Monday, January 19, 2015

Peribahasa "Wani Ngalah Luhur Wekasane"


Wani ngalah (berani mengalah), luhur wekasane (mulia akhirnya).

Image result for Satria jawa
Sebuah anjuran agar orang berani mengalah.Namun, memberikan tempat dan kesempatan kepada orang lain, sehingga tak timbul konflik.Sementara dengan mengalah, dirinya mungkin bakalan menemukan hal-hal baru yang lebih bermanfaat.







Contohnya, meskipun lalu lintas padat, ketika lewat mobil ambulans yang jelas-jelas membawa orang sakit, jenazah, atau korban lakalantas, tentu mobil-mobil lain akan segera menepi.Artinya, memberikan kesempatan kepada sopir ambulans itu untuk menyalip.Dalam kasus ini, mengalah sedikit tidak menjadi persoalan demi kemanusiaan.Sebab, mobil tersebut harus secepatnya tiba di rumah sakit agar si penderita segera memperoleh pertolongan dokter.

peribahasa " Tebu Tuwuh Socane " - cita citata -


Artinya, tebu (tebu atau sacharum officinareum), tuwuh (tumbuh), socane (mata ruasnya).Terjemahan bebasnya, batang tebu yang tumbuh cabang dari mata ruasnya.

Image result for Satria jawa
Hal itu merupakan kelainan karena tebu termasuk tumbuhan monokotil (berbiji tunggal), bukan dikotil (berbiji belah) di mana batangnya nanti akan bercabang seperti mangga, sawo, duren, dan jati.

 Peribahasa tersebut manggambarkan suatu perkara yang sudah mendapatkan kesepakatan damai, namun tiba-tiba dikacaukan oleh seorang yang sengaja mengadu domba. Dapat pula sebagai gambaran suatu tugas yang hampir diselesaikan dengan baik, tetapi mendadak kacau karena ulah seorang yang sengaja merusaknya. Kejadian ini patut diwaspadai oleh semua pihak, karena mungkin saja ada yang tidak suka terhadap perdamaian atau prestasi kerja yang dicapai seseorang.




Menghilangkan sumber kekacauan tersebut dapat dilakukan dengan mengambil contoh realitas di lapangan.Cabang tebu mudah dimatikan dengan memotongnya, menggunakan pisau tangan. Seperti juga wiwilan( tunas ) yang tumbuh di batang pokok.Apabila dibiarkan, pertumbuhan tunas akan cepat dan banyak menyerap sari makanan dari batang induk. Artinya, baik cabang tebu maupun tunas batang sebaiknya dibuang karena akan mengganggu pertumbuhan selanjutnya.

Peribahasa "Nandur Pari Jero"


Artinya, menanam padi dalam.Yang di maksud sebagai pari jero (padi dalam) adalah padi (oryza sativa) yang berbuahnya agak lama.

Image result for Satria jawa
Peribahasa ini menggambarkan orang tua yang berbuat kebaikan tidak untuk mendapatkan balasan bagi diri sendiri, melainkan di peruntukkan bagi anak-cucunya kelak kemudian hari.


Misalnya,seseorang penjaga malam yang bertahun lamanya bekerja di sebuah pabrik.Dia hanya tamatan sekolah dasar,sehingga gajinya pun tak seberapa.Meski begitu,ia tetap tekun menjalankan tugasnya.Penghasilan yang memang pas-pasan membuatnya hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai smu.Putra-putrinya tidak mungkin melanjutkan ke perguruan tinggi karena tidak memiliki biaya yang cukup.



Namun, di balik sikap loyalnya itu, sang penjaga malam diam-diam mempunyai cita-cita atau harapan tertentu buat anaknya.Semoga dengan mempertimbangkan kinerjanya yang baik selama ini, nanti anaknya dapat di terima bekerja di perusahaan tersebut.Biarlah dirinya lara lapa atau bersusah payah, asalkan kelak di kemudian hari anaknya memperoleh kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik;menikmati buah yang di tanam orang tuanya.

Sunday, January 18, 2015

Peribahasa "sura sudira jayaningrat, lebur dening pangastuti"


Artinya, sura (berani), sudira (berani), jayaningrat (menang di dunia), lebur (hancur), dening pangastuti (oleh kebaikan atau keutamaan). 

