Thursday, January 17, 2019

Manusia adalah makhluk yang suka Suka Berangan-angan



Suka berangan-angan merupakan sifat manusia yang sia-sia. Sia-sia karena sifat ini menjadi penghalang terbesar bagi manusia untuk memulai sesuatu. Angan-angan tidak sama dengan cita-cita. Dalam sebuah cita-cita, sudah tersusun suatu rencana dan aksi nyata yang walaupun tidak seberapa.
Perbedaan antara angan-angan dengan cita-cita terletak pada ada atau tidaknya rencana dan aksi nyata. Ketika seseorang bercita-cita inginmenjadi insyinyur, namun ia tidak memiliki rencana dan upaya untuk mewujudkannya, maka keinginan itu berubah menjadi angan-angan belaka.
Senang berangan-angan merupakan sifat buruk manusia berdasarkan pernyataan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut:
“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka, selain dari tipuan belaka.”
(QS. An-Nisaa’: 120)

Image result for muslim sejati 
Karena itu, orang yang hanya pandai berangan-angan tidak akan memperoleh apa pun, kecuali kesia-siaan. Kesia-siaan karena ia telah membiarkan waktunya terbuang dengan percuma.
Anas berkata, “Nabi Muhammad Saw. Membuat garis seraya bersabda, ‘Ini manusia, ini angan-angannya, sedangkan ini ajalnya. Ketika ia sedang berada dalam angan-angan, tiba-tiba datanglah kepadanya garisnya yang paling dekat.’ Maksud dari garisnya yang paling dekat adalah ajal kematiannya.”
(HR. bukhari)


Orang yang panjang angan-angan, menurut Sayyid Abdullah al-Haddad, akan bersikap santai. Ia merasa tidak perlu bertindak segera. Ia menganggap kematiannya masih lama. Sementara, orang yang cerdas ialah yang mengingat kematian. Ia bertindak segera untuk masa depannya. Mengingat mati merupakan gambaran bahwa kita harus memperhatikan masa depan (hari esok). Inilah yang disebut visi.

Monday, January 14, 2019

Manusia yang Bakhil (Kikir)



Al-Qur’an menjelaskan tentang makna kikir atau bakhil dengan berbagai bentuk. Penyebutannya dijabarkan dalam susunan kalimat dan konteks yang berbeda. Secara bahasa, bakhil berasal dari kata bakhila atau bakhula-yabkhalu atau yabkhulu-bukhlan, yang berarti memegang erat, menahan, serta disebut juga diddul-sakhiun wa al-karim (kebalikan dari pemurah).

Dengan demikian, seseorang disebut bakhil (kikir) apabila ia menahan sesuatu yang seharusnya diberikan, terutama berdasarkan hokum syariat Islam. Sifat bakhil selalu dipandang buruk karena dilarang oleh syariat, adat-istiadat, serta termasuk perbuatan yang tidak bisa diterima oleh akan sehat.

Image result for kematian muslim.or.id
Di dalam al-Qur’an, penggunaan kata bakhil selalu dimaknai sebagai isyarat tentang adanya larangan dan celaan, yang semuanya terkait dengan terlenanya manusia kan kenikmatan dunia, mencerminkan sikap sombong, membanggakan diri, dan bahkan kufur. Perhatikan firman Allah Swt. berikut:
“Sekali-kali, janganlah orang-orang yangbakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan, kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan bumi. Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali ‘Imran :180)


Terkait dengan larangan sifat bakhil ini, Rasulullah Saw. Enjelaskan dalam salah satu sabdanya, “Barang siapa diberi harta oleh Allah, tetapi ia tidak menunaikan zakatnya, kelak pada hari kiamat harta tersebut akan dijadikan ular botak dan mempunyai dua tandunk yang melilitnya. Ular tersebut mencaploknya dengan geraham, dan berkata, ‘Akulah hartamu (dulu yang tidak kau keluarkan zakatnya).” (HR. Bukhari).

Islam tidak membenarkan penganutnya memiliki sifat kikir atau bakhil. Justru sebaliknya, Islam menganjurkan agar kita senantiasa bersifat dermawan, gemar berbagi dengan orang lain, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Namun, karena manusia sering kali dihinggapi egoism yang berlebihan, terkadang mereka menghilangkan kedermawanan sehingga yang terjadi adalah sifat kikir atau bakhil.
Di sisi lain, Islam juga senantiasa menggalakkan penganutnya agar senantiasa hidup bersih, kuat, dan solid. Semua prinsip ajaran ini terangkum di dalam ajaran akhlak atau etika berperilaku, baik perilaku kita kepada Allah Swt. maupun terhadap sesama.

