Tuesday, March 31, 2015

Peribahasa "Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung"



Hasil gambar untuk orang jawa sabar

Artinya, rawe-rawe (tanaman merambat yang buahnya berwarna cokelat penuh miang yang menuat gatal), rantas (putus), malang-malang (melintang), putung (patah).Terjemahan bebasnya, jika ada tanaman rawe akan diputus, sedangkan yang melintang akan dipatahkan.Semboyan atau tekad untuk menghapus kezhaliman yang mencekeram masyarakat, apa pun yang dihadapi akan dilawan habis-habisan apabila sudah di luar perikemanusiaan.


Peribahasa ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa orang jawa memiliki  kehormatan dan harga diri. Seandainya kehormatan dan harga diri tersebut diinjak-injak, mereka siap membelanya sampai mati.Beberapa aspek yang sangat dimuliakan dan dijaga tersebut, antara lain kepercayaan masyarakat, kemanusiaan, keselamatan orang banyak, kemerdekaan bangsa dan negara. Meskipun ungkapan ini terkesan keras, tetapi bukan merupakan tantangan.Bagaimanapun, orang jawa sangat mendambakan kehidupan cinta damai, maka tidak mungkin menyalakan api pertikaian.Ketika membela diri, mereka siap sampai mati.Namun, kalau memulai sengketa dan peperangan, haram dilaksanakan bagi orang-orang jawa.

Monday, March 30, 2015

Peribahasa "Yoga Angangga Yogi"


Artinya, yoga (anak atau murid), angangga (menyerupai atau meniru),yogi (pendeta).Terjemahan bebasnya, anak berbadan pendeta.Atau, lebih tepatnya, cara berpikir dan berbuat seorang anak atau murid yang banyak mirip dengan gurunya.


Image result for Jawa gagah
Peribahasa ini menjadi peringatan besar bagi semua guru, atau siapa pun yang menjadi panutan masyarakat.Karena jarwa dhsok-nya guru adalah digugu dan ditiru, maka setiap perkataan maupun ajarannya akan di perhatikan.Tindak perbuatannya pun akan ditiru oleh orang lain.Dalam peribahasa Indonesia ; guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Dalam banyak kasus, pendeta atau guru maupun ulama sering menjadi idola banyak orang (dalam komunitasnya).Contohnya, seluruh kata dan perbuatan nabi atau Rasul akan menjadi panutan umatnya.Apabila pembenaran dan pengidolaan terhadap guru atau tokoh panutan itu sudah sedemikian merasuk ke dalam hati sanubari, bukan mustahil hal tersebut  sampai kepada hal-hal yang sesungguhnya kurang tepat.Karena itulah, para guru sebaiknya berhati-hati, dengan senantiasa menjaga perkataan dan perilakunya.Artinya, guru benar-benar harus bisa menjadi suri tauladan murid maupun masyarakat sekitarnya.

Peribahasa "Legon Lemar Luput Ketiwar"


Artinya, legon (tunas pohon kelor), lemar (daun kelor untuk obat), luput (salah), ketiwar (terlantar)Terjemahan babasnya, tunas dan daun pohon kelor tidak akan terlantar karena dapat digunakan untuk obat (bermanfaat).

Image result for daun kelor
Peribahasa ini menasihati, sesuatu yang bermanfaat (dapat diambil faedahnya) tidak akan dibuang.Contohnya, tunas dan daun pohon kelor tersebut.Demkian pula manusia.Manakal yang bersangkutan memiliki kemampuan, keterampilan, atau kepandaian yang bermanfaat bagi orang banyak tentu akan dimintai tolong.Dengan demikian, dia pun akan memperoleh penghargaan, jasa, atau upah atas bantuannya tersebut.


