Wednesday, December 30, 2015

"Cegah Dhahar Lawan Guling" peribahasa untuk perjuangan hidup


Artinya, cegah dhahar (mangurangi makan), lawan guling (juga mengurangi tidur). Model tirakat yang banyak dianjurkan bagi orang jawa sebagai laku oleh batin melengkapi laku kesunyatan sehari-hari (bekerja), agar cita-citanya terkabul dan kehidupannya lebih baik di hari-hari mendatang.
Image result for puasa orang jawa

Kanyataannya, selama hiaup di dunia, manusia mengahadapi berbagai macam permasalahan dan godaan yang seakan tiada habisnya. Oleh sebab itu, sebaikna setiap orang harus waspada. Salah satu cara meningkatkan kewaspadaan itu adalah dengan menjalani tirakat, misalnya dengan memperbanyak puasa atau dalam peribahasa ini digambarkan dengan cegah dhahar lawan guling.Perilaku seperti ini dipuji karena tirakat sesungguhnya merupakan latihan melakukannya dengan baik, dia akan memiliki sifat dan perilaku, pikiran menjadi jernih, sehingga besar kemungkinan mampu mengatasi berbagai permasalahan seberat apa pun kemungkinan mampu mengatasi  pun yang dihadapi.


Friday, December 25, 2015

Peribahasa "Cagak Amben Cemethi Tali" untuk perjuangan hidup


Artinya, cagak (tiang), amben (balai-balai), cemethi (cambuk),tali (tali).Terjemahan bebasnya; gambaran orang yang posisinya ibarat tiang balai-balai dan tali cambuk.
Image result for pecut
Peribahasa ini sesungguhnya menggambarkan bahwa di dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sulit, berbahaya, dan berat diperlukan orang yang benar-benar  mumpuni. Maksudnya, terampil serta kuat mental dan fisiknya. Contohnya sederhana, yaitu memanjat pohon kelapa, sepintas memanjat pohon kelapa terlihat mudah. Namun, di balik `kemudahan` tersebut banyak kesulitan yang harus diatasi oleh si pemanjat. Jadi, peribahasa ini mengingatkan, untuk menangani pekerjaan-pekerjaan khusus, jangan mengambil risiko dengan mempercayai orang yang belum ahli. Apabila yang bersangkutan sudah boleh dinilai sebagai cagak amben, cemethi tali ,besar kemungkinan hasil kerjanya akan memuaskan.

Sunday, December 20, 2015

"Aja Nggege Mangsa" ungkapan dalam aspek perjuangan hidup


Artinya, jangan mempercepat musim atau waktu. Makna yang sesungguhnya adalah jangan memaksakan diri dalam meperoleh hasil sebelum waktunya, karena apa yang didapat pasti tidak memuaskan. Misalnya, untuk mendapatkan mangga yang manis perlu menunggu lebih kurang satu tahun. Apabila memetiknya kurang dari satu tahun, pasti rasanya masih masam dan tidak enak dimakan.
Image result for buah mangga masam
Peribahasa ini berangkat dari kepercayaan, bahwa terwujudbya suatu peristiwa atau tercapainya cita-cita sangat dipengaruhi ridha Tuhan YME. Di mana terwuudnya keinginan tersebut sering dimaknai dan diungkapkan dalam perhitungan waktu, seperti wis titi wancine (sudah tiba saatnya). Contohnya, perkara kelahiran bayi. Seberapa pun besarnya keinginan orang tua untuk mendapatkan anak, mereka harus menunggu sampai sekitar sembilan bulan sepuluh hari.


Peribahasa ini juga menasihati supaya orang bersabar dan tidak tergesa-gesa mencapai cita-citanya. Jangan menuruti hawa nafsau belaka sebab segala macam keinginan manusia akan dikabulkan oleh Tuhan, asalkan memohon dengan sungguh-sungguh dan berusaha keras untuk mewujudkannya.

