Thursday, October 29, 2015

Trima mawi Pasrah, Suwung pamrih, Tebih ajrih; Langgeng tan ana susah, Tan ana seneng ; Anteng mantheng, sugeng jeneng

Selamat datang di sudihardi.com...!!!

Kesempatan kali ini mas Hardi akan mencoba berbagi arti dari peribahasa "

Trima mawi Pasrah, Suwung pamrih, Tebih ajrih; Langgeng tan ana susah, Tan ana seneng ; Anteng mantheng, sugeng jeneng"



Hasil gambar untuk doa




Artinya, menerima dengan tawakal, tiada pamrih, jauh dari takut; abadi tiada duka, tiada suka; tenang memusat, nama pun selamat.Trima mawi pasrah bermakna menerima apa saja dengan pasrah dan tawakkal.Untuk menghilangkan rasa takut dan was-was, seseorang dianjurkan untuk mengosongkan hati dan jangan memiliki pamrih berlebihan.Sedangkan langgeng tan ana susah, tan ana seneng dapat diartikan mencapai ketenangan batin yang abadi tanpa banyak dipengaruhi oleh rasa senang maupun susah.Derita atau kesusahan dapat ditekan sekecil mungkin, hingga tidak lagi berepngaruh terhadap kehidupan.


Sementara, anteng mantheng, sugeng jeneng  mengarah pada kehidupan batin yang tenang dan mampu mengarahkan pada kehidupan batin yang tenang dan mampu mengarahkan (memusatkan) perhatian dengan baik. Jauh dari pengaruh nafsu dan keinginan duniawi lainnya, sehingga memilki daya tahan terhadap godaan yang datang setiap waktu.Dengan memiliki kemampuan seperti itu, seseorang akan mencapai ketenangan dan ketenteraman hidup, mampu beribadah dengan baik, serta bekerja dengan baik dalam kondisi lingkungan yang sulit sekalipun.

Sunday, October 25, 2015

Aja turu Awan , mundhak dadi kancane setan (razaki & mengatur keuangan)


Hasil gambar untuk tidur


Artinya, aja turu awan (jangantidur siang), mundhak dadi kancane setan (nanti jadi temannya setan).Ungkapan ini umumnya untuk menasihati anak muda.Prinsipnya, siang hari merupakan waktu untuk bekerja, bukannya untuk enak-enakan (tidur).Sebab, apabila kebablasan tidur siang akan menjadi kebiasan, sehingga orang pun menjadi pemalas.


Menurut pandangan masyarakat di jawa, bekerja merupakan salah satu tugas kewajiban pokok manusia untuk emnunjang kebutuhan hidupnya di dunia.Karena itulah, para orang tua telah menanamkan kesadaran bekerja pada anak-anaknya sejak kecil.Dan,  peribahasa ini merupakan salah satu bukti utama.Bagaimana remaja-remaja di jawa tidak dibiasakan tidur siang ,  agar mereka belajar mengerjakan apa saja, termasuk dalam rangka membantu orang tua.Jadi,  tidur siang boleh, asalkan ketika benar-benar lelah, sakit, atau sedang tidak enak badan.Tetapi,  kalau dilakukan saat sehat, tidur siang dikatakan sebagai `berteman dengan setan`.Karena dikhawatirkan akan menjadi pemalas.

Wednesday, October 21, 2015

Aja Njagakake Endhoge Blorok (mangatur ekonomi)


Arti dari aja njagakake (jangan mengharapkan), endhoge blorok (telur berwarna-warni).Peribahasa ini menyiratkan nasihat agar jangan suka berangan-angan atau mengharapkan sesuatu yang mustahil atau sulit terwujud, seperti halnya menunggu telur ayam yang berwarna-warni.Padahal, telur ayam selamanya berwarna putih atau coklat saja.


Di masa lalu, telur yang biasa dikonsumsi orang jawa hanya telur ayam, itik, dan entok.Telur ayam dan entok berwarna putih, sedangkan telur bebek berwarna biru muda kehijauan.Waktu itu, orang belum terbiasa makan telur puyuh.Karena itulah muncul peribahasa seperti ini.Menurut anggapan orang jawa, telur hanya memiliki satu warna.


Nasihat yang dikandung peribahasa tersebut, jangan suka mengengankan yang bukan-bukan (sulit tercapai).Suka mengharapkan sesuatu yang belum pasti terwujud (seneg njgakake) merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh orang jawa.Sebab, siap pun yang punya sifat seperti itu akan selalu menunggu-nunggu , bekerja tidak maksimal, semangat rendah, dan memandang remeh banyak hal.Coba bayangkan, bagaimana jika yang diharapkan tidak kesampaian ?  Apakah dirinya tidak akan menyesal berkepanjangan ?   Sudah rugi waktu, kehilangan kesempatan, dan sebagainya.

Friday, October 16, 2015

Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Hangrungkebi, Mulat Sarira Hangrasa Wani


Selamat datang di sudihardi.com

Hasil gambar untuk Negara
Artinya, rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memilki), Wajib hangrungkebi (wajib membela), mulat sarira hangrasa wani (melihat badan merasakan barani). Terjemahan bebasnya, merasa ikut memilki, wajib membela, berani melihat diri sendiri.

Peribahasa ini sering dimanfaatkan sebagai ajakan negara (pemerintah) kepada rakyatnya. Tujuannya, agar rakyat ikut terlibat aktif (berpartisipasi) dalam pembangunan negara dan bangsa. Caranya, dengan merasa ikut memilki, bukan malah membarkan atau tidak mau ikut campur tangan dalam pembangunan negara dan bangsa. Caranya, dengan merasa ikut campur tangan dalam kehidupan negara dan masyarakat.

