Google

Monday, September 17, 2018

Pengendalian Mutu Statistik



Seperti telah dijelaskan dimuka, pengendalian mutu statistik (statistical quality control) adalah salah satu metode dalam perjalanan panjang sejarah perbaikan/peningkatan mutu pada perusahaan industry manufaktur. Walaupun hingga saat ini tidak sedikit perusahaan masih menggunakan teknik pengendalian mutu statistic, konsep ini cenderung tidak digunakan lagi karena dipandang tidak memberikan penyelesaian tuntas terhadap amasalah mutu karena masih memberi peluang terjadinya variasi pada produk. Namun demikian, pemahaman terhadap konsep ini masih diperlukan untuk memudahkan pengembangan system mutu.
            Pengendalian mutu statistic terdiri dari tiga isu pokok yaitu rencana sampling penerimaan (acceptance sampling plan), inspeksi perbaikan (rectifying inspection) dan peta kendali (control chart). Tidak diketahui siapa yang mengembangkan ide rencana sampling penerimaan, tapi Duncan mengatakan bahwa sampling penerimaan adalah salah satu bidang utama pengendalian mutu statistic. Ide inspeksi perbaikan dikembangkan oleh Harold F. Dodge dan Harry G. Roming pada The Bell Telepon Laboratories sebelum Perang Dunia II. Ide inspeksiperbaikan pada awalnya terbatas digunakan untuk pengendalian mutu secara sampling lot-for lot tetapi kemudian pada tahun 1943 diperluas untuk produksi secara kontinu. Pada tahap selanjutnya diperluas lagi oleh G.A. Baenard dan F.J. Anscombe. Pengendalian mutu dengan menggunakan teknik peta kendali dikembangkan oleh Dr. Walter A. Schewhart juga dari The Bell Telephone Laboratories untuk mempelajari dan mengendalikan proses yang bersifat repetitive. Dr. Schewhart adalah orang yang pertama sekali mengembangkan prinsip dasar pengendalian mutu pada tahun 1931 menulis buku tentang pengendalian mutu statistic.
a.       Sampling Penerimaan
Setiap perusahaan memiliki tradisi bahwa setiap kali menerima pesanan dari pemasoknya apakah berupa bahan baku, komponen/part untuk proses operasi perakitan dan lain-lain tidak lupa memeriksa barang pesanan tersebut. Jika jumlah barang yang diterima relative sedikit maka mungkin pemeriksaan satu per satu terhadap seluruh item dilakukan. Tetapi, apabila dalam volume yang cukup besar, pemeriksaan dilakukan dengan cara mengambil sampel, kemudian menguji sampel tersebut dan membuat keputusan menerima atau menolak kiriman tersebut. Kiriman dikatakan dapat diterima apabila hasil pemeriksaan sampel menunjukkan bahwa mutu sesuai dengan standar yang ditentukan dan ditolak apabila berada di bawah standar.
Sampling penerimaan ditujukan hanya untuk mendapatkan informasi tentang tindakan yang akan diambil yaitu menerima atau menolak kiriman karena factor mutu dan sama sekali tidak untuk mengestimasi mutu barang kiriman tersebut. Sampling penerimaan menjelaskan prosedur bagaimana pemeriksaan dilakukan dan apabila diikuti akan diperoleh sebuah risiko tentang setiap alternative tindakan yang diambil yaitu risiko karena menerima atau risiko karena menolak.

