Monday, January 19, 2015

Wani Ngalah Luhur Wekasane



 Artinya, wani ngalah (berani mengalah), luhur wekasane (mulia akhirnya).Sebuah anjuran agar orang berani mengalah.Namun, memberikan tempat dan kesempatan kepada orang lain, sehingga tak timbul konflik.Sementara dengan mengalah, dirinya mungkin bakalan menemukan hal-hal baru yang lebih bermanfaat.

Contohnya, meskipun lalu lintas padat, ketika lewat mobil ambulans yang jelas-jelas membawa orang sakit, jenazah, atau korban lakalantas, tentu mobil-mobil lain akan segera menepi.Artinya, memberikan kesempatan kepada sopir ambulans itu untuk menyalip.Dalam kasus ini, mengalah sedikit tidak menjadi persoalan demi kemanusiaan.Sebab, mobil tersebut harus secepatnya tiba di rumah sakit agar si penderita segera memperoleh pertolongan dokter.

Penghasilan tambahan dari internet di indosurvei

peribahasa " Tebu Tuwuh Socane " - cita citata -




Artinya, tebu (tebu atau sacharum officinareum), tuwuh (tumbuh), socane (mata ruasnya).Terjemahan bebasnya, batang tebu yang tumbuh cabang dari mata ruasnya.Hal itu merupakan kelainan karena tebu termasuk tumbuhan monokotil (berbiji tunggal), bukan dikotil (berbiji belah) di mana batangnya nanti akan bercabang seperti mangga, sawo, duren, dan jati.

 Peribahasa tersebut manggambarkan suatu perkara yang sudah mendapatkan kesepakatan damai, namun tiba-tiba dikacaukan oleh seorang yang sengaja mengadu domba. Dapat pula sebagai gambaran suatu tugas yang hampir diselesaikan dengan baik, tetapi mendadak kacau karena ulah seorang yang sengaja merusaknya. Kejadian ini patut diwaspadai oleh semua pihak, karena mungkin saja ada yang tidak suka terhadap perdamaian atau prestasi kerja yang dicapai seseorang.

Menghilangkan sumber kekacauan tersebut dapat dilakukan dengan mengambil contoh realitas di lapangan.Cabang tebu mudah dimatikan dengan memotongnya, menggunakan pisau tangan. Seperti juga wiwilan( tunas ) yang tumbuh di batang pokok.Apabila dibiarkan, pertumbuhan tunas akan cepat dan banyak menyerap sari makanan dari batang induk. Artinya, baik cabang tebu maupun tunas batang sebaiknya dibuang karena akan mengganggu pertumbuhan selanjutnya.


 mau dapat penghasilan tambahan..... ? caranya gampang cek di indosurvei
INFO:
 Tugas anda sebagai member idsurvei.com adalah menjaring data sebanyak-banyaknya dari pengguna internet agar mengisi survei melalui link url anda http://www.indosurvei.com/sudihardi16/. 
 Setiap data yang masuk dari link url Anda dan data tersebut mempunyai bobot yang cukup maka Anda akan mendapatkan komisi Rp 2.000,-. 
 Komisi tersebut otomatis kami transfer kepada Anda setelah mencapai minimal Rp 200.000,- atau lebih. 
 Pembayaran komisi kami lakukan pada pertengahan bulan antara tanggal 14,15, dan 16 setiap bulannya.
 Tidak ada batasan berapa data yang dapat anda hasilkan setiap harinya. Besarnya komisi yang Anda terima tergantung seberapa giat anda bekerja untuk mendapatkan data. Ingat,
 Anda tidak boleh mengisi survei milik anda sendiri. survei yang Anda isi sendiri akan kami abaikan atau kami hapus. Lakukan pekerjaan ini 2-3jam setiap hari secara rutin Agar semakin banyak komisi yang Anda terima.

Nandur Pari Jero ( julia perez )

   Mau dapat penghasilan tambahan dari internet ? Caranya GAMPANG banget lho........ kita cuma perlu mengisi survei  dan kita akan mendapatkan Rp 2000,- per survei yang diisi.Untuk lebih jelas masuk ke indosurvei 



Artinya, menanam padi dalam.Yang di maksud sebagai pari jero (padi dalam) adalah padi (oryza sativa) yang berbuahnya agak lama.Peribahasa ini menggambarkan orang tua yang berbuat kebaikan tidak untuk mendapatkan balasan bagi diri sendiri, melainkan di peruntukkan bagi anak-cucunya kelak kemudian hari.

Misalnya,seseorang penjaga malam yang bertahun lamanya bekerja di sebuah pabrik.Dia hanya tamatan sekolah dasar,sehingga gajinya pun tak seberapa.Meski begitu,ia tetap tekun menjalankan tugasnya.Penghasilan yang memang pas-pasan membuatnya hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai smu.Putra-putrinya tidak mungkin melanjutkan ke perguruan tinggi karena tidak memiliki biaya yang cukup.

Namun, di balik sikap loyalnya itu, sang penjaga malam diam-diam mempunyai cita-cita atau harapan tertentu buat anaknya.Semoga dengan mempertimbangkan kinerjanya yang baik selama ini, nanti anaknya dapat di terima bekerja di perusahaan tersebut.Biarlah dirinya lara lapa atau bersusah payah, asalkan kelak di kemudian hari anaknya memperoleh kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik;menikmati buah yang di tanam orang tuanya.

Sunday, January 18, 2015

Berani menang di dunia hancur kebaikan ( sura sudira jayaningrat, lebur dening pangastuti)

Mau dapat penghasilan dari internet ?   Disini anda hanya perlu mengisi surveinya dan anda akan mendapatkan penghasilan tambahan dari internet. langsung aja ke indosurvei ,buat coba-coba aja lumayan buat jajan


Artinya, sura (berani), sudira (berani), jayaningrat (menang di dunia), lebur (hancur), dening pangastuti (oleh kebaikan atau keutamaan). Terjemahan bebasnya  ,kebaikan akan mengalihkan semua bentuk kejahatan.Di masa lalu ungkapan ini sering digunakan sebagai semboyan untuk menumpas kejahatan, memberantas pengacau negara, dan berbagai macam keburukan (gangguan) dalam masyarakat.