Image result for Satria jawa
Terjemahan bebasnya  ,kebaikan akan mengalihkan semua bentuk kejahatan.Di masa lalu ungkapan ini sering digunakan sebagai semboyan untuk menumpas kejahatan, memberantas pengacau negara, dan berbagai macam keburukan (gangguan) dalam masyarakat.




Dengan memahami dan mengamalkan ungkapan tersebut, biasanya siapapun akan merasa bahwa dirinya berdiri di tempat yang benar.Memang, sekali dua kali bisa saja kejahatan menang.Tetapi, jika sudah dihadapi dengan sepenuh hati, apapun bentuk keangkaramurkaan di dunia pasti dapat dikalahkan oleh kebenaran dan kebajikan.Kebenaran pun tidak harus diwujudkan dengan kekerasan dan peperangan, tetapi juga dapat dimanifestasikan lewat cinta kasih.Kasih sayang yang ditujukan kepada orang lain, meskipun yang bersangkutan pernah berbuat jahat, akan sangat manjur untuk menumpas kejahatan itu sendiri.Soalnya, apabila mereka dihadapi dengan bersahabat, dengan tutur kata halus, dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, bisa jadi dia justru, bertekuk lutut, meminta maaf, dan berjanji untuk kembali kejalan yang benar.

Thursday, January 15, 2015

Peribahasa "Sing Goroh Growah"


Artinya, sing goroh (siapa bohong), growah (merugi). Sebab, bohong pada hakikatnya menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya.

Image result for jowo ksatria
Dengan kata lain, orang yang berdusta memang sengaja tidak mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi.Karena pertimbangan tertentu, kejadian yang sesungguhnya itu sangat dirahasiakan, atau disembunyikan rapat-rapat.Namun, realitasnya, sepandai apa pun merahasiakan kebenaran, maka sekali waktu akan ketahuan juga.

Ungkapan tersebut merupakan nasihat popular di jawa, supaya anak-anak tak memiliki tabiat suka berbohong.Berdusta memang gampang. Namun, perilaku tersebut sama halnya dengan mencuri atau berutang.Bohong adalah mencuri kebenaran, berutang kebenaran, yang sesungguhnya menjadi milik orang lain.Padahal, menurut hukum alam, kebohongan pasti akan terbongkar.Karena, pada hakikatnya, tidak ada kesalahan yang dapat disembunyikan manusia dengan sempurna di dunia.

Setiap orang harus menyadari bahwa kerugian akibat berbohong akan berlipat ganda daripada keuntungannya.Contohnya, orang yang suka berbohong, selama hidup kata-katanya tidak akan dipercaya.Meskipun mungkin berkata benar, ia cenderung aka tetap dianggap berdusta.Orang lain pun tidak akan memperdulikan sama sekali.


Wednesday, January 14, 2015

Peribahasa "Ngundhuh Wohing Pekerti"


Artinya,ngundhuh (memetik), wohing pekerti (hasil perbuatan sendiri).

Image result for tokoh dunia anime
Sebagaimana petani, ketika menanam pai, pada saatnya nanti akan menuai padi, bukan jagung.Jika menanam kacang, maka akan memanen kacang, bukan mendapatkan ketela pohon.Peribahasa ini merupakan kiasan mengenai orang yang melakukan perbuatan buruk.Sebab, ia juga akan memperoleh pembalasan buruk, kelak di kemudian hari.


Di jawa, ada banyak ungkapan yang mempunyai hubungan erat dengan peribahasa tersebut.Contohnya, sapa seneng njiwit, bakal kejiwit;sapa salah seleh;sapa gawe luwangan,bakal kajlegong dhewe;sing goroh growah, dan sebagainya.Dengan adanya peribahasa serupa, menunjukkan bahwa orang jawa memiliki semangat tenggang rasa serta pengekangan diri yang cukup besar.Sebab, sejak kecil sudah ditanamkan kesadaran bahwa seluruh tindak perbuatan manusia bakal memperoleh pembalasan setimpal,baik di dunia maupun di akhirat.Harus disadari, perbuatan buruk yang ditunjukkan kepada seseorang, nanti pembalasannya bisa jadi bukan dari yang bersangkutan.Tetapi, dapat berasal dari mana saja, dan kapan waktunya mustahil di tebak.Oleh karena itu,melakukan setiap perbuatan haruslah berhati-hati, seperti halnya menanam.Jangan sampai keliru.Inginnya menanam padi, namun yang ditanam ternyata benih ilalang.

