Friday, May 24, 2019

3 keutamaan shalat Dhuha

Hasil gambar untuk shalat Dhuha

Shalat Dhuha memiliki keutamaan yang luar biasa. Berikut ini hadits-hadits yang menunjukkan 3 keutamaan shalat Dhuha:

‪1. Shalat Dhuha 2 rakaat senilai 360 sedekah
“Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, dan melarang berbuat munkar adalah shadaqah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat. ” (HR. Muslim)

‪“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan shadaqahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

‪2. Shalat Dhuha 4 rakaat membawa kecukupan sepanjang hari
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

‪3. Menjaga shalat Dhuha dicatat sebagai awwabiin.
“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah; hasan) 

Demikian 3 keutamaan Shalat Dhuha, semoga semakin menguatkan kita dalam mengamalkan salah satu sunnah Nabi ini.

Semoga bermanfaat

Thursday, May 23, 2019

Menangkal Paham Radikal, tanpa Dasar dan tanpa Pengetahuan yang cukup


Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Dien al-Islam sebagai dien rahmat (kasih saying) bahkan terhadap binatang sekalipun dan melarang para hamba-Nya berbuat zhalim dan permusuhan. Shalawat dan salam atas orang yang diutus Allah sebagai rahmat bagi sekalian alam, yaitu Nabi kita, Muhammad Saw.

Image result for pemimpin islam radikal isis
Akhir-akhir ini muncul aksi radikal dan ekstrim yang sebagian besar dilakukan oleh pemuda yang gelisah jiwanya, kacau akidahnya, dangkal pola pikirnya, emosional yang tidak terkendali, beringas dalam beraksi, anarkis dalam berdakwah dan serampangan dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka berlepas diri dari para ulama Rabbani dan melecehkan para ulama yang tidak sepaham dengan mereka. Mereka menganggap aksi yang mereka lakukan suuci dan sacral dan menyelisihinya dinggap pengecut dan antek thaghut bahkan murtad.


Maksud para pemuda melakukan tindak anarkis untuk mengangkat Islam dari keterpurukan dan kehinaan, namun cara yang mereka lakukan salah, tergesa-gesa dan serampangan. Hal ini mengakibatkan citra dan stigma negative bagi umat Islam, dan pihak yang diuntungkan dari aksi tersebut bukan Umat Islam tetapi kelompok phobia Islam. Dalam melakukan tindakan tersebut ada pihak-phak tertentu yang sengaja untuk merusak citra Islam, Allah Swt. berfirman:
“Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.
(QS. Al-Furqan: 20)

Opini yang tersebar di tengah masyarakat awam pelaku tindak anarkis adalah kelompok berjenggot, calananya ngantung dan istrinya bercadar, kelompok yang suka membid’ahkan kelompok lain yang dikenal dengan kelompok wahabi yang kalangan awam menyebut mereka dengan kelompok GAM (Gerakan Anti Maulidan) atau kelompok JAT (Jamaah Anti Tahlilan). Allah menghibur orang-orang yang istiqamah di jalan Allah dengan firman-Nya:
“Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. Yunus : 65)

Menurut mereka jika pada zaman dahulu masjid dan pesantren menghasilkan tokoh-tokoh Islam berbobot, tapi pada zaman sekarang masjid dan pesantren dianggap menghasilkan terorisme dan kaum anarkis, sehingga banyak orang tua yang was-was membiarkan anak-anaknya aktif di masjid atau mereka takut memasukkan anak-anaknya ke pesantren karena khawatir anak mereka menjadi teroris, sehingga kelompok yang istiqamah hanya bisa mengadu.
“Lalu mereka berkata, ‘Kepada Allah-lah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim.”
(QS. Yunus : 85)