Dengan memahami dan mengamalkan ungkapan tersebut, biasanya siapapun akan merasa bahwa dirinya berdiri di tempat yang benar.Memang, sekali dua kali bisa saja kejahatan menang.Tetapi, jika sudah dihadapi dengan sepenuh hati, apapun bentuk keangkaramurkaan di dunia pasti dapat dikalahkan oleh kebenaran dan kebajikan.Kebenaran pun tidak harus diwujudkan dengan kekerasan dan peperangan, tetapi juga dapat dimanifestasikan lewat cinta kasih.Kasih sayang yang ditujukan kepada orang lain, meskipun yang bersangkutan pernah berbuat jahat, akan sangat manjur untuk menumpas kejahatan itu sendiri.Soalnya, apabila mereka dihadapi dengan bersahabat, dengan tutur kata halus, dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, bisa jadi dia justru, bertekuk lutut, meminta maaf, dan berjanji untuk kembali kejalan yang benar.

Thursday, January 15, 2015

Sing Goroh Growah

yang mau dapat uang dari internet ?  caranya gampang anda hanya disuruh mengisi survei,penghasilan pasti Rp 2000 persurvei. Langsung aja isi surveinya di indosurvei.com




Artinya, sing goroh (siapa bohong), growah (merugi). Sebab, bohong pada hakikatnya menyembunyikan kebenaran yang sesungguhnya.Dengan kata lain, orang yang berdusta memang sengaja tidak mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi.Karena pertimbangan tertentu, kejadian yang sesungguhnya itu sangat dirahasiakan, atau disembunyikan rapat-rapat.Namun, realitasnya, sepandai apa pun merahasiakan kebenaran, maka sekali waktu akan ketahuan juga.

Ungkapan tersebut merupakan nasihat popular di jawa, supaya anak-anak tak memiliki tabiat suka berbohong.Berdusta memang gampang. Namun, perilaku tersebut sama halnya dengan mencuri atau berutang.Bohong adalah mencuri kebenaran, berutang kebenaran, yang sesungguhnya menjadi milik orang lain.Padahal, menurut hukum alam, kebohongan pasti akan terbongkar.Karena, pada hakikatnya, tidak ada kesalahan yang dapat disembunyikan manusia dengan sempurna di dunia.

Setiap orang harus menyadari bahwa kerugian akibat berbohong akan berlipat ganda daripada keuntungannya.Contohnya, orang yang suka berbohong, selama hidup kata-katanya tidak akan dipercaya.Meskipun mungkin berkata benar, ia cenderung aka tetap dianggap berdusta.Orang lain pun tidak akan memperdulikan sama sekali.


Wednesday, January 14, 2015

Ngundhuh Wohing Pekerti




Artinya,ngundhuh (memetik), wohing pekerti (hasil perbuatan sendiri).Sebagaimana petani, ketika menanam pai, pada saatnya nanti akan menuai padi, bukan jagung.Jika menanam kacang, maka akan memanen kacang, bukan mendapatkan ketela pohon.Peribahasa ini merupakan kiasan mengenai orang yang melakukan perbuatan buruk.Sebab, ia juga akan memperoleh pembalasan buruk, kelak di kemudian hari.

Di jawa, ada banyak ungkapan yang mempunyai hubungan erat dengan peribahasa tersebut.Contohnya, sapa seneng njiwit, bakal kejiwit;sapa salah seleh;sapa gawe luwangan,bakal kajlegong dhewe;sing goroh growah, dan sebagainya.Dengan adanya peribahasa serupa, menunjukkan bahwa orang jawa memiliki semangat tenggang rasa serta pengekangan diri yang cukup besar.Sebab, sejak kecil sudah ditanamkan kesadaran bahwa seluruh tindak perbuatan manusia bakal memperoleh pembalasan setimpal,baik di dunia maupun di akhirat.Harus disadari, perbuatan buruk yang ditunjukkan kepada seseorang, nanti pembalasannya bisa jadi bukan dari yang bersangkutan.Tetapi, dapat berasal dari mana saja, dan kapan waktunya mustahil di tebak.Oleh karena itu,melakukan setiap perbuatan haruslah berhati-hati, seperti halnya menanam.Jangan sampai keliru.Inginnya menanam padi, namun yang ditanam ternyata benih ilalang.

Monday, January 12, 2015

Bolu Rambatan Lemah




Artinya, bolu(sejenis tanaman yang tumbuh merambat), rambatan lemah(merambat di tanah).Terjemahan bebasnya, tanaman bolu yang merambat di atas tanah.Makna yang ingin disampaikan adalah, gambaran dari suatu perkara yang saling terkait dengan begitu rumitnya, sehingga sulit diselesaikan karena masalahnya terus berkembang meluas.

Di Indonesia,contoh permasalahan seperti itu sangat banyak.Misalnya saja,perkara korupsi.Meskipun sudah menggunakan berbagai macam cara untuk mengatasinya, namun tetap saja korupsi belum dapat diberantas sampai tuntas.Bahkan, muncul gejala berkembang ke mana-mana.Bahkan,di daerah terpencil pun ada koruptor,mulai dari kelas teri hingga yang berskala ratusan juta rupiah.

Keadaan demikian mengindikasikan bahwa kesempatan dan pelaku korupsi tidak dapat digambarkan seperti halnya "pepohonan besar di hutan belantara".Melainkan sama halnya "bolu" yang merambat di tanah, atau rumpun ilalang yang akhirnya akan memenuhi lahan jika tidak di bongkar sampai akar-akarnya.Banyak permasalahan yang tampaknya kecil, sederhana, namun kita jangan terkecoh dan harus tetap waspada.Sebab, jika dibiarkan, bukan mustahil nanti akan menjadi perkara besar yang sulit diberantas karena akarnya telah menjalar ke dalam pribadi jutaan orang.

Tepung Ropoh Sambung Kalen




Artinya, tepung (kenal), ropoh (pagar dari potongan ranting-ranting), sambung (tersambung), kalen (parit).Terjemahan bebasnya adalah kenal karena satu pagar dan satu selokan.Atau, lebih jelas lagi, bertetangga dekat karena menggunakan pagar dan selokan yang sama.

Dalam adat tradisi pedesaan di jawa, pagar batas pekarangan yang umumnya adalah pagar hidup (tumbuhan) atau pagar bambu semipermanen.Biasanya, pagar itu dianggap milik bersama di antara kedua pihak yang bertetangga.Karena itulah, bahan dan pembuatannya juga ditanggung bersama.