Monday, January 12, 2015

Peribahasa "Bolu Rambatan Lemah"



Artinya, bolu (sejenis tanaman yang tumbuh merambat), rambatan lemah(merambat di tanah).

Image result for tokoh dunia anime
Terjemahan bebasnya, tanaman bolu yang merambat di atas tanah.Makna yang ingin disampaikan adalah, gambaran dari suatu perkara yang saling terkait dengan begitu rumitnya, sehingga sulit diselesaikan karena masalahnya terus berkembang meluas.


Di Indonesia,contoh permasalahan seperti itu sangat banyak.Misalnya saja,perkara korupsi.Meskipun sudah menggunakan berbagai macam cara untuk mengatasinya, namun tetap saja korupsi belum dapat diberantas sampai tuntas.Bahkan, muncul gejala berkembang ke mana-mana.Bahkan,di daerah terpencil pun ada koruptor,mulai dari kelas teri hingga yang berskala ratusan juta rupiah.



Keadaan demikian mengindikasikan bahwa kesempatan dan pelaku korupsi tidak dapat digambarkan seperti halnya "pepohonan besar di hutan belantara".Melainkan sama halnya "bolu" yang merambat di tanah, atau rumpun ilalang yang akhirnya akan memenuhi lahan jika tidak di bongkar sampai akar-akarnya.Banyak permasalahan yang tampaknya kecil, sederhana, namun kita jangan terkecoh dan harus tetap waspada.Sebab, jika dibiarkan, bukan mustahil nanti akan menjadi perkara besar yang sulit diberantas karena akarnya telah menjalar ke dalam pribadi jutaan orang.

Peribahasa "Tepung Ropoh Sambung Kalen"


Artinya, tepung (kenal), ropoh (pagar dari potongan ranting-ranting), sambung (tersambung), kalen (parit).

Image result for tokoh dunia anime
Terjemahan bebasnya adalah kenal karena satu pagar dan satu selokan.Atau, lebih jelas lagi, bertetangga dekat karena menggunakan pagar dan selokan yang sama.


Dalam adat tradisi pedesaan di jawa, pagar batas pekarangan yang umumnya adalah pagar hidup (tumbuhan) atau pagar bambu semipermanen.Biasanya, pagar itu dianggap milik bersama di antara kedua pihak yang bertetangga.Karena itulah, bahan dan pembuatannya juga ditanggung bersama.



Selain pagar, yang di anggap milik bersama lainnya, misalnya parit (selokan).Berdasarkan tata penggunaan air (irigasi) dalam masyarakat pertanian di jawa, sungai ataupun parit ditetapkan sebagai milik bersama yang harus di jaga kelestarian dan penggunaannya oleh masyarakat.Dari kenyataan tersebut, hubungan kedekatan di jawa sering menggunakan simbol pagardan air.Seperti tangga tunggal pager (tetangga satu pagar), tangga tunggal galeng (tetangga satu pematang).Ada juga ungkapan lain yang menyatakan hal serupa, yaitu tangga tunggal banyu (tetangga yang mendapatkan air dari sumber atau sungai yang sama).

Sunday, January 11, 2015

Peribahasa "Susah Padha Susah,Seneng Padha Seneng,Eling Padha Eling,Pring Padha Pring"

  


Artinya, susah padha susah (susah sama susah), seneng padha seneng (senang sama senang),eling padha eling (ingat sama ingat),pring padha pring (bambu sama bambu).

Image result for tokoh dunia anime
Peribahasa ini merupakan salah satu mantra ajaran R.M Sosrokartono, yang bermakna orang harus bisa menyatu dengan masyarakatnya.Senang-susah dirasakan bersama.Di samping itu, harus selalu ingat bahwa manusia itu pada hakikatnya sama dengan manusia yang lain.Di sini sanepa atau padanan pring padha pring di kutip dari tembang jawa, "pring padha pring", sebagai kiasan bahwa manusia sama dengan manusia yang lain.



