Wednesday, December 30, 2015

Cegah Dhahar Lawan Guling (( perjuangan hidup ))





Artinya, cegah dhahar (mangurangi makan), lawan guling (juga mengurangi tidur). Model tirakat yang banyak dianjurkan bagi orang jawa sebagai laku oleh batin melengkapi laku kesunyatan sehari-hari (bekerja), agar cita-citanya terkabul dan kehidupannya lebih baik di hari-hari mendatang.


Kanyataannya, selama hiaup di dunia, manusia mengahadapi berbagai macam permasalahan dan godaan yang seakan tiada habisnya. Oleh sebab itu, sebaikna setiap orang harus waspada. Salah satu cara meningkatkan kewaspadaan itu adalah dengan menjalani tirakat, misalnya dengan memperbanyak puasa atau dalam peribahasa ini digambarkan dengan cegah dhahar lawan guling.Perilaku seperti ini dipuji karena tirakat sesungguhnya merupakan latihan melakukannya dengan baik, dia akan memiliki sifat dan perilaku, pikiran menjadi jernih, sehingga besar kemungkinan mampu mengatasi berbagai permasalahan seberat apa pun kemungkinan mampu mengatasi  pun yang dihadapi.


Friday, December 25, 2015

Cagak Amben Cemethi Tali (( perjuangan hidup ))



Artinya, cagak (tiang), amben (balai-balai), cemethi (cambuk),tali (tali).Terjemahan bebasnya; gambaran orang yang posisinya ibarat tiang balai-balai dan tali cambuk.

Peribahasa ini sesungguhnya menggambarkan bahwa di dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sulit, berbahaya, dan berat diperlukan orang yang benar-benar  mumpuni. Maksudnya, terampil serta kuat mental dan fisiknya. Contohnya sederhana, yaitu memanjat pohon kelapa, sepintas memanjat pohon kelapa terlihat mudah. Namun, di balik `kemudahan` tersebut banyak kesulitan yang harus diatasi oleh si pemanjat. Jadi, peribahasa ini mengingatkan, untuk menangani pekerjaan-pekerjaan khusus, jangan mengambil risiko dengan mempercayai orang yang belum ahli. Apabila yang bersangkutan sudah boleh dinilai sebagai cagak amben, cemethi tali ,besar kemungkinan hasil kerjanya akan memuaskan.

Sunday, December 20, 2015

Aja Nggege Mangsa ((( perjuangan hidup ))




Artinya, janganmempercepat musim atau waktu. Makna yang sesungguhnya adalah jangan memaksakan diri dalam meperoleh hasil sebelum waktunya, karena apa yang didapat pasti tidak memuaskan. Misalnya, untuk mendapatkan mangga yang manis perlu menunggu lebih kurang satu tahun. Apabila memetiknya kurang dari satu tahun, pasti rasanya masih masam dan tidak enak dimakan.


Peribahasa ini berangkat dari kepercayaan, bahwa terwujudbya suatu peristiwa atau tercapainya cita-cita sangat dipengaruhi ridha Tuhan YME. Di mana terwuudnya keinginan tersebut sering dimaknai dan diungkapkan dalam perhitungan waktu, seperti wis titi wancine (sudah tiba saatnya). Contohnya, perkara kelahiran bayi. Seberapa pun besarnya keinginan orang tua untuk mendapatkan anak, mereka harus menunggu sampai sekitar sembilan bulan sepuluh hari.


Peribahasa ini juga menasihati supaya orang bersabar dan tidak tergesa-gesa mencapai cita-citanya. Jangan menuruti hawa nafsau belaka sebab segala macam keinginan manusia akan dikabulkan oleh Tuhan, asalkan memohon dengan sungguh-sungguh dan berusaha keras untuk mewujudkannya.

Wednesday, December 16, 2015

Utha-Uthu Golek Selaning Garu (( mengatur keuangan ))






Artinya, utha-uthu (kesana-kemari), golek selaning (mencari celah), garu (alat meratakan sawah setelah dibajak). Garu biasanya dibuat dari kayu sepanjang kira-kira 1 meter samapai 2 meter dengan gigi terbuat dari kayu juga. Gigi tersebut panjangnya kira-kira 20 cm, dan dipasang dengan jarak lebih kurang 20 cm. Terjemahan dari ungkapan ini adalah kesana-kemari mencari celah pekerjaan untuk menyambung hidup.


Mencari pekerjaan (seperti digambarkan oleh peribahasa ini) tidaklah semudah yang dibayangkan.Karena itu, mereka yang membutuhkan pekerjaan harus berani bersusah-susah mencari dan menemukannya. Ibaratnya, sampai menerobos celah gigi garu pun harus dilakukan. Mengingat betapa sulitnya mencari pekerjaan itu, setelah mendapatkannya, sebaiknya dijaga dengan sungguh-sungguh. Jangan dikotori, jangan dikhianati, atau merusaknya.


Bagi yang beruntung, mencari pekerjaan itu mudah. Namun, bagi kalangan pidak pedarakan, wong cilik ongkaangkik, pekerjaan tak ubahnya rezeki. Karena itulah, semangat untuk hidup. Memiliki pekerjaan sama halnya memiliki pegangan hidupsehari-hari. Dan, bagi masyarakat kecil sudaah dianggap berkah yang patut disyukuri.