Selain pagar, yang di anggap milik bersama lainnya, misalnya parit (selokan).Berdasarkan tata penggunaan air (irigasi) dalam masyarakat pertanian di jawa, sungai ataupun parit ditetapkan sebagai milik bersama yang harus di jaga kelestarian dan penggunaannya oleh masyarakat.Dari kenyataan tersebut, hubungan kedekatan di jawa sering menggunakan simbol pagardan air.Seperti tangga tunggal pager (tetangga satu pagar), tangga tunggal galeng (tetangga satu pematang).Ada juga ungkapan lain yang menyatakan hal serupa, yaitu tangga tunggal banyu (tetangga yang mendapatkan air dari sumber atau sungai yang sama).

Sunday, January 11, 2015

Susah Padha Susah,Seneng Padha Seneng,Eling Padha Eling,Pring Padha Pring

  

Artinya, susah padha susah (susah sama susah), seneng padha seneng (senang sama senang),eling padha eling (ingat sama ingat),pring padha pring (bambu sama bambu).Peribahasa ini merupakan salah satu mantra ajaran R.M Sosrokartono, yang bermakna orang harus bisa menyatu dengan masyarakatnya.Senang-susah dirasakan bersama.Di samping itu, harus selalu ingat bahwa manusia itu pada hakikatnya sama dengan manusia yang lain.Di sini sanepa atau padanan pring padha pring di kutip dari tembang jawa, "pring padha pring", sebagai kiasan bahwa manusia sama dengan manusia yang lain.

Dengan memiliki semangat dan mampu melakukan nilai-nilai seperti dalam peribahasa ini, manusia akan menemukan ketenteraman, kecintaan, dan pertolongan dari banyak orang.Di samping itu, peribahasa ini juga menunjukkan betapa tebalnya semangat patembayan atau kebersamaan yang di cita-citakan orang jawa.Artinya, kebersamaan tersebut bukan semata-mata dalam tataran wadag atau fisik, tetapi dilandasi oleh kedekatan batin di antara setiap pribadi.Apabila digambarkan secara nyata, patembayan yang disampaikan dalam peribahasa ini sebagaimana "rumpun bambu".Di sana hanya terdapat batang bambu, besar dan kecil menyatu, membentuk ikatan yang kuat.

Saturday, January 10, 2015

Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe

   

 Artinya, sepi ing Pamrih (sepi atau jauh dari pamrih berlebihan), rame ing gawe (ramai dalam bekerja).Nasihat agar orang mengutamakan bekerja dengan giat dan baik lebih dulu, serta jangan memiliki pamrih berlebihan dapat mendorong seseorang untuk menghalalkan segala cara dalam mewujudkan cita-citanya.

Sebaiknya, kalau punya pamrih, jangan berlebihan.Ada hal yang lebih penting, yaitu melaksanakan pekerjaan dengan baik.Misalnya, ketika kerja bakti mengecat pos ronda, seorang warga sengaja mengirit cat dengan maksud sisa cat nanti akan digunakan untuk mengecat dapur rumahnya sendiri.Sikap seperti ini, apabila ketahuan warga, pasti akan dinilai buruk.Sebaiknya, yang bersangkutan mengerjakan pengecatan secara wajar, tanpa harus mengurangi cat yang digunakan.Nanti, apabila catnya memang tersisa dan terang-terangan diminta untuk kepentingan pribadi, pak RT dan warga pasti mengizinkannya.

Ketika makna peribahasa ini dilanggar, besar kemungkinan akan menimbulkan banyak ketimpangan di dalam masyarakat.Seperti terjadinya korupsi, penyalahgunaan wewenang atau jabatan, dan sebagainya.Artinya, tanggung jawab moral terhadap masyarakat cenderung dikalahkan demi memenuhi ambisi pribadi belaka.

Friday, January 9, 2015

Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah

  

Artinya, rukun agawe santosa (rukun membuat sentosa atau kokoh),crah agawe bubrah (bertengkar membuat rusak atau menimbulkan kehancuran).Peribahasa ini merupakan salah satu sikap hidup orang jawa yang mendambakan kerukunan dan kedamaian di masyarakatnya.Dengan adanya kerukunan membuktikan bahwa setiap warga masyarakat memiliki kesamaan sikap dan pendapat.Maka, tidak mengherankan jika situasi kondisi di sana ayem tentrem.Kehidupan warga damai sejahtera, gotong royong berjalan dengan baik.Jauh berbeda jika sering terjadi cekcok.Pasti situasinya juga akan panas, karena banyaknya permusuhan dan pertengkaran yang tidak pernah berhenti.

Ungkapan ini mengisyaratkan bagaimana sesungguhnya cita-cita hidup orang jawa.Yaitu, kehidupan yang damai sejahtera, aman tenteram, dan bahagia.Soalnya, orang jawa tidak menyukai konflik.Menurut pandangan mereka, konflik itu tidak berguna, bahkan merusak.Sebab, semua masalah bisa di bicarakan sambil duduk bersama.Jika ada masalah, segera saja diselesaikan dengan kepala dingin dan musyawarah, pasti selesai.Sejak lama, orang jawa menyadari rusak atau tenteramnya kehidupan di setiap lingkungan bukan ditentukan oleh orang luar, tetapi oleh warga setempat.Artinya, jika mereka ingin rukun, kerukunan akan terbangun.Apabila mereka suka cekcok, persatuan dan kesatuan warga pun perlahan akan rontok.

Thursday, January 8, 2015

Napihi Wong Kewudan



Artinya,napihi (mengenakan kain panjang), wong kewudan (orang yang telanjang).Ungkapan ini merupakan gambaran dari sikap tolong-menolong dalam hdup bermasyarakat, di mana yang mampu harus bersedia meringankan beban mereka yang sedang mengalami penderitaan.

Contoh nyata dari pengalaman, makna peribahasa ini tampak pada perhatian masyarakat kepada orang gila.Apabila ada orang gila yang telanjang, entah perempuan atau laki-laki, pasti akan ada pihak yang segera memberikan pakaian bekas untuknya.Tentunya dengan harapan orang gila tersebut bisa berpakaian kembali dan tidak mengumbar aurat di tempat umum.

Ketelanjangan dapat pula merupakan simbol kemiskinan atau kepapaan seseorang.Entah karena memang miskin, kurang waras, atau terkena musibah berat yang menghancurkan seluruh harta bendanya, sampai-sampai pakaian saja tidak memiliki.Menyadari keadaan tersebut, biasanya masyarakat di lingkungan akan memberikan bantuan sesuai kemampuan masing-masing.Minimal, bantuan untuk kebutuhan dasar, seperti pakaian, makanan, tempat berteduh, dan lain-lain.
  