Dengan memiliki semangat dan mampu melakukan nilai-nilai seperti dalam peribahasa ini, manusia akan menemukan ketenteraman, kecintaan, dan pertolongan dari banyak orang.Di samping itu, peribahasa ini juga menunjukkan betapa tebalnya semangat patembayan atau kebersamaan yang di cita-citakan orang jawa.Artinya, kebersamaan tersebut bukan semata-mata dalam tataran wadag atau fisik, tetapi dilandasi oleh kedekatan batin di antara setiap pribadi.Apabila digambarkan secara nyata, patembayan yang disampaikan dalam peribahasa ini sebagaimana "rumpun bambu".Di sana hanya terdapat batang bambu, besar dan kecil menyatu, membentuk ikatan yang kuat.

Saturday, January 10, 2015

Peribahasa "Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe"

   


Artinya, sepi ing Pamrih (sepi atau jauh dari pamrih berlebihan), rame ing gawe (ramai dalam bekerja).

Image result for jowo ksatria
Nasihat agar orang mengutamakan bekerja dengan giat dan baik lebih dulu, serta jangan memiliki pamrih berlebihan dapat mendorong seseorang untuk menghalalkan segala cara dalam mewujudkan cita-citanya.


Sebaiknya, kalau punya pamrih, jangan berlebihan.Ada hal yang lebih penting, yaitu melaksanakan pekerjaan dengan baik.Misalnya, ketika kerja bakti mengecat pos ronda, seorang warga sengaja mengirit cat dengan maksud sisa cat nanti akan digunakan untuk mengecat dapur rumahnya sendiri.Sikap seperti ini, apabila ketahuan warga, pasti akan dinilai buruk.Sebaiknya, yang bersangkutan mengerjakan pengecatan secara wajar, tanpa harus mengurangi cat yang digunakan.Nanti, apabila catnya memang tersisa dan terang-terangan diminta untuk kepentingan pribadi, pak RT dan warga pasti mengizinkannya.


Ketika makna peribahasa ini dilanggar, besar kemungkinan akan menimbulkan banyak ketimpangan di dalam masyarakat.Seperti terjadinya korupsi, penyalahgunaan wewenang atau jabatan, dan sebagainya.Artinya, tanggung jawab moral terhadap masyarakat cenderung dikalahkan demi memenuhi ambisi pribadi belaka.

Friday, January 9, 2015

Peribahasa "Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah"

  


Artinya, rukun agawe santosa (rukun membuat sentosa atau kokoh),crah agawe bubrah (bertengkar membuat rusak atau menimbulkan kehancuran).

Image result for jowo ksatria
Peribahasa ini merupakan salah satu sikap hidup orang jawa yang mendambakan kerukunan dan kedamaian di masyarakatnya.Dengan adanya kerukunan membuktikan bahwa setiap warga masyarakat memiliki kesamaan sikap dan pendapat.Maka, tidak mengherankan jika situasi kondisi di sana ayem tentrem.Kehidupan warga damai sejahtera, gotong royong berjalan dengan baik.Jauh berbeda jika sering terjadi cekcok.Pasti situasinya juga akan panas, karena banyaknya permusuhan dan pertengkaran yang tidak pernah berhenti.



Ungkapan ini mengisyaratkan bagaimana sesungguhnya cita-cita hidup orang jawa.Yaitu, kehidupan yang damai sejahtera, aman tenteram, dan bahagia.Soalnya, orang jawa tidak menyukai konflik.Menurut pandangan mereka, konflik itu tidak berguna, bahkan merusak.Sebab, semua masalah bisa di bicarakan sambil duduk bersama.Jika ada masalah, segera saja diselesaikan dengan kepala dingin dan musyawarah, pasti selesai.Sejak lama, orang jawa menyadari rusak atau tenteramnya kehidupan di setiap lingkungan bukan ditentukan oleh orang luar, tetapi oleh warga setempat.Artinya, jika mereka ingin rukun, kerukunan akan terbangun.Apabila mereka suka cekcok, persatuan dan kesatuan warga pun perlahan akan rontok.