Cobaan umat Islam Indonesia khususnya dan umat Islam pada umumnya dari masa ke masa tidak kunjung reda, problem umat semakin berat dan membutuhkan pemecahan, akidah dan moral bangsa memprihatinkan.
Kenapa semuanya bisa terjadi? Semua terjadi karena umat meninggalkan ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah dan meninggalkan para ulama.
Di saat ilmu agama banyak dilupakan, kesabaran sulit didapat, orang yang mengikuti Sunnah tinggal sedikit, perbuatan bid’ah semakin merajalela, persatuan terkoyak, perpecahan merebak, musibah datang silih berganti, darah manusia sangat mudah ditumpahkan, akan membuat orang menjauhi kelompok yang seharusnya dicintai, dan mencintai kelompok yang seharusnya dibenci, sehingga hatinya menjadi keras, jiwanya menjadi kering dan tindakannya zhalim, Allah Swt. berfirman :
Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat.”
(QS. Al-Hajj: 53)


Tidak ada jalan keluar dari berbagai macam bencana dan malapetaka umat kecuali kembali berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah Saw., mempelajari kembali sirahnya, dan mengetahui bahwa kehancuran dan kehinaan umat Islam adalah sebuah keniscayaan, bila mereka menjauhi petunjuk nabi dan meninggalkan ilmu agama dan para ulama. Dengan demikian, Rasulullah Saw. Menegaskan dalam sabdanya:
“Dan dijadikan kehinaan dan kekalahan bagi mereka yang mententang urusan (agama)ku
Sesungguhnya untuk mengembalikan citra buruk umat Islam dan kejayaan Islam hanya dengan komitmen menjalankan Sunnah, karena Sunnah merupakan kunci keselamatan dan kemuliaan yang tidak akan padam cahayanya dan tidak akan kalah argumentasinya. Barang siapa yang berpegang teguh dengannya pasti terpelihara dan siapa yang menentangnya pasti menyesal. Dia adalah benteng yang paling tangguh, tiang yang paling kokoh, yang jelas keutamannya, kuat talinya sehingga siapa yang berpegang teguh kepadanya pasti berkuasa, dan siapa yang menyelisihi pasti hancur serta siapa yang bergantung dengannya akan selamat di akhirat dan terhormat di hadapan umat manusia di dunia.

Sebenarnya untuk mengungkapkan paham radikal dan aksi anarkis dalam beragama lebih tepat dengan ekstrimisme yang hanya memiliki makna negative berbeda dengan radikalisme yang mempunyai dua makna. Ada radikalisme dalam makna positif adalah keinginan adanya perubahan kepada yang lebih baik dalam istilah agama disebut Ishlah (perbaikan) atau Tajdid (Pembaharuan), sedang radikalisme dalam makna negative adalah sinonim dengan makna ekstrimitas, kekerasan dan revolusi, dalam istilah agama disebut Ghulu (melampaui batas) atau Ifrad (berlebihan). Kedua kutub makna yang bertolak dan menjadi sebab meunculnya dua poros gerakan keagamaan yang konfrontatif di dunia Islam, di sinilah letak kerancuan generalisasi radikalisme Islam dalam makna serba negative sehingga semangat anti Islam memperoleh tempat penyaluran.

Monday, May 20, 2019

Pertanyaan-pertanyaan Penting


Saat seseorang sudah dibaringkan di liang kubur, ada pertanyaan-pertanyaan penting yang diajukan oleh malaikat Munkar dan nakir kepadanya. Pertanyaan ini dikatakan penting, bahkan teramat penting, karena bisa atau tidaknya kita menjawab bukan tergantung pada fasih atau pun hafalnya kita terhadap jawaban-jawaban itu. Semua bergantung pada amal dan keimanan kita, serta belas kasih saying Allah Swt.

Image result for pemimpin islam
Tentang apa saja yang ditanyakan, banyak pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa terdapat enam pertanyaan yang diajukan kepada si mayat, yaitu tentang siapa Tuhan kita, apa agama kita, siapa nabi kita, apa kitab pedoman kita, apa kiblat kita, dan siapa saudara kita. Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa hanya ada tiga pertanyaan yang diajukan kepada si mayat, yakni siapa Tuhan kita, apa agama kita, dan siapa nabi kita.

