Thursday, April 30, 2015

Gabah Digegem Buthuken, Disebar Lemah Ngembaki Sawah (( mengatasi permasalahan hidup ))





Artinya, gabah digegem buthuken (gabah yang lama digenggam akan membusuk), disebar lemah (disebar ketanah), ngebaki sawah (tumbuh memenuhi sawah). Terjemahan bebasnya, terlampau lama gabah itu digenggam, hanya akan membusuk. Tetapi, kalau disebar (ditanam) di sawah, gabah itu akan tumbuh dan bermanfaat.

Peribahasa ini menasihati agar segala sesuatu yang dimiliki jangan dibiarkan rusak begitu saja. Sebaiknya ''disebarkan'', dalam arti dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan umat manusia. Misalnya, seorang pedagang kaya, seyogyanya tidak hanya menyedekahkan uang dan barang saja, tetapi juga memberikan bimbingan keterampilan berdagang (berusaha) kepada generasi muda.

Dengan menyebarkan pengetahuan dan keterampilan tadi, sama halnya dia telah memberikan mata kail kepada orang lain, sehingga mereka mampu mencari ikan sendiri di sungai. Jadi, makna menebar benih ke sawah bukan saja mengarah pada '' panen padi '', tetapi membuka peluang (kesempatan) kerja bagi banyak orang dan melestarikan lingkungan hidup. Menyebarkan atau berbagi kelebihan yang kita miliki kepada orang lain adalah perbuatan mulia, karena kebersamaan adalah ciri khas manusia berbudaya.

Wednesday, April 29, 2015

NASIHAT HIDUP ORANG JAWA ( Dora Sembada ) ___Mengatasi permasalahan hidup




Artinya, berbohong demi kebaikan. Dengan kata lain, meskipun bedusta, tetapi di balik dustanya itu mempunyai maksud baik. Sikap ini umumnya ditempuh untuk menghindari akibat yang tidak diharapkan demi kebaikan semuanya. Sebab, di balik itu semua terdapat rahasia yang tidak mungkin dibeberkan.

Contohnya, seorang tetangga dekat datang untuk meminjam motor. Meskipun saat itu si pemotor sedang menganggur, tetapi pemiliknya mengatakan bahwa sebentar lagi motor akan dipakai rapat ke kantor. Alasan apat itu sebenarmnya hanya dibuat-buat. Sedangkan duduk permasalahannya adalah karena si pemilik jengkel terhadap tetangganya. Sebab, dia sudah sangat sering pinjam motor. Meminjam motor itu pun tanpa mengenal waktu. Padahal, setiap kali meminjam, motor selalu digunakan bukan untuk urusan-urusan penting dan mendesak, namun hanya untuk hal-hal yang sangat sepele. Selain itu, kalau ada yang kurang beres dengan motor yang dipinjamnya, ia tidak mau bertanggung jawab. Karena itu si pemilik jadi benar-benar jengkel, tetapi, kalau hal itu disampaikan secara terbuka kepada yang bersangkutan, jelas tidak mungkin. Akibatnya, dia memilih metodedora sembada untuk menyelamatkan diri, agar tidak membuat sakit hati tetangga yang permintaanya ditolak.

Kepercayaan (Siji Pesthi, Loro Jodho, Telu Wahyu, Papat Kodrat, Lima Bandha)

Artinya, siji pesthi (satu takdir),loro jodho (dua jodoh),telu wahyu (tiga wahyu),papat kodrat (empat kodrat),lima bandha (lima rezeki).Peribahasa ini mengingatkan kita akan lima hak prerogatif Allah terhadap umat manusia.Peribahasa ini biasanya digunakan untuk menyadarkan atau menghibur orang mereka yang merasa harapan hidupnya tidak tercapai.

Misalnya, seorang gadis benar-benar putus asa karena calon suaminya yang tentara telah gugur di medan tugas.Bertahun-tahun dia tidak mau berhubungan dengan laki-laki, suka menyendiri, melamun.Untunglah pamannya yang sejak kecil dekat dengan dia berhasil menghibur dan menyadarkannya.Bahwa jodoh itu ditentukan oleh Allah.Manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Allah juga yang menetapkan jadi atau tidaknya hubungan mereka berdua.

Ada pula kejadian lain.Seorang pedagang yang terus-menerus merugi datang ke dukun untuk meminta pertolongan agar usahanya bagus.Caranya, terserah si dukun.Apa pun yang disyaratkan dukun akan disnggupi si pedagang.Ternyata, apa yang diperoleh dari dukun tadi hanyalah nasihat, bukan mantra dan lelaku ritual seperti pernah didengarnya selama ini.Prinsipnya, pak dukun memberi tahu, rezeki itu pemberian Allah. Jadi, yang penting bersabar sambil berdoa disertai dengan usaha, nanti Allah akan mengabulkan permintaan kita.

Tuesday, April 28, 2015

Weruh Grubyuk, Ora Weruh Rembug (( sikap dan perbuatan tidak terpuji ))

Weruh Grubyuk , Ora Weruh Rembug


Artinya, weruh grubuk (melihat langkah kaki orang banyak), ora weruh rembug (tidak melihat pembicaraan). Jadi, tejemahan bebasnya, mengetahui langkah kai banyak orang, tetapi tidak tahu atau tidak mengikti pembicaraan mereka.

Menggambarkan bagaimana sifat seseorang yang suka terlibat persoalan masyarakat. Artinya, selalu aktif mengikuti gerak dinamika di sekitarnya, namun sekadar anut grubyuk. Sekadar ikut-ikutan, tanpa mengerti benar apa yang terjadi, atau apa yang etngah dihebohkan serta menjadi tujuan masyarakat di sekitarnya.