Friday, December 11, 2015

Tuking Boga saka Nyambut Karya (( mengatur keuangan ))

Hasil gambar untuk padi








Artinya, tuking (sumbernya), boga (nasi), saka nyambut karya (dari bekerja). Terjemahannya adalah untuk mendapatkan rezeki (nasi) haruslah bekerja.Dan, yang dimaksud bekerja di sini adalah pekerjaan yang baik dan halal. Nasihat ini sering disampaikan kepada kaum muda, atau mereka yang cenderung malas bekerja sehingga kehidupannya kurang baik. Padahal, yang bersangkutan sudah bekeluarga, sudah memiliki anak. Di balik muatan pesan yang tersurat, peribahasa ini juga menyampaikan pesan tersirat. Bahwa orang jangan malu bekerja apa saja (kasar atau halus) untuk  memperoleh penghasilan demi mencukupi kebutuhan hidupnya sekeluarga.

Meskipun memiliki orang tua yang kaya, sebaiknya jangan bergantung terus kepada mereka.Meskipun dirinya pandai, tetapi harus dapat menggunakan kepandaiannya untuk bekerja.Kalau terpaksa, jangan suka menolak pekerjaan yang ada di depan mata. Demi melangsungkan kehidupan ini, kita harus mau mmengerjakan pekerjaan apa pun yang halal dengan sepenuh hati.

Monday, December 7, 2015

Thenguk-thenguk Nemu Kethuk (( mengatur perekonomian ))

Hasil gambar untuk masak dengan tungku



 Artinya, thenguk-thenguk (duduk-duduk menganggur), nemu kethuk (dapat kethuk, yaitu salah satu instrumen gamelan). Peribahasa in menggambarkan orang yang sedang bernasib baik, tanpa harus bekerja keras atau bersusah payah, ia tiba-tiba mendapatkan rezeki nomplok.

Contohnya, ada warga Purworejo yang mempunyai warisan di atas bukit batu. Sejak kakek-neneknya dulu, tanah itu dibiarkan begitu saja.Sebab, tanah tandus tersebut jelas tak mungkin diolah.Sesekali ditanami pohon jati, mahoni, atau pohon lainnya.Namun, pertumbuhannya tak maksimal dan lama-lama mati. Sekitar tahun 1996, dia kedatangan tiga orang tamu bermobil, mereka bilang dari Jakarta.Maksud kedatangan mereka adalah untuk membeli tanah di atas puncak bukit itu. Konon, mau dijadikan lokasi pemancar televisi. Jika pemilik tanah tidak keberatan, mereka akan membelinya seratus ribu rupiah permeter. Si pemilik tanah melongo, tidak menyangka sama sekali puncak bukit berbatu itu akan dibeli semahal itu.


Sapa Ubet Bakal Ngliwet (( mengatur perekonomian ))

Hasil gambar untuk masak dengan tungku




Artinya, sapa ubet (siapa cerdik), bakal ngliwet (bakal memasak nasi). Maksud peribahasa ini, siapa pandai mengolah (mengatur) kehidupan pasti dapat menanak nasi setiap hari. Secara tidak langsung, menanak nasi juga menjadi simbol dari sukses dalam kehidupan sehari-hari.

Di samping itu, peribahasa ini juga mengandung makna dan pesan yang cukup luas. Artinya, yang dimaksud ubet, bukan hanya usaha yang dijalankan oleh wong cilik (mereka yang hidup pas-pasan), melainkan juga untuk kalangan yang labih `atas` lagi.

Misalnya, seorang pengusaha.Apabila dalam menjalankan perusahaannya tidak ubet atau asal-asalan, pasti lama-kelamaan perusahaanya akan bangkrut.Seorang karyawan yang gajinya pas-pasan untuk hidup sebulan, bagaimana jika ingin punya rumah sederhana ?   Caranya bermacam-macam, dan prinsipnya dia harus berani ubet. Mungkin dengan menyambi pekerjaan lain di luar jam kerja perusahaan supaya penghasilannya bertambah. Dapat pula dengan menabung, kemudian membeli rumah dengan cara kredit. Jadi, yang dimaksud ``ubet``  adalah berusaha dengan keras, positif, dengan maksud dan tujuan jelas. Meskipun telah ubet dan mendapat tambahan penghasilan, kalau pengeluarannya tidak terarah, jelas cita-citanya juga tidak akan terlaksana.




Wednesday, December 2, 2015

Opor Bebek Mentas Saka Awake Dhewek (( mengatur ekonomi ))

Hasil gambar untuk cita-cita


Artinya, opor bebek (opor bebek), mentas (selesai), saka awake dhewek (dari badan sendiri). Ungkapan ini diangkat dari kenyataan bahwa itik memiliki banyak lemak. Maka, apabila dibuat opor, tidak perlu membeli minyak.Cukup menggunakan minyak yang berasal dari lemak tersebut.


