Thursday, January 17, 2019

Manusia adalah makhluk yang suka Suka Berangan-angan



Suka berangan-angan merupakan sifat manusia yang sia-sia. Sia-sia karena sifat ini menjadi penghalang terbesar bagi manusia untuk memulai sesuatu. Angan-angan tidak sama dengan cita-cita. Dalam sebuah cita-cita, sudah tersusun suatu rencana dan aksi nyata yang walaupun tidak seberapa.
Perbedaan antara angan-angan dengan cita-cita terletak pada ada atau tidaknya rencana dan aksi nyata. Ketika seseorang bercita-cita inginmenjadi insyinyur, namun ia tidak memiliki rencana dan upaya untuk mewujudkannya, maka keinginan itu berubah menjadi angan-angan belaka.
Senang berangan-angan merupakan sifat buruk manusia berdasarkan pernyataan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut:
“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka, selain dari tipuan belaka.”
(QS. An-Nisaa’: 120)

Image result for muslim sejati 
Karena itu, orang yang hanya pandai berangan-angan tidak akan memperoleh apa pun, kecuali kesia-siaan. Kesia-siaan karena ia telah membiarkan waktunya terbuang dengan percuma.
Anas berkata, “Nabi Muhammad Saw. Membuat garis seraya bersabda, ‘Ini manusia, ini angan-angannya, sedangkan ini ajalnya. Ketika ia sedang berada dalam angan-angan, tiba-tiba datanglah kepadanya garisnya yang paling dekat.’ Maksud dari garisnya yang paling dekat adalah ajal kematiannya.”
(HR. bukhari)


Orang yang panjang angan-angan, menurut Sayyid Abdullah al-Haddad, akan bersikap santai. Ia merasa tidak perlu bertindak segera. Ia menganggap kematiannya masih lama. Sementara, orang yang cerdas ialah yang mengingat kematian. Ia bertindak segera untuk masa depannya. Mengingat mati merupakan gambaran bahwa kita harus memperhatikan masa depan (hari esok). Inilah yang disebut visi.

Monday, January 14, 2019

Manusia yang Bakhil (Kikir)



Al-Qur’an menjelaskan tentang makna kikir atau bakhil dengan berbagai bentuk. Penyebutannya dijabarkan dalam susunan kalimat dan konteks yang berbeda. Secara bahasa, bakhil berasal dari kata bakhila atau bakhula-yabkhalu atau yabkhulu-bukhlan, yang berarti memegang erat, menahan, serta disebut juga diddul-sakhiun wa al-karim (kebalikan dari pemurah).

Dengan demikian, seseorang disebut bakhil (kikir) apabila ia menahan sesuatu yang seharusnya diberikan, terutama berdasarkan hokum syariat Islam. Sifat bakhil selalu dipandang buruk karena dilarang oleh syariat, adat-istiadat, serta termasuk perbuatan yang tidak bisa diterima oleh akan sehat.

Image result for kematian muslim.or.id
Di dalam al-Qur’an, penggunaan kata bakhil selalu dimaknai sebagai isyarat tentang adanya larangan dan celaan, yang semuanya terkait dengan terlenanya manusia kan kenikmatan dunia, mencerminkan sikap sombong, membanggakan diri, dan bahkan kufur. Perhatikan firman Allah Swt. berikut:
“Sekali-kali, janganlah orang-orang yangbakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan, kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan bumi. Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali ‘Imran :180)


Terkait dengan larangan sifat bakhil ini, Rasulullah Saw. Enjelaskan dalam salah satu sabdanya, “Barang siapa diberi harta oleh Allah, tetapi ia tidak menunaikan zakatnya, kelak pada hari kiamat harta tersebut akan dijadikan ular botak dan mempunyai dua tandunk yang melilitnya. Ular tersebut mencaploknya dengan geraham, dan berkata, ‘Akulah hartamu (dulu yang tidak kau keluarkan zakatnya).” (HR. Bukhari).

Islam tidak membenarkan penganutnya memiliki sifat kikir atau bakhil. Justru sebaliknya, Islam menganjurkan agar kita senantiasa bersifat dermawan, gemar berbagi dengan orang lain, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Namun, karena manusia sering kali dihinggapi egoism yang berlebihan, terkadang mereka menghilangkan kedermawanan sehingga yang terjadi adalah sifat kikir atau bakhil.
Di sisi lain, Islam juga senantiasa menggalakkan penganutnya agar senantiasa hidup bersih, kuat, dan solid. Semua prinsip ajaran ini terangkum di dalam ajaran akhlak atau etika berperilaku, baik perilaku kita kepada Allah Swt. maupun terhadap sesama.