Wednesday, December 16, 2015

"Utha-Uthu Golek Selaning Garu" dalam aspek mengatur keuangan


Artinya, utha-uthu (kesana-kemari), golek selaning (mencari celah), garu (alat meratakan sawah setelah dibajak). Garu biasanya dibuat dari kayu sepanjang kira-kira 1 meter samapai 2 meter dengan gigi terbuat dari kayu juga. Gigi tersebut panjangnya kira-kira 20 cm, dan dipasang dengan jarak lebih kurang 20 cm. Terjemahan dari ungkapan ini adalah kesana-kemari mencari celah pekerjaan untuk menyambung hidup.
Image result for mencari celah kesempatan
Mencari pekerjaan (seperti digambarkan oleh peribahasa ini) tidaklah semudah yang dibayangkan.Karena itu, mereka yang membutuhkan pekerjaan harus berani bersusah-susah mencari dan menemukannya. Ibaratnya, sampai menerobos celah gigi garu pun harus dilakukan. Mengingat betapa sulitnya mencari pekerjaan itu, setelah mendapatkannya, sebaiknya dijaga dengan sungguh-sungguh. Jangan dikotori, jangan dikhianati, atau merusaknya.


Bagi yang beruntung, mencari pekerjaan itu mudah. Namun, bagi kalangan pidak pedarakan, wong cilik ongkaangkik, pekerjaan tak ubahnya rezeki. Karena itulah, semangat untuk hidup. Memiliki pekerjaan sama halnya memiliki pegangan hidupsehari-hari. Dan, bagi masyarakat kecil sudaah dianggap berkah yang patut disyukuri.

Friday, December 11, 2015

"Tuking Boga saka Nyambut Karya" dalam aspek mengatur keuangan

Hasil gambar untuk padi

Artinya, tuking (sumbernya), boga (nasi), saka nyambut karya (dari bekerja). Terjemahannya adalah untuk mendapatkan rezeki (nasi) haruslah bekerja.Dan, yang dimaksud bekerja di sini adalah pekerjaan yang baik dan halal. Nasihat ini sering disampaikan kepada kaum muda, atau mereka yang cenderung malas bekerja sehingga kehidupannya kurang baik. Padahal, yang bersangkutan sudah bekeluarga, sudah memiliki anak. Di balik muatan pesan yang tersurat, peribahasa ini juga menyampaikan pesan tersirat. Bahwa orang jangan malu bekerja apa saja (kasar atau halus) untuk  memperoleh penghasilan demi mencukupi kebutuhan hidupnya sekeluarga.

Meskipun memiliki orang tua yang kaya, sebaiknya jangan bergantung terus kepada mereka.Meskipun dirinya pandai, tetapi harus dapat menggunakan kepandaiannya untuk bekerja.Kalau terpaksa, jangan suka menolak pekerjaan yang ada di depan mata. Demi melangsungkan kehidupan ini, kita harus mau mmengerjakan pekerjaan apa pun yang halal dengan sepenuh hati.

Monday, December 7, 2015

"Thenguk-thenguk Nemu Kethuk" dalam konteks mengatur perekonomian

Hasil gambar untuk masak dengan tungku



 Artinya, thenguk-thenguk (duduk-duduk menganggur), nemu kethuk (dapat kethuk, yaitu salah satu instrumen gamelan). Peribahasa in menggambarkan orang yang sedang bernasib baik, tanpa harus bekerja keras atau bersusah payah, ia tiba-tiba mendapatkan rezeki nomplok.

Contohnya, ada warga Purworejo yang mempunyai warisan di atas bukit batu. Sejak kakek-neneknya dulu, tanah itu dibiarkan begitu saja.Sebab, tanah tandus tersebut jelas tak mungkin diolah.Sesekali ditanami pohon jati, mahoni, atau pohon lainnya.Namun, pertumbuhannya tak maksimal dan lama-lama mati. Sekitar tahun 1996, dia kedatangan tiga orang tamu bermobil, mereka bilang dari Jakarta.Maksud kedatangan mereka adalah untuk membeli tanah di atas puncak bukit itu. Konon, mau dijadikan lokasi pemancar televisi. Jika pemilik tanah tidak keberatan, mereka akan membelinya seratus ribu rupiah permeter. Si pemilik tanah melongo, tidak menyangka sama sekali puncak bukit berbatu itu akan dibeli semahal itu.


"Sapa Ubet Bakal Ngliwet" dalam aspek mengatur perekonomian

Hasil gambar untuk masak dengan tungku


Artinya, sapa ubet (siapa cerdik), bakal ngliwet (bakal memasak nasi). Maksud peribahasa ini, siapa pandai mengolah (mengatur) kehidupan pasti dapat menanak nasi setiap hari. Secara tidak langsung, menanak nasi juga menjadi simbol dari sukses dalam kehidupan sehari-hari.