Di samping itu, rakyat pun diharapkan ikut membela apabila terjadi gangguan dari mana pun datangnya.Selanjutnya, dalam membangun kesejahteraan negara dan bangsa, semua pihak harus bersedia melakukan introspeksi, berani mengakui kekurangan dan kelemahan diri sendiri, sehingga ditemukan cara memperbaikinya dengan tepat dan cepat.

Apabila partisipasi rakyat dan seluruh aparat negara telah dilandasi semangat sebagaimana isi peribahasa ini, besar kemungkinan pembangunan dan kesejahteraan yang diciptakan dapat segera terwujud.

Tuesday, October 13, 2015

Narima ing Pandum



Artinya, narima (menerima), ing pandum (apa pun yang diberikan).Terjemahannya adalah menerima dengan ikhlas apa yang sudah diberikan atau didapatkan.Peribahasa ini merupakan gambaran sikap hidup orang jawa yang cenderung ikhlas, dan menerima apa adanya.

Makna dari ungkapan nrima ing pandum ternyata cukup dalam.Yaitu,  menganjurkan kita untuk menyadari kenyataan yang terjadi.Misalnya, padi kita rusak dimakan tikus, sedangkan padi di sawah yang bersampingan tak rusak sama sekali.Agar tidak bersedih, biasanya orang jawa segera menghibur dengan berkata, ``kita harus nrima ing pandum`` .Rezeki pemberian Gusti Allah memang hanya sebatas ini.Mari kita syukuri jangan disesali.


Jadi,nrima ing pandum adalah wujud kepasrahan batin untuk menhindari pikiran, perasaan, maupun perbuatan yang tidak diinginkan.Namun, kepasrahan di sini bukan pengakuan kalah atau menyerah, melainkan sebagai upaya pengekangan diri sekaligus melindungi diri dari pengaruh buruk musibah yang dialami.



Bersikap ikhlas dalam menerima perolehan apa pun akan membentuk kekuatan batin serta kearifan yang luar biasa.Soalnya, orang jawa percaya bahwa Gusti Allah ora sare. Semua rezeki berasal dari Tuhan.Jadi, misalnya ada yang sengaja mengurangi atau memotongnya, pasti yang bersangkutan juga akan memperoleh sapu dhendha (sanksi atau hukuman) dari sang Maha Kuasa.

Wednesday, October 7, 2015

moral, akhlak, dan kepribadian (durung menang yen durung wani kalah, durung unggul yen durung wani asor, durung gedhe yen durung wani cilik)



Artinya, durung menang yen durung wani kalah (belum menang jika belum berani kalah), durung unggul yen durung wani asor (belum unggul jika belum berani rendah),durung gedhe yen durung wani cilik (belum besar jika belum berani kecil) Katamutiara tersebut merupakan bagian dari ajaran RM Sosrokartono (kakak R.A Kartini)  yang banyak digunakan dalam kehidupan batin orang jawa. Inti ajaran ini mengajak kita agar senantiasa mawas diri terhadap prestasi yang dicapai selama ini. Sebab, pribadi yang dinilai telah meraih kesempurnaan adalah mereka yang telah meraih kesempurnaan adalah mereka yang telah berhasil melewati pasang-surut kehidupan.Dengan kata lain, menjadi ``orang besar`` harus berani juga kalah (mengalah), berani rendah (merendah), dan berani kecil (menyatu dengan rakyat jelata).


Manusia dinilai sempurna jika telah berhasil mengendalikan dan menyeimbangkan pribadinya dengan baik.Sebab, meraih segala apa yang dimiliki manusia senantiasa melalui proses panjang terlebih dulu.Menang berasal dari kalah.Oleh karena itu, orang yang bersangkutan harus bisa mengalah.Unggul bermula dari rendah, karenanya harus bisa merendah.Besar berawal dari kecil, karena itu harus bisa memahami pikiran orang kecil di sekitarnya.

Friday, October 2, 2015

Berbudi Bawa Leksana



Artinya, berbudi (berwatak), bawa (ucapan / perkataan), leksana (laku atau laksana).Terjemahan bebasnya, berwatak konsekuen terhadap kata maupun tindakannya.Merupakan ungkapan yang menggambarkan kepribadian pemimpin yang baik di jawa.Pemimpin yang memiliki watak seperti itu akan sangat tegas, namun lentur dalam mengambil keputusan. Semua yang dikatakan atau dijanjikan akan ditepatinya.Tidak sedikit pun diubah, apalagi dikurangi.


Watak berbudi leksana merupakan salah satu watak terpuji di jawa. Apabila ada pemimpin berhasil mewujudkan sikap demikian, puas, dan bahagia. Sebab,  sang pemimpin dalam berbicara maupun berbuat senantiasa sejalan dengan keinginan rakyat.Semua diperhitungkan dengan cermat dan terbuka, sehingga orang dapat mengetahui bermacam duduk perkara yang melatarbelakangi kebijaksanaannya.

Sikap berbudi bawa leksana akan menghasilkan pemerintah yang bersih dan berwibawa karena seluruh peraturan dan kebijakan dilaksanakan oleh semua pihak. Dengan demikian, hubungan antara rakyat dan pemerintah akan berlangsung baik dan lancar, membuat bermacam permasalahan segera teratasi.