Thursday, March 21, 2019

Suka Menyebut Kebaikan Diri Sendiri



Memperlihatkan kebaikan kepada orang lain pada dasarnya adalah positif. Tetapi, ketika kebaikan yang kita lakukan sering kali disebut-sebut, maka nilai positifnya menjadi berkurang.

Image result for muslim indonesia kartun
Bershadaqah hanya sekali, tetapi diberitahukan puluhan kali. Membaca al-Qur’an hanya khatam satu juz, tetapi selalu saja disiarkan di mana pun berada. Memang, ada perasaan senang ketika kita selalu menyebut kebaikan yang kita lakukan di depan orang lain. Apalagi, kalua orang yang mendengar meberikan pujian setinggi langit kepada kita.

Tetapi, justru perasaan senang itulah yang dapat menimbulkan boomerang. Sebab, dari sanalah, sifat riya’ bermula. Pamer kebaikan atau riyai adalah sifat yang dapat menghilangkan arti keikhalasan. Dan, tidak ada guna ketika ibadah dilakukan tanpa dasar keikhlasan.
Sejatinya, setiap perbuatan yang baik hannya ditujukan hanya untuk Allah Swt., dan kepada-Nya kita berharap balasan. Entah balasan berupa pahala ataupun pujian. Hanya Allah Swt. yang pantas memuji kebaikan yang kita lakukan. Itulah makna keikhlasan yang sesungguhnya.

Demi menjaga nilai keikhlasan dalam setiap kebaikan yang kita lakukan, ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa pabila tangan kanan kita memberi shadaqah, maka tangan kiri jangan sampai tahu. Hal ini sebenarnya mengandung pelajaran tentang pentingnya mengutamakan keikhlasan dalam melakukan kebaikan. Sementara factor yang dapat menggerus nilai keikhlasan itu, slaah satunya adalah sifat pamer atau riya.
Allah Swt. berfirman:
“Orang-orang yang menfkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringinya apa yang dinafkahkan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 262)


Berdasarkan ayat tersebut, jelas bagi kita bahwa kebaikan yang tidak dipamerkan itulah yang akan mendapatkan pahala. Sementara, bagi yang suka narsis dengan kebaikan yang sudah dilakukan, tentu hanya Allah yang akan membuat perhitungan khusus dengannya.
Karena itu, jangan sia-siakan kebaikan yang kita lakukan dengan cara memamerkan, menyebut-nyebutnya kepada banyak orang. Biarlah kebaikan itu menjadi rahasia antara kita dengan Allah Swt.

Monday, March 18, 2019

Berzina dan Mendekati Zina



Praktik perzinaan boleh saja tertutup. Tetapi, praktik yang menjadikan seseorang mendekati perzinahan kerap terbuka lebar. Berbagai cara dan modus dilakukan agar banyak orang bersedia untuk mendekati zina sebelum akhirnya benar-benar melakukan zina.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa yang dilarang itu bukan hanya zina, tetapi melakukan sesuatu yang dapat mendekatkan seseorang kepada zina juga terlarang . kita bisa lihat firman-Nya berikut:
“Dan, janganlah kamu mendekati zina, sesungguhna zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Israa’ [17]: 32)

Image result for muslim indonesia
Zina mengandung dua pengertian. Pertama, zina dalam pengertian khusus, yakni bertemunya kelamin laki-laki dan perempuan di luar hubungan suami  istri, perbuatan ini menimbulkan konsekuensi diberlakukannya hokum cambuk atau rajam.
Kedua, zina dalam arti umum, yakni perzinaan yang tidak menimbulkan hokum cambuk atau rajam, karena perzinaan ini dilakukan di luar yang semestinya. Yakni zina tangan, mata, telinga, atau hati. Sekalipun demikian, bentuk zina seperti ini atau perbuatan yang mendekati kepada zina tetap dihukum sebagai perbuatan dosa apabila dilakukan tanpa dasar atau alasan yang dibenarkan.
Pada zaman seperti sekarang ini, mendekati zina sangat mudah. Jika ingin mata kita mendekati zina, datanglah ke pantai-pantai tempat pariwisata, bar, night club, atau berselancarlah di dunia maya internet. Kita akan mudah melihat betapa banyak sekali peluang mendekati perzinaan. Orang tanpa malu-malu mempertontonkanauratnya, kehormatannnya.
Mungkin ada yang berdalih bahwa perzinaan itu terjadi bukan karena ada orang yang mengumbar auratnya, tetapi Karena pikiran dari setiap orang. Tetapi, pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, sebuah perzinaan terjadi karena ada pencetusnya. Pencetusnya itu bisa karena pikiran masing-masing orang, atau bisa juga karena banyaknya orang yang mengumbar auratnya di tempat umum.
Anehnya, meskipun merupakan perbuatan terlarang, banyak sekali orang yang sangat menyukai dan menikmati perbuatan mendekati zina, serta menganggapnya sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan. Padahal, zina atau mendekati zina, betapa pun menyenangkan, namun ia hanya menyenangkan nafsu. Padahal, sejatinya perbuatan tersebut hanya mendatangkan kesia-siaan.