Dalam konteks perbaikan mutu, sampling penerimaan merupakan sebuah peringatan yang efektif kepada para manjer produksi untu menghasilkan produk-produk bermutu dan teruji sebelum dikirimkan kepada perusahaan yang memesannya untuk menghindarkan penolakan. Setiap penolakan atas barang kiriman akan menjadi kerugian sehubungan dengan factor klaim kerugian oleh pemesan disamping biaya untuk pengerjaan ulang atau mungkin pula barang kiriman itu sepenuhnya mejadi skrap. Tidak jarang pula apabila terjadi penolakan maka reputasi perusahaan yang membuat produk tersebut akan merosot dimata pelanggannya.
Pengambilan sampel dalam sampling penerimaan pada umumnya dilakukan apabila:
·         Biaya inspeksi terhadap setiap item yang diterima cukup mahal serta risiko biaya yang akan diderita perusahaan penerima apabila ada item cacat yang lolos tidak besar.
·         Pelaksanaan pemeriksaan 100% sangat melelahkan sehingga kemerosotan terhadap tingkat ketelitian para pemeriksa sulit dihindarkan.
·         Pemeriksaan bersifat merusak sehinga item yang iperiksa menjadi skrap atau harus dibuang.
Sampling penerimaan bersifat inspeksi atribut (attribute sampling) dalam arti hasil pemeriksaan hanya mengkategorikan item yang diperiksa sebagai cacat atau tidak cacat. Untuk itu, definisi cacat dirumuskan dengan jelas sehingga terhindar dari berbagai interpretasi. Semua item yang berada di luar definisi dinyatakan sebagai item cacat.
Sampling penerimaan dapat dilakukan atas sampel tunngal atau sampel berganda tergatung kepada kesediaan menerima besarnya risiko atas keputusan menolak atau menerima. Perlu dipahami bahwa risiko terjadi karena pemeriksaan yang dilakukan hanya atas sampel secara sensus sehingga ada kemungkinan item cacat turut dalam lot yang dinyatakan dapat diterima. Berikut ini akan diuraikan secara ringkas masimg-masing dari kedua sampling tersebut.
1)      Sampling penerimaan tunggal
Rencana sampling penerimaan tunggal (a single sample fraction defective plan) menjelaskan ukuran sampel yang diambil secara random, kemudian menghitung jumlah cacat dalam sampel tersebut sesuai hasil pemeriksaan dan selanjutnya membandingkan jumlah item cacat dengan jumlah maksimum yang diperkenankan. Jika jumlah item cacat lebih kecil atau sama dengan jumlah maksimum yang dipersyaratkan maka lot yang dikirimkan dinyatakan layak diterima sebaliknya akan dinyatakan ditolak. Prosedur sampling penerimaan ini ditulis dengan notasi dua bilangan n dan c yaitu:
§  Ambil sampel berukuran n dari lot berukuran N
§  Periksa sampel berukuran n tersebut dan hitung jumlah item cacat d.
§  Terima lot berukuran N apabila jumlah item cacat lebih kecil atau sama dengan batas maksimum yang ditetapkan, sebaliknya ditolak lot terssebut. Atau
§  Bila d ≤ c, maka lot diterima,
§  d > c , maka lot ditolak
Pada umumnya perusahaan yang mengirimkan lot menyatakan mutu item atau produk yang dikirimkannya dalam bentuk persentasi cacat berdasarkan hasil pemeriksaan atas kemampuan proses produksinya. Misalnya dikatakan bahwa proses produksi mempunyai karakteristik 2% cacat. Hal ini tidak berarti bahwa setiap berproduksi selalu menghasilkan produk dengan jumlah cacat sebanyak 2%, tetapi berfluktuasi dengan   rata-rata 2%. Dengan demikian, sebuah lot yang dikirim mungkin tidak memiliki item cacat tetapi mungkin pula memiliki banyak item cacat. Sehubungan dengan itu, perusahaan yang mengirimkan lot perlu mengetahui probabilitas kirimannya akan diterima atau ditolak setelah perusahaan pelanggannya menetapkan batas maksimum jumlah cacat yang dapat diteolerir setelah pemeriksaan.
2)      Sampling penerimaan berganda
Rencana sampling penerimaan berganda (double and sequential frction- fective plan) memiliki 5 bilangan n1, n2, c1, c2 dan c3 dimana c<c≤c. prosedur pengambilan keputusan terhadap lot yang dikirim ialah:
·         Ambil sampel pertama berukuran n1 dari lot berukuran N
·         Periksa sampel berukuran n1, dan hitung jumlah item cacat
·         Bila jumlah item cacat lebih kecil atau sama dengan c1 maka lot N diterima, dan bila c maka lot ditolak. Bila jumlah item cacat lebih besar dari c1 tetapi tidak lebih besar dari c2, maka ambil sampel kedua berukuran n2.
·         Jika dalam kedua sampel tersebut secara bersama-sama jumlah item cacat ≤c3 maka lot berukuran tersebut diterima.

