Wednesday, December 31, 2014

Dagang Tuna Andum Bathi

  

Artinya, dagang tuna (berdagaang rugi),andum bathi(membagi laba).Makna peribahasa ini menggambarkan orang yang melakukan kebaikan secara tidak lansung, tetapi melalui orang lain.Pertanyaanya, mengapa kebaikan itu tidak di sampaikan secara langsung, atau mengapa kebaikan tersebut harus di sembunyikan,atau di sampaikan lewat orang lain?

Ada banyak kemungkinan untuk menjelaskan mengapa perbuatan itu dilakukan.Umumnya, karena ingin menjaga perasaan maupun harga diri orang yang di beri kebaikan tadi.Kemungkinan yang kedua, lantaran seseorang memang tidak ingin di ketahui telah memberikan kebaikan ataupun bantuan kepada seseorang yang lain.

Sifat ini merupakan salah satu sifat terpuji di jawa.Artinya, memberikan bantuan kepada orang lain dengan ikhlas,tanpa mengharapkan pujian sama sekali.Diri pribadinya pun benar-benar tidak ingin di tonjolkan.Dengan kata lain, kebaikan tersebut diberikan tanpa pamrih.Maksud dan tujuannya semata-mata hanya memberi, membantu meringankan beban seseorang.Dalam patembayatan hidup di jawa, pemberian seperti ini tidak boleh di anggap sebagai utang.Kapan-kapan, pihak yang di beri pun boleh membalas kebaikan tersebut, namun jangan sekali-kali memaknainya sebagai "membayar hutang".

Curiga Manjing Warangka, Warangka Manjing Curiga

  

 Artinya,curiga manjing warangka (keris masuk sarungnya),warangka manjing curiga (sarung keris masuk kerisnya).Peribahasa ini merupakan gambaran dari cita-cita ideal tentang hubungan pemimpin dengan rakyatnya di jawa.Di mana pemimpin memahami aspirasi rakyat dan mau menyantuni mereka dengan baik,sehingga rakyat bersedia mengabdikan diri dengan ikhlas kepada sang pemimpin.

Hakikatnya, pemimpin memang harus menjaga,megayomi,menata,dan menghidupkan semangat rakyat untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.Sebaliknya, rakyat pun harus bersedia "mengabdikan dirinya kepada pemimpin", dengan cara melaksanakan segala kebijakannya,sehingga terjadi keharmosan dalam tata kehidupan di masyarakat.

Dalam konteks ungkapan tersebut, pemimpin dilambangkan sebagai keris yang di masukkan ke dalam sarungnya(masyarakat yang di pimpin).Dengan demikian, tentu akan bermasalah jika keris terlampau panjang atau sarungnya terlalu pendek.Akan tidak masuk juga ketika keris itu terlampau besar atau sarungnya terlalu kecil,dan selanjutnya.Demikian pula hubungan pemimpin dan rakyatnya.Kehidupan di sana akan senantiasa dirundung masalah jika terjadi ketidaksesuaian ,ketidakserasian ,perbedaan sikap,pendapat,pikiran,serta orientasi dari masing-masing pihak.

Kebo Kabotan Sungu

   

Artinya, kerbau keberatan tanduk.Peribahasa ini biasanya digunakan untuk menggambarkan orang tua yang terlalu berat menanggung beban hidup karena terlampau banyak anak.
Di masa lalu, sebelum di canangkan program nasional keluarga berencana, banyak pasangan suami-istri di jawa yang memiliki anak lebih dari lima.Dengan anak sebanyak itu, apalagi penghasilannya terbatas atau pas-pasan, maka beban hidupnya pun sangat berat.Akibatnya, banyak anak yang tidak di sekolahkan, atau hanya sampai kelas 3 sd kemudian keluar, membantu mencari nafkah untuk menunjang perekonomian keluarga.

Diam-diam peribahasa kebo kabotan sungu juga menjadi jargon dalam penyuluhan KB sejak masa orde baru.Artinya, anjuran hanya  memiliki 2 anak sering dikaitkan dengan peribahasa ini.
Sesuai dengan kodratnya ,kerbau hanya mempunyai dua buah tanduk.Coba bayangkan kalau tanduknya sampai tiga atau empat,dia akan menderita karena tanduk yang berlebihan tersebut.Demikian pula manusia,dua anak cukup.Jika berlebihan, akibatnya anak-anaknya akan kurang terurus dengan baik.