Pada tahap ini, yang harus kita sadari bersama adalah behwasanya akhlak dalam Islam bukan sekadar menyangkut masalah pribadi, melainkan lebih dari itu, yaitu merupakan dakwah untuk kemajuan bersama. Tidak mungkin umat islam mengalami kemajuan bersama-sama jika di antara mereka memiliki sifat kikir atau bakhil.

Akram ridha berpendapat bahwa kebakhilan termasuk perbuatan sewenang-wenang terhadap orang lain karena memonopoli logistic mereka. Sementara itu, hati pelakunya membantu (tidak memedulikan orang lain di sekitarnya), sehingga sebagian dari manusia kelaparan karena tidak memiliki makanan.
Nurcholis madjid juga mengemukakan bahwa semua ajaran, baik yang bersifat keagamaan maupun keduniaan semata, menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya, dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Jika kita sadar bahwa bakhil atau kikir merupakan sesuatu yang menimbulkan kesengsaraan pada orang lain, maka kita juga harus menyadari behwasanya sifat itu bakal mendatangkan ancaman bagi pelakunya.

Tuesday, December 18, 2018

Fase Terakhir Tempat Kehidupan Manusia


Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. memberikan informasi yang banyak sekali tentang kehidupan akhirat sebagai fase terakhir kehidupan manusia. Hal ini tersirat dari penyebutan kata akhirat yang merupakan bentuk lain dari kata akhir atau terakhir.

Namun, selain itu, Allah Swt. menyebut kehidupan akhirat sebagai bentuk kehidupan yang paling utama disbanding kehidpan di alam dunia. Hal ini sesuai dengan firman_Nya sebagai berikut:
“Tetapi, kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la: 16-17)

Bagi orang-orang yang tidak percaya akan kehidupan akhirat, kehidupan dunia adalah segalanya. Mereka menganggap bahwa kehidupan yang mereka alami sekarang merupakan kenikmatan terbesar yang harus mereka rayakan setiap saat. Tetapi, berbeda halnya bagi orang-orang yang percaya akan adanya hari akhirat. Mereka justru menjadikan dunia sebagai jalan untuk memperoleh kebahagiaan yang lebih besar, yaitu kebahagiaan di alam akhirat.

Image result for kematian muslim.or.id
Orang-orang seperti ini akan mendapatkan keistimewaan berupa kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak. Mereka menganggap bahwa kehidupan dunia hanya sebagai alat, bukan tujuan. Tujuan mereka itu adalah akhirat kelak, dengan alat kehidupan dunia. Sebaliknya, orang-orang yang hanya ingin memuaskan diri dengan dunia, yang mengatakan bahwa inilah tujuan hidup yang sebenarnya, mereka cenderung menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Karena itu, mereka bekerja keras tanpa batas dan tak mengenal waktu. Bila waktunya tiba, mereka terperangah akibat tidak memiliki persiapan sama sekali yang mereka lakukan selama hidup di dunia.

“Berbekallah untuk hari yang sudah pasti (kematian dan akhirat),” tulis Abdullah Nashih Ulwan, “Sebab kematian adalah muara manusia.”

Saturday, December 15, 2018

Kehidupan di alam Akhirat setelah kita meninggalkan dunia


Kehidupan alam akhirat merupakan kehidupan yang pasti dialami oleh setiap manusia. Tidak seorang pun yang dapat menghindar dari kehidupan akhirat beserta segenap ketentuan yang berlaku di dalamnya.

Berkebalikan dari kehidupan dunia, kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang tiada akhir. Di dalam al-Qur’an, Allah swt. sering kali menggambarkan bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih utama daripada kehidupan di dunia. Pada kehidupan dunia, kita sekedar melakukan persiapan-persiapan serba singkat untuk menuju kehidupan akhirat.
Seseorang yang dibuai dunia dan menganggap bahwa kehidupan dunialah  yang paling utama,  maka kemungkinan besar ia akan lalai dari melakukan persiapan-persiapan itu. Namun demikian, tidak dibenarkan juga kita lebih memfokuskan diri kepada kehidupan akhirat dengan melupakan masalah-masalah dunia. Tentang hal ini, Allah Swt. berfirman:


dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
(QS. Al-Qashash :77)

Penyabutan alam akhirat yang mendahului alam dunia pada ayat tersebut mengandung arti bahwa dijadikan prioritas utama dalam hidup kita. Dunia yang kita miliki harus dijadikan sarana untuk menggapai kehidupan akhirat itu.