Sikap ini terbilang buruk karena mengindikasikan sesungguhnya dia tidak mau terlibat sepenuhnya dalam urusan masyarakat. Atau, memang orientasinya sekadar ikut-ikutan, tanpa ingin bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan hasilnya. Biasanya, peribahasa ini ditujukan kepada mereka yang cenderung dinilai bodoh, tidak punya pendirian, tidak punya inisiatif, serta tenggung jawabnya rendah. Posisinya pun hanya dianggap sebagai penggembira. Oleh karena itu, jarang memperoleh kepercayaan dan penghargaan masyarakat. Sebab, jika diberi kepercayaan dia sering meleset karena memang tidak mengetahui dengan tepat bagaimana melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.

Monday, April 27, 2015

Tumbak Cucukan adalah salah satu sikap dan perbuatan tidak terpuji.

Selamat di sudihardi.com...
Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menjelaskan apa arti dari peribahasa jawa "Tumbak Cucukan".

Artinya, tumbak (tombak), cucukan (galah bambu yang kedua ujungnya runcing untuk memikul jerami). Terejemahan bebasnya, tombak yang runcing kedua ujungnya, sehingga dapat digunakan sebagai senjata ataupun untuk memikul jerami.


Peribahasa ini menggambarkan orang yang punya tabiat suka mengadu kesana-kemari. Biasanya, pengaduan itu dibumbui macam-macam supaya terkesan apa yang disampaikan oleh orang yang diberi tahu. Sepintas lalu, sifat uyang digambarkan peribahasa ini merip setan nggawa ting ,namun lebih berbahaya intervensi tumbak cucukan.

Sifat tumbak cucukan dinilai lebih buruk karena benar-benar melakukan intervensi negatif, yaitu mencocok kesana-kemari. Dimungkinkan sekali bukan hanya dengan kata-kata, melainkan sudah menggunakan tindakan fisik segala. Dalam kisah pewayangan, tokoh yang sering diamggap tumbak cucukan karena perilaku dan kata-katanya adalah Begawan Drona. Berkali-kali dia mengadu kurawa dan pandawa, hingga terjadi perselisihan dan pertempuran yang merugikan masing-masing.


Sunday, April 26, 2015

Sumengka Pengawak Braja (( sikap dan perbuatan tidak terpuji ))





Artinya, sumengka (naik atau menanjak), pengawak (laksana), braja (angin puyuh). Terjemahan bebasnya, berjalan naik seperti angin puyuh. Makna yang dikandungnya, orang yang menginginkan sesuatu yang tidak pantas atau tidak pada tempatnya.

Semua orang mempunyai cita-cita, keinginan, dan harapan. Namun, belum tentu cita-cita atau keinginan tersebut layak diwujudkan. Contohnya, seorang kuli pasar bercita-cita menjadi pedagang sukses. Punya toko banyak, dagangan melimpah ruah, hidupnya pun jadi bergelimpangan harta sedemikian banyak. Meskipun disertai kerja keras membanting tulang setiap hari, agaknya cita-cita itu masih sangat jauh dari kenyataan. Apalagi, dia tidak memiliki modal, keterampilan, relasi luas, dan wawasan berdagang yang baik. Maka, apabila keinginan it di coba-coba diwujudkan deengan menghalalkan bermacam-macam cara, jelas akan sangat membahayakan kehidupannya.

Secara tidak langsung, peribahasa ini mengingatkan, meskipun hanya cita-cita, namun tetaplah berhati-hati dengan cita-cita tersebut. Jangan sampai punya keinginan yang ngayawara, terlampau tinggi, yang semata-mata merupakan dorongan hawa nafsu belaka. Bagaimanapun, ketika memiliki cita-cita tinggi, maka seseorang harus bisa mengukur kemampuan diri sendiri agar usaha yang dilakukan tidak menjadi sia-sia.

Saturday, April 25, 2015

Sing Lanang Nguyangake, Sing Wadon Nempurake (( sikap dan perbuatan tidak terpuji ))





Artiya, sing lanang (yang laki-laki), nguyangake (menjual padinya di sawah), sing wadon (yang perempuan), nempurake (menjual berasnya). Terjemahan bebasnya, di antara suami-istri, yang laki-laki menjual ijon padiya disawah tanpa diketahui istrinya. Setelah jadi beras, istrinya pun diam-diam menjual beras itu tanpa sepengetahuan suaminya.

Peribahasa ini menyiratkan bagaimana pasangan suami istri saling melakukan perselikngkuhan dan merahasiakan perbuatan itu terhadap masing-masing pihak. Perbuatan seperti ini sangat buruk dan akan berakibat fatal terhadap rumah tangga.Sebab, mereka tidak lagi se-ia se-kata dalam berbuat, dan terang-teragan meninggalkan semangat kebersamaan serta kesetiaan yang diikrarkan ketika menikah dulu.

Perselingkuhan tidak ubahnya menyimpan api dalam sekam, atau membiarkan musuh berkembang biak dalam selimut. Artinya, sewaktu-waktu persoalan tersebut dapat membesar, meledak, menghancurkan apa saja yang telah dibangun selama ini. Di jawa, perselingkuhan merupakan perbuatan buruk, dan sebaiknya dihndari. Jika terjadi permasalahan, sedini mungkin segeralah dibicarakan dan dipecahkan, bukan malah dibiarkan berlarut-larut hingga menggerogoti kehidupan rumah tangga.

Kepercayan (Ora Ana Kasekten Kang Madhani Pepesthen, Awit Pepesthen Ora Ana Kang Bisa Murungake)

Artinya, ora ana kaseketen madhani pepesthen (tidak ada kesaktian yang menyamai kepastian Allah),awit pepesthen ora ana kang bisa murungake (karena tidak ada yang dapat menggagalkan kehendak Allah).Gambaran kuatnya,Segala sesuatu di dunia ini hanya akan terjadi karena kehendak Allah.