b.      Inspeksi Perbaikan
Inspeksi perbaikan adalah metode untuk mengetahui mutu rata-rata produk yang dihasilkan oleh suatu tahapan proses produksi dari kumpulan produksi, inspeksi sampling dan perbaikan terhadap lot yang telah ditolak. Metode ini efektif digunakan untuk inspeksi barang yang dating (incoming inspection), work-in-progress(work-in-progress inspection) dan lot yang telah ditolak (rectification of rejected lot) atau terhadap produk akhir (final inspection). Perlu diketahui bahwa terhadap lot yang telah ditolak, inspeksi perbaikan dilakukan secara 100% dalam arti item dalam lot tersebut diperiksa dan jika ditemukan item cacat maka kemudian diganti dengan item yang tidak cacat. Dengan demikian, lot tersebut sudah bebas dari item cacat.
Konsep mutu rata-rata (average quality) dalam inspeksi perbaikan ialah nilai yang diharapkan (expected value) akan diperoleh dalam proses jangka panjang apabila jumlah cacat rata-rata ialah p¹.
c.       Peta Kendali Mutu
Peta kendali mutu digunakan untuk mempelajari untuk mempelajari variasi-variasi yang terjadi pada produk yang dihasilkan seperti ukuran, kandungan komponen tertentu, kehalusan permukaan, dan lain-lain. Peta ini tidak membahas bagaimana variasi terjadi atau mengukur besarnya variasi yang terjadi tetapi lebih kepada menafsirkan arti daripada variasi yang ditemukan. Peta kendali mutu digunakan dengan berbagai tujuan antara lain ialah untuk menjaga proses operasi agar selalu berada pada batas-batas kendali, memberikan informasi kepada manajemen tentang kemampuan proses dalam memenuhi spesifikasi yang ditetapkan oleh manajemen dan menjadi dasar pertimbangan tentang tercapai tidaknyatujuan (mutu). Peta kendali beroperasi dengan menggunakan data-data yang diperoleh dari pengukuran atas sampel yang diambil dengan metode tertentu dan hasilnya diolah secara statistik.
Pada setiap proses operasi, walaupun bagaimana besarnya upaya dilakukan, hasil yang diperoleh tidak pernah persis sama. Katakanlah dalam hal proses, operasi penghalusan permukaan yang dilakukan oleh electronic polishing machine pada lembar-lembar plat logam. Mungkin dengan pemeriksaan secara kasat mata, setiap lembar yang dihasilkan terlihat persis sama tetapi apabila kehalusan permukaan diukur dengan electronic micrometer maka akan terlihat variasi hamper tidak mungkin dihilangkan maka para insinyur menggunakan terminology batas toleransi sebagai upaya mengambil keputusan bahwa suatu produk itu diterima atau ditolak. Produk dinyatakan dapat diterima apabila berada dalam batas toleransi dan ditolak karena berada diluar batas toleransi.
Variasi pada hasil proses operasi dapat ditimbulkan oleh slah satu atau kedua sebab berikut ini. Pertama ialah variasi karena factor random (random causes). Factor random adalah fenomena alam yang tidak dapat dihindarkan. Variasi yang terjadi karena factor random sangat beragam tetapi masing-masing memberikan kontribusi yang relative cukup kecil. Variasi yang terjadi karena factor random secara keseluruhan disebut change-variation. Variasi antar produk-produk yang dihasilkan oleh peralatan berteknologi tinggi pada umumnya bersumber pada factor random.
Kedua ialah variasi karena factor khusus (assignable error). Factor khusus yang dimaksud meliputi factor manusia (human error) misalnya karena kelalaian, kurangnya keterampilan dan lain-lain, factor bahan misalnya ketidaksesuaian mutu bahan, homogenitas (keseragaman mutu) bahan dan lain-lain. Variasi karena factor khusus relative cukup besaar dan pada dasarnya dapat dihindarkan atau paling tidak akan dapat ditekan melalui pelatihan, perawatan fasilitas produksi, pemeriksaan bahan secara teliti dan lain-lain sehingga tidak membawa pengaruh buruk secara signifikan terhadap produk.
Pemahaman terhadap sifat-sifat dari chance variation adalah fundasi dari analisis peta kendali. Jika sekelompok data misalnya data mengenai fraksi cacat produk yang diperoleh dari hasil pengujian sejumlah sampel dan ditemukan bahwa variasi fraksi cacat tersebut memenuhi pola distribusi tertentu maka cacat-cacat tersebut dapat diasumsikan bersumber dari factor random (chance variation) dan tidak disebabkan factor khusus. Kondisi system produksi dari mana sampel-sampel tersebut ditarik sepenuhnya dikatakan terkendali (under control) dalam arti bahwa jika hanya factor random yang menjadi sumber penyebab cacat maka jumlah dan karakter variasi dapat diprediksi. Sebaliknya, jika variasi data tersebut tidak sesuai dengan salah satu pola distribusi statistik maka dapat disimpulkan cacat-cacat yang terjadi adalah karena factor khusu dan system produksi dari mana sampel-sampel itu ditarik dikatakan out of control (di luar batas kendali).
Seperti telah dijelaskan sebelumnya peta kendali adalah sebuah alat untuk menjelaskna keadaan statistic yaitu, alat untuk melakukan pengendalian dan juga alat untuk mengetahui apakah pengendalian telah bekerja atau belum. Misalkan sampel-sampel berukuran tertentu ditarik secara sistematik dari sebuah proses dan data statistic X sampel-sampel tersebut misanya jumlah cacat pada sampel, atau rata-rata sampel kemudian dihitung. Misalkan data-data sampel tersebut memenuhi pola distribusi tertentu misalnya distribusi normal. Jika besar sampel memadai maka akan dapat diestimasi rata-rata dari distribusi X berdasarkan rata-rata masing-masing sampel tersebut untuk mengestimasi deviasi standar distribusi X dari variasi sampel-sampel. Sebuah peta kendali untuk sampel-sampel tersebut sudah dapat digambarkan seperti terlihat dalam gambar 5.6.