Thursday, January 8, 2015

peribahasa "Napihi Wong Kewudan"


Artinya, napihi (mengenakan kain panjang), wong kewudan (orang yang telanjang).


Image result for jowo ksatria
Ungkapan ini merupakan gambaran dari sikap tolong-menolong dalam hdup bermasyarakat, di mana yang mampu harus bersedia meringankan beban mereka yang sedang mengalami penderitaan.


Contoh nyata dari pengalaman, makna peribahasa ini tampak pada perhatian masyarakat kepada orang gila.Apabila ada orang gila yang telanjang, entah perempuan atau laki-laki, pasti akan ada pihak yang segera memberikan pakaian bekas untuknya.Tentunya dengan harapan orang gila tersebut bisa berpakaian kembali dan tidak mengumbar aurat di tempat umum.



Ketelanjangan dapat pula merupakan simbol kemiskinan atau kepapaan seseorang.Entah karena memang miskin, kurang waras, atau terkena musibah berat yang menghancurkan seluruh harta bendanya, sampai-sampai pakaian saja tidak memiliki.Menyadari keadaan tersebut, biasanya masyarakat di lingkungan akan memberikan bantuan sesuai kemampuan masing-masing.Minimal, bantuan untuk kebutuhan dasar, seperti pakaian, makanan, tempat berteduh, dan lain-lain.

  

Tuesday, January 6, 2015

Peribahasa "Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata"


Artinya, desa mawa cara (desa mempunyai adat sendiri), negara mawa tata (negara memiliki tatanan,aturan,atau hukum tertentu).


Image result for jowo ksatria
Peribahasa tersebut memuat inti dari pandangan kalangan tradisional jawa yang menghargai adanya pluralisme dengan segala perbedaan adat kebiasaannya.Kaitannya dengan pandangan ini,desa telah membentuk kebiasaan (angger-angger) untuk lingkungan sendiri yang cenderung lebih lentur.Sementara negara memang memerlukan hukum atau peraturan yang lebih tegas, namun bersumber pada adat-istiadat yang tumbuh berkembang dalam masyarakat.



Peribahasa ini juga mengingatkan kepada para pendatang yang tinggal di daerah lain.Di mana pun berada,seseorang harus pandai-pandai memahami,menghormati,dan menyesuaikan diri dengan adat-istiadat setempat.Mana yang disetujui di gunakan,mana yang tidak di sepakati jangan di terapkan.Meskipun demikian, janganlah melecehkan nilai-nilai yang tidak di setujui, terlebih bermaksud merubahnya secara drastis.Sebab, perbuatan tersebut kemungkinan besar dapat menimbulkan kesalahpahaman dengan pihak lain yang berujung pada friksi dan konflik yang tidak di inginkan.

Peribahasa "Mikul Dhuwur Mendhem Jero"


Artinya, mikul dhuwur (memikul tinggi), mendhem jero (mengubur dalam-dalam).Ungkapan ini merupakan nasihat bagi anak agar menghormati orang tua,dengan cara menghargai jasa mereka setinggi-tinginya dan menyimpan dalam-dalam jas tesebut di hati sanubarinya.

Image result for jowo ksatria
Penghargaan dan penghormatan itu bukan saja di sampaikan ketika hidup, tetpi juga setelah kedua orang tua tiada.


Maknanya, seluruh jasa orang tua harus di junjung tinggi, di hargai dengan sebesar-besarnya.Nasihat mereka di tepati.Keinginan mereka sedapat mungkin di penuhi.Kesalahan mereka di maafkan.Warisan mereka pun harus dimuliakan.Sementara itu, ungkapan mendhem jero bermakna mengubur jenazah mereka dalam-dalam, tidak boleh terlampau dangkal.Sebab, mayat itu nantinya akan membusuk dan berbau.Andai mengubur si mayat terlampau dangkal, kemudian timbunan tanah makam itu melesek,bisa saja bertebaran bau busuk ke mana-mana.Peristiwa tersebut menyiratkan kenyataan bahwa setiap orang tua tentu memiliki salah,dosa,dan aibnya sendiri-sendiri.Maka , seyogianya ia menyimpan kisah buruk mereka rapat-rapat.Bukan malah membeberkan atau menyebarkannya ke mana-mana.