Contohnya; seseorang yang pandai bicara, tutur katanya halus, runtut, lancar, dan fasih dalam bahasa jawa, akan sering dimintai tolong sebagai pranata adicara (MC) dalam setiap hajatan.Meskipun tidak menyatakan dirinya `profesional` , tetapi dari setiap kegiatannya itu dia akan memperoleh honor dar yang mempunyai hajatan.Dengan demikian, setiap orang yang memiliki bakat dan potensi tertentu sebaiknya ditumbuhkan sehingga murakabi masyarakat.Jangan sekali-kali membiarkan tidak berkembang atau membunuhnya sama sekali.

Peribahasa "Kriwikan Dadi Grojogan"

Hasil gambar untuk air terjun


Artinya, kriwikan (aliran air yang sangat kecil),dadi grojogan (menjadi air terjun).

Peribahasa ini diangkat dari realitas alam yang terjadi di sekitar kita.Bahwa semua sumber air di gunung ternyata sangat kecil.Kadang hanya sebesar kolam, kemudian mengalir sebagai parit, lantas membesar hingga menjadi sungai.Dan, ketika sudah di hilir sungai tersebut akan menjadi sangat besar dan ganas.

Hakikatnya, masalah kecil dan sepele apabila dibiarkan akan berubah jadi besar dan membahayakan.Sementara itu, masalah besar itu digambarkan sebagai pusaran ai terjun  yang dapat menenggelamkan dan mematikan  orang tak bisa berenag dengan baik.Makna peribahasa ini mirip dengan peribahasa lain yaitu kemladheyan ngajak sempal . Oleh karena itu, setiap mempuyai bibit perkara, sebaiknya diselesaikan secepat mungkin.Jangan malah dibiarkan berlarut-larut.Sebab, kalau tidak segera ditanggulangi akan terjadi akumulasi masalah.Manakala maslah tadi meledak, ibarat berenang di bawah air terjun, siapa pun akan sulit lolos dari pusaran air yang menggelegak tersebut.

Saturday, March 28, 2015

Peribahasa "Wastra Lungsed ing Sampiran"


Artinya, wastra (pakaian / kain), lungsed (lusuh),ing sampiran (di tali tempat menggatungkan pakaian).

Image result for pakaian jawa
Terjemahan bebasnya, pakaian menjadi lusuh karena terlalu lama di biarkan tergantung dan tidak dipakai.

Pesan dari peribahasa ini menggambarkan ilmu pengetahuan yang tidak pernah di manfaatkan akhirnya benar-benar tidak berguna dan di lupakan orang.Di samping itu, ungkapan itu juga menyindir keberadaan orang pandai di suatu tempat, tetapi tidak pernah memanfaatkan keahliannya oleh dirinya sendiri ataupun masyarakat di lingkungannya.

Contohnya, di sebuah kampung tinggallah seorang dalang yang mumpuni.Hanya saja, dia kurang diminati mendalang karena miskin.Hidup kesehariannya hanya bertani dengan penghasilan pas-pasan, sehingga tidak mampu membeli wayang dan gamelan.Padahal, ilmu dan kemampuan mendalang yang dimiliki tidak kalah dari dalang-dalang kondang lainnya..Akibatnya, setelah dalang tadi tua, masyarakat benar-benar melupakannya.Tidak seorang pun yang tergerak hatinya untuk belajar menimba ilmu mendalang kepadanya.Nah, setelah sang dalang meninggal, barulah mereka menyesal.Terlebih, ketika ada anak-anak muda yang ingin belajar mendalang, tetapi tidak tahu harus belajar kepada siapa.Nasib dalang itu benar-benar seperti wasta lungsed ing sampiran.

Peribahasa "tanpa bandha,digjdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake"

Hasil gambar untuk sakti kekuatan

Artinya, sugih tanpa bandha (kaya tanpa harta), digdaya tanpa aji (sakti tanpa azimat), nglurug tanpa bala (menyerbu tanpa pasukan), menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan)

Image result for pakaian jawa
Peribahasa ini merupakan salah satu ajaran R.M Sosrokartono.Maknanya, orang harus belajar menerima dengan pasrah.Sepi dari pamrih, jauh dari rasa takut.Karena itulah, selamanya tiada perasaan susah atau gembira, sehingga tenang dalam menghadapi segala sesuatu di dunia.