Konon, ada seorang pemuda yang pekerjaannya menjual kain. Setiap hari, ia memikul kain-kain dagangannya, dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan pemuda ini dikenal dengan nama faraqna oleh orang-orang. Walaupun ekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sangat tampan dan bertubuh tegap. Setiap orang yang melihatnya pasti menyenanginya.
Pada suatu hari, saat ia berkeliling melewati jalan-jalan besar, gang-gang kecil, dan rumah-rumah penduduk sambal berteriak menawarkan dagangannya, “farqna…faraqna….”
Tiba-tiba, seorang wanita melihatnya. Si wanita itu memanggil dan penjual kain inipun menghampirinya. Ia dipersilahkan masuk ke rumah oleh si wanita tadi. Di sini, si wanita terpesona melihat ketampanannya, dan tumbuhlah rasa cinta yang begitu besar dalam hatinya. Lalu, si wanita berkata, “Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu. Tetapi,, aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan, di rumah ini, sekarang sedang kosong.” Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat “sesuatu” dengan dirinya. Pemuda itu menolak, bahkan ia mengingatkan si wanita dan menkaut-nakutinya dengan azab yang pedih.
Tetapi saying, nasehat itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Bahkan sebaliknya, si wanita tambah berhasrat. Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran denga hal-hal terlarang. Akibatnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, s wanita malah mengancamnya.
“Bila engaku tidak mau menuruti perintahku, aku akan berteriak kepada semua orang, dan aku akan katakana kepada mereka bahwa engkau telah masuk ke rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan, mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada di dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku.”
Setelah si pemuda itu melihat betapa si wanita itu terlalu memkasanya untuk mengikuti keinginannya berbuat dosa, akhirnya ia berkata, “Baiklah, tapi apakah engkkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar aku bisa membersihkan diri dulu?”

Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini. Ia mengira bahwa keinginannya sebentar lagi akan terpenuhi. Denga penuh semangat, ia menjawab, “Bagaimana tidak, wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus.”
Kemudian, masuklah si pemuda ke kamar mandi, sementara tubuhnya gemetar karena takut dirinya terjerumus ke dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perangkap setan, dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita, kecuali setan menjadi pihak ketiga.
“ya Allah, apa yang harus aku perbuat? Berilah aku petunjuk-Mu, wahai Dzat yang dapat memberi petunjuk bagi orang-orang yang kebingungan.” Penjual kain itu berdoa.
Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya. “Aku tahu benar, bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan saat itu kecuali naungan-Nya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempunyai kedudukan tinggi dan wajah cantic, kemudian ia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. Dan, aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepada-Nya pasti mendapat ganti yang lebih baik.

“dan seringkali, satu keinginan syahwat itu akan melahirkan penyesalah seumur hidup. Apa yang akan aku dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman dari hatiku. Tidak, aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram. Tetapi, apa yang harus aku kerjakan? Apakah aku harus melemparkan diri dari jendela ii? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalua begitu, aku akan mengolesi ubuhku dengan kotoran-kotoran yang ada di WC ini. Dengan harapan, bila nanti ia melihatku dalam keadaan begii, ia akan jijik dan akan membiarkanku pergi.”
Ternyata, memang benar. Ide terakhir ini yang ia jalankan. Ia mulai mengolesi tubuhnya dengan kotoran-kotoran yang ada di ditu. Memang menjijikkan. Setelah itu, ia menangis dan berkata, “Ya rabbi, wahai tuhanku, perasaan takutku kepada-mu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku ‘kebaikan’ sebagai gantinya.”