Di samping itu, peribahasa ini juga mengandung makna dan pesan yang cukup luas. Artinya, yang dimaksud ubet, bukan hanya usaha yang dijalankan oleh wong cilik (mereka yang hidup pas-pasan), melainkan juga untuk kalangan yang labih `atas` lagi.

Misalnya, seorang pengusaha.Apabila dalam menjalankan perusahaannya tidak ubet atau asal-asalan, pasti lama-kelamaan perusahaanya akan bangkrut.Seorang karyawan yang gajinya pas-pasan untuk hidup sebulan, bagaimana jika ingin punya rumah sederhana ?   Caranya bermacam-macam, dan prinsipnya dia harus berani ubet. Mungkin dengan menyambi pekerjaan lain di luar jam kerja perusahaan supaya penghasilannya bertambah. Dapat pula dengan menabung, kemudian membeli rumah dengan cara kredit. Jadi, yang dimaksud ``ubet``  adalah berusaha dengan keras, positif, dengan maksud dan tujuan jelas. Meskipun telah ubet dan mendapat tambahan penghasilan, kalau pengeluarannya tidak terarah, jelas cita-citanya juga tidak akan terlaksana.

Wednesday, December 2, 2015

"Opor Bebek Mentas Saka Awake Dhewek" dalam hal mengatur ekonomi

Hasil gambar untuk uang recehHasil gambar untuk cita-cita


Artinya, opor bebek (opor bebek), mentas (selesai), saka awake dhewek (dari badan sendiri). Ungkapan ini diangkat dari kenyataan bahwa itik memiliki banyak lemak. Maka, apabila dibuat opor, tidak perlu membeli minyak.Cukup menggunakan minyak yang berasal dari lemak tersebut.


Ungkapan ini menggambarkan bagaimana kesuksesan yang dicapai berkat usaha dan kerja kerasnya sendiri.Contohnya, sutar sesungguhnya hanyalah  anak orang kebanyakan ayahnya hanya tukang tambal ban yang hasil kerjanya sangat  mepet untuk hidup sekeluarga. Untungnya, Sutar bukan anak pemalu, dan sejak kecil suka bekerja. Mulai SMP, ia bekerja ikut perajin di desanya. Hasilnya sebagian diberikan kepada orang tuanya, sebagian ditabung untuk kebutuhan dirinya.Setelah lulus SMU, dia tidak melanjutkan kuliah , sebab ayahnya tak mampu menyediakan ongkos kuliah yang menurut ukuran mereka sangat besar. Meskipun telah lulus, tetapi sutar tak mau melamar kerjaan seperti pemuda sebayanya.Ia malah memilih untuk belajar membuat kerajinan sendiri.Belum lima tahun, usaha Sutar terhitung sukses.Hasil kerajinannya laku keras, bahkan beberapa model tertentu berhasil diekspor ke Eropa dan Asia.




Sunday, November 29, 2015

"Kegedhen Empyak Kurang Cagak" dalam aspek mengatur keuangan


Hasil gambar untuk cita-cita
Artinya, kegedhen empyak (terlampau besar atap), kurang cagak (tianyan sedikit atau kurang).Peribahasa ini memberikan  gambaran mengenai orang yang berbuat sesuatu melebihi kemampuannya.Dengan memaksakan diri seperti itu, sebagaimana dikiaskan rumah yang atapnya terlampau besar (lebar) dengan tiang sedikit, besar kemungkinan rumah (cita-citanya) tidak dapat didirikan (terwujud). Sekalipun terwujud, yaitu rumahnya dapat berdiri, konstruksinya akan rapuh, sehingga mudah roboh dan menimbulkan masalah baru bagi dirinya.

Contohnya peristiwa dalam peribahasa ini kira-kira demikian.Seorang buruh tani ingin beralih pekerjaan agar tak selamanya mejadi buruh melulu. Cita-citanya ingin memiliki truk dan dijalankan sendir.Akhirnya, dia menjual tanah warisan orang tua untuk membeli sebuah truk tua.Namun,  karena memang belum paham benar tentang mesin, truk tersebut jadi sering rusak dan makin hari kerusakannya bertambah berat. Merasa tak mampu lagi memperbaiki, truk bobrok itu dijual murah daripada terlanjur menjadi besi tua.Sekarang dia baru sadar, bahwa apa yang dilakukan itu ibarat kegedhean empyak kurang cagak.Yang dicita-citakan terwujud, tetapi karena penyangganya terbatas, maka semua yang di tangan berantakan dalam waktu singkat.