Inti ajaran ini seakan berkata, janganlah mengandalkan kekayaan duniawi, tetapi perbanyaklah harta yang bersifat batiniah.Sebab, harta duniawi dapat habis, sedangkan kekayaan batin akan terus bertambah setiap kali dimanfaatkan.Jangan mengandalkan mantra dan azimat, tetapi upayakan membangun kesaktian pribadi dengan meperbaiki kepribadian serta menambah ilmu pengetahuan secara keseluruhan.Jangan mengandalkan bantuan orang untuk menyelesaikan segala permasalahan, tetapi selesaikan seorang diri dengan gagah.Artinya, jadilah orang yang mandiri.Jangan suka meminta tolong kepada orang lain, tetapi sukalah memberikan pertolongan kepada orang lain.Meskipun menag, tetapi jangan suka merendahkan yang dikalahkan.

Friday, March 27, 2015

Peribahasa "Ana Dhaulate, Ora Ana Begjane"


Artinya,ana dhaulate (ada kemampuan atau potensi), ora ana begjane (tidak ada keberuntungan).


Image result for pakaian jawa
Terjemahan bebasnya, memiliki potensi atau kemampuan cukup, tetapi tidak punya keberuntungan.Ini merupakan  gambaran tentang orang yang memilki  modal serta kemampuan cukup dalam mewujudkan segala sesuatu.Namun,  apa yang dicita-citakan sering kali gagal. Peribahasa ini mengingatkan bahwa rezeki dan keberuntungan adalah pemberian Allah SWT.Artinya, semua yang sudah digariskan, tidak bisa diingkari, apa pun wujudnya.


Masyarakat jawa sering diingatkan bahwa kepandaian, kekayaan, kesaktian, kecerdasan terkadang sangat tidak berguna,kalah dari keberuntungan. Tanpa adanya keberuntungan atau rezekinya, segala sesuatu yang dicita-citakan mustahil tercapai, meskipun telah diupayakan semaksimal mungkin.Ibaratnya sudah bekerja keras, malam dijadikan siang, kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala, bisa saja hasilnya nihil.Rezeki ada, tetapi sebentar saja kemudian lenyap.Misalnya, seorang karyawan kontrak yang sudah bekerja selama hampir dua tahun, dia berharap untuk di jadikan karyawan permanen.Dia sudah bekerja dengan baik dan disiplin, tapi tak disangka dia habis kontrak juga.Sedangkan karyawan yang lain ada yang dipermanenkan walaupun kerjanya asal-asalan.Karena karyawan yang lain tadi sudah pandai merayu atau mendekati atasan sehingga dialah yang diangkat.Berarti karyawan tadi tidak mempunyai rezeki di perusahaan itu atau rezekinya hanya sebentar saja yaitu saat masih bekerja sebagai karyawan kontrak.

Peribahasa "Ora Keras Yen Keris, Ora Keris Yen Keras"

Hasil gambar untuk keris

Artinya, Ora keras (tidak keras bicaranya), yen keris (asalkan keris), ora keris (tidak keris), yen keras (asalkan keras bicaranya).

Terjemahannya dadalah tidak keras berbicara asalkan memakai keris, tidak memakai keris asalkan keras bicaranya.Pesan tersembunyi di balik peribahasa ini adalah, meskipun tidak gagah (kaya), tetapi sifatnya mulia. Meskipun tidak bekerja (tidak kaya), tetapi mempunyai gelar. Meskipun tidak bergelar, asalkan bekerja.


