Saturday, August 29, 2015

Tekek Mati ing Ulone


Artinya, tekek (tokek), mati ing ulone (mati karena suaranya).Peribahasa ini menggambarkan seekor tokek yang mati akibat suaranya sendiri.Lebih jauh dapat dimaknai, seseorang yang mendapatkan kesialan gara-gara ucapan atau perkataannya yang juga membuat sakit hati orang lain.

Contohnya, ada seorang karyawan bagian produksi yang suka menjelek-jelekkan karyawan baru yang tidak disukai tanpa alasan jelas.Padahal, karyawan yang dijelek-jelekkan tadi kerjanya cukup baik, kerja samanya bagus, sikap atau perilakunya juga sopan dan ramah kepada setiap teman kerja.Tidak tahunya, bicaranya yang kebablasan itu sampai juga kepada pejabat yang berwenang.Beberapa hari kemudian, dia dipanggil kepala bagian personalia dan ditanya mengapa senantiasa menjelek-jelekkan karyawan baru tersebut.Apakah dia memiliki alasan yang kuat ? Apabila memang ada data yang akurat, perusahaan akan mempertimbangkan seksama dan mengambil tindakan yang tepat.Kalau tidak ada, kepala bagian menyarankan perbuatan seperti itu jangan dilanjutkan lagi.Sebab, sangat merugikan pihak yang selalu dijelek-jelekkan.Apalagi, menurut kepala bagian personalia tadi, karyawan yang dijelek-jelekkan itu bulan depan akan dinaikkan jabatannya oleh perusahaan sebagai pengawas bagian produksi.

Friday, August 21, 2015

Sedhakep Angawe-awe


 sedhakep (bersedekap atau melipat tangan di dada), angawe-awe (melambaikan tangan untuk memanggil).Terjemahan bebasnya, bersedekap ,tapi masih melambaikan tangan untuk memanggil.Makna yang ingin disampaikan peribahasa ini adalah ingin menghentikan kebiasaan buruk, tetapi kadang masih juga melakukannya karena tidak kuat menahan dorongan hawa nafsu yang bergejolak di batin.

Contohnya, seorang penjudi, setelah berulang kali kalah dan menghabiskan banyak sekali uang, dia bersumpah tidak akan berjudi lagi.Setiap melihat orang berjudi, ia senantiasa menghindar.Kemana pun pergi, ia tidak lagi membawa banyak uang, hanya secukupnya sesuai keperluan saja.Pokoknya, ia benar-benar ingin melupakan dunia perjudian untuk selama-lamanya.Namun, karena memang memang belum sepenuhnya dapat mengatasi nafsunya berjudi, dan masih berharap ingin mengembalikan kekalahannya dulu, sekali waktu ia main kartu juga, meski kecil-kecilan dengan sembunyi-sembunyi.Di jawa, hal ini disebut sekadar tamba kengen.

Perbuatan seperti ini sangat berbahaya.Sebab, sesungguhnya dia belum dapat mengendalikan nafsu berjudinya dengan baik.Ibarat mencerabut ilalang, sebaiknya sampai ke akar-akarnya sekalian.Sebab, kalau tidak, rimpang akar itu masih dapat tumbuh kembali.

Sunday, August 16, 2015

Sarik Dalan Nyandhung Watang

Artinya, sarik (larangan atau tabu), dala (jalan), nyandhung (terantuk),watang (galah panjang atau hulu tombak).Terjemahan bebasnya, melalui jalan yang dilarang (tabu) akan terantuk galah panjang.Dapat pula diterjemahkan bahwa orang yang melanggar larangan biasanya akan mendapatkan halangan (kesusahaan) di tengah jalan.

Yang disebut tabu atau larangan di sini bukan hanya yang di tetapkan oleh masyarakat di masa lalu.Larangan, pada hakikatnya, adalah peraturan yang di masa modern ini dapat pula berwujud undang-undang, rambu-rambu, peraturan, dan lain-lain.