Image result for kematian muslim.or.id
Mengapa kita harus prioritaskan orientasi hidup kita kepada perolehan kebahagiaan di akhirat? Hal itu disebabkan oleh kehidupan di akhirat lebih baik daripada kehidupan di dunia, lebih abadi daripada hidup di dunia. Di sanalah sumber kebahagiaan dan penderitaan yang sesungguhnya berada.
Kalau kita merasakan kebahagiaan di dunia, maka kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar waktu. Karenanya, jangan sombong dan lupa diri. Kalau kita merasakan penderitaan di dunia, penderitaan itu pun akan berlangsung dalam sekejap saja. Karenanya, jangan putus asa dan mengeluh. Namun, tidak ada kebahagiaan atau penderitaan yang memiliki batas akhir manakala seseorang sudah berada pada kehidupan akhirat.

Sebuah ungkapan cukup indah pernah disampaikan Ali bin Abi Thalib, “Sesungguhnya, dunia sudah mulai menjauh dan memohon izin untuk berpisah. Sedangkan, akhirat sudah mulai mendekat dan bersiap untuk disambut. Sekarang (dunia) adalah waktu untuk berlatih. Sedangkan, esok (akhirat) adalah waktu untuk bertanding.

Begitulah kehidupan dunia dan akhirat. Bila dunia adalah berlatih, maka akhirat adalah penentu keberhasilan atau kegagalan dari latihan yang usdah kita lakukan. Tidak ada gunanya seseorang terus menerus berlatih tanpa kepastiann apakah besok ia akan bisa bertanding dan keluar sebagai pemenang. Nbegitu pun juga konyol jika seseorang langsung turun ke dalam gelanggang untuk bertanding tanpa sebelumnya melakukan persiapan dan latihan.
Berlatih dan bertanding adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Mengurusi dunia sekaligus akhirat juga merupakan dua hal yang tidak boleh kita abaikan.selain mengenal dunia, kita juga perlu banyak belajar untuk mengenal akhirat. Setidaknya, dengan mengenal alam akhirat  kita memiliki gambaran tentang sesuatu yang harus kita lakukan sejak sekarang, sebelum benar-benar memasuki alam yang pasti akan kita datangi suatu saat nanti.

Friday, December 14, 2018

Ungkapan "Ajining dhiri Dumunung ing lathi,Ajining raga Saka busana"

Artinya,ajining dhiri dumunung ing lathi(nilai pribadi terletak di bibir), ajining rga saka busana(nilai raga tercermin dari pakaian).


Image result for orang jogja
Terjemahan bebasnya,nilai pribadi seseorang di tentukan oleh ucapan atau kata-katanya,sedangkan nilai penampilan sering diukur dari busana yang dikenakan.
Peribahasa ini merupakanasihat agar berhati-hati terhadap tutur kata yang kita ucapkan.Sebab,apa saja yang terucap dari mulut kita akan didengarkan,diperhatikan,dan dipercaya orang lain.Contohnya,apabila sering berbohong,maka lama-kelamaan akan kehilangan kepercayaan.Siapa yang suka mengucapkan kata-kata pedas yang menyakitkan hati,ia akan sulit membangun persahabatan.Sebab,orang jadi tidak senang karena ucapannya banyak melukai perasaan.
Ajining raga saka busana,nilai seseorang dapat juga ditentukan oleh pakaiannya.Di jawa,yang bernama pakaian,akhirnya bukan sekadar penutup aurat,melainkan juga menjadi tolok ukur nilai penampilan seseorang.Contohnya,seseorang yang menghadiri pesta perkawinan,namun hanya menegenakan sandal jepit dan pakaian ala kadarnya,tentu ia akan menjadi resasanan.Salah-salah,ia bisa dianggap tidak menghargai atau meremehkan pemilik rumah dan tamu undangan lainnya.