Mempersoalkan perbedaan pendapat mengenai mana yang benar antar pendapat tiga pertanyaan, empat, lima, atau enam tentu bukanlah sesuatu yang penting. Sebab, masing-masing ulama memiliki landasan dalam menetapkan suatu keputusan. Adapun yang menyatakan adanya tiga pertanyaan, dasarnya adalah hadist riwayat Ibnu Majah dan Bukhari. Sementara itu, ulama yang mengatakan ada empat pertanyaan didasarkan pada riwayat Imam Thabrani ketika menjelaskan tentang sunnahnya menalkin mayat. “Dianjurkan menalki mayat setelah dimakamkan. Maka, ucapkan, ‘wahai hamba Allah putra wanita hamba Allah. Sebutlah kalimat saat kamu meninggalkan dunia, yaitu kalimat ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’, surga adalah benar, neraka benar, dibangkitkan dari kubur juga benar, kiamat akan dating dan tiada keraguan, sesungguhnya Allah membangkitkan manusia dari kubur. Kamu rela Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai nabi, al-qur’an sebagai imam, Ka’bah sebagai kiblat, dan orang beriman sebagai saudara.”

Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Umamah. Ia berkata, jika aku mati maka perlakukanlah sebagaimana Rasulullah Saw. Memerintahkan kami untuk memperlakukan orang-orang yang meninggal di antara kami. Rasulullah memerintahkan kepada kami, beliau bersabda, ‘jika salah satu saudara kalian meninggal maka ratakan tanah di atas kuburnya, kemudian berdirilah di arah kepala dekat kuburnya. Lalu katakanlah, ‘Wahai fulan bin fulanah.’ Sesungguhnya, ia mendengar, tapi tidak bisa menjawab. Katakanlah lagi, ‘wahai fulan bin fulanah.’ Sesungguhnya, ia duduk dengan tegak. Katakanlah, ‘Wahai fulan bin fulanah.’
“Maka, ia berkata, ‘Tunjukkan kepadaku, maka Allah akan memberi rahmat kepadamu,’ tetapi kalian tidak mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sebutlah kalimat saat kamu meninggalkan dunia, yaitu kalimat ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.’ Sesungguhnya, kamu rela Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai nabi, dan Al-qur’an sebagai imam.

“Sesungguhnya, Munkar dan Nakir berpegangan tangan dan berkata, Mari tinggalkan orang yang telah dituntun hujjahnya ini.’
“Kemudian, sahabat bertanya, ‘Bagaimana jika tidak diketahui ibunya?’
Rasulullah menjawab, ‘Nasabkan ia pada ibunya, Hawa. Wahai fulan putra Hawa.” (HR. Thabrani).


Hal terpenting yang perlu kita renungkan bersama adalah, seandainya pertanyaan itu ditanyakan kepada kita. Sudah siapkah kita untuk menjawabnya?
Sepintas, pertanyaan itubegitu mudah dijawab. Kita bisa menghafal jawaban atas kemungkinan pertanyaan-pertanyaan semacam ini sejak sekarang, sejak kita masih hidup di dunia. Namun, apa fungsi dari hafalan kita kalau kenyataannya kita tidak benar-benar paham atas jawaban itu?
Kita bisa saja mengaku bahwa kita beragama Islam saat ditanya tentang agama kita. Tetapi, apakah kita benar-benar mengerjakan ajaran Islam seaktu di dunia? Kita bisa saja menjawab bahwa al-qur’an merupakan kitab pedoman kita saat ditanyatentang kitab tersebut. Namun, benarkah mulut kita sering melantunkan ayat-ayatnya dan mengamalkan kandungannya?