Peribahasa "Sara Sudira Jayaningrat, Lebur dening Pangastuti"


Artinya, sura (berani), sudira (berani), jayaningrat (menang di dunia), lebur (hancur), dening pangastuti (oleh kebaikan atau keutamaan).

Image result for jowo ksatria
Terjemahan bebasnya, keutamaan atau kebaikan akan mengalahkan semua bentuk kejahatan.Di masa lalu, ungkapan ini sering digunakan sebagai semboyan untuk menumpas kejahatan, meberantas pengacau negara, dan berbagai macam keburukan (gangguan) dalam masyarakat.


Dengan memahami dan mengamalkan ungkapan tersebut,biasanya siapa pun akan merasa bahwa dirinya berdiri di tempat yang benar.Memang, sekali atau dua kali bisa saja kejahatan akan menang.Tetapi, jika sudah dihadapi dengan sepenuh hati, apapun bentuk keangkaramurkaan di dunia pasti dapat dikalahkan oleh kebenaran dan kebajikan.Kebenaran pun tidak harus diwujudkan dengan kekerasan dan peperangan, tetapi juga dapat dimanifestasikan lewat cinta kasih.Kasih sayang yang ditujukan kepada orang lain, meskipun bersangkutan pernah berbuat kejahatan, akan sangat manjur untuk menumpas kejahatan itu sendiri.Soalnya, apabila mereka dihadapi dengan bersahabat, dengan tutur kata halus, dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, bisa jadi justru akan jatuh, bertekuk lutut, meminta maaf, dan berjanji untuk kembali ke jalan yang benar.


Peribahasa "Sapa Temen Bakal Tinemu ,Sapa Salah Bakal Seleh"

    
Artinya, sapa temen (siapa bersungguh-sungguh), bakal tinemu (akan ketemu), sapa salah (siapa salah), bakal seleh (akan menyerah).

Image result for jowo ksatria
Sebaris ungkapan ini merupakan peringatan bahwa setiap kerja yang baik akan memperoleh hasil sepadan.Sementara itu, apabila berbuat salah, bagaimanapun juga akan ketahuan dan memperoleh hukuman setimpal.

Sapa temen bakal tinemu benar-benar menyerupai "obat kuat" dalam mengejar cita-cita hidup.Syaratnya, terus berdoa kepada Allah ,bersungguh-sungguh menekuni pekerjaan, dan berpikir serta berperilaku positif.Sebab, mungkin saja cita-cita itu lama tidak kesampaian, tetapi dia akan memperoleh manfaat lain yang setara dengan keinginannya.Misalnya, seseorang ingin mempunyai rumah, sehingga ia kemudian menabung.Tetapi, karena harga material rumah terus membumbung, hingga sekian tahun rumah idamannya belum terwujud.Dalam kasus ini, meskipun rumah belum punya, tetapi diam-diam dirinya jadi punya sifat yang baik.Seperti, sifat sabar, gemar menabun, tidak mudah patah semangat, dan sebagainya.

Sapa salah bakal seleh lebih merupakan nasihat, agar jangan mudah melakukan kesalahan.Sebab, berbuat salah merupakan larangan Tuhan.Di sembunyikan serapi apapun, kalau sudah waktunya, kesalahan itu akan terungkap.

Sunday, January 4, 2015

Peribahasa "Lambe Satumang Kari Samerang"

  


Artinya, lambe satumang (bibir setebal tumang atau bibir tungku dapur),kari samerang (tinggal sebatang padi).

Image result for jowo ksatria
Peribahasa ini sering di jadikan ungkapan oleh orang tua ketika nasihatnya tidak di perhatikan sama sekali oleh anak-anaknya.Bibir setebal tumang merupakan perlambang bahwa di mulut orang tua terdapat banyak nasihat.Sementara itu, bibir tinggal setebal gagang padi menjadi kiasan bagi orang tua yang telah kehabisan nasihat bagi anaknya.