Tuesday, January 6, 2015

Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata



Artinya, desa mawa cara (desa mempunyai adat sendiri), negara mawa tata (negara memiliki tatanan,aturan,atau hukum tertentu).Peribahasa tersebut memuat inti dari pandangan kalangan tradisional jawa yang menghargai adanya pluralisme dengan segala perbedaan adat kebiasaannya.Kaitannya dengan pandangan ini,desa telah membentuk kebiasaan (angger-angger) untuk lingkungan sendiri yang cenderung lebih lentur.Sementara negara memang memerlukan hukum atau peraturan yang lebih tegas, namun bersumber pada adat-istiadat yang tumbuh berkembang dalam masyarakat.

Peribahasa ini juga mengingatkan kepada para pendatang yang tinggal di daerah lain.Di mana pun berada,seseorang harus pandai-pandai memahami,menghormati,dan menyesuaikan diri dengan adat-istiadat setempat.Mana yang disetujui di gunakan,mana yang tidak di sepakati jangan di terapkan.Meskipun demikian, janganlah melecehkan nilai-nilai yang tidak di setujui, terlebih bermaksud merubahnya secara drastis.Sebab, perbuatan tersebut kemungkinan besar dapat menimbulkan kesalahpahaman dengan pihak lain yang berujung pada friksi dan konflik yang tidak di inginkan.

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

  

Artinya, mikul dhuwur (memikul tinggi), mendhem jero (mengubur dalam-dalam).Ungkapan ini merupakan nasihat bagi anak agar menghormati orang tua,dengan cara menghargai jasa mereka setinggi-tinginya dan menyimpan dalam-dalam jas tesebut di hati sanubarinya.Penghargaan dan penghormatan itu bukan saja di sampaikan ketika hidup, tetpi juga setelah kedua orang tua tiada.

Maknanya, seluruh jasa orang tua harus di junjung tinggi, di hargai dengan sebesar-besarnya.Nasihat mereka di tepati.Keinginan mereka sedapat mungkin di penuhi.Kesalahan mereka di maafkan.Warisan mereka pun harus dimuliakan.Sementara itu, ungkapan mendhem jero bermakna mengubur jenazah mereka dalam-dalam, tidak boleh terlampau dangkal.Sebab, mayat itu nantinya akan membusuk dan berbau.Andai mengubur si mayat terlampau dangkal, kemudian timbunan tanah makam itu melesek,bisa saja bertebaran bau busuk ke mana-mana.Peristiwa tersebut menyiratkan kenyataan bahwa setiap orang tua tentu memiliki salah,dosa,dan aibnya sendiri-sendiri.Maka , seyogianya ia menyimpan kisah buruk mereka rapat-rapat.Bukan malah membeberkan atau menyebarkannya ke mana-mana.

Sara Sudira Jayaningrat, Lebur dening Pangastuti @UPIN & IPIN

Mau uang dari internet ? caranya gampang cuma isi survei langsung dapat komisi. Rp 2000 persurvei yang diisi.Cek cara kerjanya di indosurvei



 Artinya, sura (berani), sudira (berani), jayaningrat (menang di dunia), lebur (hancur), dening pangastuti (oleh kebaikan atau keutamaan).Terjemahan bebasnya, keutamaan atau kebaikan akan mengalahkan semua bentuk kejahatan.Di masa lalu, ungkapan ini sering digunakan sebagai semboyan untuk menumpas kejahatan, meberantas pengacau negara, dan berbagai macam keburukan (gangguan) dalam masyarakat.
Baby Margaretha

Dengan memahami dan mengamalkan ungkapan tersebut,biasanya siapa pun akan merasa bahwa dirinya berdiri di tempat yang benar.Memang, sekali atau dua kali bisa saja kejahatan akan menang.Tetapi, jika sudah dihadapi dengan sepenuh hati, apapun bentuk keangkaramurkaan di dunia pasti dapat dikalahkan oleh kebenaran dan kebajikan.Kebenaran pun tidak harus diwujudkan dengan kekerasan dan peperangan, tetapi juga dapat dimanifestasikan lewat cinta kasih.Kasih sayang yang ditujukan kepada orang lain, meskipun bersangkutan pernah berbuat kejahatan, akan sangat manjur untuk menumpas kejahatan itu sendiri.Soalnya, apabila mereka dihadapi dengan bersahabat, dengan tutur kata halus, dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, bisa jadi justru akan jatuh, bertekuk lutut, meminta maaf, dan berjanji untuk kembali ke jalan yang benar.
http://www.indosurvei.com/sudihardi16
Istri solehah


Sapa Temen Bakal Tinemu ,Sapa Salah Bakal Seleh

    mau dapat uang tambahan di internet ?
silahkan dicek cara kerjanya disini indosurvei



Artinya, sapa temen (siapa bersungguh-sungguh), bakal tinemu (akan ketemu), sapa salah (siapa salah), bakal seleh (akan menyerah).Sebaris ungkapan ini merupakan peringatan bahwa setiap kerja yang baik akan memperoleh hasil sepadan.Sementara itu, apabila berbuat salah, bagaimanapun juga akan ketahuan dan memperoleh hukuman setimpal.

Sapa temen bakal tinemu benar-benar menyerupai "obat kuat" dalam mengejar cita-cita hidup.Syaratnya, terus berdoa kepada Allah ,bersungguh-sungguh menekuni pekerjaan, dan berpikir serta berperilaku positif.Sebab, mungkin saja cita-cita itu lama tidak kesampaian, tetapi dia akan memperoleh manfaat lain yang setara dengan keinginannya.Misalnya, seseorang ingin mempunyai rumah, sehingga ia kemudian menabung.Tetapi, karena harga material rumah terus membumbung, hingga sekian tahun rumah idamannya belum terwujud.Dalam kasus ini, meskipun rumah belum punya, tetapi diam-diam dirinya jadi punya sifat yang baik.Seperti, sifat sabar, gemar menabun, tidak mudah patah semangat, dan sebagainya.

Sapa salah bakal seleh lebih merupakan nasihat, agar jangan mudah melakukan kesalahan.Sebab, berbuat salah merupakan larangan Tuhan.Di sembunyikan serapi apapun, kalau sudah waktunya, kesalahan itu akan terungkap.