Gambar 5.16   Contoh Sebuah Peta Kendali
Duncan mengemukakan bermacam-macam peta kendali, namun tiga diantaranya yang paling banyak mendapat perhatian para praktisi pengendalian mutu ialah Peta p, Peta X dan Peta R, dan Peta c.



Wednesday, September 12, 2018

TEKNIK PEMBUATAN KEPUTUSAN: TEKNIK PENILAIAN KRITERIA



Apa Yang Dimaksud Dengan Teknik Penilaian Kriteria?
Teknik Pelilaian Kriteria adalah alat pembuatan keputusan tim yang digunakan untuk memilih berbagai alternative dengan menggunakan kriteria yang didefinisikan secara jelas.

Kapan SEbaiknya Teknik Penilaian Kriteria Digunakan?
Gunakan Teknik Penilaian Kriteria bila:
Þ    Tim harus menentukan pilihan dari serangkaian alternative  dan harus ditetapkan pula mengapa pilihan tersebut dijatuhkan.
Þ    Anda perlu memastikan bahwa tim membuat keputusan secara objektif (keputusan disebut objektif apabila didukung oleh gagasan yang kuat).
Þ    Anda menginginkan keputusan yang didukung oleh anggota tim dan alas an rasional keputusan tersebut bisa dikomunikasikan kepada orang lain.
Þ    Anda perlu membuat keputusan berdasarkan alternative hasil sesi Sumbang Saran/Penyaringan atau Matriks Pilihan-Berpasangan.

Tujuh Langkah Teknik Penilaian Kriteria
Langkah 1:    Memulai pertemuan dan mendaftar alternative yang ada
Langkah 2:    Melakukan Sumbang Saran kriteria keputusan
Langkah 3:    Menentukan tingkat relative penting masing-masing kriteria
Langkah 4:    Menetapkan skala penilaian, kemudian memberi nilai alternative yang ada
Langkah 5:    Menghitung skor final
Langkah 6:    Memilih alternative terbaik
Langkah 7:    Menutup sesi Teknik Penilaian Kriteria


Mari kita lihat contoh nyata…
Pengguna Teknik Penilaian Kriteria pada Stasiun Radio JERNIH-FM. Sebuah tim menghadapi masalah pembuatan keputusan dalam menentukan karyawan mana yang akan direkrut untuk sebuah pekerjaan dalam “Bidang pembinaan pendengar.”
Stasiun radio ini tidak mau merekrut dan melatih orang yang keliru. Dalam merekrut, stasiun radio ini juga tidak ingin melakukan proses wawancara yang rumit dan panjang. Hal ini sulit idhindari karena Christine, Kepala stasiun radio tersebut, dibombardir dengan permintaan untuk mempertimbangkan keluarga dan family para karyawan.
Agar prosesnya sederhana dan adil, Christine memutuskan untuk menggunakan Teknik Penilaian Kriteria dalam memilih orang terbaik untuk pekerjaan tersebut. Dia tahu teknik ini akan membantu dirinya dan tim untuk bisa mengevaluasi secara objektif daftar pelamar pekerjaan tersebut…


Langkah 1: Memulai Pertemuan dan Mendaftar Alternatif yang Ada
Pada saat memulai sesi Teknik Penilaian Kriteria:
·        Tetapkan batas waktu sesi. Biasanya 45 sampai 60 menit merupakan waktu yang cukup.
·        Siapkan Formulir Penilaian Kriteria yang masih kosong di flip chart atau transparansi.
·        Daftarlah alternative atau pilihan yang ada di bagian atas Formulir Penilaian Kriteria.
*Catatan: Untuk mendapatkan pilihan atau alternative ini mungkin Anda harus melakukan Sumbang Saran.