Sunday, November 25, 2018

Belum terlambat untuk merenung, mari Introspeksi diri


Image result for jenazah

Memang, belum ada kata terlambat untuk merenungkan segala hal yang berkaitan dengan alam kubur, kematian, dan sebagainya. Selagi nyawa masih dikandung badan, selagi kesempitan belum menghadang kesempatan yang kita miliki, merenung tentang kematian sangat penting kita lakukan.
Banyak cara yang dapat kita lakukan agar hati dan pikiran kita tidak lalai dari mengingat kematian. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, ziarah kubur. Ziarah kubur merupakan perbuatan yang diperbolehkan. Dulu, Rasulullah saw. Memang pernah melarang sahabat-sahabatnya berziarah kubur. Hal ini terkait dengan kondisi keimanan mereka waktu itu yang masih belum kuat. Akan tetapi, setelah keimanan mereka kuat, Rasulullah Saw. Menganjrkan mereka ziarah kubur.
Namun, yang harus diingat adalah ziarah kubur dilakukan bukan dalam rangka kita meminta kepada siapa yang dikuburkan. Kehadiran kita ke sana hanyalah untuk mengingat kematian serta berdoa kepada Allah Swt. agar orang yang kita ziarahi diberi ampunan, dan kita pun memohon ampun kepada-Nya.
Kedua, takziah ketika salah satu tetangga kita meninggal dunia, bersegeralah mendatanginya serta ikut mengurus jenazahnya, mulai dari memandikan, mengafani, menshalati, hingga kemudian menguburkannya. Lakukan prosesi itu dengan penuh kesadaran bahwa suatu waktu, kita sendirilah yang akan mengalami hal seperti itu.
Ketiga, perbanyaklah membaca doa, terutama doa-doa yang berisi permohonan kepada Allah Swt. agar kita dikarunia husnul khatimah, dipermudah sakaratul maut, serta diselamatkan dari azab kubur.


Friday, November 23, 2018

Kehidupan di Dunia hanya sementara, Akhirat adalah Tujuan Utama Kita



Tersebutlah sebuah kisah:
Seorang anak mendatangi Rasulullah Saw. Sambil menangis. Peristiwa itu sangat mengharukan beliau yang sedang duduk bersama sahabat yang lain.
“Mengapa engkau menangis, wahai anakku?” Tanya rasulullah Saw.
“Ayahku telah meninggal, tetapi tiada seorang pun yang dating melayat. Aku tidak mempunyai kain kafan. Siapa yang akan memakamkan ayahku dan siapa pula yang akan memandikannya?” Tanya anak itu.
Segeralah rasulullah Saw. Memerintahkan Abu Bakar dan Umar untuk menjenguk jenazah itu. Betapa terperanjat Abu Bakar dan Umar, mayat itu berubah menjadi seekor babi hutan. Kedua sahabat itu lalu segera kembali melapor kepada rasulullah Saw.
Maka, datanglah sendiri rasulullah Saw. Ke rumah anak itu. Beliau berdoa kepada Allah Swt. sehingga babi hutan itu kembali berubah menjadi jenazah manusia. Kemudian, beliau menshalatkannya, dan meminta sahabat memakamkannya. Betapa herannya para sahabat, ketika akan dimakamkan, jenazah itu berubah kembali menjadi babi hutan.
Melihat kejadian itu, rasulullah Saw. Menanyakan anak itu, apa yang dikerjakan oleh ayahnya selama hidupnya.
“Ayahku tidak pernah mengerjakan shalat selama hidupnya,” jawab anak itu.
Kemudian, rasulullah Saw. Bersabda kepada para sahabatnya, “Para sahabat, lihatlah sendiri. Begitulah akibatnya bila orang meninggalkan shalat selama hidupnya. Ia akan menjadi makhluk laksana babi hutan di hari kiamat nanti.”
Tidak harus menunggu akhirat ditimpakannya siksa Allah Swt. bagi siapa saja di antara hamba-Nya yang ingkar. Di dunia dan alam kubur pun, siksa itu pasti ditimpakan.




Saat tubuh kita diletakkan di liang kubur. Saat orang-orang, yang untuk terakhir kalinya mengantarkan kita ke tempat peristirahatan terakhir panjang, satu per satu mulai pulang. Tinggallah diri kita sendirian. Namun, sesudah itu, datanglah dua malaikat, Munkar dan nakir. Kepada kita, keduanya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan penentu bagi selamat atau tidaknya kita di sana.
Tentang hal ini, Rasulullah Saw. Bersabda:
“Jika mayat atau salah seorang dari kalian telah dikubur, dating dua malaikat; hitam (tubuhnya), biru )kedua matanya); satu dari keduanya bernama Munkar, dan yang lain bernama nakir. Kedua malaikat bertanya kepada mayat, ‘Apa yang dulu kamu katakana tentang lelaki ini (yakni rasulullah) ?
“Ia pun menyatakan yang dulu ia katakana, ‘Lelaki itu adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, asyhadu alla ilaaha illallah wa anna muhammadar rasulullaah.’
Kedua malaikat menimpali, ‘Sunguh, kami telah mengetahui bahwa engkau mengatakan demikian.’
“Lalu, diluaskan kubur baginya 70x 70 dzira’ (hasta), dan diterangi. Kemudian, dikatakan padanya, “Tidurlah engkau.”
“Berkatalah si mayat, ‘Kembalikanlah aku kepada keluargaku agar aku kabarkan kepada mereka.’
“Keduanya berkata, ‘Tidurlah engkau sebagaimana tidurnya pengantin, tidak ada yang membangunkan, kecuali orang yang paling di cintainya. Hingga nanti Allah membangkitkan dari pembaringannya.’
“Ada pun jika mayat adalah seorang munafik, ia akan menjawab, ‘Dahulu aku mendengar manusia mengatakan sesuatu, aku pun mengatakannya… Aku tidak tahu.’
“Keduanya berkata, ‘Sungguh, kami telah mengetahui bahwa engkau akan berkata demikian.’ Maka dikatakan pada bumi, ‘Impitlah ia!’ Bumi pun mengimpit mayat hingga tulang-tulang rusuknya bertautan. Terus-menerus azab ditimpakan hingga Allah membangkitkan ia dari kuburnya.” (HR. Tirmidzi).