Pada tahap ini, yang harus kita sadari bersama adalah behwasanya akhlak dalam Islam bukan sekadar menyangkut masalah pribadi, melainkan lebih dari itu, yaitu merupakan dakwah untuk kemajuan bersama. Tidak mungkin umat islam mengalami kemajuan bersama-sama jika di antara mereka memiliki sifat kikir atau bakhil.

Akram ridha berpendapat bahwa kebakhilan termasuk perbuatan sewenang-wenang terhadap orang lain karena memonopoli logistic mereka. Sementara itu, hati pelakunya membantu (tidak memedulikan orang lain di sekitarnya), sehingga sebagian dari manusia kelaparan karena tidak memiliki makanan.
Nurcholis madjid juga mengemukakan bahwa semua ajaran, baik yang bersifat keagamaan maupun keduniaan semata, menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya, dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Jika kita sadar bahwa bakhil atau kikir merupakan sesuatu yang menimbulkan kesengsaraan pada orang lain, maka kita juga harus menyadari behwasanya sifat itu bakal mendatangkan ancaman bagi pelakunya.

Thursday, January 10, 2019

Manusia adalah makhluk yang suka membantah



Tentang sifat manusia yang suka membantah, sudah ditegaskan dalam firman Allah Swt. sebagai berikut:
“Dan, sesungguhnya kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan, manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”

(QS. Al-kahfi :54)


Kategori membantah yang negative adalah membantah dalam arti menolak kebenaran atau menolak melakukan kebaikan, padahal yang bersangkutan mengerti bahwa sesuatu yang di bantah tersebut memang merupakan kebenaran dan kebaikan. Membantah juga dapat dikategorikan negative apabila kita membantah atau berdebat tentang sesuatu yang sama sekali kita tidak mengerti hakikatnya.
Ada beberapa hal mengenai bantah-membantah yang diperbolehkan dan yang dilarang.
Pertama, membantah suatu kesalahan untuk menjelaskan kebenaran. Jika ada seseorang yang mengeluarkan pendapat yang salah, apalagi menyimpang dari ajaran agama, maka kita diperbolehkan memberikan bantaha dengan tujuan memberikan penjelasan tentang pendapat yang benar seseutu ajaran agama.

Image result for kematian muslim.or.id
Allah Swt. berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmua, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nahl: 125)


Ayat ini bukan saja mengandung perintah tentang bolehnya memberikan bantahan atas kesalahan demi kejelasan tentang sesuatu yang benar. Selain itu, ayat ini juga memberikan kode etik saat kita memberikan bantahan. Dengan kata lain, membantah harus dilakukan dengan cara yang lebih baik.
Membantah dengan cara yang baik seperti dijelaskan dalam ayat tersebut mengandung dua pengertian, yaitu berkaitan dengan cara membantah dan yang kedua berhubungan dengan kelengkapan dann kebenaran data yang kita gunakan sebagai materi bantahan.

Kedua, membantah tidak diperkenankan jika hanya untuk mengejar kemenangan, bukannya kebenaran. Adapun yang diutamakan dalam bantahan seperti ini bukanlah mencari kebenaran berdasarkan dalil atau data, melainkan sekadar memperoleh kesenangan dari bantahan itu.
Rasulullah Saw. Bersabda, “Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka awalnya berada di jalan hidayah, kecuali mereka yang suka berdebat.” Kemudian beliau membaca ayat, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja.” (HR. Tirmidzi)

Ketiga, termasuk berbantah-bantahan yang dilarang adalah membicarakan sesuatu yang kita sendiri tidak memiliki ilmuyang cukup dalam membicarakannya. Abdullah bin Amr menuturkan, Rasulullah Saw. Pernah keluar, sedangkan mereka (sebagian sahabat) sedang berselisih tentang takdir. Maka, memerahlah wajah beliau bagaikan merahnya buah rumman karena marah. Lalu, beliau bersabda, “Apakah dengan ini kalian diperintah? Atau, untuk inikah kalian diciptakan? Kalian membenturkan sebagian al-Qur’an dengan sebagiannya. Karena inilah umat-umat sebelum kalian binasa.
(HR. Muslim dan Ibnu Majah)


Dengan demikian, banyak membantah atau berdebat dengan tujuan hanya untuk mecari kemenangan dan kesenangan, bukan mencari kebenaran yang karenanya dapat mendekatkan kita kepada Allah Swt., maka perdebatan semacam inihanya akan membawa kepada kesia-siaan.