Pada hari selasa sore…
Chritine dan tim berencana menyelesaikan wawancara dan telah mendapatkan daftar kandidat yang terpilih-Billy, Ines, dan Vera. Pada hari Rabu, dia memanggil tim perekrutan, membagikan daftar riwayat hidup kandidat, dan meminta mereka untuk membuat keputusan terhadap para kandidat tersebut dalam waktu 50 menit. Christine menjelaskan bahwa mereka akan menggunakan Teknik Penilaian Kriteria karena teknik inilah yang memungkinkan mereka bisa menilai para kandidat secara objektif.
Benny, salah seorang anggota tim, masih meragukan apakah Teknik Penilaian Kriteria ini bisa menjamin objektifitas. Christine meminta Benny untuk melihat dengan lebih cermat Formulir Penilaian Kriteria yang ditetapkan di dinding. Dia memintanya untuk mencermati dua judul kolom di kiri: satu kolom kriteria dan satu lagi kolom bobot. Kriteria untuk pekerjaan ini di JERNIH-FM adalah persyaratan keterampilan dan pengalaman yang ada dalam uraian pekerjaan. Sedangkan bobot adalah tingkat pentingnnya secara relative bagi kelompok masing-masing kualitas atau keterampilan…


Langkah 2: Melakukan Sumbang Saran Kriteria Keputusan
Pada langkah kedua ini, Anda membandingkan alternative yang ada dengan kualitas yang seharusnya ada pada alternative tersebut. Kualitas tersebut disebut sebagai kriteria keputusan. Dalam kehidupan sehari-hari semua orang menggunakan kriteria keputusan. Misalnya, apabila akan membeli rumah, Anda akan mempertimbangkan berbagai aspek (kriteria keputusan) seperti harga, lokasi, ukuran, jumlah kamar, kondisi ruangan, uang muka yang harus dibayar, dan sebagainya.
Berikut adalah kategori umum memilih krteria dalam pekerjaan Anda:
*     Mudah diimplementasikan
*     Biaya terendah
*     Kemampuan untuk memenuhi persyaratan pelanggan
*     Ketersediaan sumber daya
*     Risiko terendah
*     Paling cepat diimplementasikan
*     Bisa dijadikan dalam jangka panjang
Perlu diinggat, kriteria bisa berubah untuk masing-masing proyek atau masalah yang Anda tangani. Daftar di atas adalah untuk masalah secara umum.
Tim Anda menentukan kriteria keputusan melalui Sumbang Saran/Penyaringan.

Christine membuka…
Uraian pekerjaan untuk jabatan yang akan diisi dan membacakannya untuk anggota tim. Kemudian dia meminta mereka untuk merinci uraian pekerjaan tersebut ke dalam kualitas dan keterampilan yang dapat didatar  pada bagian kriteria dari Formulir Penilaian Kriteria.
Berikut adalah daftar kualitas bagi karyawan untuk menduduki jabatan pembinaan pendengar:
Kualitas Yang Dibutuhkan
ü  Mandiri
ü  Keterampilan pemasaran/humas yang baik
ü  Bersifat artikulasi
ü  Keterampilan menulis yang baik
ü  Pemecah masalah kreatif
ü  Berpengalaman luas
ü  Mampu menangani tugas pemasaran/humas sehari-hari
ü  Menangani dan menyusun anggaran
ü  Memiliki keterampilan organisasi yang baik
ü  Kemampuan menganalisis pasar yang ada dan target yang baru
ü  Keterampilan riset yang baik
ü  Keterampilan mendelegasikan
ü  Kemampuan menentukan prioritas
ü  Pemain tim


Langkah 3: Menentukan Tingkat Relatif penting Masing-Masing Kriteria
Ø  beri bobot masing-masing kriteria (yang menunjukkan tingkat pentingnya relative).
Ø  Untuk menentukan bobot masing-masing kriteria, ajukan pertanyaan,”Seberapa penting masing-masing kriteria disbanding kriteria yang lain?”
Ø  Harus diingat bahwa total bobot untuk semua kriteria adalah 100 persen.