Kemudian, ia keluar dari kamar mandi.
Tatkala wanita tadi melihatnya dalam kedaan demikian, ia berteriak, “Keluar kau, hai orang gila!”
Lelaki itu pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang lain. Jika mereka tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Ia mengambil barang-barang dagangannya, kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang yang di jalan tertawa melihatnya. Akhirnya, ia tiba di rumah. Di situ, ia bernapas lega. Lalu, menanggalkan pakaiannya, masuk ke kamar mandi, dan membersihkan diri dengan sebersih-bersihnya.
Kemudian, apa yang terjadi? Adakah Allah Swt. akan membiarkan hamba dan wali-Nya begitu saja? Tidak, ternyata ketika ia keluar dari kamar mandi, Allah Swt. memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di tubuhnya sampai ia meninggal dunia, bahkan sampai setelah ia meninggal. Allah Swt telah memberikan aroma harum semerbak yang tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai akhirnya, ia mendapat julukan Al-Miski (yang harum seperti kasturi).

Memang enar, Allah Swt. telah memberikan sesuatu kepadanya, yaitu bau kotoran yang dapat hilang dalam sekejab dengan aroma wangi yang tercium sepanjang masa. Ketika pemuda ini meninggal dunia dan dikuburkan, mereka menulis di atas kuburannya, “Ini kuburan ‘Al-Miski”. Banyak orang yang menziarahi dan mendoakannya.

Thursday, March 14, 2019

yang Suka Berjudi



Saat ini apa saj dijadikan ajang perjudian. Mulai dari pertandingan sepak bla hingga pemilihan kepala negara. Bagi sebagian orang perjudian mungkin dianggap menyenangkan sekaligus menguntungkan. Tetapi, hakikatnya, perjudian hanyalah perbuatan yang meinmbulkan kesia-siaan.islam melarang sangat keras terhadap praktik perjudian. Allah Swt. telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya berikut:
“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya, setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebenciann di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka, berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).
(QS. Al-maa’idah [5] :90-91)

Image result for Pria muslim sejati
Dalam ayat ini, Allah Swt. tidak hanya menjelaskan tentang sifat judi, arak, berhala, dan mengundi nasib sebagai sesuatu yang keji karena hal itu termasuk perbuatan-perbuatan yang disenangi setan. Namun, lebih jauh, Dia juga menjelaskan tentang efek dari perjudian bagi kerukunan di antara sesame manusia. Salah satunya adalah menimbulkan permusuhan.

Orang yang berjudi akan selalu terobsesi untuk mengalahkan lawan mainnya. Tidak peduli apakah yang menjadi lawan dalam perjudian itu teman karibnya sendiri atau bukan, tetapi naluri untuk saling mengalahkan adalah sesuatu yang sangat dominan dalam sebuah perjudian. Itulah sebabnya, judi disebut sebagai perbuatan yang hanya akan menimbulkan permusuhan di antara sesama.

Karena kesenangan dan keuntungan yang diperoleh dari perjudian hanyalah semu balaka, alangkah lebih baiknya pabila kita menghindari perbuatan judi dalam bentuk apa pun agar usia kita tidak terbuang sia-sia.


Fudhail bin Iyadh merupakan salah satu seorang sufi yang hidup semasa dengan Khalifah Harun ar-Rasyid. Suatu hari, Fudhail berjumpa dengan seorang kakek yang sedang bersandar pada tongkatnya.
Fudhail bertanya, “Berapa usia tuan?”
Sang kakek menjawab, “Enam puluh tahun.”
“Apakah usia 60 tahun Tuang digunakan untuk ketaatan kepada Allah? Tuan hamper sampai (menemui ajal).”
Mendengar hal itu, sang kakek menangis tersedu-sedu. Ia berkata, “Aku sedih. Umurku terbuang percuma. Aku banyak melakukan dosa. Aku pun tak tahu, apa yang akan Allah perbuat untukku.”
Mendengar ungkapan tulus itu. Fudhail menawarkan solusi. “Maukah Tuan kuberi tahu jalan keluarnya? Pergunakan waktu tersisa untuk kebaikan, niscaya Allah Swt. mengampuni kesalahan yang telah lalu.”