Kekuatan nial peribahasa ini sering menjadi penguat bati bagi seseorang yang sedang menghadapi permasalahan gawat yang dapat mengancam jiwanya.Misalnya, ada seorang buruh bangunan yang difitnah dan dilaporkan kepada majikannya bahwa dia telah mencuri peralatan proyek yang cukup mahal.Meskipun diancam akan dipecat, ketika dipanggil majikannya, dia menghadapinya dengan santun dan percaya diri.Sebab, dirinya memang tidak mencuri.

Selain itu, dia juga tahu bahwa yang mencuri peralatan proyek adalah karyawan lain atas perintah anak majikan untuk menebus motor yang digadaikan karena kalah judi.

Jadi, meskipun harus membela diri dari belenggu fitnah di depan majikan yang berhak memecatnya, si buruh bangunan tidak merasa was-was.Karena, dia memang benar, dan tidak mungkin Allah membiarkan dirinya dipecat akibat fitnah belaka.

Friday, April 24, 2015

Sima Memangsa Tata Upaya (( sikap dan perbuatan tidak terpuji ))




Artinya, sima (harimau), memangsa (memangsa), tata (aturan), upaya (usaha yang mengarah kepada tipu daya atau fitnah). Terjemahannya adalah, harimau memangsa mencari mangsa) dengan menggunakan tipu daya, kelicikan, atau fitnah. Di sini, harimau menjadi simbol manusia rakus, berkuasa, dan suka memangsa sesama. Meskipun demikian, dalam menjalankan aksinya itu masih disertai tipu daya untuk memudahkan tercapainya keinginan yang dimaksud.

Perilaku seperti ini digambarkan dalam peribahasa ini sangat buruk, dansebaiknya dihindari. tidak sewajarnya jika manusia berbuat demikian karena memiliki moral, akhlak, dan peradaban. Sedangkan mereka yang nyata-nyata memiliki sifat seperti itu, kalau dapat, sebaiknya disadarkan. Namun, kalau nekat, sebaiknya untuk menghindari hal-hal yang diinginkan.

Contohnya, seorang penguasa kaya, namun sifatnya mirip harimau. Siapa pun yang melawan kehendaknya pasti dimangsa habis.

Thursday, April 23, 2015

Setan Nggawa Ting (( sikap dan perbuatan tidak terpuji ))




Artinya, setan membawa lentera atau pelita.Peribahasa ini mengkiaskan seseorang yang sua mengadu domba orang lain demi kepentingan diri sendiri.

Di mana pun, perbuatan seperti itu dinilai buruk, dan siapa pun yang mempunyai sifat suka mengadu domba akan dijauhi (dikucilkan) oleh masyarakat di lingkungannya. Padahal, kalau dicermati, hampir di setiap lingkungan sering terdapat sosok yang bertabiat suka mengadu domba. Artinya, menjual informasi ke mana-mana untuk mendapatkan keuntungan ala kadarnya.

Contohnya, dalam kampanye pemilu, banyak orang sengaja jual muka kepada caleg berbagai partai. Sekalian menginformasikan bahwa si A begini, si B demikian, dan si C begitu. Ibarat wayang, masing-masing caleg (calon legislatif) dipaksa bertempur (bermusuhan), dan untuk memenangkan pertempuran itu dirinya menyodorkan proposal strategi, lengkap dengan pembiayaannya. Orang yang punya tabiat setan nggawa ting umumnya pandai merayu, dan meyakinkan orang bahwa informasi yang disampaikan itu benar. Karena itulah, sebaiknya jangan mudah percaya terhadap bujukan yang terkesan ekstrem dari orang lain. Siapa tahu, di balik informasi itu tersembunyi maksud-maksud tertentu yang dapat merugikan banyak pihak.

Tuesday, April 21, 2015

Setan Nunggang Gajah (( sikap dan perbuatan tidak terpuji ))





Artinya, setan naik gajah. Terjemahan bebasnya, orang yang mau enaknya sendiri, tanpa memikirkan keadaan orang lain yang pernah menolongnya selama ini. Sikap perbuatan seperti itu terhitung buruk, dan sebaiknya jangan dilakukan karena akan menimbulkan sakit hati dan mungkin saja menuai pembalasan yang setimpal dari orang lain.

Contoh kejadian ini, di Jawa maupun du tempat lainnya, cukup banyak. Misalnya, calon legislatif, calon Bupati, Calon kepala desa, banyak dikabarkan setelah menduduki jabatan yang diincar, sering melupakan jasa ribuan orangyang mati-matian berjuang mendukungnya.

Mereka yang mendukung dikecewakan itu bersikap bermacam-macam. Ada yang diam, ada yang diam-diam terus berjuang untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri. Ada yang benar-benar sakit hati dan mencari celah peluang untuk  melampiaskan kekecewaan tersebut. Jika sudah demikian, calon petinggi itu di ibaratkan setan nuggang gajah .Benar-benar dikelilingi marabahaya. Sedikit saja berbuat salah, ngomong salah, orang-orang disekitarnya bukan membela, tapi malahan menghujatnya. Mengapa demikian ?     Karena, di mata pengikutnya, orang yang bersangkutan sudah menjadi setan ,bukan lagi pejabat atau pemimpin yang patut dicontoh dan dihormati masyarakat.

Monday, April 20, 2015

Selak Muluk Barang Kang Melok (( sikap dan perilaku tidak baik ))





Artinya, selak muluk (buru-bur ingin menikmati), barang kang melok (barang yang indah atau mahal). Terjemahan bebasnya, ingin segera menikmati barang yang indah atau mahal. Makna yang ingin disampaikan, orang yang ingin segera memiliki barang yang berharga, sehingga berani melanggar hukum.