Jawaban kita bisa benar apabila materi dari pertanyaan itu sudah menyatu dalam pengalaman kita, dalam perilaku sikap keseharian kita. Kita menjadi pelaku yang sebenarnya, bukan menjadi pengaku semata. Karena itu, penting bagi kita untuk selalu banyak mengingat kehidupan di alam kubur agar kita selalu terobsesi untuk melakukan persiapan-persiapan dengan menjalankan ketaatan kapada Allah dan Rasul-Nya.
Menurut Muhammad Yusuf (2014), sedikitnya terdapat lima manfaat apabila kita banyak mengingat kehidupan alam kubur atau mengingat kematian. Di antaranya ialah sebagai berikut:
·  Mengingat kematian dapat menyebabkan seseorang makin giat melakukan persiapan untuk menghadapi Allah Swt. sebab, kematian adalah prosesi awal bagi setiap hamba sebelum mereka benar-benar menghadapi-Nya.
·   Mengingat kematian, mengingat kehidupan alam kubur, dapat memotivasi kita untuk semakin khusyuk dan bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah. Seorang sahabat memberikan imbauan yang cukup indah untuk kita renungkan, “Bekerjalah untuk urusan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk urusan akhiratmu (beribadah) seakan-akan kamu akan mati besok hari.”
·   Mengingat kematian termasuk sikap yang mulia dan bahkan dikategorikan sebagai salah satu bentuk kecerdasan manusia. Ibnu Umar berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah Saw., lalu bertanya kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, mukmin manakah yang lebih baik?’ Beliau menjawab, ‘Ialah yang paling baik akhlaknya.’ “Orang Anshar itu bertanya lagi, ‘Lalu, mukmin manakah yang paling cerdas?’ beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk alam berikutnya. Itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah).
·   Banyak mengingat kematian dan peristiwa-peristiwa alam kubur dapat menjadi motivasi bagi seseorang untuk dapat menjalani kehidupan lebih baik. Kesadaran untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik terkadang tidak bisa dicapai melalui pengajian-pengajian, acara keagamaan, dan sebagainya. Peristiwa kematian terkadang juga dapat mengubah orientasi dan cara hidup seseorang dari yang semula buruk menjadi lebih baik.

Thursday, May 16, 2019

Fokuslah pada Amal Baik dan Bermanfaat



Marilah kita berhitung soal umur dengan cara membandingkan konsep waktu di dunia dan akhirat. Allah Swt. menjelaskan bahwa satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia.
Kalua usia kita sama seperti Rasulullah Saw., yakni 63 tahun, maka dapat kita buat rumusnya:
   63 X (1/1000 X 24 jam)  =1,512 (dibulatkan 1,5 jam)
Image result for pemimpin islam
Seandainya kita tidak memnfaatkan waktu yang sangat singkat itu sebaik-baiknya dengan melakukan ibadah-ibadah dana mal shalih, entah bagaimana nasib kita kelak di hadapan Allah Swt. Padahal, kita sedang menuju satu kehidupan abadi. Bekal yang harus kita persiapkan adalah buah dari amal kebaikan yang kita lakukan di dunia. Bukan harta yang kita bawa menghadap Allah Swt., melainkan akibat dari penggunaan harta yang pernah kita miliki di dunia.

Maka, sekali lagi, fokuslah kepada amal baik yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan kita. Tidak hanya bagi kehidupa di dunia, melainkan juga untuk kehidupan di akhirat pula. Cobalah perhatikan seberapa benyak kita melakukan ibadah dan beberapa hal bermanfaat lainnya dalam rentang waktu hidup kita yang singkat itu.