Dialog ini sangat inspiratif dan mendorong kita untuk merenung. Paling tidak, ada tiga hal penting dalam hidup ini yang harus kita renungi, yaitu usia, dosa, dana mal shalih sebagai bekal atau persiapan menyongsong kematian.”

Monday, March 11, 2019

Memakan Harta yang Tidak Halal



Pernahkah kita mengaudit harta yang kita miliki? Bukan saja mengenai berapa jumlahnya dan untuk apa harta itu kita gunakan, melainkan juga dari cara apakah kita memperoleh semua harta yang kita miliki?
Setiap muslim penting melakukan crosscheck terhadapaliran harta yang mereka miliki agar jangan sampai terdapat harta haram yang termakan. Bukan hanya harta haram, sekadar harta yang syubhat pun kita harus mewaspadainya.

Image result for Pria muslim sejati
Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah Saw. Menegaskan “Barang  siapa mengambil hak milik orang muslim menggunakan sumpah maka Allah akan mewajibkannya masuk neraka dan diharamkan masuk surge.”
Seorang bertanya, “Wahai barang yang kecil, wahai rasulullah?”
Beliau bersabda, “Walaupun sepotong kayu arok.” (HR. muslim, Nasa’I, dam darimi)
Di dalam shahih muslim, disebutkan bahwa Abdullah bin Umar pernah berkata, “Seseorang di bawah tanggungan rasulullah Saw. Bernama Kirkirah meninggal. Namun, beliau bersabda bahwa ia akan masuk neraka. Maka, para sahabat pergi memeriksanya, ternyata mereka menemukan sebuah baju jubah hasil tipuan.”

Kejadian yang menimpa Kirkirah menjadi bukti bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup menghindar dari pengadilan Allah Swt. Betapa pun ia berada di bawah tanggungan seorang nabi, namun kalua ternyata kelakuannya menyimpang dari ajaran beliau, tetap saja hokum Allah berlaku kepadanya.

Kasus Kirkirah juga menjadi pelajaran bagi kita agar jangan sampai kita mencari harta dengan cara yang tidak halal. Kirkirah saja masih disiksa karena jubahnya diperoleh dengan cara menipu. Apalagi kita, masih orang yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah Saw.
Sebuah kisah:
Konon, ada seorang pedagang di Saudi Arabia. Awal meniti karier dalam bisnis, ia bekerja di sebuah pelabuhan. Semua barang perniagaan yang akan masuk harus melaluinya dan mendapatkan tanda tangannya.
Sikap pedagang ini sangat tegas. Ia tidak suka kepada orang yang main kolusi dan suap-menyuap. Tetapi, ia tahu bahwa atasannya senang mengambil uang suap. Sampai akhirnya teman si penjaga pelabuhan ini didatangi oleh orang yang memberitahunya agar tidak terlalu keras, dan sudi menerima sesuatu yang diberikan oleh penyuap untuk mempermudah urusannya.
Setelah mendengar perkataan tersebut, ia gemetar. Lalu, ia keluar dari kantor, sementara kesedihan, penyesalan, dan keraguan terasa mencekik lehernya. Hari-hari mulai berjalan lagi, dan para penyuap itu datang kepadanya.
“Ini adalah hadiah dari perusahaan kami.”
Penyuap yang lain juga datang, “Barang ini adalah tanda terima kasih perusahaan kami atas jerih payah Anda.”
Namun, tidak satu pun dari pemberian yang ia terima. Ia selalu mampu mengembalikan dan menolak semuanya. Karena terlalu banyaknya orang yang datang dan menawarkan suap, akhirnya ia mulai khawatir bahwa suatu waktu nanti mentalnya akan melemah dan akhirnya menerima harta haram tersebut. Ia berada di antara dua pilihan; meninggalkan jabatan dan gajinya atau melanggar hokum-hukum Allah Swt. dengan bersedia menerima suap.
Setelah berpikir lama, akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Tidak berapa lama setelah itu, hasil tabungan dari gajinya selama bekerja ia gunakan untuk membeli kapal kargo yang kecil. Ia pun mulai bisnisnya dengan mengangkut barang-barang. Usahanya berjalan lancer hingga ia mampu membeli kapal kargo yang lain lagi. Pelanggannya semakin banyak. Tidak sedikit dari pedagang yang mulai memintanya untuk mengangkut barang-barang perniagaan mereka. Hingga pada akhirnya, si penjaga pintu pelabuhan ini pun menjadi orang yang sukse, memiliki banyak kapal kargo.