Sikap seperti itu merupakan petanda yang bersangkutan tidak dapat mengendalikan haa nafsunya. Apalagi, cara untuk memenuhinya deengan berani melanggar hukum. Misalnya, seorang seorang bendahara suatu perusahaan. Mersa dirinya setiap hari mengurus uang banyak, lama-lama timbul keinginan ikut memanfaatkan kesempatan itu. Maka, tanpa berpikir panjang, ia mengambil sedikit demi sedikit dengan alasan meminjam. Nantinya setelah gajian akan dikembalikan lagi.

Hanya saja, karena perbuatannya tidak ketahuan atasannya, lama-lama jadi lupa dan menjadi keenakan. Uang yang dipakai makin membengkak, dan ternyata setiap gajian, ia tidak pernah mengangsurnya. Maka, apa yang akhirnya terjadi dapat dibayangkan. Ketika pada suatu saat ada pemeriksaan, barulah ketahuan bahwa si bendahara ternyata korupssi. Akibatnya, kepercayaan kepada dirinya habis seketika. Selain dipecat, gara-gara perbuatannya itu, dia juga harus berurusan dengan pihak berwajib.

Kepercayaan (Manungsa Winenang Ngudi,Purba Wasesa ing Astane Gusti)

Artinya, manungsa winenang ngudi (manusia berhak usaha),purba wasesa ing astane Gusti (kekuasaan tetap di tangan Allah).Ungkapan tersebut salah satu wujud dari kepercayaan spiritual di jawa yang mengakui bahwa manusia hanyalah titah sawantah ,yang seluruh lika-liku kehidupannya tak bisa ditentukan sendiri, melainkan tergantung pada kehendak Allah semata.Peribahasa ini sebagaimana ungkapan yang telah berlaku umum, yaitu manusia berusaha, Tuhan yang menentukannya.

Kepercayaan di dalam, peribahasa tersebut masih diamalkan oleh orang-orang jawa.Dengan demikian,mereka sangat paham dan sadar terhadap hukum sangkan paraning dumadi (asal usul kehidupan).Bahwa manusia itu diciptakan dan ada yang menciptakannya.Meskipun mungkin mereka lupa pada peribahasa ini, tetapi realitasnya, dalam perilaku keseharian mereka tetap berada dalam dimensi religiositas yang kental.Terbukti, peribahasa ini memiliki hubungan erat dengan peribahasa-peribahasa lainYaitu, alon-alon waton kelakon, kebat kliwat ngangsa marakake brahala, sabar subur, ana dina ana upa, ora obah ora mamah,  dan sebagainya.Walaupun demikian, toh  manusia bukan wayang.Mereka dibekali akal budi oleh Allah.Dengan karunia-Nya manusia hendaknya menyadari keterbatasannya.

Sunday, April 19, 2015

Ora Mundur Saka Pitutur, Ora Mendha Saka Pamrayoga (( sikap dan perilaku tidak baik ))




Artinya, ora mudur saka pitutur (tidak mundur dari nasihat), ora mendha saka pamrayoga (tidak berubah dari anjuran). Peribahasa ini merupakan gambaran dari orang yang sudah nggugu karepe dhewe (mengikuti kehendak sendiri) dan tidak mempan lagi dinasihati ataupun diberi petunjuk oleh orang lain.

Sikap seperti ini dinilai sangat buruk, dan akan membahayakan pribadi yang bersangkutan. Sebab, nasihat dan anjuran orang sudah tidak digubris lagi. Artinya, ia tidak peduli lagi terhadap orang lain, Karena dirinyalah yang dianggap paling benar. Contohnya; kejadia seperti ini cukup banyak, dan biasanya berakibat buruk terhadap yang bersangkutan.

Seorang penjaga malam nekat jadi pengedar narkoba ,karena selama ini penghasilannya tidak memadai untuk hidup sekeluarga. Dengan menjadi pengedar, dia dapat membangun rumah dan menyekolahkan anaknya dengan baik. Maka, walaupun teman dan saudaranya mengingatkan agar segera berhenti, nasihat mereka dianggap angin lalu. Untunglah, nasib baik cukup lama menyertainya. Namun, memasuki tahun kelima, semuanya berubah ketika jaringan peredaran narkoba itu terbongkar oleh polisi. Dia dipenjara kurungan 6 tahun ,sebagai sanksi atas pelanggaran hukum yang telah dilakukan selama ini.

Ora Mundur Saka Pitutur, Ora Mendha Saka Pamrayoga (( sikap dan perilaku tidak baik ))




Artinya, ora mudur saka pitutur (tidak mundur dari nasihat), ora mendha saka pamrayoga (tidak berubah dari anjuran). Peribahasa ini merupakan gambaran dari orang yang sudah nggugu karepe dhewe (mengikuti kehendak sendiri) dan tidak mempan lagi dinasihati ataupun diberi petunjuk oleh orang lain.

Sikap seperti ini dinilai sangat buruk, dan akan membahayakan pribadi yang bersangkutan. Sebab, nasihat dan anjuran orang sudah tidak digubris lagi. Artinya, ia tidak peduli lagi terhadap orang lain, Karena dirinyalah yang dianggap paling benar. Contohnya; kejadia seperti ini cukup banyak, dan biasanya berakibat buruk terhadap yang bersangkutan.

Seorang penjaga malam nekat jadi pengedar narkoba ,karena selama ini penghasilannya tidak memadai untuk hidup sekeluarga. Dengan menjadi pengedar, dia dapat membangun rumah dan menyekolahkan anaknya dengan baik. Maka, walaupun teman dan saudaranya mengingatkan agar segera berhenti, nasihat mereka dianggap angin lalu. Untunglah, nasib baik cukup lama menyertainya. Namun, memasuki tahun kelima, semuanya berubah ketika jaringan peredaran narkoba itu terbongkar oleh polisi. Dia dipenjara kurungan 6 tahun ,sebagai sanksi atas pelanggaran hukum yang telah dilakukan selama ini.