Kriteria                                                                                             Bobot (%)
Mandiri……………………………………………………………..      15
Keterampilanpemasaran/humas yang baik………………………..      20
Keterampilan menulis yang baik…………………………………..      10
Pemecah masalah kreatif…………………………………………...     15
Keterampilan mendelegasikan……………………………………..     15
Kemampuan menganalisis pasar yang ada dan target yang baru…     25

Christine meminta tim…
Untuk mengkaji kriteria dan memutuskan seberapa penting masing-masing kriteria atau keterampilan disbanding kriteria yang lain. Dia meminta mereka untuk memberi bobot masing-masing kriteria dengan menggunakan persentase (Misalnya, 3 persen berarti prioritas rendah dan 80 persen berarti prioritas tinggi). Dia mengingatkan bahwa total bobot semua kriteria harus 100 persen. Christine memberi timnya waktu 8 menit untuk memberi bobot masing-masing kriteria. Kelompok tersebut juga menggabungkan sejumlah kriteria untuk menghapuskan beberapa kriteria lainnya.


Langkag 4: Menetapkan Skala Penilaian, Kemudian Memberi Nilai Alternatif yang Ada
Pertama-tama buatlah skala penilaian yang akan digunakan. Penilaian skala yang konsisten harus digunakan untuk membandingkan berbagai alternative gagasan dengan amsing-masing kriteria. Skala apa pun bisa digunakan, asal skala yang sama digunakan untuk semua alternative dan kriteria. Biasanya skala dengan sepuluh poin, di mana sepuluh sebagai nilai tertinggi, umum digunakan.
Masing-masing gagasan atau alternative harus dibandingkan dengan kriteria yang digunakan untuk menentukan skala penilaian. Masing-masing alternative tersebut tidak perlu dibandingkan dengan butir-butir yang dievaluasi. Bisa juga dilakukan bahwa nilainnya hanya bisa ditentukan setelah ada penelitian.

Setelah tim sepakat…
Mengenai bobot untuk masing-masing kriteria, mereka memulai proses penilaian masing-masing kandidat untuk pekerjaan tersebut sesuai dengan kriteria. Mereka memutuskan untuk menggunakan skala sepuluh poin, dengan 10 sebagai poin tertinggi…


Langkah 5: Menghitung Skor Final
Untuk menghitung skor final dan menetapkan keputusan tim:
v Kalikan bobot (ditetapkan pada langkah 3) dengan nilai untuk masing-masing alternative (ditetapkan pada langkah 4).
v Tuliskan nilai dalam kurung dalam kotak yang sesuai pada Formulir Penilaian Kriteria.
v Jumlahkan angka dalam kurung pada masing-masing alternative dan tuliskan jumlah total pada kotak yang sesuai.
v Tuliskan komentar ikhtisar pada kotak yang sesuai.

Christine meminta debby…
Untuk mengalikan bobot masing-masing kriteria dengan nilai pada masing-amsing kandidat dalam kelompok. Kemudian tim menambahkan skor yang diberi bobot dan tidak diberi bobot untuk masing-masing kandidat…


Langkah 6: Memilih Alternatif Terbaik
Pilih alternative yang memiliki skor total tertinggi. Meskipun deimikian, harus diperhatikan bahwa alternative dengan skor tertinggi mungkin bukan merupakan alternative yang dipilih. Alternative dengan skor tertinggi saharusnya merupakan pilihan yang terbaik. Jika anggota tim tidak setuju, mereka harus mengkaji kembali pembobotan dan penilaian kriteria, dan melakukan perubahan yang perlu.

Berdasarkan pembobotan…
Yang ditetapkan oleh tim dan penilaina yang diberikan pada masing-masing kandidat, tampaknya Ines merupakan kandidat yang terbaik untuk jabatan pembinaan pendengar pada JERNIH-FM. Christine bertanya,”Apakah semua setuju dengan keputusan ini?” Benny menjawab,”Jika menilai dari balik meja, saya tidak yakin bahwa dia merupakan pilihan yang terbaik. Tetapi berdasarkan cara kita mengambil keputusan, saya sepakat 100 persen,”…



Langkkah 7: Menutup Sesi Teknik Penilaian Kriteria
Sesi penilaian Kriteria sudah waktunya ditutup bila:
¨      Tim Anda telah sampai pada kesepakatan mengenai alternative terbaik.
¨      Telah dibuat penugasan untuk mengkomunikasikan keputusan final kelompok.
¨      Telah dibuat penugasan (jika perlu) untuk mengimplementasikan keputusan tim.
¨      Anda telah mengucapkan terima kasih kepada peserta.