Bila Anda bayangkan betapa menyeramkan sosok kedua malaikat itu. Dengan tubuh hitam dan kedua mata kebiruan, siapa pun pasti merasa takut, apalagi dalam keadaan tubuh terbaring di tempat yang sempit seperti itu. Namun, sekali lagi, semuanya tergantung pada amal kita semasa hidup di dunia.
Jika kita banyak melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah Swt. dan Rsul-Nya, tentu tidak ada sesuatu yang perlu dikwatirkan. Namun, kalau justru keingkaran dan kemaksiatan yang mewarnai hari-hari kita, jelas ketakutanlah yang akan selalu membayangi kita.
Karena itu, kita harus selalu mengingat nasib kita kelak di alam kubur. Dengan cara seperti itu, barangkali kita termotivasi untuk mengoreksi diri secara terus-menerus. Memperbaiki kesalahan dan menambah kebaikan.
Di antara tanda-tanda jiwa yang beriman, menurut Husein Syahatah, adalah senantiasa menghitung setiap perbuatan dan pekerjaannya, baik yang tampak maupun tidak. Hal itu dilakukan ahgar ia merasa yakin bahwa ia berjalan di jalan yang lurus, yang telah ditentukan batas-batasnya oleh Al-Qur’an, telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw.
Tanpa mengingat kematian dan keadaan alam kubur, tidak mungkin seseorang mempersiapkan bekal menujunya. Semasa hidup, kita dapat menikmati pemandangan indah yang mempesona, yang karenanya hati kita menjadi tenteram. Tetapi, bayangkanlah saat jasad kita dilatakkan di dalam kubur, dua malaikat hitam yang kebiruan matanya dating kepada kita.
Mereka akan menginterogasi kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tidak bisa kita latih mulai sekarang. Kita akan bisa menjawab pertanyaan sesuai dengan keimanan dan amal kebaikan yang kita lakukan.

Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Abu hurairah bahwasanya Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya, semua mayat masuk ke kubur. Orang yang shalih duduk di dalam kuburnya tanpa rasa takut dan tidak juga kegirangan. Kemudian, ia ditanya, ‘Apa yang telah kamu anut?’
“Ia menjawab, ‘Aku menganut islam.’
“lalu ditanya, ‘Siapa orang ini?’
“Ia menjawab, ‘Muhammad, Rasulullah. Ia telah dating kepada kami membawa keterangan-keterangan dari sisi Allah, maka kami mempercayainya.’
“Lalu, ditanya, ‘Apakah kamu pernah melihat Allah?’
“Ia menjawab, ‘Tidak, tidak sepatutnya seseorang melihat Allah.’
“Maka, dibukakan baginya sebuah lubang kea rah neraka. Ia bisa melihatnya yang saling berbenturan satu sama lain. Maka dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah sesuatu yang Allah pelihara untukmu darinya.’
“Selanjutnya, dikatakan pula baginya lubang kea rah surge. Ia bisa melihat gemerlapnya dan segala isinya. Maka dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempatmu.’ Dan, dikatakan pula kepadanya, ‘kamu telah menganut agama yang atas itu kamu telah meninggal, dan atas itu pula kelak kamu dibangkitkan, insya Allah.’
“Adapun orang jahat, ia duduk di dalam kuburnya dengan rasa takut dan cemas. Ia ditanya, ‘Agama apa yang telah kamu anut?’
“Ia menjawab, ‘Tidak tahu.’
“Ditanya lagi, ‘Siapa orang ini?’
“Ia menjawab, ‘Saya mendengar seseorang mengatakan sesuatu, maka saya mengatakannya pula.’
“Maka, dibukakan baginya suatu lubang ke surge. Ia bisa melihat gemerlapnya dan segala isinya. Maka, dikatan kepadanya, ‘Lihatlah sesuatu yang telah Allah palingkan darimu.’
“Kemudian, dibukakan pula suatu lubang kea rah neraka. Ia bisa melihatnya, yang saling berbenturan satu sama lain. Maka, dikatan kepadanya, ‘Inilah tempatmu. Kamu telah menganut keraguanmu. Atas itu, kamu telah meninggal, dan atas itu pula kamu kelak akan dibangkitkan, insya Allah.”
(HR. Ibnu Majah).