Sunday, January 4, 2015

Lambe Satumang Kari Samerang

  

Artinya, lambe satumang (bibir setebal tumang atau bibir tungku dapur),kari samerang (tinggal sebatang padi).Peribahasa ini sering di jadikan ungkapan oleh orang tua ketika nasihatnya tidak di perhatikan sama sekali oleh anak-anaknya.Bibir setebal tumang merupakan perlambang bahwa di mulut orang tua terdapat banyak nasihat.Sementara itu, bibir tinggal setebal gagang padi menjadi kiasan bagi orang tua yang telah kehabisan nasihat bagi anaknya.

Dahulu, peribahasa tersebut sering digunakan untuk melampiaskan kejengkelan orang tua ketika nasihatnya dianggap angin lalu.Seluruh nasihat seperti masuk ke telinga kiri, keluar lewat telinga kanan.Semua hanya lwat, tidak satu pun singgah di kepala si anak.Nasihat tersebut berhenti hanya sebatas kata-kata.Di jawa, sering terdengar idiom "nggih,nggih,ora kepanggih". menjawab "ya", tetapi pekerjaan atau tugasnya tidak di lakukan sama sekali.Di suruh belajar,anak itu selalu menghindar.Di ajari bekerja, begitu orang tua lengah, si anak justru main ke rumah temannya sampai sore.Padahal, usianya menjelang remaja.Biasanya, untuk menyingkirkan kemampatan batin, orang tua sering menggerutu dalam bahasa jawa, "Bocah kok ngentekake lambe ! lambe satumang kari samerang".

Kebo Nyusu Gudel (kerbau menyusu pada anaknya)



 Artinya, kerbau menyusu kepada anaknya (gudel).Peribahasa ini menggambarkan situasi dimana orang tua mau tidak mau harus belajar, atau meminta bantuan kepada anak-anaknya.Anak, dalam konteks peribahasa tersebut, dapat di artikan sebagai kaum muda.Atau, dengan kata lain, orang tua yang seharusnya mengasuh dan menghidupi anaknya kini terbalik harus menggantungkan hidupnya kepada sang anak.

Contoh yang baik, misalnya ada orang tua yang benar-benar menghabiskan (menjual) harta bendanya untuk menyekolahkan anaknya.Setelah si anak selesai kuliah kemudian bekerja, mau tidak mau dia terpaksa ikut anaknya karena tidak memiliki tempat tinggal lagi.Seluruh kebutuhan hidupnya pun di tanggung oleh anak.

Contoh yang buruk, ada orang tua yang menghabiskan harta bendanya untuk memburu kesenangan dunawi semata.Seperti berjudi,berfoya-foya, dan sebagainya.Akibatnya,dia hari tua,dia terpaksa ikut hidup kepada anaknya.

Saturday, January 3, 2015

Salah Mesthi Owah,Bener Terus Nggejejer

  



Artinya, salah mesthi owah (salah pasti berubah ),bener terus nggejejer (benar tetap berdiri tegak).Peribahasa ini menggembarkan bahwa setiap orang yang berbuat salah, di dalam hati kecilnya, pasti menyadari kesalahan tersebut.Maka, apabila dirinya menyangkal atau mengingkari, tentu telah terjadi perbedaan antara nalar dan perasaannya.Hal itulah yang sering menimbulkan orang yang bersangkutan menjadi tidak stabil dalam berbicara atau berbuat.Berbeda halnya dengan orang yang memang benar.Seluruh kata dan perbuatannya terasa mantap karena tidak ada yang ditutup-tuttupi.

Contoh sederhananya, ada seorang murid yang tidak masuk sekolah selama tiga hari dengan alasan sakit.Jika memang benar-benar sakit, sewaktu dia masuk, tentu tidak merasa takut dan gugup ketika ditanya gurunya mengenai sakit apa, berobat ke mana, dan selanjutnya.Si murid pasti menjawab apa adanya, sesuai yang dialami.Namun, jika dia memang sengaja membolos dengan alasan sakit, ketika ditanya tentu ada jawaban yang meleset, tidak masuk akal, ataupun mencurigakan.

Denta Denti Kusuma Warsa Saririra Cakra

  



Artinya,denta (gading),denti (gigi)< kusuma (bunga),Warsa (tahun atau hujan), saririra (badan),cakra (senjatanya sri kresna).Terjemahan bebasnya adalah gading atau gigi yang tumbuh tidak bisa dibenamkan lagi, bunga yang mekar tidak dapat dikuncupkan lagi, hujan yang turun tidak dapat dinaikkan lagi, darah yang keluar dari badan karena terkena senjata tajam tidak dapat disurutkan lagi.

Peribahasa ini menggambarkan hakikat atau sifat asli dari keadilan menurut pandangan orang jawa.Artinya, yang benar tidak dapat disalahkan, yang salah tidak boleh dibenarkan.Bisa saja direkayasa, tetapi hasilnya hanya bersifat sementara atau tidak abadi.Cepat atau lambat akan mewujud sebagaimana aslinya.Yang salah kelihatan salah, yang benar tampak benar.

Peribahasa ini tidak berdiri, melainkan banyak peribahasa lain yang mendukung kebenaran isi pesannya.Seperti, bener ketenger, becik ketitik, ala ketara.Kemudian, sapa temen bakal tinemu, sapa salah bakal seleh.Ada lagi peribahasa lainnya, yaitu salah mesthi owah, bener terus nggejejer.Terkait dengan makna peribahasa tersebut, orang jawa meyakini bahwa keadilan tidak dapat diputarbalikkan.Dan, siapa pun yang berani memutarbalikkan keadilan, dia akan memperoleh sanksi yang setimpal dengan perbuatannya itu.

Bener Ketenger, Becik Ketitik, Ala Ketara

  


Artinya, bener ketenger (benar ditandai), becik ketitik (baik terbukti), ala ketara (buruk kelihatan sendiri).Peribahasa ini menjadi anjuran agar siapa pun tak takut berbuat baik.Meskipun awalnya belum tampak, pada saatnya pasti akan menemukan maknanya dan dihargai.Dan, manakala berbuat buruk, sepandai-pandainya menutupi, akhirnya akan ketahuan juga.