Ora Mundur Saka Pitutur, Ora Mendha Saka Pamrayoga (( sikap dan perilaku tidak baik ))




Artinya, ora mudur saka pitutur (tidak mundur dari nasihat), ora mendha saka pamrayoga (tidak berubah dari anjuran). Peribahasa ini merupakan gambaran dari orang yang sudah nggugu karepe dhewe (mengikuti kehendak sendiri) dan tidak mempan lagi dinasihati ataupun diberi petunjuk oleh orang lain.

Sikap seperti ini dinilai sangat buruk, dan akan membahayakan pribadi yang bersangkutan. Sebab, nasihat dan anjuran orang sudah tidak digubris lagi. Artinya, ia tidak peduli lagi terhadap orang lain, Karena dirinyalah yang dianggap paling benar. Contohnya; kejadia seperti ini cukup banyak, dan biasanya berakibat buruk terhadap yang bersangkutan.

Seorang penjaga malam nekat jadi pengedar narkoba ,karena selama ini penghasilannya tidak memadai untuk hidup sekeluarga. Dengan menjadi pengedar, dia dapat membangun rumah dan menyekolahkan anaknya dengan baik. Maka, walaupun teman dan saudaranya mengingatkan agar segera berhenti, nasihat mereka dianggap angin lalu. Untunglah, nasib baik cukup lama menyertainya. Namun, memasuki tahun kelima, semuanya berubah ketika jaringan peredaran narkoba itu terbongkar oleh polisi. Dia dipenjara kurungan 6 tahun ,sebagai sanksi atas pelanggaran hukum yang telah dilakukan selama ini.

Friday, April 17, 2015

Idu Didilat Maneh (( sikap dan perbuatan tidak terpuji ))






Artinya, ludah dijilat kembali.Terjemahannya adalah ludah yang sudah dibuang dijilat kembali. Gambaran sikap perilaku buruk, tidak tahu malu, menjijikkan, dan tidak disukai orang.

Peribahasa ini sering ditujukan kepada orang yang suka menipu, mengingkari janji, atau melanggar kata-katanya sendiri. Seharusnya, apa yang telah diucapkannya dipatuhi dan dijalankan dengan sungguh-sungguh. Tetapi, nyatanya beberapa waktu kemudian sudah ditarik kembali. Perilaku ini sangat membahayakan apabila dimiliki seorang pemimpin. Mengapa ?  Karena, sebagai seorang pemimpin dia harusnya memiliki ketetapan hati. Dia pun harus tegas dan konsekuen terhadap keputusan yang telah diambilnya. Jika seorang pemimpin mencla-mencle (keputusannya berubah-ubah), tentu akan membingungkan rakyatnya. Dan, kalaulah kebiasaan menjilat ludahnya kembali itu tidak juga dihilangkan, rakyat pastinya tidak mempercayainya lagi.

Thursday, April 16, 2015

NASIHAT HIDUP ORANG JAWA __ (Kridhaning Ati Ora Bisa Mbedhah Kuthaning Pesthi)

Artinya, kridhaning ati (perbuatan hati),ora bisa mbedhah (tidak dapat menjebol atau merobek), kuthaning pesthi (benteng takdir).Terjemahan bebasnya, betapa pun kerasnya kemauan atau keinginan hati yang disertai usaha mati-matian, ternyata tidak dapat mengalahkan takdir yang digariskan Allah.

Dalam pandangan hidup orang jawa yang berlandaskan ajaran agama yang dipeluknya (islam terutama), takdir manusia yang tidak dapat dipengaruhi oleh masing-masing pribadi meliputi kelahiran, kodrat, jodoh, rezeki, dan kematian.Misalnya, seorang pemuda begitu mencintai seorang gadis dan telah berusaha sekuat tenaga untuk menyuntingnya.Namun, ia akan tetap gagal jika kepastian jodoh yang digariskan Allah bukanlah gadis tersebut.

Oleh karena itu, para sesepuh di jawa senantiasa mengingatkan agar tak mencoba memaksakan kehendak (mempengaruhi) takdir yang telah digariskan tersebut.Seperti, demi mendapatkan gadis pujaan hati,seorang pemuda akhirnya menggunakan pelet (pengasihan).Ingin cepat kaya, maka akan mencari pesugihan dengan bekerja sama dengan setan.Semua itu merupakan dosa yang akan mendapatkanhukuman dari Allah.

Wednesday, April 15, 2015

NASIHAT HIDUP ORA JAWA __ Gajah Ngidak Rapah (( sikap dan perbuatan tidak terpuji ))





Artinya, gajah ngidak rapah (gajah menginjak dedaunan tebu kering). Gajah merupakan simbol pemimpin, sedangkan rapah adalah simbol dari ucapan sendiri. Jadi, peribahasa ini bermakna menggambarkan pemimpin yang tidak kensekuen atas apa yang diperintahkan, atau suka melanggar ketentuan yang digariskan sendiri.

Di jawa, pemimpin dianggap orang besar dan disamakan dengan gajah. Maka, binatang sebesar itu kalau menginjak daun-daun tebu kering, tentu daun-daun tadi akan hancur. Demikian pula jika pemimpin tidak menepati janji atau melanggar aturan yang telah dibuatnya sendiri. Janji dan peraturan tidak ada gunanya lagi, dan akan merugikan rakyatnya.

Sebagai pemimpin yang dipilih oleh rakyat dan menjadi panutan rakyat, yang bersangkutan seharusnya benar-benar memperhatikan kepentingan rakyatnya. Tutur kata dan tindakannya perlu dijaga karena jika salah menerapkannya akan berdampak luas dan kompleks. Soalnya, belum tentu rakyat selamanya kalah dan mengalah. Bagaimana misalnya di balik rapah itu terdapat duri yang tersembunyi ?    Dan, kalau kaki gajah sudah tertusuk duri itu, mungkinkah dia dapat mencabutnya sendiri ?