Saat seseorang sudah dibaringkan di liang kubur, ada pertanyaan-pertanyaan penting yang diajukan oleh malaikat Munkar dan nakir kepadanya. Pertanyaan ini dikatakan penting, bahkan teramat penting, karena bisa atau tidaknya kita menjawab bukan tergantung pada fasih atau pun hafalnya kita terhadap jawaban-jawaban itu. Semua bergantung pada amal dan keimanan kita, serta belas kasih saying Allah Swt.
Tentang apa saja yang ditanyakan, banyak pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa terdapat enam pertanyaan yang diajukan kepada si mayat, yaitu tentang siapa Tuhan kita, apa agama kita, siapa nabi kita, apa kitab pedoman kita, apa kiblat kita, dan siapa saudara kita. Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa hanya ada tiga pertanyaan yang diajukan kepada si mayat, yakni siapa Tuhan kita, apa agama kita, dan siapa nabi kita.
Mempersoalkan perbedaan pendapat mengenai mana yang benar antar pendapat tiga pertanyaan, empat, lima, atau enam tentu bukanlah sesuatu yang penting. Sebab, masing-masing ulama memiliki landasan dalam menetapkan suatu keputusan. Adapun yang menyatakan adanya tiga pertanyaan, dasarnya adalah hadist riwayat Ibnu Majah dan Bukhari. Sementara itu, ulama yang mengatakan ada empat pertanyaan didasarkan pada riwayat Imam Thabrani ketika menjelaskan tentang sunnahnya menalkin mayat. “Dianjurkan menalki mayat setelah dimakamkan. Maka, ucapkan, ‘wahai hamba Allah putra wanita hamba Allah. Sebutlah kalimat saat kamu meninggalkan dunia, yaitu kalimat ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’, surga adalah benar, neraka benar, dibangkitkan dari kubur juga benar, kiamat akan dating dan tiada keraguan, sesungguhnya Allah membangkitkan manusia dari kubur. Kamu rela Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai nabi, al-qur’an sebagai imam, Ka’bah sebagai kiblat, dan orang beriman sebagai saudara.”
Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Umamah. Ia berkata, jika aku mati maka perlakukanlah sebagaimana Rasulullah Saw. Memerintahkan kami untuk memperlakukan orang-orang yang meninggal di antara kami. Rasulullah memerintahkan kepada kami, beliau bersabda, ‘jika salah satu saudara kalian meninggal maka ratakan tanah di atas kuburnya, kemudian berdirilah di arah kepala dekat kuburnya. Lalu katakanlah, ‘Wahai fulan bin fulanah.’ Sesungguhnya, ia mendengar, tapi tidak bisa menjawab. Katakanlah lagi, ‘wahai fulan bin fulanah.’ Sesungguhnya, ia duduk dengan tegak. Katakanlah, ‘Wahai fulan bin fulanah.’
“Maka, ia berkata, ‘Tunjukkan kepadaku, maka Allah akan memberi rahmat kepadamu,’ tetapi kalian tidak mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sebutlah kalimat saat kamu meninggalkan dunia, yaitu kalimat ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.’ Sesungguhnya, kamu rela Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai nabi, dan Al-qur’an sebagai imam.
“Sesungguhnya, Munkar dan Nakir berpegangan tangan dan berkata, Mari tinggalkan orang yang telah dituntun hujjahnya ini.’
“Kemudian, sahabat bertanya, ‘Bagaimana jika tidak diketahui ibunya?’
Rasulullah menjawab, ‘Nasabkan ia pada ibunya, Hawa. Wahai fulan putra Hawa.” (HR. Thabrani).