Kencana Katon Wingka

   


Artinya, emas berlian tampak bagai pecahan gerabah.Sindiran terhadap orang yang menganggap baik anak sendiri, namun selalu menjelek-jelekan anak orang lain.Pendapat demikian sangat di pengaruhi oleh sudut pandang subjektif seseorang.Misalnya, perasaan senang dan tidak senang di dalam hatinya.Apabila suasana hati sedang senang, maka sesuatu yang buruk akan kelihatan baik.Sebaliknya, jika hati tengah tak senang,sebaik apapun yang ada di hadapannya bisa saja dikatakan buruk.

Makna peribahasa tersebut lazimnya akan terungkap ketika kita mendengar orang tua yang memuji anaknya setinggi langit, tetapi merendahkan anak orang lain tanpa kompromi.Misalnya, meskipun anaknya hanya memperoleh peringkat ke-7 di kelas, tetapi anak itu tetap di pujinya.Alasannya, toh anaknya masih masuk sepuluh besar.Tetapi, anak tetangga yang berhasil meraih peringkat dua tetap saja di sepelekan, hanya karena bersekolah di lembaga pendidikan swasta,sementara anaknya sendiri duduk di sekolah negeri.

Wong Jawa Nggone Sewu,Sinamun Ing Samudana,Sesadone Ingadu Manis

  
Artinya, wong jawa nggone semu (orang jawa cenderung semu atau terselubung), sinamun ing samudana (ditutup kata-kata tersamar), sesadone ingadu manis (masalah apa pun di hadapi dengan muka manis).Makna yang lebih luas adalah, berpikir dan bersikapnya orang jawa tidak selalu terbuka atau cenderung bersifat simbolik.Penuh sanepa,kiasan,dan perlambangan, atau lebih bersifat sinamudana (disamarkan).

Contohnya, ketika ada pengemis datang, apabila tidak ingin memberikan sedekah, yang di datangi biasanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.Untuk menghindari mengatakan "tidak", ada juga yang menjawab, "maklume mawon....", atau "sanese mawon....". Jika tuan rumah berkata seperti itu, biasanya si pengemis langsung pergi.Padahal, kalau di perhatikan dua model tuturan tersebut tidak secara eksplisit menyatakan bahwa orang yang bersangkutan tidak akan memberikan sedekah."Sanesa mawon" artinya "lainnya saja".Namun begitulah, karena yang di datangi orang jawa dan pengemis tadi orang jawa juga, mereka sama-sama mafhum.Tanpa harus di beri tahu seara jelas bahwa sang tuan rumah tidak akan memberikan sedekah,si pengemis pun bergegas pergi dengan sendirinya.

Witing Tresna Jalaran Saka Kulina (awal dari cinta dapat tumbuh dari kebisaan)

 Artinya, witing tresna (awal cinta), jalaran saka kulina (dapat tumbuh karana sering bertemu). Peringatan ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan, terutama yang sudah berkeluarga, agar berhati-hati dalam berteman, berhubungan, atau berkomunikasi dengan lawan jenis.Jangan sampai ia melanggar batas kewajaran, karenaa kedekatan (keakraban) dapat menumbuhkan cinta.

Adapun yang dimaksud keakraban dan kedekatan di sini bukan sebatas ragawi belaka, melainkan lebih bersifat ruhani (batin).Sebab, banyak juga di antara laki-laki dan perempuan yang bergaul akrab selama bertahun-tahun, namun tidak tumbuh rasa cinta di hati masing-masing.Sementara itu, ada yang baru bertemu dua kali atau tiga kaali, mereka merasa langsung jatuh cinta setengah mati.Soalnya, cinta adalah urusan batin (kejiwaan) manusia dan sudah menjadi kodrat kemanusiaan itu sendiri.Jadi, yang perlu di jaga adalah "siapa mencintai siapa".Misalnya, jangan sampai mencintai istri teman sendiri, mecintai istri saudara sendiri, dan selanjutnya adat budaya jawa, ketika anak laki-laki dan perempuan mulai akil baligh, orang tua pasti memerintahkan mereka untuk tidur terpisah, tidak boleh lagi bercanda berlebihan, atau bergelut seperti ketika kecil.Langkah demikian untuk menjaga agar jangan sampai mereka terpeleset dan merugi karena terlanjur melanggar norma kesusilaan yang mengundang dosa besar bagi keduanya.

Tepa Slira (ukuran badan)

  Artinya, tepa (ukuran), slira (badan).Jelasnya, diukur atau dikenakan di badan sendiri, atau ditepakake awake dhewe.Jadi, yang dimaksud tepa slira adalah imbauan agar segala sesuatu yang etrjadi di usahakan untuk di ukur atau diterapkan pada diri sendiri. Dengan demikian, sikap dan perbuatan kita tidak akan semena-mena, atau semau sendiri tanpa memperdulikan orang lain.