Dahulu, peribahasa tersebut sering digunakan untuk melampiaskan kejengkelan orang tua ketika nasihatnya dianggap angin lalu.Seluruh nasihat seperti masuk ke telinga kiri, keluar lewat telinga kanan.Semua hanya lwat, tidak satu pun singgah di kepala si anak.Nasihat tersebut berhenti hanya sebatas kata-kata.Di jawa, sering terdengar idiom "nggih,nggih,ora kepanggih". menjawab "ya", tetapi pekerjaan atau tugasnya tidak di lakukan sama sekali.Di suruh belajar,anak itu selalu menghindar.Di ajari bekerja, begitu orang tua lengah, si anak justru main ke rumah temannya sampai sore.Padahal, usianya menjelang remaja.Biasanya, untuk menyingkirkan kemampatan batin, orang tua sering menggerutu dalam bahasa jawa, "Bocah kok ngentekake lambe ! lambe satumang kari samerang".

Peribahasa "Kebo Nyusu Gudel"


Artinya, kerbau menyusu kepada anaknya (gudel).

Image result for jowo ksatria
Peribahasa ini menggambarkan situasi dimana orang tua mau tidak mau harus belajar, atau meminta bantuan kepada anak-anaknya.Anak, dalam konteks peribahasa tersebut, dapat di artikan sebagai kaum muda.Atau, dengan kata lain, orang tua yang seharusnya mengasuh dan menghidupi anaknya kini terbalik harus menggantungkan hidupnya kepada sang anak.


Contoh yang baik, misalnya ada orang tua yang benar-benar menghabiskan (menjual) harta bendanya untuk menyekolahkan anaknya.Setelah si anak selesai kuliah kemudian bekerja, mau tidak mau dia terpaksa ikut anaknya karena tidak memiliki tempat tinggal lagi.Seluruh kebutuhan hidupnya pun di tanggung oleh anak.



Contoh yang buruk, ada orang tua yang menghabiskan harta bendanya untuk memburu kesenangan dunawi semata.Seperti berjudi,berfoya-foya, dan sebagainya.Akibatnya,dia hari tua,dia terpaksa ikut hidup kepada anaknya.

Saturday, January 3, 2015

Peribahasa "Salah Mesthi Owah,Bener Terus Nggejejer"



Artinya, salah mesthi owah (salah pasti berubah ),bener terus nggejejer (benar tetap berdiri tegak).

Image result for jowo ksatria
Peribahasa ini menggembarkan bahwa setiap orang yang berbuat salah, di dalam hati kecilnya, pasti menyadari kesalahan tersebut.Maka, apabila dirinya menyangkal atau mengingkari, tentu telah terjadi perbedaan antara nalar dan perasaannya.Hal itulah yang sering menimbulkan orang yang bersangkutan menjadi tidak stabil dalam berbicara atau berbuat.Berbeda halnya dengan orang yang memang benar.Seluruh kata dan perbuatannya terasa mantap karena tidak ada yang ditutup-tuttupi.


Contoh sederhananya, ada seorang murid yang tidak masuk sekolah selama tiga hari dengan alasan sakit.Jika memang benar-benar sakit, sewaktu dia masuk, tentu tidak merasa takut dan gugup ketika ditanya gurunya mengenai sakit apa, berobat ke mana, dan selanjutnya.Si murid pasti menjawab apa adanya, sesuai yang dialami.Namun, jika dia memang sengaja membolos dengan alasan sakit, ketika ditanya tentu ada jawaban yang meleset, tidak masuk akal, ataupun mencurigakan.

Peribahasa "Denta Denti Kusuma Warsa Saririra Cakra"

  
Artinya,denta (gading),denti (gigi), kusuma (bunga),Warsa (tahun atau hujan), saririra (badan),cakra (senjatanya sri kresna).

Image result for jowo ksatria
Terjemahan bebasnya adalah gading atau gigi yang tumbuh tidak bisa dibenamkan lagi, bunga yang mekar tidak dapat dikuncupkan lagi, hujan yang turun tidak dapat dinaikkan lagi, darah yang keluar dari badan karena terkena senjata tajam tidak dapat disurutkan lagi.