Monday, January 7, 2019

Sifat manusia yang suka Berkeluh Kesah



Selain tergesa-gesa, manusia juga memiliki sifat suka berkeluh kesah. Sifat ini dialami manusia saat senang dan apalagi sedih. Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. menyandingkan sifat keluh kesah ini dengan sifat lainnya, yaitu kikir. Selain itu, Allah Swt. juga menyatakan bahwa keluh kesah sering kali ditunjukkan oleh manusia saat mereka ditimpa kesusahan. Hal ini sesuai dengan dirman_nya sebagai berikut:
“Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.”
(QS. Al-Ma’aarij: 19-20)

Sayyid Quthub menjelaskan bahwa ayat ini merupakan gambarab sifat karakteristik yang melekat pada diri manusia. Sifat ini tidak bisa hilang kecuali dengan keimanan. Ia juga mengemukakan bahwa keluh kesah mengandung arti sebagai perasaan yang selalu diliputi kecemasan, baik ketika mendapatkan kebahagiaan maupun kesedihan, dan merasa keberhasilannya itu semata-mata dari diri sendiri.
Berkeluh kesah merupakan lawan dari sifat sabar. Berkaitan dengan hal ini. Qyyim al-Jauziyah mengemukakan bahwa keluh kesah adalah sahabat dekat dan saudara kandung kelemahan. Sedangkan, sabar ialah sahabat intim dan pangkalnya kecerdasan.

Image result for kematian muslim.or.id
Ibnu Qayyim berkata, “JIka keluh kesah ditanya, siapakah ayahmu? Pasti akan menjawab, ayahku adalah kelemahan. Dan, jika kecerdasan ditanya, siapakah ayahmua? Pasti ia akan menjawab,  ayahku adalah sabar..”
Lebih jauh, Ibnu Qayyim mengemukakan bahwa pada dasarnya, sifat keluh kesah itu ada dua macam. 
Pertama, keluh kesah yang tidak bertentangan dengan sabar, yaitu keluh kesah yang ditujukan kepada Allah Swt. sebagai salah satu jalan mendekat dan menyerahkan semua urusan kita kepada-Nya.
Keluh kesah yang seperti ini pernah ditunjukkan dalam perkataan nabi Ya’qub, sebagaimana diabadikan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya sebagai berikut:
“Ya’qub menjawab, ‘Sesungguhnya, hanyalah kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”
(QS. Yusuf :86)


Kedua, keluh kesah yang tidak sesuai dengan sabar atau bahkan bertentangan dengannya dan menggagalkannya. Contohnya adalah keluhan orang-orang yang ditimpa musiba, baik keluhan dalam bentuk bahasa tubuh maupun ucapan.
Seseorang yang selalu berkeluh kesah menandakan tipisnya rasa sabar di dalam hatinya. Padahal, sabar merupakan salah satu kekuatan jiwa. Jiwa adalah kendaraan seorang amba menuju surge atau neraka. Bagi jiwa manusia, kesabaran bagaikan tali kekang, atau kendali bagi kendaraan. Sementara, keluh kesah tak lebih dari tiadanya alat kendali bagi kendaraan.
Bisa kita bayangkan sesuatu yang terjadi jika kendaraan tidak mempunyai tali kekang dan tali kendali. Ia akan berjalan tanpa tujuan. Terombang-ambing kesana-kemari. Di dalam jiwa, terdapat dua kekuatan, yaitu kekuatan pendorong dan penolak. Dengan sabar, berarti seseorang telah mengarahkan kekuatan pendorongnya kepada sesuatu yang bermanfaat dan mengarahkan kekuatan penolak kepada yang merugikannya. Sedangkan kekuatan dalam keluh kesah, seseorang telah mengarahkan kekuatan pendorongnya ke arah yang merugikan, sekaligus mengarahkan kekuatan penolaknya kepada sesuatu yang bermanfaat.