Hidup manusia memang teramat singkat. Bahkan, jauh lebih singkat daripada bayangan kita. Sesudah kehidupan di dunia yang sangat singkat, manusia akan memasuki kehidupan abadi; akhirat. Namun, sering kali, manusia lebihh cenderung melakukan hal-hal yang sia-sia selama hidupnya yang singkat itu. Kesenangan yang diperjuangkan lebih menitikberatkan pada kesenangan di dunia, bukan kehidupan sesudah itu.
Dari beberap uraian sebelumnya, terdapat beberapa hal yang dapat dipahami, antara lain:
  1. Sesuatu yang pasti akan dialami oleh manusia adalah perjalanan menempuh empat alam kehidupan; kehidupan di alam Rahim, kehidupan di alam dunia, kehidupan di alam barzakh/ kubur, dan kehidupan di alam akhirat.
  2. Kebanyakan manusia, baik karena ketidaktahuannya maupun penghambaan terhadap hawa nafsunya, justru melakukan kesia-siaan. Selain itu, mereka meyakini bahwa kehidupan yang paling penting itu hanyalah kehidupan dunia, dan menganggap kehidupan akhirat sebagai hal yang sederhana.
  3. Ada dua jenis kesia-siaan pada diri setiap manusia, yakni sifat kesia-siaan dan perilaku kesia-siaan.
  4. Hanya dengan menata hati, mengikuti Sunnah dan mendekati Allah Swt. lewat amal kebaikanlah, manusia dapat terhindar dari sifat dan perbuatan sia-sia. Sehingga, kehidupan mereka benar-benar menjadi bahagia di dunia dan akhirat.
  5. Fokus kepada ibadah dana mal kebaikan merupakan sikap yang  harus selalu ditanamkan dalam kesadaran kita agar visi dan misi hidup benar-benar jelas mengarah kepada ridha Allah Swt. semata.

Monday, May 13, 2019

Tumbuhkan Khusyuk, Tanpa Tergesa-gesa saat Beribadah



Kita pasti tahu tentang pohon. Bahkan selama ini kita juga sudah banyak merasakan manfaat dari pohon. Ada pohon yang kita gunakan untuk membangun alat-alat rumah tangga. Ada pohon yang kita fungsikan sebagai peneduh lingkungan. Dan, tidak sedikit pula pohon yang kita manfaatkan buah maupun daunnya.

Image result for pemimpin islam
Allah Swt. menyebut kata pohon di dalam al-Qur’an, baik secara terseurat maupun tersirat, sebanyak 48 kali yang tersebar di beberapa surat. Kalua kita benar-benar meyakini bahwa al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia, tentu penyebutan kata pohon itu dapat kita jadikan sebagai salah satu sumber ilmu yang harus kita yakini kebenarannya.

Apa pelajaran penting yang terdapat pada sebatang pohonSelain berfungsi sebagai penghasil oksigen, pohon juga  mengajarkan kita tentang arti bersabar. Terutama bersabar dalam menjalankan sebuah usaha atau proses. Jika kita cermati, pohon termasuk makhluk yang tidak tergesa-gesa saat tumbuh. Pohon tumbuh setahap demi setahap, namun selalu konsisten dan istiqamah dalam menjalankan tugasnya untuk terus tumbuh.
Coba lihat, berapa lama waktu yang diperlukan oleh sebatang pohon jati di hutan untuk tumbuh menjadi besar?
Tidak cukup setahun atau dua tahun, tetapi puluhan tahun. Tetapi, pohon itu tabah, sabar, dan tidak tergesa-gesa untuk bisa tumbuh sebasar itu. Karenanya, ia kuat dan kokoh.
Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya, dalam pencipataan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali- ‘Imran [3]: 190)

Demikian juga, diciptakannya pohon menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. yang harus kita pikirkan hikmah dann manfaatnya.
Jika kita termasuk orang yang berakal, tentu keberadaan setiap pohon yang merupakan ayat-ayat (kauniyah) dapat kita jadikan sebagai bahan pelajaran yang sangat penting bagi kehidupan. Dan, salah satu pelajaran penting yang bisa kita petik dari keberadaan sebuah pohon adalah kesabaran dan ketabahannya dalam menjalankan sebuah proses atau usaha.