Hal terpenting yang perlu kita renungkan bersama adalah, seandainya pertanyaan itu ditanyakan kepada kita. Sudah siapkah kita untuk menjawabnya?
Sepintas, pertanyaan itubegitu mudah dijawab. Kita bisa menghafal jawaban atas kemungkinan pertanyaan-pertanyaan semacam ini sejak sekarang, sejak kita masih hidup di dunia. Namun, apa fungsi dari hafalan kita kalau kenyataannya kita tidak benar-benar paham atas jawaban itu?
Kita bisa saja mengaku bahwa kita beragama Islam saat ditanya tentang agama kita. Tetapi, apakah kita benar-benar mengerjakan ajaran Islam seaktu di dunia? Kita bisa saja menjawab bahwa al-qur’an merupakan kitab pedoman kita saat ditanyatentang kitab tersebut. Namun, benarkah mulut kita sering melantunkan ayat-ayatnya dan mengamalkan kandungannya?
Jawaban kita bisa benar apabila materi dari pertanyaan itu sudah menyatu dalam pengalaman kita, dalam perilaku sikap keseharian kita. Kita menjadi pelaku yang sebenarnya, bukan menjadi pengaku semata. Karena itu, penting bagi kita untuk selalu banyak mengingat kehidupan di alam kubur agar kita selalu terobsesi untuk melakukan persiapan-persiapan dengan menjalankan ketaatan kapada Allah dan Rasul-Nya.
Menurut Muhammad Yusuf (2014), sedikitnya terdapat lima manfaat apabila kita banyak mengingat kehidupan alam kubur atau mengingat kematian. Di antaranya ialah sebagai berikut:
·         Mengingat kematian dapat menyebabkan seseorang makin giat melakukan persiapan untuk menghadapi Allah Swt. sebab, kematian adalah prosesi awal bagi setiap hamba sebelum mereka benar-benar menghadapi-Nya.
·         Mengingat kematian, mengingat kehidupan alam kubur, dapat memotivasi kita untuk semakin khusyuk dan bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah. Seorang sahabat memberikan imbauan yang cukup indah untuk kita renungkan, “Bekerjalah untuk urusan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk urusan akhiratmu (beribadah) seakan-akan kamu akan mati besok hari.”
·         Mengingat kematian termasuk sikap yang mulia dan bahkan dikategorikan sebagai salah satu bentuk kecerdasan manusia. Ibnu Umar berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah Saw., lalu bertanya kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, mukmin manakah yang lebih baik?’ Beliau menjawab, ‘Ialah yang paling baik akhlaknya.’ “Orang Anshar itu bertanya lagi, ‘Lalu, mukmin manakah yang paling cerdas?’ beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk alam berikutnya. Itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah).
·         Banyak mengingat kematian dan peristiwa-peristiwa alam kubur dapat menjadi motivasi bagi seseorang untuk dapat menjalani kehidupan lebih baik. Kesadaran untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik terkadang tidak bisa dicapai melalui pengajian-pengajian, acara keagamaan, dan sebagainya. Peristiwa kematian terkadang juga dapat mengubah orientasi dan cara hidup seseorang dari yang semula buruk menjadi lebih baik.
Muhammad bin Shalih al-Qahthani (2006) menceritakan kisah temannya yang seorang ukang memandikan mayat. Kurang lebih, kisah yang diceritakan itu:
“pada hari Selasa tanggal 20 Rabi’ul awal 1422 H, aku berangkat ke tempat kerjaku pukul 07.00 pagi. Dan, seperti biasa, kembali sekitar setengah jam sebelum shalat Ashar, lalu menyantap makan. Tiba-tiba telepon bordering. Ternyata, penanggung jawab tempat memandikan mayat yang dekat dari rumahku memintaku membantunya memandikan mayat agar dapat dishalatkan setelah shalat Ashar. Sementara, waktu shalat Ashar tinggal lima menit lagi.
“Dengan memohon pertolongan dari Allah, aku segera pergi ke tempat tersebut. Sampai di sana, tepat saat muadzin mengumandangkan adzan. Ini bukanlah kali pertama aku memandikan jenazah. Namun, yang mendorongku menuliskan kejadian kali ini ialah kondisi mayat yang aku saksikan dengan mata kepalaku ini! Kita memohon kepada Allah semoga menganugerahkan husnus Khatimah kepada kita.
“Aku masuk ke tempat pemandian mayat. Mereka telah menurunkan mayat dari kendaraan sebelum aku sampai di tempat. Saat itu, bau yang sangat busuk memenuhi tempat tersebut, padahal mayat tersebut ditutup sangat rapat.
“Kemudian, kami membuka penutup, dan aku melihat jasadnya bewarna putih kekuning-kuningan. Yang membuatku agak terkejut adalah ketika aku melihat kepala dan wajahnya. Aku melihat wajahnya menghitam menghadap ke kiri. Ketika memandikannya, kami berusaha meluruskan wajah dan lehernya kea rah yang normal atau menghadapkannya kea rah kanan, namun tak seorang pun yang dapat menggerakkannya karena lehernya sudah terlanjur kaku.
“Setelah selesai memandikan dan mengafankannya, aku dan tiga yang kekar mengusungnya, lalu meletakkannya di keranda untuk dibawa ke masjid yang berjarak sekitar 100m. beban jenazah yang sangat berat membuat tanganku seakan-akan terputus-putus, dang punggungku terasa sakit. Aku memuji Allah ketika kami berhasil membawanya ke tempat tujuan. Ketika kami sampai, saat itu juga imam menyelesaikan shalat Ashar, kemudian menshalatkan mayat tersebut. Sementara, aku tidak sanggup melaksanakan shalat karena bayangan yang menakutkan yang kulihat tadi masih terbayang. Aku bertanya pada salah satu temannya tentang kabar si mayat.
Ia mengatakan bahwa si mayat adalah seorang dokter, dan usianya sudah mendekati 50 tahun. Lalu, aku bertanya kepada mereka tentang bagaimana ia meninggal? Mereka menjawab, ‘kemarin malam, ketika berada di kamar mandi, tiba-tiba ia mendapat serangan jantung sehingga terjatuh dan meninggal seketika. Semoga Allah menganugerahkannya husnul khatimah.’
“Aku tidak bertanya banyak tentang bagaimana shalatnya dan lain-lain karena khawatir nanti terlontar dariku ucapan yang membuka aibnya. Aku kembali ke rumahku dengan bayangan yang aku lihat. Keringatku bercucuran da nada ganjalan di hatiku kala melihat kondisi lelaki tersebut.
“Pemandangan seperti itu menjadikan aku untuk senantiasa introspeksi diri. Aku berharap, mereka yang membaca kisah ini juga berusaha kembali untuk introspeksi diri dan bertaubat kepada Allah dengan menjauhkan sagala kemaksiatan. Sebab, kemaksiatan merupakan penyebab su’ul khatimah. Boleh jadi, Anda mati dalam berbuat maksiat sehingga Anda merugi di dunia dan akhirat.
“Aku memohon keada Allah agar menganugerahkan husnul khatimah kepadaku dan kepada kalian, serta meraih surge dan selamat dari neraka.”