Thursday, January 3, 2019

Sifat dan Sikap Tergesa-gesa


“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak, akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka, janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”
(QS. An-Anbiya’ :37)


Al-Ragib al-Asfahani, sebagaimana dikutip oleh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, mengatakan bahwa tergesa-gesa mengandung pengertin “meminta dan menuntut terwujudnya sesuatu sebelum waktu yang ditentukan.” Sifat ini merupakan tuntutan hawa nafsu, dan termasuk sifat tercela. Bahkan, dikatakan sebagai bagian dari sifat setan.
Tergesa-gesa merupakan sifat yang harus kita hindari. Bahkan, Rasulullah Saw. Memberikan contoh kepada kita tentang pentingnya bersifat tenang dalam melakukan sesuatu. Bahkan, dalam keadaan terdesak sekalipun, beliau selalu berusaha untuk tidak terjebak dalam perilaku tergesa-gesa.

Image result for kematian muslim.or.id
Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai rasulullah, pernahkah dating kepadamu suatu hari yang lebih parah dari hari Uhud?’ Beliau bersabda, ‘Aku telah mendapatkan perlakuan buruk dari kaummu terhadapku, dan perlakuan itu adalah tindakan terburuk yang aku alami pada hari Aqabah, yaitu ketika akumenawarkan diriku kepada Ibnu Abi yalil bin Abdi Kilal, namun mereka tidak mau menerima tawaranku. Maka, aku pun pergi meninggalkan mereka dengan wajah yang bimbang, dan aku tidak sadar, kecuali di Qarni tsa’alib. Lalu, aku mengangkat kepalaku. Tiba-tiba, ada segumpal awa telah menaungi diriku. Maka, aku pun melihatnya, dan ternyata ia adalah Jibril. Kemudian, ia memanggilku dan berkata, ‘Sesungguhnya, Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadap dirimu dan sikap mereka terhadap dirimu. Dan, Tuhanmu telah mengutus kepadamu malaikat gunung agar engkau memerintahkan kepadanya apa saja yang engkau kehendaki untuk menghancurkan mereka. Maka, malaikat penjaga gunung memanggil dan mengucapkan salam kepadaku, kemudian berkata, ‘Wahai uhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadap dirimu, dan aku adalah malaikat penjaga gunung yang Tuhanmu telah mengutusku kepadamu agar engkau memerintahkan kepada diriku apa yang engkau kehendaki? Jika engai mau, niscaya aku membalikkan dua gunung yang besar ini kepada mereka.’ Maka, rasulullah Saw. Bersabda, ‘Akan tetapi, aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang beribadah kepada Allah yang Maha Esa dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apa pun.” (HR. Muslim)


Itulah sifat rasulullah Saw. Dalam keadaan teraniaya sekalipun, beliau tetap tenang dan tidak tergesa-gesa menentukan keputusan. Padahal, seandainya sudi, beliau bisa saja seketika itu menyetujui tawaran malaikat untuk membinasakan kaumnya yang ingkar itu.
Suatu perbuatan atau keputusan disebut tergesa-gesa apabila dilakukan tanpa di dahului dengan pemikiran yang matang, musyawarah, atau istikharah. Sesungguhnya, menurut Abu Hatim al-Basti, orang yang tergesa-gesa selalu berkata sebelum ia mengetahuinya, menjawab sebelum memahami, memuji sebelum terjun mencoba, dan mencela setelah memuji. Orang yang tergesa-gesa selalu ditemani penyesalan, jauh dari keselamatan. Dan, masyarakat Arab menyebutnya dengan julukan induk bagi semua penyesalan.

Rasulullah Saw. Menjelaskan tentang beberapa perbuatan yang sering kali dilakukan dengan penuh ketergasa-gesaan, dan karenanya harus dihindari karena menyebabkan kerugian, di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, tergesa-gesa dalam menganggap bahwa doa kita tidak dikabulkan. Mungkin saja, kita sering kali merasa sudah banyak berdoa kepada Allah Swt. banyak hal minta, tetapi kita meyakini tidak ada satu pun dari doa kita yang terwujud. Inilah bentuk dari sifat ketergesa-gesaan yang dilarang dalam ajaran agama.
Rasulullah Saw. Bersabda, “Senantiasa (doa) seorang hamba dikabulkan selama ia tidak memohon suatu dosa, memutus silaturahmi, dan tidak tergesa-gesa.”
Lalu, Rasulullah Saw. Ditanya, “Apa arti tergesa-gesa (dalam berdoa)?”
Beliau menjawab. “Orang yang berdoa tersebut mengatakan, ‘Saya telah berdoa. Dan, saya benar-benar telah berdoa, tetapi Allah Azza wa Jalla tidak menngabulkan doaku.’ Kemudian, ia berkata berhenti berdoa dan meninggalkannya.”
(HR. Muslim).