Monday, April 13, 2015

Diwenehi Ati Ngrogoh Rempela (( sikap dan perbuatan tidaak terpuji ))





Artinya, diwenehi ati (diberi hati),ngrogoh rempelo (merogoh ampela). Peribahasa seperti ini merupakan gambaran dari sikap buruk yang harus dihindari. Yaitu, meski sudah diberi kebaikan, ia masih meminta yang lebih dan bukan haknya.

Perbuatan seperti ini jangan sampai ditiru. Sebab, dengan melakukan perbuatan tersebut, membuktikan yang bersangkutan tidak mempunyai perasaan, tidak tahu berterima kasih, tidak punya malu sama sekali. Yang dikejar hanya memenuhi keinginan dirinya saja tanpa memperdulikan orang lain. Selain itu, peribahasa ini dapat pula menjadi petunjuk yang perlu diingat, bahwa pertimbangan. Artinya, jangan asal memberi sesuai permintaannya.Memberi pun sebaiknya hanya sekali atau dua kali, jangan terlalu sering agar tidaak berakibat buruk. Biasa sajayang diberi malah menjadi maja. Bahkan, karena setiap permiantaannya diluluskan, maka sekali waktu dia akan berani mengajukan permintaan yang tidak senonoh.

Karena itulah, si pemberi harus pandai-pandai menyiasati agar pemberian tadi tidak dipahami berbeda oleh si penerima.Memberi atau bersedekah  jelas merupakan amal yang baik. Tetapi, jika cara melakukannya kurang cermat, maka akan menjadi bener nanging kuang pener(benar, tetapi kurang tepat).

Sunday, April 12, 2015

NASIHAT HIDUP ORANG JAWA __ Yen Wani Aja Wedi-Wedi, Yen Wedi Aja Wani-Wani




Artinya, yen wani aja wedi-wedi (kalau berani, jangan takut-takut),  yen wedi ja kumawani (kalau takut, jangan sok berani). Ini merupakan peringatan agar dalam menghadapi masalah, siapa pun jangan gampang berkecil hati. Jangan maju-mundur atau setengah-setengah agar permasalahannya tidak berlarut-larut. Apabila berani, hadapi permasalahannya. Jangan takut-takut, tetapi kalau memang tidak berani, jangan nekat (sok berani) sebab akibatnya bisa fatal. Prinsipnya, orang harus berani dan bisa mengukur kemampuan diri sebelum melakukan sesuatu.


Contohnya, menghadapi ular kobra atau ular berbisa lainnya yang masuk ke rumah. Apabila memang berani dan tahu menaklukkan ular itu, silahkan berbuat. Tetapi, kalau takut, apalagi juga tidak tahu cara mengusirnya, sebaiknya mudur saja. Sebab, ular tidak dapat dilawan dengan kekuatan dan kekerasan belaka. Terlebih, bisa ular kobra sangat berbahaya dan mematikan. Satu hal yang pasti, berbuat penuh keberanian haruslah dilandasi kemepanan, mengerti atau menguasai masalah yang dihadapi, dan tahu cara menyelesaikannya. Berani hanya asal berani belum tentu ''menang'', alias hanya akan jadi pecundang.

Kepercayaan (Kaineban Lawang Tobat)

Artinya, kaineban (tertutup), lawang tobat (pintu taubat).Peribahasa ini menggambarkan nasib seorang yang keburu meninggal, sehingga tidak sempat bertaubat demi memperbaiki sikap atau perilakunya yang buruk (banyak berbuat dosa) selama hidup di dunia.

Contohnya, seorang pembegal yang telah menjalankan aksinya di sebuah jalan dan akhirnya tertangkap.Seperti kebiasaan yang telah lazim dimana-mana, begitu tertangkap, masyarakat menghajar pembegal habis-habisan.Akibatnya, pembegal itu meninggal mengenaskan.Mati sebagai pembegal, menurut pandangan orang,merupakan aib.Bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga dirasakan oleh keluarga, sahabat serta masyarakat di lingkungannya.

Apa yang digambarkan oleh peribahasa ini sebaiknya jangan terjadi pada diri kita.Memang, setiap orang mempunyai salah dan dosa.Namun, secepatnya harus disadari, bahwa seluruh perbuatan dosa itu akan memperoleh imbalannya masing-masing di akhirat.Oleh karena itu,sedikit demi sedikit, bergegaslah mengurangi keburukan dan dosa diri.Atau dengan kata lain, segeralah bertaubat sebelum dijemput maut.Sebab, jika sudah terlambat,sudah keineban lawang tobat ,tidak ada lagi yang dapat diperbaiki.Tidak ada lagi cara untuk menghapus noda hitam yang diperbuat selama menjadi manusia di dunia.

Ditumpes Sacindhile Abang (( Sikap dan Perbuatan Tidak terpuji ))




Artinya, ditumpes (dibunuh habis), sacindhile abang (sampai bayi merrahnya). Peribahasa ini menunjukkan tingkat kebencian kepada seseorang sampai-sampai yang bersangkutan disamakan dengan tikus. Betapa bencinya manusia terhadap tikus (sebagai binatang penggangggu) dapat dibuktikan manakala menemukan cindhil (anak tikus) di tempat tertentu. Tanpa ampun, anak tikus yang belum tahu apa-apa itu pasti dibunuh agar tidak menjadi tikus besar yang merugikan manusia.

Sikap antipatiyang sedemikian memuncak itu sesungguhnya merupakan dosa besar apabila dilaksanakan.Misalnya, ada rentenir yang menagih utang dengan paksa kepada buruh tani miskin. Karena berbulan-bulan belum dapat mengangsur pinjamannya, si rentenir mengancam akan menyita rumah dan tanah si buruh tani. Merasa dizhalimi, si buruh tani kehabisan akal.Pikiran jadi kacau dan tidak waras. Diam-diam, ia bersumpah di dalam hati, daripada keluarganya celaka tidak punya tempat tinggal lagi, lebih baik si rentenir dan keluarganya dibunuh saja. Biar tahu rsa anak keturunannya nanti juga jadi lintah darat yang hidup dari darah dan keringat orang lain.Daripada keluarganya yang hancur, lebih baik rentenir itu ditumpes sacindhile abang.