Ungkapan ini menggambarkan bagaimana kesuksesan yang dicapai berkat usaha dan kerja kerasnya sendiri.Contohnya, sutar sesungguhnya hanyalah  anak orang kebanyakan ayahnya hanya tukang tambal ban yang hasil kerjanya sangat  mepet untuk hidup sekeluarga. Untungnya, Sutar bukan anak pemalu, dan sejak kecil suka bekerja. Mulai SMP, ia bekerja ikut perajin di desanya. Hasilnya sebagian diberikan kepada orang tuanya, sebagian ditabung untuk kebutuhan dirinya.Setelah lulus SMU, dia tidak melanjutkan kuliah , sebab ayahnya tak mampu menyediakan ongkos kuliah yang menurut ukuran mereka sangat besar. Meskipun telah lulus, tetapi sutar tak mau melamar kerjaan seperti pemuda sebayanya.Ia malah memilih untuk belajar membuat kerajinan sendiri.Belum lima tahun, usaha Sutar terhitung sukses.Hasil kerajinannya laku keras, bahkan beberapa model tertentu berhasil diekspor ke Eropa dan Asia.




Sunday, November 29, 2015

Kegedhen Empyak Kurang Cagak (( mengatur keuangan ))

Hasil gambar untuk cita-cita




Artinya, kegedhen empyak (terlampau besar atap), kurang cagak (tianyan sedikit atau kurang).Peribahasa ini memberikan  gambaran mengenai orang yang berbuat sesuatu melebihi kemampuannya.Dengan memaksakan diri seperti itu, sebagaimana dikiaskan rumah yang atapnya terlampau besar (lebar) dengan tiang sedikit, besar kemungkinan rumah (cita-citanya) tidak dapat didirikan (terwujud). Sekalipun terwujud, yaitu rumahnya dapat berdiri, konstruksinya akan rapuh, sehingga mudah roboh dan menimbulkan masalah baru bagi dirinya.

Contohnya peristiwa dalam peribahasa ini kira-kira demikian.Seorang buruh tani ingin beralih pekerjaan agar tak selamanya mejadi buruh melulu. Cita-citanya ingin memiliki truk dan dijalankan sendir.Akhirnya, dia menjual tanah warisan orang tua untuk membeli sebuah truk tua.Namun,  karena memang belum paham benar tentang mesin, truk tersebut jadi sering rusak dan makin hari kerusakannya bertambah berat. Merasa tak mampu lagi memperbaiki, truk bobrok itu dijual murah daripada terlanjur menjadi besi tua.Sekarang dia baru sadar, bahwa apa yang dilakukan itu ibarat kegedhean empyak kurang cagak.Yang dicita-citakan terwujud, tetapi karena penyangganya terbatas, maka semua yang di tangan berantakan dalam waktu singkat.

Wednesday, November 25, 2015

Gemi Nastiti Ngati-ati adalah salah satu nasehat untuk mengatur ekonomi


Selamat datang di sudihardi.com....!!!

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba membagikan arti dari peribahasa jawa "Gemi Nastiti Ngati-ati"


Artinya, gemi (hemat), nastiti (teliti), ngati-ati (berhati-hati). Terjemahannya adalah hemat, teliti, dan berhati-hati. Sebuah nasihat yang sangat populer di daerah jawa.Bahkan, banyak kalangan menjadikan peribahasa ini sebagai hiasan dinding di rumah, warung, maupun tempat umum lainnya supaya dibaca orang.


Peribahasa ini menunjukkan betapa hidup itu harus dikelola dengan sebaik-baiknya.Gemi  berkaitan dengan upaya menghemat penghasilan guna mencegah terjadinya kesulitan karena kahabisan uang ongkos hidup.Nastiti atau teliti merupakan wujud dari kecermatan menangani segala hal dalam kehidupan, guna menghindari kesalahan sekecil apa pun.Sedangkan berhati-hati adalah manifestasi dari sikap waspaa, jangan sampai terperosok ke dalam berbagai permasalahan yang sulit diatasi.


Tiga aspek tersebut sebaiknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan kebahagiaan, ketenteraman, dan kesejahteraan hidup.Prinsip gemi nastiti ngati-ati adalah mengeliminasi (menekan) kekeliruan, kesalahan, ataupun permasalahan sekecil mungkin.Sebab, menghindari kekeliruan sedari kecil  akan lebih mudah dibandingkan mengatasinya setelah menjadi  besar, hingga berubah menjadi malapetaka.

Saturday, November 21, 2015

Ana Sethithik Dipangan Sethithik (( mengatur ekonomi ))

Hasil gambar untuk uang receh





Artinya, ana sethithik (ada sedikit), dipangan sethithik (dimakan sedikit).Salah satu semboyan wong cilik di jawa  yang cukup terkenal dalam menjalani tirakat (asketisme) pada kehidupan sehari-hari. Jika direnungkan, nasihat dalam peribahasa ini merupakan batu ujian yang cukup berat. Namun, apabila berhasil dilaksanakan dengan baik, maka akan memberikan manfaat besar lahir dan batin.

Misalnya; seorang buruh harian dengan istri dan dua orang anak, punya penghasilan sehari sepuluh ribu rupiah. Penghasilan sekecil ini jelas tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga. Meskipun tidak mencukupi, dia harus memaksakan diri untuk tidak menghabiskannya. Misalnya, hanya menggunakan sembilan ribu rupiah saja. Dengan demikian, dia masih mempunyai sisa seribu rupiah yang dapat dijadikan bekal (modal) hidup dan bekerja keesokan harinya.


Caranya seperti itu, manakala dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, dapat menumbuhkan ketabahan, kejernihan pikir, serta ketahanan mental-fisik yang luar biasa. Dengan demikian, apa yang disebut wong cilik,kemiskinan, kepapaan, dan tidak kesengsaraan hanya akan terasa semu. Jiwa dan kepribadiannya tidak kerdil, tidak miskin. Setiap harinya, ia mampu melangkah dengan gagah, menapaki kehidupan dengan wajah tengadah.