·         Dengan mengingat kematian, kita dapat lebih berhati-hati dalam bertindak agar tidak terjerumus ke dalam perilaku zhalim. Seseorang mungkin akar berpikir dua kali sebelum melakukan kezhaliman seandainya sebelum itu mereka banyak mengingat kematian, siksa kubur, dan sebagainya.
Justru karena banyak melupakan kematian itulah barangkali banyak orang yang tidak segan berbuat zhalim dan aniaya kepada orang lain. Padahal, kita tahu bahwa kita tidak mungkin hidup selamanya di dunia yang fana ini. Hidup kita akan dihentikan oleh ketentuan ajal yang tak seorang pun mampu mencegah apalagi mengubah ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah Swt. karena itu, marilah kita banyak mengingat kematian agar menjadi hamba yang semakin akrab dengan amal kebaikan.
Muhammad Amin al-Jundi, dalam Mi’ah Qishshah Wa Qishshsh fi Anis-Shalihin wa Samir al-Muttaqin, menceritakan bahwa suatu hari, Ibrahi, bin A’dham melintas di pasar Basrah. Lalu, orang-orang berkumpul mengerumuninyaseraya berkata, “Wahai Abu Ishaq, apa sebab kami selalu berdoa, namun tidak pernah dikabulkan?”
Ia menjawab, “Karena hati kalian telah mati oleh 10 hal.”
“Apa saja sepuluh hal itu?” Tanya mereka.
“pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya. Kedua, kalian mengaku cinta Rasulullah tetapi meninggalkan sunahnya. Ketiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya. Kempat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah tetapi tidak pernah pandai bersyukur. Kelima, kalian mengatakan bahwa setan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya. Keenam, kalian katakana bahwa surge adalah benar adanya tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya.
“ketujuh, kalian katakana bahwa neraka itu adalah benar adanya tetapi tidak lari darinya. Kedelapan, kalian katakana bahwa kematian itu benar adanya tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya. Kesembilan, kalian bangun dan tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa aib sendiri. Kesepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka.”