Dari beberapa makna yang disampaikan, menunjukkan bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna. Misalnya, jarang ada orang kaya yang sekaligus berhati mulia. Oleh karena itu, meskipun kita bukan manusia sempurna, tetapi harus berusaha memiliki nilai lebih, sehingga berguna bagi diri sendiri maupun masyarakat.Jadi, karena tidak kaya (sehingga tidak dapat bersedekah banyak bagi orang lain), kita perlu memiliki perangai mulia agar berguna bagi orang lain. Meskipun tidak kaya, perlu memilki kepandaian untuk bekerja.Meskipun tidak mempunyai gelar atau ilmu, yang penting dapat bekerja sesuai kemampuan yang dimiliki, sehingga tidak menjadi beban orang lain.Intinya, kekayaan, ilmu pengetahuan, dan keterampilan sangat dibutuhkan manusia.Semua itu dapat menjadi bekal untuk menempuh kehidupan di dunia.

Thursday, March 26, 2015

Peribahasa "Sinau Maca mawi Kaca, Sinau Maos mawi Raos"



Artinya,Sinau maca mawi kaca (belajar membaca dengan kaca atau cermin),sinau maos mawi raos (belajar membaca dengan rasa).

Image result for Jawa gagah
Ungkapan tersebut merupakan salah satu inti ajaran R.M Sosrokartono yang bermakna hati kita sesungguhnya juga berfungsi sebagai cermin untuk memantulkan perasaan orang lain.Sementara itu, belajar membaca dengan rasa adalah belajar menggunakan perasaan untuk untuk menemukan makna kehidupan dan kemanusiaan yang lebih luas.

Belajar membaca menggunakan cermin memiliki makna yang dalam.Artinya, bukan sekedar menggunakan pikiran, seperti anak kelas satu SD.Tetapi, sekaligus mengupas makna dari apa yang dipelajari serta membandingkannya dengan realitas yang terjadi di sekitarnya.Sedangkan membaca dengan rasa, berarti belajar mengolah rasa untuk memahami diri sendiri, orang lain, serta alam semesta, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata.

Dalam hidup keseharian, peribahasa ini layak diamalkan untuk menyadarkan bahwa menilai sesuatu tidaklah mudah.Misalnya, belum tentu orang kaya itu hidupnya bahagia.Belum tentu orang buta, batinnya juga buta.Jadi, untuk menilai diri sendiri perlu bercermin pada orang lain.Untuk menilai orang lain, di samping menggunakan nalar dan rasa yang halus atau peka, tapi juga jangan sampai terjebak oleh penampilan luarnya saja.



Tuesday, March 24, 2015

Peribahasa "Kebo Bule Mati Setra"



Artinya, kebo bule(kerbau berwarna pitih), mati setra (mati di kebun).

Image result for Jawa gagah
Di jawa, kerbau umumnya dimanfaatkan untuk membajak sawah.Sedangkan kerbau yang berwarna putih adalah perlambang orang yang berilmu, tetapi tidak pernah memanfaatkan ilmunya hingga akhir hayatnya.

Ada 3 kemungkinan yang melatarbelakangi kejadian seperti itu.Pertama, dia tidak ingin memanfaatkan (menyebarkan) ilmunya kepada orang lain.Kedua, orang-orang tidak mengetahui bahwa dia berilmu, sehingga tidak berusaha memanfaatkan ilmunya.Ketiga, orang lain sengaja tidak menimba ilmu darinya.Apapun alasannya, memiliki ilmu, tetapi tidak dikembangkan, merupakan sikap yang kurang terpuji.Di jawa, ada pendapat yang mengatakan bahwa semua yang di peroleh dari orang lain (termasuk  ilmu) harus di manfaatkan untuk kehidupan banyak kalangan.Jadi, bukan untuk kepentingan pribadi saja.Maka, kalau sampai mati ilmu tersebut belum juga di wariskan, artinya sama saja membuat ilmu itu ikut mati (tidak berguna lagi bagi kemanusiaan).Padahal, mewariskan ilmu itu cukup mudah.

Sunday, March 22, 2015

Peribahasa "Agama , Ageming Aji"

Artinya, Agama (agama), Ageming Aji (usana berharga).