Peribahasa ini menggambarkan hakikat atau sifat asli dari keadilan menurut pandangan orang jawa.Artinya, yang benar tidak dapat disalahkan, yang salah tidak boleh dibenarkan.Bisa saja direkayasa, tetapi hasilnya hanya bersifat sementara atau tidak abadi.Cepat atau lambat akan mewujud sebagaimana aslinya.Yang salah kelihatan salah, yang benar tampak benar.



Peribahasa ini tidak berdiri, melainkan banyak peribahasa lain yang mendukung kebenaran isi pesannya.Seperti, bener ketenger, becik ketitik, ala ketara.Kemudian, sapa temen bakal tinemu, sapa salah bakal seleh.Ada lagi peribahasa lainnya, yaitu salah mesthi owah, bener terus nggejejer.Terkait dengan makna peribahasa tersebut, orang jawa meyakini bahwa keadilan tidak dapat diputarbalikkan.Dan, siapa pun yang berani memutarbalikkan keadilan, dia akan memperoleh sanksi yang setimpal dengan perbuatannya itu.

Ungkapan "Bener Ketenger, Becik Ketitik, Ala Ketara"

  

Artinya, bener ketenger (benar ditandai), becik ketitik (baik terbukti), ala ketara (buruk kelihatan sendiri).

Image result for jowo ksatria
Peribahasa ini menjadi anjuran agar siapa pun tak takut berbuat baik.Meskipun awalnya belum tampak, pada saatnya pasti akan menemukan maknanya dan dihargai.Dan, manakala berbuat buruk, sepandai-pandainya menutupi, akhirnya akan ketahuan juga.



Peribahasa ini mengingatkan bahwa semua perbuatan entah yang benar,baik, atau buruk akan memperoleh ganjaran yang setimpal.Misalnya, berbuat baik kepada orang lain dan telah lama ia tidak membalasnya, maka jangan sekali-kali mengeluh atau merasa kecewa.Sebab, balasan tersebut dapat datang dari mana saja.Bisa, jadi datang orang lain.Atau, jatuh kepada anak-cucu kita.



Siapa pun yang mempunyai niat jelek,sebaiknya menguungkan niat tersebut.Artinya, jangan gampang melakukan perbuatan buruk, tercela, atau merugikan pihak lain.Di samping hanya akan menghasilkan dosa, jika perbuatan buruk tersebut ketahuan, tentu akan menimbulkan rasa malu yang tak terkira bagi pelakunya.Salah-salah, dia pun selamanya akan dicap sebagai pencuri, tidak lagi dipercaya, dan setiap tindak tanduknya selalu dicurigai oleh masyarakat di lingkungannya.

Ungkapan "Kacang Mangsa Ninggala Lanjaran"


Artinya, kacang (kacang panjang-vigna sinensis), mangsa ninggala lanjaran (tidak mungkin meninggalkan turus tempatnya merambat).

Image result for jowo ksatria
Maknanya, kacang panjang tidak bisa tumbuh dan berbuah dengan baik tanpa merambat pada turus tempatnya memanjt.Apabila di biarkan, tumbuhan akan melaata di tanah, sehingga pembuangan dan pembuahannya kurang sempurna.


Peribahasa tersebut menggambarkan perangai atau perilaku anak yang berkonotasi buruk, serta mirip (meniru) orang tuanya yang juga memiliki sifat serupa.Misalnya, dulu ayahnya penjudi berat.Sekarang, anaknya juga suka bermain judi sejak kecil.Orang tuanya berangasan,suka berkelahi,dan maunya menang sendiri, anaknya pun mempunyai tabiat yang sama.Sejak kecil, anak itu terkenal nakal, sering berkelahi saat merebut mainan teman-temannya.Seandainya keinginannya tidak terpenuhi, ia pasti mengadu kepada orangtuanya untuk mendapatkan bantuan dan pembelaan.



Bagi yang tanggap, peribahasa ini dapat di jadikan cermin peringatan.Misalnya, dulu orang tua punya sifat atau perilaku yang kurang baik, maka si anak harus berusaha menghindari perbuatan seperti itu,agar tidak di anggap layaknya kacang mangsa ninggala lanjarane.Asalkan berusaha dengan sungguh-sungguh, ia tentu akan menuai hasilnya.