Tepa slira merupakan salah satu ajaran penting di jawa dalam menciptakan tenggang rasa. Contohnya, kalau merasa sakit ketika di cubit, maka janganlah mencubit orang lain.Jika tersinggung kalau diejek mengenai kelemahan diri sendiri, maka janganlah pula mengejek kelemahan diri sendiri, maka jangan pula mengejek kelemahan orang lain, karena dia juga pasti tersinggung.

Dengan memiliki kebiasaan mengukur (menerapkan) segala sesuatu di badan sendiri, orang yang bersangkutan akan selalu berusaha menghargai orang lain.Tutur katanya di jaga agar tidak menyinggung (menyakiti) siapa pun lawan bicaranya,perangainya lembut karena menyadari bahwa hidup tidak mungkin sendirian dan selalu membutuhkan orang lain.Orang yang telah mengamalkan sifat tepa slira akan jauh dari sikap gumedhe (merasa besar), kuminter (merasa pandai), sawiyah-wiyah( semena-mena), kamalungkung(angkuh), daksiya (suka menyiksa), dan sebagainya yang tidak disukai,menyakitkan,dan merugikan orang lain.

Ngono Ya Ngono, Ning Aja Ngono (begitu ya begitu ,tapi jangan begitu)

  Artinya, ngono ya ngono (begitu ya begitu),ning aja ngono (tetapi,jangan begitu).Peribahasa tersebut merupakan peringatan agar orang tidak berbuat berlebihan, sehingga menimbulkan permasalahan baru yang tidak diduga,serta mengganggu orang lain.Garis besarnya, jangan suka berbuat semau sendiri.Segala tindak perbuatan harus dipertimbangkan masak-masak.Sebab, jika berlebihan,akan mendapatkan teguran karena perbuatan tersebut dapat merugikan atau mengganggu orang lain.

Contoh perbuatan seperti itu banyak. Misalnya, boleh saja menagih utang yang lama belum di bayar.Tetapi, jangan dilakukan di depan umum, karena akan membuat malu pihak yang di tagih.Sebab, jika yang bersangkutan merasa dipermalukan,mungkin saja dia akan arah dan lupa diri.Kalau demikian,apa jadinya ? Bisa saja urusan tagih-menagih utang itu akan berubah menjadi pertengkaran belaka.Contoh lain, wajar jika sesekali suami-istri terlibat cekcok atau bertengkar.Tetapi, pertengkaran itu jangan sampai meledak-ledak dan mengganggu tetangga kana-kiri,terlebih jika sampa baku hantam.Tentu tetangga tidak tinggal diam, lantas segera turun tangan.Nah, bukankah peristiwa tersebut sama halnya merepotkan orang lain ? Mereka yang tidak tahu duduk permasalahannya terpaksa harus terlibat dengan kejadian itu.

Giri Lusi ,Janma Tan Kena Ingina

  Artinya,giri (gunung),lusi (cacing tanah),janma (manusia),tan kena ingina (tidak boleh dihina). Terjemahan bebasnya; jangan gampang menghina orang yang tampaknya miskin atau berpenampilan sederhana (dikiaskan seperti cacing). Sebab,mungkin saja dia justru memiliki kemampuan setinggi gunung.

 Menilai orang dari enampilan luarnya saja belum tentu akan memperoleh kesimpulan yang tepat.Soalnya, banyak orang suka menyembunyikan identitas pribadinya di balik penampilan yang kadang teramat sederhana. Misalnya, ketemu laki-laki gondrong ,pakaian lusuh,wajah sangar,tapi jangan menganggap dia adalah preman. Siapa tahu dia adalah seorang pelukis kondang. Rumahnya mewaah,mobil banyak,lukisannya tersebar di dunia,dan harganya sampai ratusan juta rupiah. Pernah pula dikisahkan seorang Bupati yan suka blusukan ke daerah dengan hanya mengenakan sandal. Penampilannya persisi seperti kalangan pidak pedarakan.Berpakaian seadanya,naik bus ke mana-mana hanya demi menyaksikan dari dekat kondisi daerahnya.Nah, seandainya ketemu orang seperti itu dan kita terlanjur menilai rendah ,apa jadinya ?  Karena itulah, menilai orang harus berhati-hati. Siapa tahu mereka ibarat bathok bolu isi madu ?     Buruk di luar, tetapi menyimpan "kekayaan" besar di dalam diri pribadinya.