Terlihat jelas betapa rugi menuruti sifat tergesa-gesa. Karena tergesa-gesa, seseorang meninggalkan perbuatan baik yang sudah lama ia jalankan, seperti meninggalkan berdoa (dalam hadist tersebut).
Kedua, tergesa-gesa saat mendatangi masjid. Dalam hadistnya, Rasulullah Saw. Bersabda, “Jika telah dikumandangkan iqamah shalat, janganlah mendatanginya dengan tergesa-gesa, tetai datanglah dengan tenang. Gerakan apa yang kalian dapatkan, maka shalatlah (mengikuti gerakan itu). Apabila ada gerakan yang terlewat, maka sempurnakanlah. Sesungguhnya, seorang dari kalian jika ia bermaksud untuk shalat, maka sesungguhnya ia dalam keadaan shalat.”
(HR. Muslim).
Ini berkebalikan dengan realitas yang sering kali kita lihat. Biasanya, orang akan berlari jika sudah mendengar suara iqamah dari masjid. Maka, penting endatangi masjid dengan langkah perlahan-lahan dan mengikuti shalat imam dengan sempurna tanpa ketinggalan. Caranya, datanglah ke masjid lebih awal. Jangan terlabat.


Ketiga, tergesa-gesa saat makan. Islam memang benar-benar memperhatikan perilaku pengikutna agar mereka selalu bertindak dengan benar. Bukan hanya soal cara shalat dan puasa, dalam hal makan pun, Islam memliki aturan-aturan yang jelas.
Dalam hal makan, kita dilarang tergesa-gesa. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Jika seseorang dari kalian sedang makan, maka jangan tergesa-gesa sampai ia menuntaskan makannya, meskipun iqamah telah dikumandangkan.”
(HR. Bukhari).
Sebegitu pentingnya meninggalkan sifat tergesa-gesa, sampai-sampai Rasulullah Saw. Menganjurkan kita agar menuntaskan aktivitas makan kita, meskipun iqamah sudah dikumandangkan.

Keempat, tergesa-gesa saat berbicara. Orang yang berbicara dengan tergesa-gesa tentu ucapannya sangat sulit dipahami oleh orang lain. Apalagi, yang berbicara itu adalah seorang guru atau ulama yang sedang berdakwah. Saat seperti itu, sesuatu yang kita bicarakan tentu harus jelas sehingga mudah dimenegerti. Salah satu caranya adalah dengan tidak tergesa-gesa.
Rasulullah Saw. Termasuk orang yang sangat lembut tutur katanya, teratur bahasanya, tenang tanpa terburu-buru. Para sahabat mudah menangkap dan mengerti perkataan beliau. Suatu ketika, Aisyah pernah menegur Abu Hurairah yang berbicara dengan cepat.
Urwah menyatakan bahwa Abu Hurairah duduk di samping kamar Aisyah. Saat itu, Aisyah sedang shalat. Abu Hurairah berkata, “Dengarlah, wahai pemilik kamar!” sebanyak dua kali.
Setelah menyelesaikan shalat, Aisyah berkata, “Tidakkah engkau heran dengan orang itu dan perkataannya. Sesungguhnya, Rasulullah Saw. Ketika berbicara, jika seseorang ingin menghitungnya, niscaya ia akan bisa menghitungnya.”
(HR. Abu Dawud).

