilah masjid dan jangan pernah meninggalkannya sebelum kita melakukan shalat sunnah terlebih dahulu. Dengan cara seperti itulah, maka kedatangan kita ke masjid tidak akan sia-sia.

Monday, February 4, 2019

Membaca al-Qur’an dengan Tergesa-gesa


Image result for muslim sejati
Membaca al-Qur’an merupakan perbuatan yang mulia. Tetapi, perbuatan ini akan menjadi sia-sia kalau dilakukan dengan tergesa-gesa. Di antara bentuk ketergesa-gesaan dalam membaca al-Qur’an antara lain:
Petama, membaca al-ur’an tanpa mengindahkan tata cara membacanya. Dalam mebaca al-Qur’an, kita perlu memperhatikan aturan-aturan yang sudah ditetapkan, seperti memperhatikan pengucapan huruf-hurufnya, panjang pendeknya yang semuanya terangkum dalam ilmu yang dikenal dengan ilmu tajwid.

Kedua, membaca al-Qur’an dengan niat ingin cepat selesai. Mengutamakan kuantitas dengan mengacuhkan kualitas. Memang penting kita banyak mengkhatamkan bacaan al-Qur’an. Akan tetapi, semuanya tetap harus dilakukan dengan cara yang benar. Jangan sampai karena terlalu ingin mengkhatamkan, lantas kit abaca al-Qur’an dengan tergesa-gesa.

Ketiga, membaca al-Qur’an tanpa memperhatikan maksud dari ayat yang kit abaca. Untuk itu, penting kita membaca al-Qur’an sekaligus terjemahannya agar kita memahami arti dari ayat yang kit abaca. Banyak orang yang membaca al-Qur’an, namun sekaligus mengingkari maksudnya. Hal ini terjadi karena tidak memahami maksudnya.


Contoh;
Munkin, tidak banyak orang yang bisa membaca atau bahkan menghafal surat al-Maa’uun. Surat ini berisi penjelasan tentang orang-orang yang disebut pendusta agama karena mengabaikan anak yatim dan orang miskin. Tetapi, pada saat yang bersamaan, karena yang membaca tidak memahami maknanya, justru ia yang melakukan tindakan pendustaan terhadap agama. Ini dikarenakan, salah satunya, ia tidak memahami makna dari yang dibaca.
Allah Swt. berfirman:
“Berkatalah orang-orang yang kafir, ‘Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’, demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).”
(QS. Al-Furqaan[25]: 32)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Swt. menurunkan al-Qur’an dengan tidak tergesa-gesa. Al-Qur’an diturunkan dengan tartil (teratur) sehingga hal itu memudahkan rasulullah Saw. Dalam memahaminya.
Bahkan, secara tegas, Allah Swt. memerintahkan kepada rasulullah Saw. Agar membaca al-Qur’an secara teratur (tartil), tidak tergesa-gesa, serta penuh penghayatan. Kita bisa lihat dalam firman-Nya sebagai berikut:
“…Dan, bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”
(QS. Al-Muzzammil[73]: 4)


Ali bin Abi Thalib memberikan tips sederhana agar kita dapat menghayati al-Qur’an yang kit abaca. Menurutnya, jika kita membaca al-Qur’an, maka bayangkanlah seakan-akan Kitab ini diturunkan secara langsung kepada kita. Dengan membaca al-Qur’an secara benar dan tanpa tergesa-gesa, maka kita terhindar dari perbuatan yang penuh kesia-siaan.

Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya, hati manusia itu berkarat sebagaimana halnya besi yang berkarat.” Lalu, beliau ditanya ‘bagaimana cara membersihkan karat itu?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘dengan membaca al-Qur’an dan banyak mengingat mati.’ (HR. baihaqi)
Abdul Halim Mahmud mengilustrasikan bahwa ketika seseorang ingin membersihkan karat pada sebatang besi, tentu orang itu harus melakukannya dengan teliti, secara perlahan-lahan, dilakukan dengan benar dan konsisiten. Maka, demikian halnya dengan membersihkan hati lewat membaca al-Qur’an, yang juga harus dilakukan dengan benar dan tidak tergesa-gesa.”