Oleh karena itulah, maka peribahasa tersebut masih tetap relevan untuk di perhatikan oleh generasi mendatang.Setiap pelanggaran norma atau undang-undang yang bersifat material, nyata, mengikat, dan disertai sanksi jelas, tentu akan berakibat bagi si pelanggar.Kendati pelanggaran tersebut tidak diketahui orang, tidak sampai dikenai sanksi, tetapi pelanggaran itu sendiri sudah merupakan tindakan negatif yang perlu di cegah sedini mungkin.Soalnya, apabila pelanggaran itu berkembang menjadi kebiasaan, jelas akan merugikan dan sangat berbahaya.Apabila, jika kebiasaan melanggar tadi wujudnya berupa menggunakan uang milik negara, tentu korupsi akan sulit diberantas dari negara ini.

Monday, August 10, 2015

Sedawa-dawane Lurung isih Dawa Gurung

Artinya, sedawa-dawane lurung (sepanjang-panjangnya lorong), isih dawa gurung ((masih panjang kerongkongan manusia). Maksudnya, manusia suka meyebarkan berita dari mulut, hngga dalam waktu singkat kabar tersebut cepat menyebar ke berbagai kalangan yang sangat luas dan tak pernah diduga sama sekali.

Contohnya; sekitar pertengahan tahun 80-an, muncul berita yang tidak diketahui sumbernya.Konon, ada orang dari Jakarta yang mencari marmer ajaib.Cirinya, jika marmer tersebut ditumpangi setrika panas, maka benda itu akan tetapi dingin.Menurut kabar angin, marmer ajaib itu warnanya abu-abu kebiruan. Nah, jika ada yang melihat marmer dengan kondisi sperti itu , yang bersangkutan mau membelinya seharga 50 juta.Begitu cepatnya proses gethok tular-nya, sampai-sampai dalam waktu singkat berita itu telah menyebar sampai ke pelosok desa.Kontan, orang-orang sibuk menanyai siapa yang punya marmer seperti itu.Hanya saja, ketika marmer ajaib itu diketemukan, ternyata orang yang mau membeli tidak kunjung datang.Jadi, benarkah berita tersebut atau hanya isapan jempol belaka ?     Yang jelas, sebuah beritaa akan lebih cepat menyebar dari mulut ke mulut.Apalagi kalau menyangkut hal-hal yang berbau misteri atau aib orang lain yang rasanya enak untuk digunjingkan sembari mengisi waktu luang.

Monday, August 3, 2015

Sabegja-begjane Wong kang Lali, Luwih Begja kang Eling Lawan Waspada



Artinya, sabegja-begjane wong kang lali (seberuntung-beruntungnya orang yang lupa), luwih begja kang eling lawan waspada (lebih beruntung yang ingat dan waspada).Peribahasa ini dicuplik dari ajaran Ranggawarsita yang sangat terkenal.Prinsipnya, berisi nasihat yang mengingatkan jangan suka anut grubyuk (mengikuti arus). Jika ingin begja dalam arti menemukan keberuntungan dan keselamatan kapan dan dimanapun , orang harus mempunyai pendirian tagas, ingat kepada Tuhan, dan waspada terhadap segala kemungkinan.


Contohnya seorang kasir yang telah dipercaya bertahun-tahun oleh perusahaan.Dalam mengurus keuangan, selama ini dia terkenal jujur, tertib, pekerjaannya rapi, dan selesai tepat waktu. Namun, sejak beberapa bulan lalu, prestasi baik itu dirusaknya sendiri.Diam-diam, ia menggunakan uang perusahaan untuk berdagang.Konon, hal itu ditiru dari kasir lain yang bekerja di sejumlah perusahaan.Sialnya, pada suatu hari, perusahaan melakukan audit mendadak, sehingga ketahuan kalau dirinya menggunakan (menggelapkan) uang perusahaan untuk kepentingan pribadi.Akibatnya, si kasir diberhentikan dengan tidak hormat.Coba, kalau di tetap eling lan waspada ,nasibnya tidak mungkin akan seburuk itu.