Wednesday, November 25, 2015

"Gemi Nastiti Ngati-ati" adalah salah satu nasehat untuk mengatur ekonomi


Selamat datang di sudihardi.com....!!!

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba membagikan arti dari peribahasa jawa "Gemi Nastiti Ngati-ati"

Hasil gambar untuk uang receh
Hasil gambar untuk uang receh
Artinya, gemi (hemat), nastiti (teliti), ngati-ati (berhati-hati). Terjemahannya adalah hemat, teliti, dan berhati-hati. Sebuah nasihat yang sangat populer di daerah jawa.Bahkan, banyak kalangan menjadikan peribahasa ini sebagai hiasan dinding di rumah, warung, maupun tempat umum lainnya supaya dibaca orang.


Peribahasa ini menunjukkan betapa hidup itu harus dikelola dengan sebaik-baiknya.Gemi  berkaitan dengan upaya menghemat penghasilan guna mencegah terjadinya kesulitan karena kahabisan uang ongkos hidup.Nastiti atau teliti merupakan wujud dari kecermatan menangani segala hal dalam kehidupan, guna menghindari kesalahan sekecil apa pun.Sedangkan berhati-hati adalah manifestasi dari sikap waspaa, jangan sampai terperosok ke dalam berbagai permasalahan yang sulit diatasi.


Tiga aspek tersebut sebaiknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan kebahagiaan, ketenteraman, dan kesejahteraan hidup.Prinsip gemi nastiti ngati-ati adalah mengeliminasi (menekan) kekeliruan, kesalahan, ataupun permasalahan sekecil mungkin.Sebab, menghindari kekeliruan sedari kecil  akan lebih mudah dibandingkan mengatasinya setelah menjadi  besar, hingga berubah menjadi malapetaka.

Saturday, November 21, 2015

"Ana Sethithik Dipangan Sethithik" dalam mengatur ekonomi

Hasil gambar untuk uang receh
Artinya, ana sethithik (ada sedikit), dipangan sethithik (dimakan sedikit).Salah satu semboyan wong cilik di jawa  yang cukup terkenal dalam menjalani tirakat (asketisme) pada kehidupan sehari-hari. Jika direnungkan, nasihat dalam peribahasa ini merupakan batu ujian yang cukup berat. Namun, apabila berhasil dilaksanakan dengan baik, maka akan memberikan manfaat besar lahir dan batin.


Misalnya; seorang buruh harian dengan istri dan dua orang anak, punya penghasilan sehari sepuluh ribu rupiah. Penghasilan sekecil ini jelas tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga. Meskipun tidak mencukupi, dia harus memaksakan diri untuk tidak menghabiskannya. Misalnya, hanya menggunakan sembilan ribu rupiah saja. Dengan demikian, dia masih mempunyai sisa seribu rupiah yang dapat dijadikan bekal (modal) hidup dan bekerja keesokan harinya.


Caranya seperti itu, manakala dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, dapat menumbuhkan ketabahan, kejernihan pikir, serta ketahanan mental-fisik yang luar biasa. Dengan demikian, apa yang disebut wong cilik,kemiskinan, kepapaan, dan tidak kesengsaraan hanya akan terasa semu. Jiwa dan kepribadiannya tidak kerdil, tidak miskin. Setiap harinya, ia mampu melangkah dengan gagah, menapaki kehidupan dengan wajah tengadah.

Monday, November 16, 2015

"Tuna Satak Bathi Sanak" dalam mengatur keuangan

Tuna Satak Bathi Sanak  
Artinya, tuna (rugi), satak (sa-etak atau 100 uang zaman dahulu), bathi (untung / laba), sanak (saudara). Terjemahan bebasnya, biarlah rugi sedikit, yang penting untung karena mendapatkan saudara. Semangat pedagang yang menyadari bahwa laba bukanlah segala-galanya. Dengan mau mengurangi (mengorbankan) sedikit laba yang diperoleh, para pembeli akan merasa senang karena harga barang jadi lebih murah daripada pedagang lain. Hasilnya, mereka akan belanja kepadanya.
Image result for uang zaman dahulu
Biasanya, ungkapan ini suka diucapkan oleh pedagang keliling, sore sebelum pulang. Karena dagangan habis, dia berusaha menjualnya dengan harga lebih murah. Lumayan untuk nambah-nambah  pemasukan. Setelah tawar-menawar dan dia setuju dengan tawaran si pembeli, biasanya lantas berkata, `` ya, silahkan. Dibeli semua tho, Bu ?  Kalau dibeli semua, saya kasih murah.Idhep-edhep tuna satak bathi sanak.``