Kelima, tergesa-gesa dalam mencari ilmu karena ingin cepat melihat hasilnya. Mencari ilmu atau belajar tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Sebab, seseorang yang belajar dengan tergesa-gesa hasilnya tidak akan maksimal.
Bahkan, dalam kitab Ta’limul Muta’allim, disebutkan bahwa salah satu syarat bagi seseorang yang hendak mencari ilmu adalah tersedianya waktu yang maksimal. Hal ini terkait dengan ilmu yang ingin kita kuasai agar benar-benar mendalam. Terutama, ilmu agama yang menyangkut al-Qur’an, Hadist, dan beberapa perangkat ilmu lainnya.
Rasulullah Saw. Pernah ditegur oleh Allah Swt. karena tergesa-gesa menirukan malaikat jibril membaca al-Qur’an sebelum selesai membacanya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya, atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya.”
(QS. Al-Qiyaamah:16-19)


Keenam, tergesa-gesa memberi fatwa atau menjawab pertanyaan. Islam mengajarkan agar kita selalu bersikap tabayyun. Sikap ini mengharuskan kita untuk senantiasa melakukan telaah, crosscheck mendalam, terhadap sesuatu sebelum kita menyampaikannya kepada orang lain.
Sebuah pendapat yang disampaikan dengan ketergesa-gesaan hanya akan menjadikannya dangkal. Begitu juga saat kita menjawab sebuah pertanyaan. Sebelum menjawab, seharusnya kita perlu melakukan verifikasi terlebih dahulu agar jawaban kita efektif serta sesuai dengan harapan. Sekiranya kita memang tidak tahu atau ragu-ragu dengan jawaban yang kita miliki, menahan diri jauh lebih baik.
Imam malik pernah berkata, “Tergesa-gesa dalam berfatwa adalah suatu kebodohan dan celaan.”
Meninggalkan ketergesa-gesan dalam berpendapat dan menjawab pertanyaan sama sekali bukanlah tanda kebodohan seseorang. Justru dengan sikap itu, kita akan berhati-hati agar jangan sampai pendapat yang kita ucapkan mengandung banyak kesalahan akibat ketergesa-gesaan yang kita lakukan.
Abu Utsman al-haddad berpendapat, “Barang siapa tidak tergesa-gesa dan memastikan kebenaran, maka ia mendapatkan kebenaran yang tidak akan di dapat oleh shahibul-badihah, yakni orang yang menjawab dengan cepat dan spontan tanpa berpikir apakah jawaban itu dapat dipertanggngjawabkan kebenarannya atau tidak.

Ketujuh, tergea-gea dalam berdakwah. Berdakwah atau mengajak orang lain kepada kebaikan bukanlah sesuatu yang mudah. Kepandaian seseorang tidak menjamin ia berhasil dalam berdakwah. Selain ilmu yang memadai, yang juga diperlukan adalah strategi dan kepribadian si pendakwah.
Di antara strategi yang tepat dalam berddakwah adalah konsisten, tidak tergesa-gesa. Kita harus sadar bahwa mengubah seseorang tidak semudah membalik telapak tangan. Dakwah harus dilakukan dengan penuh kesabaran, dan terutama sekali ialah berambisi untuk mencapai tujuan dalam waktu yang singkat.
Dalam melarang suatu perbuatan, Allah Swt. tidak melakukannya dalam sekali waktu. Tetapi, terdapat tahapan-tahapan yang ditempuh-Nya. Hal ini mencerminkan bahwa dalam mengubah kebiasaan buruk perlu dilakukan tanpa tergesa-gesa. Sebut saja, larangan minuman keras.
Ketika ingin melarang minuman keras, Allah Swt. tidak sekaligus menyatakan bahwa minuman tersebut haram, dan wajib dihindari. Namun, pertama-tama, Allah Swt. menyebut bahwa minuman tersebut mudharatnya jauh lebih besar daripada manfaatnya. Setelah itu, barulah Allah Swt. menegaskan tentang haramnya segala jenis minuman yang memabukkan, baik sedikit ataupun banyak.