Sekarang tim…
Telah menetapkan kandidat terbainya, mereka memutuskan untuk meneliti referensi sang kandidat. Debby bersedia untuk melakukan tuga penelitian tersebut dan Benny siap membantu. Jika tidak ada masalah atau ketidak-konsistenan, tim akan memberi wewenang kepada Christine untuk membuat tawaran pada Ines.






Tuesday, September 11, 2018

SIBUKKAN DIRI DENGAN YANG BERMANFAAT


l-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata:

ﻭﻣﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺿﺮﺭﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺑﻄﺎﻟﺘﻪ ﻭﻓﺮﺍﻏﻪ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻻ ﺗﻘﻌﺪ ﻓﺎﺭﻏﺔ، ﺑﻞ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺸﻐﻠﻬﺎ ﺑﻤﺎ ﻳﻨﻔﻌﻬﺎ ﺷﻐﻠﺘﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﻀﺮﻩ ﻭﻻ ﺑﺪ.

“Termasuk perkara yang paling besar madhorotnya (akibat buruknya) terhadap seorang hamba adalah kosong dari kegiatan dan waktu luang.

Karena sifat jiwa itu adalah tidak akan pernah berhenti tanpa kegiatan.

Bahkan jika dia tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang bermanfaat baginya, maka pasti dia akan menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang akan merugikannya.”

(Sumber : Thoriqul Hijrotain, hal. 597, karya Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh)

Semoga Bermanfaat

Saturday, September 8, 2018

Empat Guru Mutu

Hingga kini dunia telah mengenal dan mengakui ada empat orang yang berkaliber sebagai guru dalam maslah mutu. Dikatakan guru karena mereka mampu atau mempunyai kapasitas memberikan ‘fatwa’ mengenai mutu dan konsep/fatwa mereka menjadi acuan setiap organisasi yang memiliki kepedulian tinggi tentang mutu produk yang mereka hasilkan. Mereka adalah warga Amerika yaitu Edward Demings, Joseph M.Juruan, Armand V.Feigenbaum dan Philip B. Crosby. Seperti ditulis oleh Jeremi Main dalam majalah Fortune, keempat orang tersebut memiliki sense of messianic mission dan sangat yakin bahwa Amerika Serikat sangat membutuhkan advis-advis mereka.
Walaupun keempat guru tersebut tidak selalu sepakat tentang semua hal terkait dengan mutu, dalam beberapa hal penting tidak ada perbedaan antara mereka antara lain mengenai pentingnya peranan mutu dalam membangun daya saing, komitmen pimpinan puncak terhadap mutu, serta keharusan keterlibatan semua pihak dalam pembangunan mutu. Kathawala, seorang pakar mutu membedakan pengertian mutu menurut pandangan mereka. Deming memandang mutu sebagai keseluruhan yang memberikan keputusan kepada pelanggan sedangkan bagi Juran, mutu adalah kesesuaian untuk penggunaan. Bagi Crosby, mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan dan bagi Faigenbaum mutu tidak selalu berarti the best dalam arti mutlak tetapi the best dalam kondisi tertentu. Berikut ini butir-butir penting dari pendekatan mutu menurut ke empat guru tersebut.
Erward Deming
Edward Deming mengemukakan pendekatannya untuk mendapatkan mutu dalam 14 poin yang dikenal sebagai Deming’s 14 points yang merupakan tanggung jawab pimpinan puncak setiap organisasi. Dia meringkaskan sebagai berikut:
1.      Bangun dan tumbuhkan keinginan yang kuat dalam perbaikan produk dan jasa. Lakukan inovasi dan alokasikan sumber daya untuk riset dan pendidikan.
2.      Gunakan filosofi baru dan jangan tolerir kesalahan-kesalahan yang secara umum telah dianggap tidak menjadi masalah.
3.      Hentikan ketergantungan pada inspeksi secara masal (mass inspection) untuk mendapatkan mutu karena inspeksi tidaklah memberikan mutu. Mutu hanya dapat dibangun melalui proses produksi.
4.      Hentikan praktik-praktik pemberian penghargaan bisnis hanya atas dasar daftar harga tetapi minimumkan biaya total dengan bekerja hanya dengan pemsok tunggal.
5.      Perbaiki secara terus-menerus proses perencanaan, produksi, dan pelayanan. Laksanakan secara terus-menerus perbaikan pengujian metode dan pengenalan masalah.
6.      Lakukan pelatihan dalam pekerjaan (on the job training) secara melembaga.
7.      Bangun dan tumbuhkan leadership. Tugas manajemen bukanlah supervise tetapi leadership (membangun visi, memberdayakan, membimbing dan memperhatikan kebutuhan para pekerja).
8.      Hilangkan perasaan takut pada diri pekerja, karena tidak seorangpun dapat bekerja baik tanpa merasa dirinya aman.
9.      Pecahkan hambatan dengan cara menelusuri sumbernya di antara area kerja para staf. Bentuk tim yang beranggotakan perwakilan dari semua areauntuk mencegah hambatan dan memecahkan masalah.
10.  Kurangi atau hilangkan slogan-slogan, peringatan-peringatan dan target-target karena itu semuanya tidak pernah membantu siapapun dalam menghasilkan kerja yang baik.
11.  Hindarkan kuota yang bersifat angka-angka pada tenaga kerja dan target-target pada manajemen.
12.  Hilangkan hambatan yang akan merampas rasa bangga para pekerja. Hilangkan system penghargaan tahunan.