Monday, November 16, 2015

Tuna Satak Bathi Sanak (( mengatur keuangan ))

Selamat datang di sudihardi.com...!!!



Tuna Satak Bathi Sanak  
Artinya, tuna (rugi), satak (sa-etak atau 100 uang zaman dahulu), bathi (untung / laba), sanak (saudara). Terjemahan bebasnya, biarlah rugi sedikit, yang penting untung karena mendapatkan saudara. Semangat pedagang yang menyadari bahwa laba bukanlah segala-galanya. Dengan mau mengurangi (mengorbankan) sedikit laba yang diperoleh, para pembeli akan merasa senang karena harga barang jadi lebih murah daripada pedagang lain. Hasilnya, mereka akan belanja kepadanya.

Biasanya, ungkapan ini suka diucapkan oleh pedagang keliling, sore sebelum pulang. Karena dagangan habis, dia berusaha menjualnya dengan harga lebih murah. Lumayan untuk nambah-nambah  pemasukan. Setelah tawar-menawar dan dia setuju dengan tawaran si pembeli, biasanya lantas berkata, `` ya, silahkan. Dibeli semua tho, Bu ?  Kalau dibeli semua, saya kasih murah.Idhep-edhep tuna satak bathi sanak.``

Ana Dina Ana Upa, Ora Obah Ora Mamah (-mengatur perekonomian-)

Hasil gambar untuk makanan jawa






Artinya, ana dina ana upa (ada hari, ada nasi), ora obah ora mamah (tidak bergerak, tidak mengunyah).Maksudnya,  selama mau bekerja apa saja dengan tekun setiap hari, pasti akan mendapatkan sesuap nasi (rezeki). Sebaliknya, kalau tidak mau bekerja, tentu tidak akan mendapatkan makanan sama sekali.Peribahasa ini sering menjadi semboyan bagi wong cilik dalam menyemangati dirinya untuk bekerja. Sebab, modal kerja yang dimilki hanyalah tenaga fisik belaka.


Filosofi ada hari ada nasi merupakan wujud dari keyakinan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Artinya, rezeki itu setiap hari pasti diberi, disediakan, dan asalkan bisa dari mana saja. Sedangkan ora obah ora mamah mengisyaratkan bahwa rezeki itu tidak tergeletak begitu saja dan manusia tinggal meraihnya dengan mudah.Dengan kata lain, untuk mendapatkan rezeki,syaratnya perlu bekerja keras setiap hari.

Monday, November 9, 2015

Ana Barang Ana Rega, Wong Urip Kudu Wani Rekasa

Hasil gambar untuk doa





Artinya, ana barang ana rega (ada barang ada harga), wong urip kudu wani rekasa (orang hidup harus berani menderita).Peribahasa ini menyemangati seseorang yang mencita-citakan perbaikan hidup.Akan tetapi, sudah berusaha sekian lama, cita-citanya belum juga tercapai.

Di sini, ungkapan ana rega anarupa bermakna bahwa setiap perwujudan yang diinginkan memiliki `harga` atau nilai yang berbeda-beda. Misalnya saja, ia ingin punya rumah, tentu  usaha yang dijalankan lebih berat dibandingkan ketika akan membeli motor.Artinya, jika ingin punya rumah, mau tidak mau harus berusaha lebih keras, sehingga bisa memilki cukup uang untuk membeli rumah.Sementara rekasa di sini adalahberusaha keras, membanting tulang.Gambaran rekasa itu, misalnya apa yang dikerjakan petani.Selama 3 hingga 4 bulan harus  berani rekasa, sejak menggarap sawah, menanam padi, memelihara, memberantas hama penyakit tanaman, dan sebagainya.Tiga atau empat bulan penuh hanya keluar ongkos dan tenaga, tanpa memperoleh penghasilan sama sekali.Namun, begitu padinya berhasil dipanen, seluruh jerih payah petani memperoleh hasil cukup manis.

Wednesday, November 4, 2015

Aja Ngothongake Gethong Kendhi

Artinya, aja (jangan), ngothongake (mengosongkan), genthong (tempayan), kendhi (kendi atau tempat air minum yang dibuat dari tanah).Terjemahannya, jangan suka mengosongkan tepayan (tempat beras) dan kendi (tempat air minum).

Peribahasa in mengajarkan kita bahwa di dalam mejalani kehidupan, orang harus berhati-hati. Terutama dalam mengatur kehidupan ekonominya, terlebih yang menyangkut keperluan sehari-hari, sperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain.Untuk menjaga kelangsungan hidup, peribahasa ini menekankan jangan suka membiarkan persediaan makan dan minum habis, ia harus segera mencari dan mendapatkannya, minimal untuk hari ini dan esok.Besok mencari lagi untuk hari-hari berikutnya.


Kebiasaan membiarkan habis sampai tak tersisa persediaan makan untuk satu keluarga dan baru setelah benar-benar habis mencari lagi, dianggap perilaku yang buruk.Kehidupan keluarga tidak boleh diperlakukan demikian.Sebab,orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap anak dan anggota keluarga lainnya.Membiarkan genthong kendhi kosong merupakan tanda rendahnya tanggung jawab yang dibebankan ke pundaknya.