Kedelapan, tidak tergesa-gesa menyebut orang lain kafir, sesat, fasik, bid’ah, dan laknat. Inilah fenomena yang terjadi sekarang. Segerombolan orang begitu mudahnya menyebut orang lain kafir, ahli bid’ah, atau ahli neraka. Dengan dalil-dalil agama yang mereka ketahui, mereka mudah sekali menuduh orang yang tidak sehaluan dengan mereka sebagai kelompok yang sesat.
Disadari atau tidak, sikap semacam ini mencerminkan sikap tergesa-gesa dalam menilai orang lain. Seharusnya, dilakukan klarifikasi terlebih dahulu sebelum kita menuduh pihak lain dengan tuduhan-tuduhan semacam itu.
Rasulullah Saw bersabda, “Lelaki mana saja yang mengatakan kepada saudaranya (sesame muslim0, ‘Wahai kafir!’, maka perkataan itu akan kembali ke salah satu dari keduanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Seseorang tidak boleh tergesa-gesa menuduh orang lain kafir hanya berdasarkan sesuatu yang ia lihat. Allah-lah yang lebih mengetahui dan pantas memberikan hukuman atas seseorang yang jatuh kepada kekafiran. Demikian juga halnya dengan ketergesa-gesaan kita dalam melaknat orang lain.
Umar bi khathab menuturkan tentang seorang lelaki pada zaman rasulullah Saw. Namanya Abdullah. Ia dijuluki himar. Dahulu, ia sering kali membuat rasulullah Saw. Tertawa. Rasulullah  Saw. Pernah memberinya hukuman dengan pukulan tongkat lantaran ia meminum minuman keras.
Suatu hari, Abdullah dibawa lagi ke hadapan Rasulullah Saw. Lantaran hal yang sama. Berkatalah seseorang dari suatu kaum, “Ya Allah, laknatlah ia! Ia serig sekali dibawa lantaran ini.”
Rasulullah yang mendengar perkataan itu pun berkata, “Janganlah kalian melaknatnya. Demi Allah, aku tahu bahwa sebenarnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Bukhari)
Hadist ini mengandung pelajaran yang sangat penting bagi kita agar kita jangan menjadi orang yang mudah tergesa-gesa melaknat atau memohonkan laknat bagi orang lain sekalipun ia telah melakukan banyak dosa dalam pandangan kita. Tidak ada yang tahu bagaimana hati seseorang kapan saja, di mana saja sesuai dengan kehendak-Nya.

Monday, December 31, 2018

Sifat Sia-sia dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Manusia


Memang benar Allah Swt. menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk terbaik dalam penciptaam. Salah satu aspek yang melekat pada diri manusia dan menjadikannya makhluk terbaik ialah potensi jasmani sekaligus ruhani.manusia bukan sekadar makhluk fisik, tetapi juga makhluk ruhani. Paduan inilah yang menjadikan manusia dapat membedakan dirinya dari binatang.
Banyak ayat al-Qur’an yang berbicara tentang manusia. Salah satunya, disebutkan bahwa manusia adalah amkhluk pertama yang telah disebut dua kali dalam rangkaian wahyu Allah yang pertama, yang diturunkan kepada Rasulullah Saw.:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Image result for kematian muslim.or.id 
Tak hanya itu, Allah Swt. juga memberikan pujian kepada manusia dengan menyebutnya sebagai makhluk yang memiliki bentuk sebaik-baiknya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya sebagai berikut:
“Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tiin:4)

Bahkan, Allah Swt. juga menegaskan pemuliaan-Nya terhadap manusia dengan cara membandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Hal ini sesuai dengan firman-Nya seagai berikut:
“Dan, sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.”
(QS. Al-Israa’: 70)


Meskipun manusia mendapatkan pengakuan dari Allah Swt. sebagai makhluk yang mulia, tetapi di sisi lain, Dia juga menjelaskan tentang cacat yang banyak dijumpai dalam diri manusia. Di antaranya, Allah Swt. menyebutkan manusia sebagai makhluk yang zhalim dan mengingkari nikmat:
“Dan, Dia telah memberikan kepadamu (keperluan) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan, jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghingganya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. Ibrahim: 34)


Allah Swt. juga menyebut manusia sebagai makhluk yang banyak membantah kebenaran.:
“Dan, sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dala al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan, manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”
(QS. Al-Kahfi: 54)


Selain itu, Allah Swt. juga menyebut manusia sebagai makhluk yang senang berkeluh kesah dan kikir:
“Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.”
(QS. Al-Ma’aarij: 19)


Sepintas ayat-ayat tersebut mengandung pertentangan. Di satu sisi, Allah Swt. menyebut kemuliaan manusia, namun di sisi yang lain justru menyebutkan kehinaannya. Menurut M. Quraish Shihab, hal tersebut pada dasarnya bukanlah termasuk sebuah pertentangan, melainkan informasi (ayat) mengenai kelemahan manusia yang harus dihindari olehnya.
Dengan keberadaan ayat-ayat tersebut, Allah Swt. enjelaskan kepada kita bahwa manusia itu mempunyai potensi untuk menempati tempat tertinggi, sehingga ia terpuji. Atau sebaliknya, manusia menempati tempat yang hina sehingga ia tercela.