Tuesday, December 30, 2014

Etika dan Tata Krama pergaulan

Aja ngomong waton,Nanging ngomonga nganggo waton

Artinya,aja ngomong waton (jangan asal berbicara),nanging ngomongo nganggo waton (tetapi,bicaralah dengan menggunakan patokan atau alasan yang jelas).Peribahasa tersebut merupakan ajakan untuk berbicara dengan cara yang tidak ngawur atau sembarangan.Usahakan setiap pembicaraan benar-benar memiliki landasan ataupun alasan yang jelas,dan dapat dipertanggunngjawabkan.Karena,kalau hanya asal berbicara,salah-salah akan disamakan dengan "orang gila".
Biasanya,peribahasa ini digunakan untuk mengingatkan siapa pun yang suka yang suka menjelek-jelekkan orang lain,menganggap buruk atau salah terhadap hal-hal yaang sesungguhnya tidak dimengerti,menyebarkan kabar bohong,dan lain-lain.

Untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain,setiap tutur kata perlu di jaga,di cermati,dan diatur dengan sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan rasa tidak senang dari lawan bicara kita.Jika ada masalah,jangan di besar-besarkan ,terlebih jika belum jelas duduk perkaranya.Bagaimanapun,setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut  kita akan di dengarkan dan di perhatikan orang lain.Lewat tutur kata pula,orang dapat kehilangan kepercayaan.Lewat tutur kata dapat terjadi perkelahian,kekeliruan,dan kekacauan di dunia.


Aja rumangsa bisa Nanging bisa Rumangsa

Artinya,aja rumangsa bisa (jangan merasa bisa),nanging bisaa rumangsa(tetapi bisa merasa).A bisa adalah sifat tidak terpuji karena dinilai sebagai wujud kesombongan.Sebab,hasil kerja orang seperti ini biasanya tidak sebaik yang di janjikan.Sementara itu,dapat merasa atau menggunakan perasaan adalah sifat yang baik karena merupakan landasan sikap tenggang rasa antar sesama.
Dala peribahasa ini,'merasa bisa' dianggap sebagai sikap gegabah.Sebab,'merasa bisa',belum tentu bisa.Lebih berbahaya lagi  jika dari merasa bisa kemudian mengaku bisa ,dan berani mengatakan bisa.Sifat seperti ini dianggap buruk.Seandainya yang bersangkutan dipercaya melaksanakan pekerjaan yang dirasa bisa,dan ternyata gagal,apakah tidak memalukan dan merugikan semua pihak ?

Bisa rumangsa berarti tahu diri,yaitu berani "merasa tidak bisa"dan "mengakui tidak bisa".Pada sisi lain,bisa rumangsa juga berarti memiliki kesadaran yang cukup dalam mengukur diri sesuai kemampuan yang dimiliki.Dengan mengamalkan sifat seperti itu,pribadi yang bersangkutan akan memperoleh ketentraman dan ketenangan hidup di lingkungannya.Ia akan dinilai sebagai orang jujur,tidak sombong,dan mampu menempatkan diri dengan baikdi dalam masyarakat.


Ajining dhiri Dumunung ing lathi,Ajining raga Saka busana 

 Artinya,ajining dhiri dumunung ing lathi(nilai pribadi terletak di bibir),ajining rga saka busana(nilai raga tercermin dari pakaian).Terjemahan bebasnya,nilai pribadi seseorang di tentukan oleh ucapan atau kata-katanya,sedangkan nilai penampilan sering diukur dari busana yang dikenakan.
Peribahasa ini merupakanasihat agar berhati-hati terhadap tutur kata yang kita ucapkan.Sebab,apa saja yang terucap dari mulut kita akan didengarkan,diperhatikan,dan dipercaya orang lain.Contohnya,apabila sering berbohong,maka lama-kelamaan akan kehilangan kepercayaan.Siapa yang suka mengucapkan kata-kata pedas yang menyakitkan hati,ia akan sulit membangun persahabatan.Sebab,orang jadi tidak senang karena ucapannya banyak melukai perasaan.
Ajining raga saka busana,nilai seseorang dapat juga ditentukan oleh pakaiannya.Di jawa,yang bernama pakaian,akhirnya bukan sekadar penutup aurat,melainkan juga menjadi tolok ukur nilai penampilan seseorang.Contohnya,seseorang yang menghadiri pesta perkawinan,namun hanya menegenakan sandal jepit dan pakaian ala kadarnya,tentu ia akan menjadi resasanan.Salah-salah,ia bisa dianggap tidak menghargai atau meremehkan pemilik rumah dan tamu undangan lainnya.