Saturday, April 11, 2015

DadiDalan Emoh Ngambah, Dadi Godhong Emoh Nyuwek, Dadi Banyu Emoh Nyawuk

SIKAP dan PERBUATAN yang TIDAK TERPUJI



Artinya, dadi dalan emoh ngambah (jadi jalan tidak mau dilewati), dadi godhong emoh nyuwek (jadi daun tidak mau merobek), dadi banyu emoh nyawuk (jadi air tidak mau menciduk). Ungakapan ini menggambarkan kebencian seseorang terhadap orang lain, sehingga menjatuhkan semacam 'kutukan' tidak mau bersentuhan atau berhubungan dengan orang itu lagi seumur hidup.

Biasanya sikap seperti ini bermula dari perselisihan yang menimbulkan permusuhan dan kebencian yang mendalam.Meskipun kejadian seperti ini merupakan kemungkinan yang wajar di dunia ini, namun sebaiknya dihindari. Mengapa demikian ?  Karena, permusuhan, baik yang besar maupun yang kecil, akan selalu menimbulkan dampak negatif bagi kedua belah pihak, serta masyarakat sekitarnya.

Dalam nasihat orang jawa, terdapat semboyan yang berbunyi  wani ngalah luhur wekasane.Jika nasihat ini dajalankan, artinya bila salah satu pihak berani menyatakan dirinya bersalah dan akhirnya mengalah, permusuhan yang besar dapat dihindari atau diredam sedini mungkin. Soalnya, manusia dilahirkan di dunia untuk mengatur dan menyejahterakan kehidupan di dunia ini.Jadi, mencegah atau menghindari perseteruan yang memicu kebencian adalah sebuah tugas mulia yang harus diemban oleh seluruh umat manusia.

DadiDalan Emoh Ngambah, Dadi Godhong Emoh Nyuwek, Dadi Banyu Emoh Nyawuk

SIKAP dan PERBUATAN yang TIDAK TERPUJI



Artinya, dadi dalan emoh ngambah (jadi jalan tidak mau dilewati), dadi godhong emoh nyuwek (jadi daun tidak mau merobek), dadi banyu emoh nyawuk (jadi air tidak mau menciduk). Ungakapan ini menggambarkan kebencian seseorang terhadap orang lain, sehingga menjatuhkan semacam 'kutukan' tidak mau bersentuhan atau berhubungan dengan orang itu lagi seumur hidup.

Biasanya sikap seperti ini bermula dari perselisihan yang menimbulkan permusuhan dan kebencian yang mendalam.Meskipun kejadian seperti ini merupakan kemungkinan yang wajar di dunia ini, namun sebaiknya dihindari. Mengapa demikian ?  Karena, permusuhan, baik yang besar maupun yang kecil, akan selalu menimbulkan dampak negatif bagi kedua belah pihak, serta masyarakat sekitarnya.

Dalam nasihat orang jawa, terdapat semboyan yang berbunyi  wani ngalah luhur wekasane.Jika nasihat ini dajalankan, artinya bila salah satu pihak berani menyatakan dirinya bersalah dan akhirnya mengalah, permusuhan yang besar dapat dihindari atau diredam sedini mungkin. Soalnya, manusia dilahirkan di dunia untuk mengatur dan menyejahterakan kehidupan di dunia ini.Jadi, mencegah atau menghindari perseteruan yang memicu kebencian adalah sebuah tugas mulia yang harus diemban oleh seluruh umat manusia.

DadiDalan Emoh Ngambah, Dadi Godhong Emoh Nyuwek, Dadi Banyu Emoh Nyawuk

SIKAP dan PERBUATAN yang TIDAK TERPUJI



Artinya, dadi dalan emoh ngambah (jadi jalan tidak mau dilewati), dadi godhong emoh nyuwek (jadi daun tidak mau merobek), dadi banyu emoh nyawuk (jadi air tidak mau menciduk). Ungakapan ini menggambarkan kebencian seseorang terhadap orang lain, sehingga menjatuhkan semacam 'kutukan' tidak mau bersentuhan atau berhubungan dengan orang itu lagi seumur hidup.

Biasanya sikap seperti ini bermula dari perselisihan yang menimbulkan permusuhan dan kebencian yang mendalam.Meskipun kejadian seperti ini merupakan kemungkinan yang wajar di dunia ini, namun sebaiknya dihindari. Mengapa demikian ?  Karena, permusuhan, baik yang besar maupun yang kecil, akan selalu menimbulkan dampak negatif bagi kedua belah pihak, serta masyarakat sekitarnya.

Dalam nasihat orang jawa, terdapat semboyan yang berbunyi  wani ngalah luhur wekasane.Jika nasihat ini dajalankan, artinya bila salah satu pihak berani menyatakan dirinya bersalah dan akhirnya mengalah, permusuhan yang besar dapat dihindari atau diredam sedini mungkin. Soalnya, manusia dilahirkan di dunia untuk mengatur dan menyejahterakan kehidupan di dunia ini.Jadi, mencegah atau menghindari perseteruan yang memicu kebencian adalah sebuah tugas mulia yang harus diemban oleh seluruh umat manusia.

Wednesday, April 8, 2015

kepercayaan (Gusti Allah Ora Sare)

Artinya, Gusti Allah Ora sare (Allah tidak tidur).Ungkapan ini adalah nasihat bagi manusia agar dalam menjalani kehidupan ini tak pernah berhenti memohon pertolongan dan petunjuk Tuhan.Di samping itu juga bermakna, jangan mudah tergelincir untuk berbuat dosa, karena Tuhan pasti tahu apa yang terjadi di dunia.Jadi, apa pun yang belum terucap,belum di perbuat,tersimpan di dalam hati, juga semua rahasia kita,Tuhan akan mengetahuinya.

