Sunday, November 29, 2015

Kegedhen Empyak Kurang Cagak (( mengatur keuangan ))

Hasil gambar untuk cita-cita




Artinya, kegedhen empyak (terlampau besar atap), kurang cagak (tianyan sedikit atau kurang).Peribahasa ini memberikan  gambaran mengenai orang yang berbuat sesuatu melebihi kemampuannya.Dengan memaksakan diri seperti itu, sebagaimana dikiaskan rumah yang atapnya terlampau besar (lebar) dengan tiang sedikit, besar kemungkinan rumah (cita-citanya) tidak dapat didirikan (terwujud). Sekalipun terwujud, yaitu rumahnya dapat berdiri, konstruksinya akan rapuh, sehingga mudah roboh dan menimbulkan masalah baru bagi dirinya.

Contohnya peristiwa dalam peribahasa ini kira-kira demikian.Seorang buruh tani ingin beralih pekerjaan agar tak selamanya mejadi buruh melulu. Cita-citanya ingin memiliki truk dan dijalankan sendir.Akhirnya, dia menjual tanah warisan orang tua untuk membeli sebuah truk tua.Namun,  karena memang belum paham benar tentang mesin, truk tersebut jadi sering rusak dan makin hari kerusakannya bertambah berat. Merasa tak mampu lagi memperbaiki, truk bobrok itu dijual murah daripada terlanjur menjadi besi tua.Sekarang dia baru sadar, bahwa apa yang dilakukan itu ibarat kegedhean empyak kurang cagak.Yang dicita-citakan terwujud, tetapi karena penyangganya terbatas, maka semua yang di tangan berantakan dalam waktu singkat.

Wednesday, November 25, 2015

Gemi Nastiti Ngati-ati adalah salah satu nasehat untuk mengatur ekonomi


Selamat datang di sudihardi.com....!!!

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba membagikan arti dari peribahasa jawa "Gemi Nastiti Ngati-ati"


Artinya, gemi (hemat), nastiti (teliti), ngati-ati (berhati-hati). Terjemahannya adalah hemat, teliti, dan berhati-hati. Sebuah nasihat yang sangat populer di daerah jawa.Bahkan, banyak kalangan menjadikan peribahasa ini sebagai hiasan dinding di rumah, warung, maupun tempat umum lainnya supaya dibaca orang.


Peribahasa ini menunjukkan betapa hidup itu harus dikelola dengan sebaik-baiknya.Gemi  berkaitan dengan upaya menghemat penghasilan guna mencegah terjadinya kesulitan karena kahabisan uang ongkos hidup.Nastiti atau teliti merupakan wujud dari kecermatan menangani segala hal dalam kehidupan, guna menghindari kesalahan sekecil apa pun.Sedangkan berhati-hati adalah manifestasi dari sikap waspaa, jangan sampai terperosok ke dalam berbagai permasalahan yang sulit diatasi.


Tiga aspek tersebut sebaiknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan kebahagiaan, ketenteraman, dan kesejahteraan hidup.Prinsip gemi nastiti ngati-ati adalah mengeliminasi (menekan) kekeliruan, kesalahan, ataupun permasalahan sekecil mungkin.Sebab, menghindari kekeliruan sedari kecil  akan lebih mudah dibandingkan mengatasinya setelah menjadi  besar, hingga berubah menjadi malapetaka.

Saturday, November 21, 2015

Ana Sethithik Dipangan Sethithik (( mengatur ekonomi ))

Hasil gambar untuk uang receh





Artinya, ana sethithik (ada sedikit), dipangan sethithik (dimakan sedikit).Salah satu semboyan wong cilik di jawa  yang cukup terkenal dalam menjalani tirakat (asketisme) pada kehidupan sehari-hari. Jika direnungkan, nasihat dalam peribahasa ini merupakan batu ujian yang cukup berat. Namun, apabila berhasil dilaksanakan dengan baik, maka akan memberikan manfaat besar lahir dan batin.

Misalnya; seorang buruh harian dengan istri dan dua orang anak, punya penghasilan sehari sepuluh ribu rupiah. Penghasilan sekecil ini jelas tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga. Meskipun tidak mencukupi, dia harus memaksakan diri untuk tidak menghabiskannya. Misalnya, hanya menggunakan sembilan ribu rupiah saja. Dengan demikian, dia masih mempunyai sisa seribu rupiah yang dapat dijadikan bekal (modal) hidup dan bekerja keesokan harinya.


Caranya seperti itu, manakala dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, dapat menumbuhkan ketabahan, kejernihan pikir, serta ketahanan mental-fisik yang luar biasa. Dengan demikian, apa yang disebut wong cilik,kemiskinan, kepapaan, dan tidak kesengsaraan hanya akan terasa semu. Jiwa dan kepribadiannya tidak kerdil, tidak miskin. Setiap harinya, ia mampu melangkah dengan gagah, menapaki kehidupan dengan wajah tengadah.

Monday, November 16, 2015

Tuna Satak Bathi Sanak (( mengatur keuangan ))

Selamat datang di sudihardi.com...!!!