Demikianlah, Allah Swt membuka pintu-pintu rezeki-Nya bagi orang-orang yang takut melanggar aturan-Nya. Sebagai orang yang beriman, kita juga harus percaya bahwa mencari harta yang aram itu akan menjauhkan kita dari kemurahan-Nya. Sebaliknya, mencari harta yang halal yang justru akan mendekatkan pada keridhaan-Nya. 
Jadi, bagaimana mungkin orang yang menjauh dari Allah Swt. akan memperoleh derajat kemuliaan. Sebaliknya, yang akan ia peroleh hanyalah kehinaan.

Thursday, March 7, 2019

Makhluk yang senang Berbohong



Perbuatan sia-sia banyak dilakukan oleh manusia adalah berbohong. Tidak sedikit orang yang demi alasan tertentu sengaja melakukan kebohongan. Semua cara yang berbau kebohongan dilakukan demi memuluskan keinginan.

Demi meraup untung yang banyak pedagang berbohong kepada pembeli. Demi mengejar pangkat, seseorang melakukan kebohongan administrasi. Demi mengejar kelulusan murid-muridnya tidak jarang seorang guru melakukan kebohongan data, dan banyak jenis kebohongan yang sering kali kita temukan sehari-hari.

Image result for Pria muslim sejati
Lalu, apa jadinya bila kebohongan sudah dianggap sebagai sesuatu yang penting dilakukan demi mengejar impian? Hlangnya keberkahan. Ya, inilah akibat paling krusial dan membahayakan bila seseorang menganggap bahwa kebohonga merupakan sesuatu yang perlu dilakukan, bahkan dianggap sebagai kebenaran.

Ketika sesuatu sudah tidak mengandung keberkahan, ujung-ujungnya tidak lain ialah kebinasaan. Harta yang diperoleh dengan jalan kebohongan statusnya jelas haram. Dan Allah Swt. tidak memberikan toleransi kepada setiap manusia yang mengonsumsi makanan haram. Rasulullah Saw. Mengingatkan bahwa daging yang tumbuh oleh makanan haram tidak ad acara yang dapat menghapusnya kecuali api neraka.

Bukan hanya dalam hal mencari harta, dalam setiap tindakan kita, ucapan kita, sikap kita sejatinya harus dilakukan dengan penuh kejujuran. Rasulullah Saw. Juga bersabda, “Sesungguhnya, kejjuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan kepada surge. Seseorang yang berbuat juur akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Dan, sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kezhaliman, dan kezhaliman itu akan mengantarkan kea rah neraka. Seseorang yang terus-menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong.
(HR. muslim)

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw. Seseorang hanya diperbolehkan melakukan kebohongan dalam tiga kasus. Pertama, orang yang berbohong demi mendamaikan di antara manusia. Contoh, si A dan si B terlibat pertengkaran. Lalu, si C ingin mendamaikan dengan cara mendatangi si A dan mengatakan bahwa si B ingin sekali minta maaf. Setelah itu, si C juga mendatangi si B dan mengatakan bahwa si A ingin meminta maaf. Berbohong seperti ini diperbolehkan.

Kedua, berbohong dalam perang. Misalnya, kita sedang berada dalam kondisi perang. Lalu, pihak musuh atau mata-mata musuh menanyakan keberadaan pejuang-pejuang kita. Kita boleh berbohong dalam kasus ini.