Image result for Jawa gagah
Peribahasa ini lahir dari kepercayaan batin yang dilandasi rasa ketuhanan orang jawa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan di dalam hidupnya.Dalam pandangan orang jawa, agama bukan hanya di pahami dalam tataran rasio atau kognitif saja, melainkan harus di yakini hingga menyentuh hati dan diamalkan dalam setiap perbuatan.Karena itulah, agama lebih sebagai ageman (busana / pakaian).Sedangkan yang disebut aji disini merupakan simbolisasi dari raja, atau pemegang tampuk kekuasaan negara.Bagi seorang pemimpin, dalam menjalankan roda pemerintahannya diharapkan selalu berpedoman pada nilai ajaran agama.Atau, dengan kata lain, seluruh kebijakannya harus berpedoman pada nilai-nilai agama yang dianut rakyat.

Dengan bertindak seperti itu, sang pemimpin akan terbebas dari perbuatan negatif yang bertentangan dengan agama, maupun yang menyengsarakan masyarakat luas.Prinsipnya, orang jawa menghendaki pemimpin negaranya juga menjadi pemimpin umat beragama.Mengapa demikian ?   Karena, seorang pemimpin yang agamis selalu bertindak berlandaskan ajaran agama dalam menyantuni banyak kalangan.Dengan berbuat demikian, ia menjadi pantas diaji-aji ,diajeni ,dihargai atas kebijaksanaannya yang dapat diterima oleh agama serta rakyatnya.

Wednesday, March 18, 2015

Peribahasa "Murid Gurune Pribadi,Guru Muride Pribadi, Pamulange Sengsarane Sesami, Ganjarane Ayu Lan Arume Sesami"


Artinya, murid grurune pribadi (murid gurunya pribadi),guru muride pribadi (guru muridnya diri sendiri),pemulange sesami (tempat belajarnya penderitaan sesama),ganjarane ayu lan arume sesami (hadiahnya kebaikan dan keharuman sesama).Ungkapan `murid gurunya pribadi` dan `guru muridnya diri pribadi`mengandung maknabahwa di dalam diri seseorang terdapat potensi'guru` dan murid.
Pengertiannya, di dalam diri manusia terdapat jiwa guru sejati, sekaligus jiwa murid dari sang guru sejati.
Image result for pakaian jawa
Adapu yang dimaksud tempat belajarnya penderitaan sesama adalah realitas kehidupan itu sendiri.Seseorang akan menjadi cerdas dan arif manakala benar-benar mempelajari kehidupan dengan cermat, jujur, dan terbuka.Apalagi seseorang telah memperoleh ilmu dan hikmah dari pelajaran mengenai kehidupan, dia akan mendapatkan semacam hadiah atau ganjaran, yaitu kearifan, kepribadian yang baik, tenggang rasa tinggi, serta kemampuan yang cukup untuk hidup dan berguna di lingkungannya.Dengan demikian, dia akan memperoleh keharuman nama, karena seluruh kebaikan yang dimiliki berhasil diamalkan kepada orang di sekitarnya.

Monday, March 16, 2015

Peribahasa "Kocak Tandha Lokak"


Artinya, kocak (suara air berguncang dalam suatu tempat), tandha lokak (tanda tidak penuh atau dangkal).

Gambaran orang yang berilmu dan berkepribadian yang belum mumpuni, namun sudah banyak omong kosong untuk menyembunyikan kekurangannya.Maka peribahasa ini sejalan dengan peribahasa indonesia yang sudah sangat populer yaitu tong kosong nyaring bunyinya.