Dalam proses penciptaan manusia, al-Qur’an juga memberikan informasi bahwa manusia diciptakan dari unsur tanah, kemudian dihembuskan ruh oleh Allah Swt. setelah banar-banar sempurna kejadiannya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya sebagai berikut:
(Ingatlah) ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya, Aku akan meciptakan manusia dari tanah.’ Maka, apabila telah Kusempurnakan kejadiannya, dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”
(QS. Shaad: 71-72).


Oleh sebab itu, menjadi jelaslah bagi kita bahwa manusia terdiri atas dua unsur pokok, yaitu unsur fisik dan nonfisik. Unsur fisik berupa gumbalan tanah, sedangkan unsur nonfisik berupa ruh. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tidak disebut manusia jika hanya terdiri dari fisik. Begitu juga tidak sepurna sebagai manusia kalau hanya berupa ruh tanpa jasad.
Seperti yang sudah di singgung sebelumnya, selain mengandung unsur jasad dan ruh, manusia juga memiliki dua potensi (sifat), yakni sifat baik dan buruk. Sifat yang baik menjadikannya makhluk yang mulia dan berguna. Sifat yang buruk menjadikannya terhina dan sia-sia.
Berikut sifat-sifat negatif manusia yang menjadikannya makhluk terhina dan hidupnya sia-sia:
  1. Tergesa-gesa
  2. Berkeluh kesah
  3. Suka membantah
  4. Bakhil (kikir)
  5. Berlebih-lebihan
  6. Suka berangan-angan
  7. Tidak pandai bersyukur dan bersabar
  8. Iri hati

Friday, December 28, 2018

Tidak Pandai Menjaga Ucapan



Manusia dikaruniai banyak kelebihan oleh Allah Swt. Salah satunya adalah mulut. Melalui mulut, kita dapat makan dan minum. Namun, melalui mulut pula, kita bisa menjalin komunikasi dengan orang lain.

Image result for Pria muslim sejati
Karena mulut menjadi organ vital bagi manusia untuk berkomunikasi dengan orang lain, maka penting bagi siapa pun untuk menjaga mulut dari perkataan yang kotorm perkataan yang tidak berguna apalagi perkataan yang dapat menyinggung atau menyakiti perasaan pendengarnya.
Sebagian pendapat mengatakan bahwa mulut atau lebih jelasnya ucapan merupakan cermin kepribadian seseorang. Baik atau buruknya karakter seseorang terkadang dapat dilihat dari caranya berbicara.

Perkataan orang yang berilmu tentu sangat berbeda nuansa maupun maknanya dengan mereka yang bodoh. Demikian juga ucapan orang yang rendah hati akan sangat berebda kesannya dengan ucapan orang-orang yang sombong. Karena itu, agama mengajarkan kepada kita agar menjaga setiap kata-kata yang kita ucapkan agar jangan sampai ucapan kita menjadi penyebab terlukanya perasaan pendengarnya.
Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya, Allah tidak akan menghukum karena tetesan air mata maupun karena hati yang sedih. Tetapi, Allah akan menghukum karena ini (beliau menunjuk lisannya). Atau Dia akan memberi rahmat-Nya .” (HR. bukhari dan Muslim).

Mungkin, sering kita melihat di televise atau bahkan dalam kehidupan nyata sehari-hari tentang seseorang yang dengan seenaknya mengeluarkan ucapan kasar, seperti mengumpat, mencaci, menghina, atau menghardik orang lain. Mereka tidak menyadari bahwa kata-kata yang mereka ucapkan dapat menjadi sebab terjadinya permusuhan dn sakit hati.

Bisa saja, seseorang berpikir bahwa dengan mengumpat, mecaci, atau menghina seakan mendapatkan kepuasan karena merasa sudah melampiaskan uneg-uneg yang bertumpuk di dalam pikiran. Tetapi, pada dasarnya perbuatan seperti itu hanya akan berakhir pada kesia-siaan karena kita tidak akan mendapatkan pengaruh apa pun selain keburukan.

Allah Swt. berfirman:
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizing Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan, perumpamaan kalimat dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.”
(QS. Ibrahim [14]: 24-26)