Tuna Satak Bathi Sanak  
Artinya, tuna (rugi), satak (sa-etak atau 100 uang zaman dahulu), bathi (untung / laba), sanak (saudara). Terjemahan bebasnya, biarlah rugi sedikit, yang penting untung karena mendapatkan saudara. Semangat pedagang yang menyadari bahwa laba bukanlah segala-galanya. Dengan mau mengurangi (mengorbankan) sedikit laba yang diperoleh, para pembeli akan merasa senang karena harga barang jadi lebih murah daripada pedagang lain. Hasilnya, mereka akan belanja kepadanya.

Biasanya, ungkapan ini suka diucapkan oleh pedagang keliling, sore sebelum pulang. Karena dagangan habis, dia berusaha menjualnya dengan harga lebih murah. Lumayan untuk nambah-nambah  pemasukan. Setelah tawar-menawar dan dia setuju dengan tawaran si pembeli, biasanya lantas berkata, `` ya, silahkan. Dibeli semua tho, Bu ?  Kalau dibeli semua, saya kasih murah.Idhep-edhep tuna satak bathi sanak.``

Ana Dina Ana Upa, Ora Obah Ora Mamah (-mengatur perekonomian-)

Hasil gambar untuk makanan jawa






Artinya, ana dina ana upa (ada hari, ada nasi), ora obah ora mamah (tidak bergerak, tidak mengunyah).Maksudnya,  selama mau bekerja apa saja dengan tekun setiap hari, pasti akan mendapatkan sesuap nasi (rezeki). Sebaliknya, kalau tidak mau bekerja, tentu tidak akan mendapatkan makanan sama sekali.Peribahasa ini sering menjadi semboyan bagi wong cilik dalam menyemangati dirinya untuk bekerja. Sebab, modal kerja yang dimilki hanyalah tenaga fisik belaka.


Filosofi ada hari ada nasi merupakan wujud dari keyakinan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Artinya, rezeki itu setiap hari pasti diberi, disediakan, dan asalkan bisa dari mana saja. Sedangkan ora obah ora mamah mengisyaratkan bahwa rezeki itu tidak tergeletak begitu saja dan manusia tinggal meraihnya dengan mudah.Dengan kata lain, untuk mendapatkan rezeki,syaratnya perlu bekerja keras setiap hari.

Monday, November 9, 2015

Ana Barang Ana Rega, Wong Urip Kudu Wani Rekasa

Hasil gambar untuk doa





Artinya, ana barang ana rega (ada barang ada harga), wong urip kudu wani rekasa (orang hidup harus berani menderita).Peribahasa ini menyemangati seseorang yang mencita-citakan perbaikan hidup.Akan tetapi, sudah berusaha sekian lama, cita-citanya belum juga tercapai.

Di sini, ungkapan ana rega anarupa bermakna bahwa setiap perwujudan yang diinginkan memiliki `harga` atau nilai yang berbeda-beda. Misalnya saja, ia ingin punya rumah, tentu  usaha yang dijalankan lebih berat dibandingkan ketika akan membeli motor.Artinya, jika ingin punya rumah, mau tidak mau harus berusaha lebih keras, sehingga bisa memilki cukup uang untuk membeli rumah.Sementara rekasa di sini adalahberusaha keras, membanting tulang.Gambaran rekasa itu, misalnya apa yang dikerjakan petani.Selama 3 hingga 4 bulan harus  berani rekasa, sejak menggarap sawah, menanam padi, memelihara, memberantas hama penyakit tanaman, dan sebagainya.Tiga atau empat bulan penuh hanya keluar ongkos dan tenaga, tanpa memperoleh penghasilan sama sekali.Namun, begitu padinya berhasil dipanen, seluruh jerih payah petani memperoleh hasil cukup manis.

Wednesday, November 4, 2015

Aja Ngothongake Gethong Kendhi

Artinya, aja (jangan), ngothongake (mengosongkan), genthong (tempayan), kendhi (kendi atau tempat air minum yang dibuat dari tanah).Terjemahannya, jangan suka mengosongkan tepayan (tempat beras) dan kendi (tempat air minum).

Peribahasa in mengajarkan kita bahwa di dalam mejalani kehidupan, orang harus berhati-hati. Terutama dalam mengatur kehidupan ekonominya, terlebih yang menyangkut keperluan sehari-hari, sperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain.Untuk menjaga kelangsungan hidup, peribahasa ini menekankan jangan suka membiarkan persediaan makan dan minum habis, ia harus segera mencari dan mendapatkannya, minimal untuk hari ini dan esok.Besok mencari lagi untuk hari-hari berikutnya.


Kebiasaan membiarkan habis sampai tak tersisa persediaan makan untuk satu keluarga dan baru setelah benar-benar habis mencari lagi, dianggap perilaku yang buruk.Kehidupan keluarga tidak boleh diperlakukan demikian.Sebab,orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap anak dan anggota keluarga lainnya.Membiarkan genthong kendhi kosong merupakan tanda rendahnya tanggung jawab yang dibebankan ke pundaknya.