Thursday, October 29, 2015

Trima mawi Pasrah, Suwung pamrih, Tebih ajrih; Langgeng tan ana susah, Tan ana seneng ; Anteng mantheng, sugeng jeneng

Selamat datang di sudihardi.com...!!!

Kesempatan kali ini mas Hardi akan mencoba berbagi arti dari peribahasa "

Trima mawi Pasrah, Suwung pamrih, Tebih ajrih; Langgeng tan ana susah, Tan ana seneng ; Anteng mantheng, sugeng jeneng"



Hasil gambar untuk doa




Artinya, menerima dengan tawakal, tiada pamrih, jauh dari takut; abadi tiada duka, tiada suka; tenang memusat, nama pun selamat.Trima mawi pasrah bermakna menerima apa saja dengan pasrah dan tawakkal.Untuk menghilangkan rasa takut dan was-was, seseorang dianjurkan untuk mengosongkan hati dan jangan memiliki pamrih berlebihan.Sedangkan langgeng tan ana susah, tan ana seneng dapat diartikan mencapai ketenangan batin yang abadi tanpa banyak dipengaruhi oleh rasa senang maupun susah.Derita atau kesusahan dapat ditekan sekecil mungkin, hingga tidak lagi berepngaruh terhadap kehidupan.


Sementara, anteng mantheng, sugeng jeneng  mengarah pada kehidupan batin yang tenang dan mampu mengarahkan pada kehidupan batin yang tenang dan mampu mengarahkan (memusatkan) perhatian dengan baik. Jauh dari pengaruh nafsu dan keinginan duniawi lainnya, sehingga memilki daya tahan terhadap godaan yang datang setiap waktu.Dengan memiliki kemampuan seperti itu, seseorang akan mencapai ketenangan dan ketenteraman hidup, mampu beribadah dengan baik, serta bekerja dengan baik dalam kondisi lingkungan yang sulit sekalipun.

Sunday, October 25, 2015

Aja turu Awan , mundhak dadi kancane setan (razaki & mengatur keuangan)


Hasil gambar untuk tidur


Artinya, aja turu awan (jangantidur siang), mundhak dadi kancane setan (nanti jadi temannya setan).Ungkapan ini umumnya untuk menasihati anak muda.Prinsipnya, siang hari merupakan waktu untuk bekerja, bukannya untuk enak-enakan (tidur).Sebab, apabila kebablasan tidur siang akan menjadi kebiasan, sehingga orang pun menjadi pemalas.


Menurut pandangan masyarakat di jawa, bekerja merupakan salah satu tugas kewajiban pokok manusia untuk emnunjang kebutuhan hidupnya di dunia.Karena itulah, para orang tua telah menanamkan kesadaran bekerja pada anak-anaknya sejak kecil.Dan,  peribahasa ini merupakan salah satu bukti utama.Bagaimana remaja-remaja di jawa tidak dibiasakan tidur siang ,  agar mereka belajar mengerjakan apa saja, termasuk dalam rangka membantu orang tua.Jadi,  tidur siang boleh, asalkan ketika benar-benar lelah, sakit, atau sedang tidak enak badan.Tetapi,  kalau dilakukan saat sehat, tidur siang dikatakan sebagai `berteman dengan setan`.Karena dikhawatirkan akan menjadi pemalas.

Wednesday, October 21, 2015

Aja Njagakake Endhoge Blorok (mangatur ekonomi)


Arti dari aja njagakake (jangan mengharapkan), endhoge blorok (telur berwarna-warni).Peribahasa ini menyiratkan nasihat agar jangan suka berangan-angan atau mengharapkan sesuatu yang mustahil atau sulit terwujud, seperti halnya menunggu telur ayam yang berwarna-warni.Padahal, telur ayam selamanya berwarna putih atau coklat saja.


Di masa lalu, telur yang biasa dikonsumsi orang jawa hanya telur ayam, itik, dan entok.Telur ayam dan entok berwarna putih, sedangkan telur bebek berwarna biru muda kehijauan.Waktu itu, orang belum terbiasa makan telur puyuh.Karena itulah muncul peribahasa seperti ini.Menurut anggapan orang jawa, telur hanya memiliki satu warna.


Nasihat yang dikandung peribahasa tersebut, jangan suka mengengankan yang bukan-bukan (sulit tercapai).Suka mengharapkan sesuatu yang belum pasti terwujud (seneg njgakake) merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh orang jawa.Sebab, siap pun yang punya sifat seperti itu akan selalu menunggu-nunggu , bekerja tidak maksimal, semangat rendah, dan memandang remeh banyak hal.Coba bayangkan, bagaimana jika yang diharapkan tidak kesampaian ?  Apakah dirinya tidak akan menyesal berkepanjangan ?   Sudah rugi waktu, kehilangan kesempatan, dan sebagainya.

Friday, October 16, 2015

Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Hangrungkebi, Mulat Sarira Hangrasa Wani


Selamat datang di sudihardi.com

Hasil gambar untuk Negara
Artinya, rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memilki), Wajib hangrungkebi (wajib membela), mulat sarira hangrasa wani (melihat badan merasakan barani). Terjemahan bebasnya, merasa ikut memilki, wajib membela, berani melihat diri sendiri.