Untuk menjadi seorang pengusaha, misalnya, kita perlu bersikap sebagaimana pohon yang yang tidak tergesa-gesa menjalankan tugas. Demikian pula, untuk menjadi ahli ibadah, kita juga perlu berlatih dengan sabar setahap demi setahap. Perlu diketahui, Islam senantiasa mengajarkan kita untuk bertindak dengan cermat dan tidak tergesa-gesa. Allah Swt. tidak suka jika para hamba-Nya melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Mengapa ? Sebab, perbuatan tergesa-gesa akan berakhir dengan ceroboh, seseorang yang tergesa-gesa tidak bisa berpikir jernih, dan tentu saja tidak mencerminkan kepribadian orang yang sabar.


Rasulullah Saw. Mengingatkan kita dalam sabdanya, “Doa seorang hamba senantiasa dikabulkan selama ia tidak memohon suatu dosa, memutus silaturahmi, dan tidak tergesa-gesa.”
Para sahabat bertanya, “Apa arti tergesa-gesa (dalam berdoa), Wahai Rasulullah ?”
Beliau menjawab, “Orang yang berdoa tersebut mengatakan, ‘Aku telah berdoa, dan aku benar-benar telah berdoa, tetapi Allah Azza wa Jalla tidak mengabulkan doaku.’ Kemudian, ia berhenti berdoa dan meninggalkannya.” (HR. Muslim).

Jadi, marilah kita lakukan suatu kebaikan dengan tenang, sabar, dan tidak tergesa-gesa. Tujuannya, agar mental dan kepribadian kita pun pada akhirnya menjadi kuat laksana pohon.

Thursday, May 9, 2019

Tumbuhkan rasa Sayang pada Sesama



Sebagai umat Islam, kita mungkin tidak asing lagi dengan bunyi hadist yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. Diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak. Dan, memang demikianlah tugas pokok beliau. Tetapi, meski sangat popular, namun tidak mudah menerjemahkan akhlak dalam keseharian.
Secara umum, akhlak diartikan sebagai perilaku manusia. Sasaran dari perilaku tersebut tidak terbatas kepada manusia semata. Setiap manusia memang harus memiliki akhlak yang baik, yang harus ditujukan bukan hanya kepada sesamanya, melainkan juga kepada makhluk-makhluk lainnya. Termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Image result for pemimpin islam
Terdapat banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. Merupakan sosok yang sangat menyayangi binatang. Hal ini menjadi bukti betapa perilaku atau akhlak beliau telah ditunjukkan kepada semua makhluk. Kita tidak diperkenankan berbuat semena-mena terhadap ciptaan Allah Swt. Sebab, perbuatan semena-mena itu merupakan lawan dari akhlak yang baik.

Mengingat begitu luasnya arti akhlak yang baik itu, maka tidak heran jika Islam dikatakan sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Kata rahmat, menurut Ahmad Mustafa al-Maraghi, berarti “suatu perasaan halus di dalam hati yang mendorong seseorang untuk menyayangi.”
Namun, ironisnya pekerjaan menyayangi hanya ditafsirkan sebagai perasaan laki-laki pada perempuan, dan seterusnya. Padahal, sikap menyayangi yang menjadi dasar dari tumbuhnya akhlak yang baik memiliki cakupan atau sasaran yang sangat luas. Tidak hanya mmenyangkut antar manusia, melainkan meliputi semua makhluk yang mendiami alam semesta.

Maka kia patut prihatin manakala menyaksikan orang-orang berbuat semena-mena terhadap alam, seperti pengrusakan hutan, mencemari sumber mata air, mengotori lingkungan dengan membuang sampah sembarangan, meracuni ikan-ikan di sungai, dan lain sebagainya. Demikian juga, kita prihatin kepada orang-orang yang berbuat zhalim dan aniaya kepada sesama manusia atas alasan yang tidak mendasar.