Peribahasa ini mengingatkan bahwa semua perbuatan entah yang benar,baik, atau buruk akan memperoleh ganjaran yang setimpal.Misalnya, berbuat baik kepada orang lain dan telah lama ia tidak membalasnya, maka jangan sekali-kali mengeluh atau merasa kecewa.Sebab, balasan tersebut dapat datang dari mana saja.Bisa, jadi datang orang lain.Atau, jatuh kepada anak-cucu kita.

Siapa pun yang mempunyai niat jelek,sebaiknya menguungkan niat tersebut.Artinya, jangan gampang melakukan perbuatan buruk, tercela, atau merugikan pihak lain.Di samping hanya akan menghasilkan dosa, jika perbuatan buruk tersebut ketahuan, tentu akan menimbulkan rasa malu yang tak terkira bagi pelakunya.Salah-salah, dia pun selamanya akan dicap sebagai pencuri, tidak lagi dipercaya, dan setiap tindak tanduknya selalu dicurigai oleh masyarakat di lingkungannya.

Kacang Mangsa Ninggala Lanjaran



Artinya, kacang (kacang panjang-vigna sinensis), mangsa ninggala lanjaran (tidak mungkin meninggalkan turus tempatnya merambat).Maknanya, kacang panjang tidak bisa tumbuh dan berbuah dengan baik tanpa merambat pada turus tempatnya memanjt.Apabila di biarkan, tumbuhan akan melaata di tanah, sehingga pembuangan dan pembuahannya kurang sempurna.

Peribahasa tersebut menggambarkan perangai atau perilaku anak yang berkonotasi buruk, serta mirip (meniru) orang tuanya yang juga memiliki sifat serupa.Misalnya, dulu ayahnya penjudi berat.Sekarang, anaknya juga suka bermain judi sejak kecil.Orang tuanya berangasan,suka berkelahi,dan maunya menang sendiri, anaknya pun mempunyai tabiat yang sama.Sejak kecil, anak itu terkenal nakal, sering berkelahi saat merebut mainan teman-temannya.Seandainya keinginannya tidak terpenuhi, ia pasti mengadu kepada orangtuanya untuk mendapatkan bantuan dan pembelaan.

Bagi yang tanggap, peribahasa ini dapat di jadikan cermin peringatan.Misalnya, dulu orang tua punya sifat atau perilaku yang kurang baik, maka si anak harus berusaha menghindari perbuatan seperti itu,agar tidak di anggap layaknya kacang mangsa ninggala lanjarane.Asalkan berusaha dengan sungguh-sungguh, ia tentu akan menuai hasilnya.

Hukum,Keadilan,dan Kebenaran (adedamar tanggal pisan kepurnaman)

  


Artinya, adedamar (menerangi dengan pelita), tanggal pisan (tanggal satu atau tanggal muda), kapurnaman (diterangi sinar bulan purnama). Terjemahan bebasnya, semula akan menggunakan pelita karena masih gelap, namun tiba-tiba malam menjadi terang karena disinari  bulan purnama.

Peribahasa ini menggabarkan orang yang bertikai dan salah satu pihak mengadukan pihak lain ke pengadilan.Namun, beberapa waktu kemudian, perkara itu dibatalkan karena yang bersangkutan memperoleh kesadaran, lebih baik perkara itu diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.

Contohnya, ada dua orang saudara kandung (laki-laki dan perempuan) yang bertengkar memperebutkan tanah warisan dari orang tua mereka.Lantaran tidak ada surat waris, dan masing-masing tidak mau mengalah, maka keduanya sepakat menggunakan jalur hukum untuk memperoleh keputusan.Namun, beberapa waktu kemudian, mereka membatalkannya.Keduanya disadarkan oleh petunjuk seorang ulama, bahwa Nabi Muhammad saw.Telah mengajarkan bagaimana cara membagi waris yang adil menurut Islam.Akhirnya, mereka memilih damai dan membagi warisan tersebut sesuai hukum waris agama yang dianut.

Tega Larane Ora Tega Patine

  


Artinya, tega larane (tega skitnya), ora tega patine (tidak tega atas kematiannya).Peribahasa ini merupakan gambaran dari eratnya ikatan persaudaraan di jawa.Meskipun antar saudara sering bertengkar, namun kalau terjadi kesulitan dan penderitaan, mereka tetap akan saling menolong.

Peringatan bahwa sekecil apapun permasalahan hidup di dunia memiliki potensi memutuskan hubungan antar saudara kandung.Maka, sebaiknya setiap keluarga menjaga, jangan sampai anak-anak mereka mengalami kejadian seperti ini.Misalnya, dua orang kakak beradik mengalami cekcok berkepanjangan karena berebut warisan.Gara-gara tidak ada yang mau mengalah, perkara warisan tersebut diajukan ke pengadilan.Lantaran Shock atas peristiwa itu, sang kakak jatuh sakit cukup parah dan harus dirawat di rumah sakit sampai berbulan-bulan.Menyadari kondisi kakanya seperti itu, akhirnya si adik mencabut gugatannya dan merelakan warisan dijual untuk membantu pengobatan sang kakak.

Kasus tersebut memberikan contoh bahwa dalam keadaan sehat, saudara kandung dapat bermusuhan.Namun, ketika salah satu diantara mereka mengalami penderitaan, yang lain akhirnya juga tidak dapat tinggal diam.

Sapa luwih Ora Kena Muni Luweh

  


Artinya, sapa luwih (siapa berlebih), ora kena (tidak boleh),muniluweh (bilang biarlah).Peribahasa ini merupakan imbauan atau peringatan bahwa mereka yang mempunyai kelebihan (harta,ilmu, atau keterampilan) jangan sampai tidak peduli atau menutup mata terhadap orang lain yang membutuhkan apa yang di memiliki tersebut.

Tidak peduli terhadap kondisi orang lain memang tidak salah.Tetapi, di jawa hal tersebut merupakan sikap tercela.Orang yang tidak ambil pusing dengan beban permasalahan lingkungan terdekatnya, sama halnya mengingkari adanya semangat gotong-royong yang telah berurat akar dalam adat budaya nusantara.

Misalnya, kita punya mobil, sedangkan tetangga sebelah tengah sakit dan butuh segera di bawa ke rumah sakit.Sebaiknya, langsung kita antarkan si sakit dengan mobil kita, tanpa harus diminta oleh keluarganya.Sewaktu panen mangga, sewajarnya tetangga diberi kesempatan untuk turut mencicipi mangga itu.Soalnya, setiap orang suatu saat pasti memerlukan "kelebihan" orang lain.