Peribahasa ini sering dimanfaatkan sebagai ajakan negara (pemerintah) kepada rakyatnya. Tujuannya, agar rakyat ikut terlibat aktif (berpartisipasi) dalam pembangunan negara dan bangsa. Caranya, dengan merasa ikut memilki, bukan malah membarkan atau tidak mau ikut campur tangan dalam pembangunan negara dan bangsa. Caranya, dengan merasa ikut campur tangan dalam kehidupan negara dan masyarakat.

Di samping itu, rakyat pun diharapkan ikut membela apabila terjadi gangguan dari mana pun datangnya.Selanjutnya, dalam membangun kesejahteraan negara dan bangsa, semua pihak harus bersedia melakukan introspeksi, berani mengakui kekurangan dan kelemahan diri sendiri, sehingga ditemukan cara memperbaikinya dengan tepat dan cepat.

Apabila partisipasi rakyat dan seluruh aparat negara telah dilandasi semangat sebagaimana isi peribahasa ini, besar kemungkinan pembangunan dan kesejahteraan yang diciptakan dapat segera terwujud.

Tuesday, October 13, 2015

Narima ing Pandum



Artinya, narima (menerima), ing pandum (apa pun yang diberikan).Terjemahannya adalah menerima dengan ikhlas apa yang sudah diberikan atau didapatkan.Peribahasa ini merupakan gambaran sikap hidup orang jawa yang cenderung ikhlas, dan menerima apa adanya.

Makna dari ungkapan nrima ing pandum ternyata cukup dalam.Yaitu,  menganjurkan kita untuk menyadari kenyataan yang terjadi.Misalnya, padi kita rusak dimakan tikus, sedangkan padi di sawah yang bersampingan tak rusak sama sekali.Agar tidak bersedih, biasanya orang jawa segera menghibur dengan berkata, ``kita harus nrima ing pandum`` .Rezeki pemberian Gusti Allah memang hanya sebatas ini.Mari kita syukuri jangan disesali.


Jadi,nrima ing pandum adalah wujud kepasrahan batin untuk menhindari pikiran, perasaan, maupun perbuatan yang tidak diinginkan.Namun, kepasrahan di sini bukan pengakuan kalah atau menyerah, melainkan sebagai upaya pengekangan diri sekaligus melindungi diri dari pengaruh buruk musibah yang dialami.



Bersikap ikhlas dalam menerima perolehan apa pun akan membentuk kekuatan batin serta kearifan yang luar biasa.Soalnya, orang jawa percaya bahwa Gusti Allah ora sare. Semua rezeki berasal dari Tuhan.Jadi, misalnya ada yang sengaja mengurangi atau memotongnya, pasti yang bersangkutan juga akan memperoleh sapu dhendha (sanksi atau hukuman) dari sang Maha Kuasa.

Wednesday, October 7, 2015

moral, akhlak, dan kepribadian (durung menang yen durung wani kalah, durung unggul yen durung wani asor, durung gedhe yen durung wani cilik)



Artinya, durung menang yen durung wani kalah (belum menang jika belum berani kalah), durung unggul yen durung wani asor (belum unggul jika belum berani rendah),durung gedhe yen durung wani cilik (belum besar jika belum berani kecil) Katamutiara tersebut merupakan bagian dari ajaran RM Sosrokartono (kakak R.A Kartini)  yang banyak digunakan dalam kehidupan batin orang jawa. Inti ajaran ini mengajak kita agar senantiasa mawas diri terhadap prestasi yang dicapai selama ini. Sebab, pribadi yang dinilai telah meraih kesempurnaan adalah mereka yang telah meraih kesempurnaan adalah mereka yang telah berhasil melewati pasang-surut kehidupan.Dengan kata lain, menjadi ``orang besar`` harus berani juga kalah (mengalah), berani rendah (merendah), dan berani kecil (menyatu dengan rakyat jelata).


Manusia dinilai sempurna jika telah berhasil mengendalikan dan menyeimbangkan pribadinya dengan baik.Sebab, meraih segala apa yang dimiliki manusia senantiasa melalui proses panjang terlebih dulu.Menang berasal dari kalah.Oleh karena itu, orang yang bersangkutan harus bisa mengalah.Unggul bermula dari rendah, karenanya harus bisa merendah.Besar berawal dari kecil, karena itu harus bisa memahami pikiran orang kecil di sekitarnya.

Friday, October 2, 2015

Berbudi Bawa Leksana



Artinya, berbudi (berwatak), bawa (ucapan / perkataan), leksana (laku atau laksana).Terjemahan bebasnya, berwatak konsekuen terhadap kata maupun tindakannya.Merupakan ungkapan yang menggambarkan kepribadian pemimpin yang baik di jawa.Pemimpin yang memiliki watak seperti itu akan sangat tegas, namun lentur dalam mengambil keputusan. Semua yang dikatakan atau dijanjikan akan ditepatinya.Tidak sedikit pun diubah, apalagi dikurangi.


Watak berbudi leksana merupakan salah satu watak terpuji di jawa. Apabila ada pemimpin berhasil mewujudkan sikap demikian, puas, dan bahagia. Sebab,  sang pemimpin dalam berbicara maupun berbuat senantiasa sejalan dengan keinginan rakyat.Semua diperhitungkan dengan cermat dan terbuka, sehingga orang dapat mengetahui bermacam duduk perkara yang melatarbelakangi kebijaksanaannya.