Perbuatan-perbuatan semacam itu bukan hanya merupakan lingkungan alam sekitar. Tetapi, juga mencerminkan akhlak yang buruk, menipisnya rasa kasih saying terhadap sesama makhluk, serta yang paling fatal ialah kita melanggar larangan Allah Swt., sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya sebagai berikut:
“Dan, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
(QS. Al-A’raaf [7]: 56)


Tak hanya itu, ketika akhlak kita buruk dan rasa saying kita kepada sesame makhluk di muka bumi sedemikian keropos, maka turunnya kasih saying Allah Swt. dan makhluk-makhluk-Nya di langit jadi terhambat.
Rasulullah Saw. Mengingatkan dalam sabdanya, “Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain, beliau juga bersabda, ”Sayangilah orang-orang di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. Tirmidzi).

Selagi masih belum terlambat, mari perbaiki akhlak kita. Tumbuhkan rasa saying kita kepada semua makhluk yang terhampar di alam semesta.

Monday, May 6, 2019

Bertanggung Jawab Kepada Allah Swt



Allah Swt. berfirman:
“ Hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan.í
(QS. Al-Fatihah [1]: 5)

Orang-orang Islam mengucapkan firman Allah Swt. tersebut minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Di antara mereka, ada yang mengetahui maknanya, dan ada pula yang tidak mengetahuinya. Ada yang mengerti maknanya, dan tidak sedikit pula yang tidak mengerti. Ada yang mmemahami maksud dan tujuan maknanya, dan ada pula yang sekadar tahu makna artinya. Tetapi, mereka yang melakukan shalat lima waktu tentulah membaca kalimat tersebut, baik secara sadar atau tidak sadar, benar atau tidak benar cara membacanya.

Image result for pemimpin islam
Kalimat yang tertera dalam rangkaian surat al-Fatihah tersebut sesungguhnya bukan hanya merupakan bacaan yang tidak boleh tertinggal ketika kita melaksanakan shalat. Bukan hanya rukun shalat, yang jika tidak dibaca, batallah shalatnya. Namun, dalam kalimat tersebut, (iyyaaka nna’budu wa iyyaaka nas’iin), terkandung spirit tanggung jawab. Apabila kita melanggarnya, tidak hanya shalat kita yang batal, tetapi batal pulalah nilai-nilai kemanusiaan kita di hadapan Allah Swt.

Hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan. Itulah pernyataan keislaman kita kepada Allah Swt. Itulah pernyataan yang mengindikasikan bahwa hanya Dia yang kita sembah, dank arena itu, hanya kepada Dia-lah kita mengemis pertolongan.
Pernyataan ini sesungguhnya menuntut tanggung jawab yang penuh bagi siapa saja yang mengucapkannya. Kita tidak cukup hanya dengan mengatakannya, tetapi kenyataannya malah kita melakukan sesembahan kepada segala sesuatu selain-Nya. Kita menyembah harta, karier, gengsi, popularitas, artis, dan sekian banyak takhayul lainnya.
Orang yang mampu mengucapkan iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin tetapi tidak sanggup menghindar dari menyembah harta, jabatan, karier, gengsi, popularitas, dan lain sebagainya maka batallah esensi ucapannya, meski shalatnya tidaklah batal menurut aturan syariat.

Oleh sebab itu, ayat ke-5 surat al-Fatihah ini sebenarnya bukan hanya berisi pengakuan seseorang untuk menjadikan Allah sebagai Dzat yang wajib disembah dan pantas dimintai pertolongan. Tetapi lebih daripada itu, kalimat tersebut juga menagih tanggung jawab bagi siapa saja yang mengucapkannya; baik yang mengucapkan tersebut benar-benar menyembah Allah Swt. ataukah harta, benar-benar meminta pertolongan-Nya maupun kepada peramal atau dukun.
Maka, benarlah ungkapan bahwa manusia disebut bertanggung jawab manakala ucapannya selaras dengan tindakannya. Jika tidak, maka rendahlah nilai tanggung jawab itu.