Ketiga, berbohongnya suami kepada istri atau sebaliknya. Contohnya, seorang suami sedang dimasakkan oleh istrinya. Masakan itu terasa asin di lidah suami. Namun, untuk menyenangkan istri, suami diperbolehkan mengatakan bahwa masakan istrinya sangat enak, yang seandainya dengan mengatakan jujur dikhawatirkan istri akan tersinggung.
tentang boleh berbohong dalam tiga kasus ini sesuai dengan hadist dari Asma’ binti Yazid yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “Bohong itu tidak halal, kecuali dalam tiga hal; (yaitu) suami kepada istrinya agar mendapat ridha istrinya, bohong dalam perang, dan bohong untuk mendamaikan di antara manusia.” (HR. tirmidzi).


Karena hanya dalam tiga kasus itulah kita diperbolehkan melakukan kebohongan, maka selain itu, atas hal dan pertimbangan apa pun, berbohong tetap dilarang atau diharamkan. Ada sebuah kisah yang penting kita jadikan renungan:

Konon,ada seorang pria berkebangsaan Eropa yang telah masuk islam. Ia adalah seorang muslim yang baik, jujur, dan bersemangat untuk menampakkan keislamannya. Ia bangga dengan keislamannya saat di hadapan keluarga maupun rekan-rekannya. Tidak ada perasaan minder, malu, atau perasaan ragu.
Suatu saat, pria ini membaca sebauh iklan lowongan pekerjaan di sebuah instansi pemerintah. Ia pun mengajukan lamaran kerja. Tentunya, ia harus menjalani tes wawancara sebelum diterima kerja di sana. Selain itu, banyak juga yang ikut tes ini. Saat tiba gilirannya untuk tes wawancara, panitia khusus instansi ini mengajukan kepadanya beberapa pertanyaan.
“Apakah Anda minum-minuman keras?”
“Dulu, saya pernah melakukannya”, jawab pria tersebut. Dengan jujr, “Tapi, sejak beberapa tahun ini, tidak. Saya tidak mengkonsumsi minuman keras karena saya sudah memeluk Islam, dan agama saya melarangnya.”

Mereka bertanya lagi, “Apakah Anda memiliki teman kencan dan pacar?”
“Dulu, saya pernah punya pacar. Tapi, sejak beberapa tahun tidak lagi. Agama yang saya pilih ini telah mengharamkannya. Saya hanya berhubungan dengan istri yang telah saya nikahi sesuai dngan aturan yang saya anut.”
Wawancara telah usai.
Ia kelluar dari ruang tes, tetapi ia pesimis akan berhasil dalam persaingan ini. Ternyata, di luar dugaan, hasil akhir menyebutkan, semua pelamar yang jumlahnya banyak itu gagal, hanya dialah satu-satunya yang berhasil diterima.

Kemudian, pria tersebut pergi menemui ketua panitia tes. Kepadanya, ia berkata, “Tadinya saya menunggu pernyataan tidak diterima untuk pekerjaan ini, sebagai balasan atas perbedaan agama antara saya dan Anda, juga karena saya memeluk Islam. Saya terkejut bisa diterima untuk bergabung dengan rekan-rekan yang tidak seagama dengan saya di sini. Apa rahasia di balik ittu?
Ketua panitia menjawab, “Sesungguhnya, orang yang dicalonkan untuk pekerjaan ini syaratnya harus orang yang selalu cekatan dan perhatian penuh dalam setiap keadaan, juga tidak teler dan jujur. Sementara, orang yang mengkonsumsi minuman keras tidak mungkin bisa demikian. Kami memang mencari orang yang tidak mengkonsumsi minuman keras, dan Anda terpilih untuk pekerjaan ini karena Anda memenuhi syarat.”

Maka, keluarlah ia dari ruangan seraya memuji dan bersyukur kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan nikmat yang sangat besar kepadanya.

Demikianlah balasan bagi orang yang menghindari kebohongan serta mengutamakan kejujuran dalam hidup. Allah Swt. memberinya kemudahan dan keberkahan, serta jalan keluar dari setiap belitan persoalan yang menimpanya.

Monday, March 4, 2019

Manusia yang suka Bertato



Tidak sedikit kita melihat orang, tua/muda, laki-laki dan wanita yang melukis tubuh atau bertato. Mereka membubuhkan berbagai gambar pada tubuh menggunakan bahan-bahan pewarna yang bahkan sangat mencolok dipandang mata.