Di dunia, manusia dikaruniai kebebasan seluas-luasnya oleh Tuhan.Ibaratnya, apa pun keinginannya dapat dicapai.Namun, mereka harus berhati-hati dan sadar bahwa seluruh perbuatannya diketahui dan di catat oleh Sang Pencipta.Karena itulah, orang tidak perlu menyombongkan dan memamerkan perbuatannya yang baik.Sebab, Allah akan tahu.Mungkin saja di balik keinginan yang berlebihan agar perbuatan baiknya diketahui orang banyak, justru tersimpan niat buruk yang sengaja disembunyikan.

Kesadaran bahwa hidup manusia itu selalu mendapat pengawasan dari Allah sangat ditekankan oleh orang jawa.Bagaimanapun, hanya dengan memiliki kesadaran itulah, orang tidak akan berlaku sembrono dan gegabah.Harapannya, keamanan, ketenangan, kesejahteraan, dan keadilan hidup dapat terwujud serta dirasakan oleh umat manusia.

Saturday, April 4, 2015

kepercayaan (Eling Sangkan Paraning Dumadi)

Artinya, eling (ingat), sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup).Peribahasa ini merupakan peringatan atau nasihat bahwa manusia berasal dari Allah, dan pada saatnya nanti akan kembali kepada-Nya.Maka dari itu, setiap orang harus selalu mengingatnya.Caranya, antara lain, dengan menghindari perbuatan buruk dengan berpegang teguh pada petunjuk lengkap yang diturunkan lewat para Rasul Allah.Semua itu dilakukan lantaran setiap orang juga harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di dunia kepada Sang Maha Kuasa.

Ungkapan ini sering dipakai oleh orang jawa untuk mengingatkan orang lain yang hidupnya boleh dikatakan 'RUSKA`. Tak peduli akan apa yang disebut dosa dan sebagainya.Apabila yang bersangkutan mau memahami, merenungkan dalam-dalam dan membuka hatinya lebar-lebar, tentunya akan sadar.Bahwa hidup di dunia sesungguhnya memikul tugas dari Tuhan, yaitu berbuat baik.Maka, apabila nilai perbuatannya di dunia buruk, tentu dia akan menerima hukuman berat, sedangkan jika nilainya baik, dia akan menerima ganjaran yang setimpal.Jadi, bagi mereka yang sering melakukan perbuatan tercela segeralah meninggalkannya.Bagi yang telah terbiasa berbuat baik, teruslah menjaga dan meningkatkan kebaikan sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah kepada kita.

Thursday, April 2, 2015

Aja Dadi Naga Mangsa Tanpa Cala (( sikap & perbuatan tidak terpuji ))

Hasil gambar untuk orang baik




Artinya, aja dadi naga (jangan jadi naga), magsaa tanpa cala (memangsa tanpa lampu).Terjemahan bebasnya, jangan menjadi naga yang memakan mangsanya tanpa pemebritahuan (penjelasan) secukupnya.Peribahasa ini memuat nasihat supaya jangan menjadi orang yang suka mencelakakan orang lain dengan tuduhan atau alasan tidak jelas.

Misalnya, ada seorang karyawan baru di sebuah perusahaan.Sejak awal, karyawan yang bersangkutan bekrja dengan baik, rajin, dan tertib. Namun, kenyataannya, ia sering kena marah dari atasannya.Alasannya macam-macam dan sering berubah, bahkan banyak yang tidak masuk akal.Meskipun demikian, karyawan baru itu tidak melawan.Ia menduga perlakuan atasannya itu merupakan ujian masa percobaan yang harus diterima.

Padahal, kejadian sesungguhnya tidak demikian.Sang atasan bukan menguji, tetapi benar-benar tidak suka kepadanya karena wajahnya mirip dengan orang dia benci sejak dulu waktu pertama kali kerja.Sikap seperti itu jelas sekali keliru, ini akan merugikan karyawannya, dan jangan sekali-kali ditiru.Semua tindakan harus memiliki alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.





Wednesday, April 1, 2015

Suku Jaja Teken Janggut (( perjuangan hidup ))

Hasil gambar untuk orang jawa sabar




Artinya,suku (kaki), jaja (dada), teken (tongkat), janggut (dagu).Terjemahan bebasnya, menggunakan dada sebagai kaki, meggunakan dagu sebagai tongkat.Pada satu sisi, menggambarkan orang sangat menderita dalam mewujudkan cita-citanya.Sedangkan di sisi lain, dapat pula diartikan sebagai kerja keras sampai-sampai tidak lagi memperdulikan keadaan dirinya.

Contohnya, seorang buruh serabutan yang mempunyai banyak anak.Untuk menghidupi keluarga, meyekolahkan anak, bayar pinjaman yang menumpuk, setiap harinya ia bekerja keras tidak megenal lelah.Apa pun dikerjakan, berapa pun upahnya diterima dengan senag hati.Kadang sampai malam dia belum berhenti.Nyaris tangan dan kakinya terus bergerak.Ibaratnya, malam dijadikan siang, rumah dijadikan sawah / ladang.

Peribahasa ini pun menasihati kita supaya mereka yang hidupnya masih kekurangan jangan sampai segan-segan bekerja keras membanting tulang.Wajar jika dada dijadikan kaki, dagu dijadikan tongkat karena karena orang harus bertanggung jawab terhadap kehidupan dirinya dan keluarganya.Situasi seperti itu bukan untuk dihindari (ditakuti), melainkan harus dijalani dengan ikhlas, sabar, tegar, dan tawakkal demi mewujudkan kahidupan yang lebih baik.