Bagaimana jadinya jika suatu saat ada kematian, kemudian orang-orang tidak melayat dengan alasan "tidak punya waktu luang" karena sibuk mengerjakan pekerjaan sendiri ? Meskipun hanya "waktu luang", kadang kita tetap memerlukan sumbangan seperti itu dari orang lain.


Renggang Gula Kemepyur Pulut

  

Artinya, renggang (jarak yang renggang), gula (gula), kemepyur (mengkristal kecil-kecil atau lembut), pulut (getah yang lengket).Terjemahan bebasnya, lebih renggang daripada butiran gula, lebih mengkristal getah yang lengket.Peribahasa ini menyiratkan bagaimana hubungan atau persahabatan yang sangat akrab, ke mana-mana tidak mau berpisah.Di mana ada yang satu, pasti terdapat yang satunya lagi.

Gambaran ini biasa diarahkan kepada pengantin baru atau suami-istri yang tampak sangat rukun.Senantiasa bersama-sama, bahagia dinikmati berdua, susah di tanggung bersama.Keakraban dan kebersamaan seperti ini sangat di anjurkan dalam adat budaya jawa yang meyakini bahwa kehidupan setiap orang tidak bisa di urus sendiri, dan selalu memerlukan bantuan dalam kebersamaan dengan orang-orang terdekat.Bagaimana, dalam membangun hubungan jangan setengah-setengah dan sebatas fisik belaka, melainkan hingga menyentuh kedekatan batin yang terdalam.

Dengan mengamalkan makna atau pesan peribahasa ini, persaudaraan yang kita miliki jelas akan bertambah.Yang jauh menjadi dekat, yang dekat jadi semakin erat.Hidup jadi lebih mudah, karena banyak orang ikut membantu memecahkan berbagai masalah yang kita hadapi.

Friday, January 2, 2015

Kaya Suruh, Lumah Kurebe Beda, Yen Gineget Padha Rasane



Artinya, kaya suruh (seperti sirih atau piper betle),lumah kurebe beda (bagian atas dan bawahnya berbeda), yen gineget (kalau digigit), padha rasane (rasanya sama).Terjemahan bebasnya, meskipun sisi atas dan sisi bawahdaun sirih berbeda warna (sisi atas berwarna hijau tua,sedangkan sisi bawah hijau keputihan),jika di gigit akaan sama rasanya.

Menggambarkan situaasi yang berbeda, tetaapi sesungguhnya memiliki kesamaan yang esensial dalam banyak hal.Contohnya, meskipun belanda dari Eropa dan Jepang dari asia, namun, kedatangan ke Indonesia mempunyai tujuan sama.Yaitu, menjajah ! ingin meneruk kekayaan bumi pertiwi yang melimpah ruah.

Selain itu, peribahasa tersebut juga dapat menggambarkan kerukunan dan keserasian hubungan suami istri.Meskipun sang suami sebagai pegawai negeri, dan istrinya berdagang di pasar, tetapi kalau bicara dan membuat keputusan mengenai keluarga, keduanya memiliki visi, pertimbangan, dan keputusan yang sama.

Di jawa, kesamaan sikap dan perbuatan sebagaimana digambarkan peribahasa tersebut di nilai baik, sepanjang tidak di gunakan untuk tujuan buruk.Misalnya, ada saudara yang bersalah, namun malah dilindungi mati-matian.Itu tidak benar, karena sama saja kita bersalah.Di lain sisi, apabila ketahuan, kita pun pasti akan menerima sanksi yang sepadan.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa,Tut Wuri Handayani



Artinya, di depan memberikan suri teladan,di tengah membangun kemauan dan semangat, di belakang mengikuti sambil mengoreksi dan menjaga keselamatan semuanya.Peribahasa ini berasal dari semboyan yang di gali oleh Ki Hadjar Dewantara.Semula, semboyan ini lebih di tujukan kepada pamong (guru) di lingkungan Taman Siswa.Tetapi, akhirnya meluas menjadi acuan bagi para pemimpin,guru, orang tua,serta siapa pun yang tugasnya berkaitan dengan banyak kalangan.

Hakikat peribahasa ini mengingatkan, siapa pun yang berada di depan,pasti akan menjadi fokus erhatian.Oleh karena itu, dia harus menjaga perilakunya sebaik mungkin karena sikap dan perbuatannya akan mejadi contoh serta ditiru orang lain.Ketika berada di tengah (di antara banyak orang), dia akan mengetahui, mendengar, dan merasakan banak hal yang berhubungan dengan komunitas tersebut.Karena itulah, dia harus memotivasi dan menyemangati agar orang-orang yang di pimpinnya dapat mewujudkan kehidupan yang baik ketika dibelakang, dia akan mengetahui banyak hal yang telah terjadi.Mengerti mana yang benar dan yang salah, mana yang tepat dan yang meleset.Karena itu, dia harus dapat memberikan arahan yang jelas dan tepat, demi menjaga keselamatan dan ketenteraman semuanya.

Dudu Sanak Dudu Kadang, Yen Mati Melu Kelangan



Artinya,dudu sanak (bukan saudara), dudu kadang (bukan kerabat), yen mati(kalau meninggal), melu kelangan (ikut kehilangan).Peribahasa ini merupakan gambaran mengenaai eratnya sistem kekerabatan di jawa, di mana semua warga di hargai tanpa membedabedakan keturunan maupun hubungan darah yang ada.Meskipun orang lain, kalau yang bersangkutan mau menyatu atau membaur, dan berbuat baik kepada masyarakat, maka mereka akan menghargai dan menganggapnya seperti keluarga sendiri.

Orang jawa memiliki semangat persaudaraan yang tinggi.Semangat itu membuat mereka mudah bergaul, menjalin,persahabatan dengan siapa saja.Sebab, persaudaraan (patembayatan) merupakan cara yang ideal untuk menemukan ketenteraman hidup.Di jawa, menghormati orang lain (misalnya,tamu) sangatlah di utamakan.Terlebih jika sosok itu telah berjasa.Menghormatinya pun akan di wujudkan dengan bermacam cara, sekaligus menjadi manifestasi balas budi kepada sang pemberi jasa.Karena itulah, ketika sosok yang sangat dihormati dan di hargai itu meninggal, mereka akan benar-benar berduka dan merasa sangat kehilangan.Bahkan, terkadang lebih berduka daripada ketika menghadapi kematian sanak kerabat sendiri.