Sikap berbudi bawa leksana akan menghasilkan pemerintah yang bersih dan berwibawa karena seluruh peraturan dan kebijakan dilaksanakan oleh semua pihak. Dengan demikian, hubungan antara rakyat dan pemerintah akan berlangsung baik dan lancar, membuat bermacam permasalahan segera teratasi.

Saturday, September 26, 2015

moral, akhlak, dan kepribadian (Bener Luput, Ala Becik, Begja Cilaka, Hamung Saking Badan Priyangga)



Artinya, bener lupu (benar & salah), ala becik (baik & buruk), begja cilaka (untung & celaka), hamung saking badan pyiyangga (hanya berasal dari badan sendiri).Salah satu inti dari ajaran kejawen yang menyatakan bahwa apa yang diperoleh seseorang lebih merupakan hasil dari perbuatannya sendiri, bukan akibat dari perbuatan orang lain.


Misalnya, saja siswa yang bodoh akan cenderung suka menyalahkan gurunya. Mana si guru tidak pandai mengajar, penjelasannya sulit diterima, suka marah, dan lain-lain. Padahal, sesungguhnya pernyataan tersebut bohong belaka. Sebab, di kelas itu banyak juga murid pandai. Bahkan, salah satu dari mereka berhasil memperoleh nilai tertinggi ketika ujian dan menjadi juara di sekolah. Kenberhasilan  dan  kegagalan seorang siswa  tidak tergantung  pada  siapa yang mengajar,  melainkan tergantung  dirinya sendiri( bergantung usahanya).

Monday, September 21, 2015

Angkara Gung ing Angga Anggung Gumulung (moral,akhlak,dan kepribadian)



Artinya,Angkara gung (angkara besar),ing angga (di badan),anggung gumulung (selalu menggelora).Mengingatkan bahwa di dalam diri manusia terdapat nafsu yang sewktu-waktu dapat membesar dan bergolak, bisa saja kita tergulung dan jadi permainan belaka,  tak ubahnya perahu kecil yang diterpa gelombang samudra.


Angkara murka seolah sudah menjadi ciri manusia.Contoh paling ekstrem adalah perang dunia 1 dan 2 yang entah berapa ratus ribu saja korbannya.Mayat lelaki, perempuan, dan anak-anak berserakan. Ratusan ribu orang kehilangan rumah dan pekerjaan, menjadi cacat, serta jatuh miskin. Ratusan ribu bangunan di bumihanguskan, negara porak-poranda. Padahal jika dirunut, bukankah semua itu hanya menuruti nafsu angkara murka pemimpin-pemimpin  dunia masa itu  ?     Peribahasa ini juga mengisyaratkan, lantaran setiap manusia mampunyai bibit angkara murka di dalam dirinya,  maka mereka harus pandai-pandai, mengendalikannya.Manakala lengah dan angkara murka itu menjelma, yang terlibas bukan diri sendiri saja,  tetapi orang lain pun akan ikut menanggung akibatnya.

Thursday, September 17, 2015

Membangun Moral,Akhak, dan Kepribadian (AJA DUMEH)

AJA DUMEH    



Artinya,aja dumeh (jangan sok / mentang-mentang). Terjemahan bebasnya, jangan suka memamerkan serta menggunakan apa yang dimiliki untuk menekan, meremehkan, atau menghina orang lain. Misalnya,aja dumeh sugi (jangan mentang-mentang kaya), lantas menggunakan kekayaannya untuk berbuat semena-mena.Bagaimanapun, harta kekayaan itu lestari dan sewaktu-waktu dapat hilang (tidak dimiliki lagi). Contoh lain aja dumeh kuwasa (jangan mentang-mentang berkuasa ketika menjadi pemimpin), kemudian berbuat semaunya sendiri.


Di jawa, terdapat kepercayaan bahwa segala yang dimiliki manusia hanyalah titipan Tuhan.Dengan demikian, kepemilikan itu pun bersifat fana atau sementara.Tanpa ridha Tuhan YME, tidak mungkin yang bersangkutan memilikinya. Selain itu, kekayaan yang dimiliki seseorang realitasnya juga diperoleh atas (pemberian) orang lain. Contohnya, mana mungkin pedagang memperoleh laba dan kekayaan yang berlimpah tanpa melakukan transaksi dengan masyarakat ?   Berdasarkan pendapat tersebut, peribahasa ini menasihati agar siapa saja jangan sampai mempunyai sifat sok / sombong.Mentaang-mentang kaya, menolak menyedekahkan sebagian hartanya untuk orang miskin.Mentang-mentang jadi pemimpin, tidak mau bergotong-royong dengan tetangga.Menurut adat-istiadat di jawa,  sikap seperti ini sangat tercela dan menyakiti hati orang lain.

Wednesday, September 9, 2015

Yatna Yuwana, Lena Kena

Artinya,Yatna (waspada), yuwana (selamat), lena (lengah), kena (terkena).Terjemahannya adalah; orang berhati-hati dan waspada akan selamat, sedangkan siapa yang lengah akan mendapat celaka atau halangan.

Contohnya, penipuan melalui SMS yang memberitahukan pemilik HP mendapatkan hadiah sekian juta dari perusahaan jasa telekomunikasi yang digunakan olehnya.Untuk menerima hadiah uang tersebut, orang yang bersangkutan harus mengirimkan nomor rekening kepada si pengirim SMS tadi.