Thursday, January 31, 2019

Berdoa bagi Diri Sendiri



Berdoa adalah bagian dari ibadah. Sebagai hamba Allah Swt., kita senantiasa dianjurkan agar banyak berdoa kepada-Nya. Bahkan, orang yang tidak mau berdoa dikatakan sebagai orang yang sombong. Sebab, perbuatannya itu seakan menggambarkan bahwa ia dapat melakukan apa saja dengan kemampuannya sendiri.

Padahal, tidak ada daya apa pun yang dapat dilakukan oleh manusia tanpa pertolongan Allah Swt. yang diberikan kepada mereka. Bahkan Allah Swt. menyebut diri-Nya sebagai ash-Shamad, yakni tempat bergantung segala sesuatu. Artinya, semua alam semesta (manusia, binatang, tumbuhan, jin, dan lainnya) bisa tumbuh dan bergerak menjalankan tugasnya masing-masing hanya karena pertolongan Allah Swt.

Image result for muslim sejati
Dengan berdoa, kita secara gambling mempresentasikan diri sebagai pihak yang tidak berkuasa, dan memang demikianlah keadaannya.tidak ada kekuasaan atau kekuatan apa pun yang dapat kita miliki karena keduanya bersumber dari Allah Swt. sebagai Dzat yang menciptakan kita.
Berdoa juga menandakan ketergantungan kita hanya kepada Allah Swt. semata. Meskipun demikian, berdoa tidak hanya dilakukan bagi diri sendiri. Kita memiliki kewajiban untuk mendoakan orang lain, terutama orang-orang yang sudah berjasa kepada kita, seperti halnya orang tua.

Allah mengajarkan kita agar senantiasa mendoakan kedua orang tua, sebagaimana dalam firman-Nya berikut:
“Dan, rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah, ‘wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
(QS. Al-israa’)


Tak hanya itu, Allah Swt. juga mengajarkan kita untuk mendoakan anak keturunan kita, kedua orang tua kita, bahkan semua orang beriman tanpa terkecuali. Inilah doa nabi Ibrahin yang diabadikan di dalam al-Qur’an. Sekalipun doa ini merupakan doa nabi Ibrahin, tetapi juga menyiratkan sebuah anjuran agar kita tidak hanya berdoa untuk diri sendiri, melainkan juga berdoa bagi orang lain:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).”
(QS. Ibrahin[14]: 40-41)


Dalam salah satu riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah Saw. Pernah berkaa kepada Aisyah agar jangan buru-buru tidur pada malam hari sebelum bershadaqah kepada seluruh umat Islam di dunia. Shadaqah yang dimaksud ternyata adalah doa yang memohonkan ampun bagi mereka.
“Allahummaghfir lil muslimin wal muslimat, wal mu’minina wal mu’minat al-ahyai minhum wal amwat.”

Karena itu, menurut Sufyan Ats-tsauri, berdoa juga dapat menjadi perbuatan sia-sia kalau hanya dibaca bagi diri sendiri, tidak pernah berdoa bagi orang lain, terutama doa bagi kedua orang tua kita. M. Yusuf Abdurrahman (2012) menyebutkan bahwa termasuk perbuatan dosa besar adalah durhaka kepada orang tua.
Bentuk kedurhakaan kepada orang tua antara lain adalah dengan bersikap pelit kepadanya. Pelit itu tidak hanya bermakna kita tidak mau berbagi harta kepada kedua orang tuanya. Anak yang tidak mau mendoakan orang tuanya juga termasuk anak yang pelit. Sebab, Rasulullah Saw. Pernah menyetakan bahwa orang yang pelit itu adalah orang yang tidak mau membaca shalawat, mendoakan keselamatan beliau saat nama beliau disebut. Dengan demikian, pelit juga berkaitan doa.