Peribahasa "Ana Dina Ana Upa, Ora Obah Ora Mamah" untuk mengatur perekonomian

Hasil gambar untuk makanan jawa

Artinya, ana dina ana upa (ada hari, ada nasi), ora obah ora mamah (tidak bergerak, tidak mengunyah).Maksudnya,  selama mau bekerja apa saja dengan tekun setiap hari, pasti akan mendapatkan sesuap nasi (rezeki). Sebaliknya, kalau tidak mau bekerja, tentu tidak akan mendapatkan makanan sama sekali.Peribahasa ini sering menjadi semboyan bagi wong cilik dalam menyemangati dirinya untuk bekerja. Sebab, modal kerja yang dimilki hanyalah tenaga fisik belaka.


Filosofi ada hari ada nasi merupakan wujud dari keyakinan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Artinya, rezeki itu setiap hari pasti diberi, disediakan, dan asalkan bisa dari mana saja. Sedangkan ora obah ora mamah mengisyaratkan bahwa rezeki itu tidak tergeletak begitu saja dan manusia tinggal meraihnya dengan mudah.Dengan kata lain, untuk mendapatkan rezeki,syaratnya perlu bekerja keras setiap hari.

Monday, November 9, 2015

Peribahasa "Ana Barang Ana Rega, Wong Urip Kudu Wani Rekasa"

Hasil gambar untuk doa

Artinya, ana barang ana rega (ada barang ada harga), wong urip kudu wani rekasa (orang hidup harus berani menderita).Peribahasa ini menyemangati seseorang yang mencita-citakan perbaikan hidup.Akan tetapi, sudah berusaha sekian lama, cita-citanya belum juga tercapai.

Di sini, ungkapan ana rega anarupa bermakna bahwa setiap perwujudan yang diinginkan memiliki `harga` atau nilai yang berbeda-beda. Misalnya saja, ia ingin punya rumah, tentu  usaha yang dijalankan lebih berat dibandingkan ketika akan membeli motor.Artinya, jika ingin punya rumah, mau tidak mau harus berusaha lebih keras, sehingga bisa memilki cukup uang untuk membeli rumah.Sementara rekasa di sini adalahberusaha keras, membanting tulang.Gambaran rekasa itu, misalnya apa yang dikerjakan petani.Selama 3 hingga 4 bulan harus  berani rekasa, sejak menggarap sawah, menanam padi, memelihara, memberantas hama penyakit tanaman, dan sebagainya.Tiga atau empat bulan penuh hanya keluar ongkos dan tenaga, tanpa memperoleh penghasilan sama sekali.Namun, begitu padinya berhasil dipanen, seluruh jerih payah petani memperoleh hasil cukup manis.

Wednesday, November 4, 2015

Peribahasa "Aja Ngothongake Gethong Kendhi" dan artinya

Artinya, aja (jangan), ngothongake (mengosongkan), genthong (tempayan), kendhi (kendi atau tempat air minum yang dibuat dari tanah).Terjemahannya, jangan suka mengosongkan tepayan (tempat beras) dan kendi (tempat air minum).
Image result for kesabaran orang jawa
Peribahasa ini mengajarkan kita bahwa di dalam mejalani kehidupan, orang harus berhati-hati. Terutama dalam mengatur kehidupan ekonominya, terlebih yang menyangkut keperluan sehari-hari, sperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain.Untuk menjaga kelangsungan hidup, peribahasa ini menekankan jangan suka membiarkan persediaan makan dan minum habis, ia harus segera mencari dan mendapatkannya, minimal untuk hari ini dan esok.Besok mencari lagi untuk hari-hari berikutnya.

Kebiasaan membiarkan habis sampai tak tersisa persediaan makan untuk satu keluarga dan baru setelah benar-benar habis mencari lagi, dianggap perilaku yang buruk.Kehidupan keluarga tidak boleh diperlakukan demikian.Sebab,orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap anak dan anggota keluarga lainnya.Membiarkan genthong kendhi kosong merupakan tanda rendahnya tanggung jawab yang dibebankan ke pundaknya.