Namun, apa yang terjadi ? Informasi tadi hanyalah penipuan.Begitu nomor rekening diberikan, uang di dalam rekening bukannya bertambah, melainkan ludes akibat di bajak oleh komplotan penipu itu.Kisah seperti ini marak terjadi, dan beberapa kali memakan korban mereka yang kurang waspada dan tergiur oleh hadiah uang jutaan rupiah.Akan tetapi, bagi mereka yang awas dan waspada, meskipun bebrapa kali menerima telephon atau SMS serupa, tetap saja bergeming.Mereka mampu menalar dengan baik bahwa informasi tersebut tidak masuk akal.Hasilnya, uang utuh, tidak berkurang untuk para penipu.

Wednesday, September 2, 2015

Welas Temahan Lalis

Artinya,welas (belas kasihan), temahan lalis (berakibat membunuh / menyengsarakan).Ungkapan ini menggambarkan  tentang uluran tangan (pertolongan / bantuan) yang semula bermaksud baik, namun akhirnya justru berakibat fatal.Misalnya, karena saudara sendiri meskipun yang bersangkutan malas bekerja setiap kali uang pasti diberi.


Contoh lain yang sekarang banyak terjadi adalah kasus anak gelandangan.Memang tidak salah dan sangat manusiawi jika masyarakat pengguna jalan memberikan sedekah ala kadarnya untuk mereka.Akan tetapi, kalau dicermati, bukankah masyarakat sebenarnya juga sedang membuat mereka kerasan menjadi gelandangan ?   Coba kalau masyarakat tidak memberikan sedekah ?   Apakah anak-anak gelandangan akan marak seperti belakangan ini ?


Di sisi lain, peribahasa ini juga mengingatkan agar sebelum memberikan bantuan benar-benar diperhitungkan baik-buruk, manfaat, dan mudharatnya.Jangan sampai niat baik tersebut berakibat fatal bagi si penerima.Misalnya, orang yang bersangkutan akhirnya jadi maja.Benalu yang tidak bisa hidup tanpa menempel di pohon lain.

Saturday, August 29, 2015

Tekek Mati ing Ulone


Artinya, tekek (tokek), mati ing ulone (mati karena suaranya).Peribahasa ini menggambarkan seekor tokek yang mati akibat suaranya sendiri.Lebih jauh dapat dimaknai, seseorang yang mendapatkan kesialan gara-gara ucapan atau perkataannya yang juga membuat sakit hati orang lain.

Contohnya, ada seorang karyawan bagian produksi yang suka menjelek-jelekkan karyawan baru yang tidak disukai tanpa alasan jelas.Padahal, karyawan yang dijelek-jelekkan tadi kerjanya cukup baik, kerja samanya bagus, sikap atau perilakunya juga sopan dan ramah kepada setiap teman kerja.Tidak tahunya, bicaranya yang kebablasan itu sampai juga kepada pejabat yang berwenang.Beberapa hari kemudian, dia dipanggil kepala bagian personalia dan ditanya mengapa senantiasa menjelek-jelekkan karyawan baru tersebut.Apakah dia memiliki alasan yang kuat ? Apabila memang ada data yang akurat, perusahaan akan mempertimbangkan seksama dan mengambil tindakan yang tepat.Kalau tidak ada, kepala bagian menyarankan perbuatan seperti itu jangan dilanjutkan lagi.Sebab, sangat merugikan pihak yang selalu dijelek-jelekkan.Apalagi, menurut kepala bagian personalia tadi, karyawan yang dijelek-jelekkan itu bulan depan akan dinaikkan jabatannya oleh perusahaan sebagai pengawas bagian produksi.

Friday, August 21, 2015

Sedhakep Angawe-awe


 sedhakep (bersedekap atau melipat tangan di dada), angawe-awe (melambaikan tangan untuk memanggil).Terjemahan bebasnya, bersedekap ,tapi masih melambaikan tangan untuk memanggil.Makna yang ingin disampaikan peribahasa ini adalah ingin menghentikan kebiasaan buruk, tetapi kadang masih juga melakukannya karena tidak kuat menahan dorongan hawa nafsu yang bergejolak di batin.

Contohnya, seorang penjudi, setelah berulang kali kalah dan menghabiskan banyak sekali uang, dia bersumpah tidak akan berjudi lagi.Setiap melihat orang berjudi, ia senantiasa menghindar.Kemana pun pergi, ia tidak lagi membawa banyak uang, hanya secukupnya sesuai keperluan saja.Pokoknya, ia benar-benar ingin melupakan dunia perjudian untuk selama-lamanya.Namun, karena memang memang belum sepenuhnya dapat mengatasi nafsunya berjudi, dan masih berharap ingin mengembalikan kekalahannya dulu, sekali waktu ia main kartu juga, meski kecil-kecilan dengan sembunyi-sembunyi.Di jawa, hal ini disebut sekadar tamba kengen.

Perbuatan seperti ini sangat berbahaya.Sebab, sesungguhnya dia belum dapat mengendalikan nafsu berjudinya dengan baik.Ibarat mencerabut ilalang, sebaiknya sampai ke akar-akarnya sekalian.Sebab, kalau tidak, rimpang akar itu masih dapat tumbuh kembali.