Joseph M. Juran
Juran selalu menekankan bahwa mutu adalah sinonim dari kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use) suatu definisi yang mencakup fitur yang akan memberikan kepuasan terhadap produk dan menhindari cacat. Juran mengemukakan pendekatan konseptual dalam mengelola mutu yang disebutkannya a trilogy of process dalam mengelola mutu yaitu:
1.      Mutu harus direncanakan
Mutu tidak ditemukan dilantai pabrik tetapi ditetapkan melalui serangkaian proses perencanaan mulai dari identifikasi pelanggan, kebutuhan dan keinginan mereka, produk/jasa yang mereka harapkan, proses yang dilakukan untuk menghasilkan produk/jasa tersebut dengan semua atribut yang sesuai.
2.      Mutu harus dikendalikan
Untuk mendapatkan produk/jasa dengan semua atribut yang diinginkan maka evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan terkait harus dilakukan dan apabila ditentukan penyimngan maka dilakukan tindakan perbaikan.
3.      Mutu harus diperbaiki
Evaluasi terhadap mutu produk harus dilakukan secara terus-menerus agar mutu dihasilkan mengalami perbaikan secara berkelanjutan. Proses evaluasi ini mencakup alokasi sumber daya, penugasan orang-orang untuk mengembangkan proyek mutu, pelatihan serta membangun struktur permanen yang bertanggung jawab dalam perbaikan mutu.

Armand V Feigenbaum
Feigenbaum merekomendasikan perluasan manjemen mutu yang digunakan pada setiap tahapan mulai dari desai hingga pengiriman produk kepada pelanggan. Beliau adalah orang pertama yang menggunakan kata ‘total’ ke dalam terminology mutu dan memperkenalkan konsepnya melalui buku berjudul Total Quality Control. Menurut Kelada, apa yang dikemukakan oleh Feigenbaum dalam buku tersebut adalah total control of quality dan bukan control of total quality. Kedua pendekatan tersebut sangat berbeda, di mana yang pertama menekankan pada pengendalian (pengendalian yang menyeluruh) sedangkan yang terakhir menekankan pada mutu yang menyeluruh atau pengendalian semua aspek dari mutu.

Phillip B. Crosby
Crosby mengemukakan empat prinsip dasar dalam membangun mutu yang menurut beliau bersifat absolut yaitu:
1.      Definisikan mutu sebagai kesesuaian dengan kebutuhan (conformance to requirements). Kebutuhan dan harapan (requirements) yang harus dinyatakan dengan jelas.
2.      System mutu adalah pencegahan. Karena biaya tertinggi terjadi pada Appraisal of quality dan appraisal dilakukan setelah fakta terjadi maka untuk menghindarkan biaya appraisal, pencegahan terhadap timbulnya cacat harus ditekankan.
3.      Standar kinerja mutu adalah produk tanpa cacat (zero defect). Kata zero defect sangat penting dikemukakan karena istilah standar kinerja mutu tidak selalu merujuk kepada zero defect.
4.      Pengukuran mutu adalah harga dari ketidaksesuaian. Mutu jangan pernah dilihat dari sudut finansial tetapi diukur dari indeks dari cacat yang diterjemahkan kedalam kerugian yang timbul akibat ketidaksesuaian dengan keinginan dan harapan pelanggan (price of non-conformance). Sehubungan dengan itu, Crosby selalu menekankan “Do it right the first time”.