Contohnya, seorang pemuda desa yang baru saja bekerja di kota.Ketika beberapa bulan kemudian pulang, tiba-tiba ada perubahan drastis yang membuat tetangga kanan dan kiri menjadi terheran.Bagaimana tidak ? seluruh cita rasa ndeso atau kampungnya sudah lenyap.Pakaian, gaya bicara, sudah meniru cara orang-orang yang ada di perkotaan.Tradisi pedesaan yang selama hampir 20 tahun dianutnya sejak kecil seolah raib begitu saja.Menurut tetangga, sikap seperti itu terkesan wagu, naif, bahkan arogan.Jauh berbeda dengan orang kota asli yang rasa kota-nya saudah jadi.Sementara dia belum, ini terkesan dibuat-buat.Artinya, dia bukan orang kota dan belum menjadi orang kota.Jadi pemuda ini tidak ada bedanya seperti air tadi.Jika belum penuh betul di dalam sebuah wadah, maka air itu hanya akan terguncang keras.

Saturday, March 14, 2015

Peribahasa "Durung Punjul Keselak Jujul, Durung Pecus Keselak Besus

Artinya, durung punjul (belum lebih),keselak jujul (keburu ingin panjang),durung pecus(belum bisa), keselak besus (keburu bersolek).

Image result for pakaian jawa
Peribahasa ini sering ditujukan kepada orang muda yang terlampau ingin mendapat puji sanjung, meskipun sesungguhnya kemampuan yang dia miliki masih sangat rendah.

Contohnya, seorang mahasiswa yang tengah gandrung teori relativitas Einstein, tiba-tiba ia membawa pemikiran Einstein ke mana-mana. Meceritakannya kepada tema-temannya, para pemuda kampung, sampai-sampai menjadikannya sebagai bahan obrolan di pos ronda.Padahal, sesungguhnya dia baru membaca satu-dua buku mengenai Eistein.Itu pun bukan pemikiran asli, tetapi cuplikan-cuplikan pemikiran Einstein yang diangkat sebagai rujukan oleh penulis Indonesia dalam studi penelitiannya.

Seorang pemuda yang bekerja di Jakarta, sewaktu pulang ke desa tiba-tiba omongannya berubah.Bukan lagi menggunakan logat jawa, tetapi sudah menggunakan dialek Jakarta.Logat desa yang membesarkan lebih dari dua puluh tahun itu hilang sama sekali.Pertanyaannya, apakah dia benar-benar telah menjadi orang Jakarta ? Ataukah sekedar ingin dipuji bahwa saat ini dia bukan lagi anak desa, tetapi sudah menjadi warga ibu kota Republik Indonesia.

Thursday, March 12, 2015

Peribahasa "Durniti Wiku Manik Retna Adi"

Artinya, durniti (perbuatan tidak baik), wiku (pendeta),manik (intan / berlian), retna (indah), adi (indah / baik).

Image result for jowo ksatria
Terjemahannya; pendeta yang perbuatannya buruk bukanlah sosok yang baik atau indah, seperti intan berlian. Ungkapan tersebut dapat juga sebagai gambaran orang yang berilmu tinggi, tetapi tidak mengerjakan (mengamalkan) kebaikan sesuai ilmu yang dimilikinya.

Di sisi lain, peribahasa ini ingin menyampaikan bahwa orang berilmu tinggi belum tentu memiliki budi pekerti yang baik.Demikian pula sebaliknya, orang berbudi pekerti baik belum tentu ilmunya tinggi. Contohnya; banyak pejabat pusat ataupun daerah terlibat korupsi.Padahal, semuanya berpendidikan tinggi, kehidupannya pun mapan dan berkecukupan. Artinya, derajat,pangkat,yang mereka punya  mengapa masih juga korupsi.

Wabah korupsi di kalangan pejabat negara Indonesia membuktikan bahwa antara pendidikan (ilmu pengetahuan) dan budi pekerti seseorang terkadang memang tidak sejalan.Pendidikan berpengaruh mencerdaskan nalar atau rasio.Sedangkan budi pekerti yang memiliki posisi berbeda dengan ilmu.Budi adalah alat batin yang merupakan perpaduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk.Sedangkan pekerti adalah perangai,tabiat,akhlak,watak,atau perbuatan.Jadi, ilmu saja belum cukup untuk membangun budi pekerti yang baik bagi kebanyakan orang.