Dikempit Kaya Wade, Dijuju Kaya Manuk



  Artinya,dikempit kaya wade (dikempit seperti kain dagangan), dijuju kaya manuk (disuapi seperti anak burung). Satu peribahasa yang menjadi gambaran dari orang yang di pelihara,diasuh,di didik,dan di beri makan sebaik-baiknya oleh orang lain,termasuk orang tuanya sendiri. 

Pada masa lalu, di jawa terdapat pedagang keliling yang menawarkan kain panjang ataupun bahan baju, dari rumah ke rumah.Dagangan tersebut biasanya di bungkus dengan kain,terkadang degendong atau dikempit di ketiak.Bungkusan dagangan kain itu,dalam bahasa jawa,disebut wade.

Biasanya, peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan perlakuan yang di anggap berlebihan terhadap orang lain.Misalnya, perlakuan orang tua terhadap anak,dimana si anak benar-benar disamakan dengan barang berharga yang harus dilindungi dan dijaga dengan ketat.Untuk menunjukkan kasih sayang orangtua,si anak dijaga dan dilindungi tak ubahnya"barang dagangan". Bahkan, sampai-sampai keadaan anak itu bagai "anak burung" yang terus di suapi dan tidak boleh bersusah payah mencari makan sendiri.

Perlakuan yang berlebihan terhadap anak, menurut adat tradisi jawa, cenderung tidak di benarkan.Sebab, dengan cara mangasuh dan menyayangi seperti itu,si anak akan menjadi manja,lemah,jiwanya kurang berkembang, dan akhirnya sulit untuk mandiri.

Cilik Diitik-itik, Bareng Gedhe Dipasang Benik

  

Artinya, cilik diitik-itik(ketika kecil, dipasangi kancing), bareng gedhe dipasang benik (setelah besar,dipasangi kancing baju).Terjemahan bebasnya, sewaktu kecil, dibuatkan lubang kancing.Namun, setelah besar, dipasangi kancing baju.

Peribahasa tersebut merupakan kiasan mengenai hubungan orang tua dengan anak perempuannya.Manakala kecil, si anak di sayang, dipelihara dengan baik.Ternyata, setelah besar dan menikah, akhirnya di bawa orang (dibawa suaminya).Memang, jika dilihat sepintas lalu,setelah anak perempuan menikah dan hidup bersama suaminya, apa lagi tempat tinggalnya jauh, seolah-olah orang tua merasa tidak memiliki lagi.

Selain itu, peribahasa ini mengingatkan, jangan sampai anak perempuan benar-benar "meninggalkan" orang tua, meskipun telah bersuami.Sebab, pada hakikatnya,hubungan orang tua dengan anak adalah hubungan darah, sehingga tidak dapat di putuskan begitu saja.Walaupun orang tua tidak pernah meminta balas jasa dalam mengasuh anaknya,sebaiknya sang anak gadis tetap berusaha membalas budi baik orang tua sesuai kemampuannya.Bagaimanapun, hal tersebut akan menjadi tolok ukur seberapa besar bakti si anak terhadap orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya.

Thursday, January 1, 2015

Hubungan Orang Tua dan Anak # Anak Polah Bapa Kesulah Anak Kapolah

  
Artinya, anak polah bapa kepradhah (anak bertingkah,bapak atau orang tua yang bertanggung jawab),bapa kesulah anak kapolah (orang tua di hukum dengan di hujani tombak,anak ikut merasakannya).Hal ini merupakan peringatan bagi orang tua agar bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anaknya.Meskipun demikian, tetap harus mempertimbangkan dengan cermat permintaan si anak, mengenai baik-buruknya atau manfaatnya, agar tidak menimbulkan permasalahan dalam keluarga.

Peribahasa ini juga sering di gunakan untuk mengomentari (menyindir) orang tua yang suka berlebihan menuruti permintaan anak, tanpa mempertimbangkan baik-buruk dan manfaat permintaan itu.Padahal, sesungguhnya dia tahu bahwa permintaan si anak kadang tidak pada tempatnya.Selain itu, peribahasa tersebut dapat pula untuk mengingatkan orang tua yang cenderung sukar meluluskan kehendak anaknya.Sebab, sebagai orang tua yang melahirkan si anak, mau tidak mau dia harus bertanggung jawab meringankan beban hidup sang anak sewaktu-waktu diperlukan.

Peribahasa ini berhubungan pula dengan ungkapan selanjutnya yang menjadi kebalikan dari ungkapan pertama, yaitu bapa kesulah anak kepolah.Artinya, orangtua dapat juga merepotkan anak.Karena, baik-buruknya orangtua, si anak pun akan ikut terbawa-baawa.

Manjing Ajur-Ajer (masuk hancur-mencair)

  Artinya, manjing (masuk),ajur-ajer (hancur-mencair). Terjemahan bebasnya, masuk menyatukan diri dengan lingkungan.Peribahasa ini sering digunakan sebagai nasihat, pandai-pandailah menyesuaikan diri dimanapun berada agar selamat dan memiliki banyak kenalan (sahabat). Sebab, tanpa berhasil menyatu dengan lingkungan,keberadaan seseorang di sana tak ubahnya lumut yang tumbuh di atas batu. Di musim hujan, ia akan menghijau. Tetapi, di kala kemarau datang, ia pun menjadi kering kerontang,mati sia-sia, tanpa bisa di tolong lagi.

  Secara simbolis, peribahasa ini mengajak manusia agar bercermin pada ikan,ketam,anggang-anggang,serta binatang-binatang air lainnya yang hidup di sungai. Meskipun berbeda-beda, tetapi komunitas di sana terasa damai. Mereka se-iya se-kata,membangun kebersamaan hdup serasi sapanjang waktu.Artinya, mengamalkan atau mengupayakan sesuatu secara bersama-sama.Sementara itu, yang berbeda di jadikan semacam  karangan bunga guna menyemarakan kebersamaan mereka.Dengan demikian , keakraban pun terjalin bukan semata-mata dalam hubungan lahir, tetapi terpatri hingga ke hati sanubari. Dalam pandangan orang jawa, sikap tersebut sama halnya telah mengamalkan nilai manjing ajur-ajer, momor momot, nggedhong nyunggi orang lain, seperti halnya nggendhong nyunggi diri sendiri.