Image result for Pria muslim sejati
Sesuatu yang mereka lakukan tidak dapat dilepaskan dari berkembangnya gaya hidup, fashion, style yang begitu banyak melanda kehidupan orang dari erbagai lapisan. Tato dianggap sebagai gaya hidup. Karena setiap orang selalu memiliki kecenderungan untuk menunjukkan gaya mereka, maka tato pun menjadi fenomena yang banyak digemari.

Namun demikian, banyak motif yang melatarbelakangi seseorang mentato tubuhnya. Mulai dari yang sekadar ikut-ikutan sampai kepada yang melakukannya karena kesukaan. Tapi, apapun motifnya, agama memberikan aturan yang jelas mengenai tato.
Ibnu Umar menyatakan bahwasanya rasulullah Saw. Mengutuk orang-orang yang menyambung rambutnya, yang meminta sambung rambutnya, orang yang bertato, dam orang yang minta ditato pada kulitnya.” (HR. muslim).

Mentato kulit barangkali mendatangkan perasaan senang dan kepuasan bagi para pelakunya. Tetapi, Rasulullah Saw. Justru menilainya sebgai perbuatan yang dapat mendatangkan kutukan. Setiap perbuatan yang menimbulkan kutukan tentu saja adalah perbuatan yang sia-sia belaka.
Banyak yang bertanya agama Islam? Ada beberapa jawaban dari pertanyaan ini:
Pertama, merajah kulit atau tato dikhawatirkan dapat mendatangkan penyakit yang disebabkan oleh kuman, virus, atau bakteri yang tersembunyi di dalam alat yang digunakan untuk mentato. Belum lagi alat yang kita bubuhkan itu apakah sudah berstatus suci atau najis.

Kedua, tato berseberangan dengan ajaran Islam mengenai kebersihan dan keindahan. Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk merawat tubuh kita agar selalu suci. Selain itu, islam juga mengajarkan kepada kita agar selalu bersih dan menjaga keindahan. Mentato tubuh, meskipun dengan motif gambar yang indah, tetapi hakikatnya tetap saja menghilangkan keindahan dan kebersihan tubuh kita.

Ketiga, mentato tubuh termasuk perbuatan yang mengubah bentuk ciptaan Allah. Allah Swt. sudah enentukan dengan iradah-Nya bahwa tubuh kita dicipta seperti yang kita lihat sekarang ini. Karena itu, mengubah bentuk cipaan-Nya tanpa alasan yang dibenarkan termasuk perbuatan yang terlarang (Haram).

Dengan demikian, marilah kita jaga tubuh yang dikaruniakan Allah Swt. ini dengan sebaik-baiknya. Bukan dengan menghiasinya lewat lukisan tato, namun dengan menjaga kebersihannya, kesuciannya, baik dengan cara mandi maupun berwudhu.

Thursday, February 28, 2019

Dosa selain Syirik akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala


Setiap dosa bisa mendapat ampunan dari Allah SWT. Ampunan tersebut diberikan jika kita bertobat dan memohon kepada-Nya.

Tetapi, ada dosa yang ternyata tidak mendapat ampunan dari Allah SWT. Jumhur ulama menyatakan dosa-dosa besar tersebut yaitu syirik (menyekutukan Allah dengan yang lain) sebagaimana dalam hadits Rasulullah Saw:


عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
[رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح ]

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Anas Radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Allah ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan “
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : haditsnya hasan shaheh).


Hasil gambar untuk dosa syirik
📚 Hadits Arbain ke: 42

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:
1. Berdoa diperintahkan dan dijanjikan untuk dikabul-kan.
2. Maaf Allah dan ampunannya lebih luas dan lebih besar dari dosa seorang hamba jHaditsa dia minta ampun dan bertaubat.
3. Berbaik sangka kepada Allah ta’ala, Dialah semata Yang Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat dan istighfar.
4. Tauhid adalah pokok ampunan dan sebab satu-satunya untuk meraihnya.
5. Membuka pintu  Bukanharapan bagi ahli maksiat untuk segera bertaubat dan menyesal betapapunHaduanyak dosanya.

Semoga bermanfaat