Wednesday, April 27, 2016

Meneng Widara Uleren




Artinya, diam pohon bidara penuh ulat. Terjemahan bebasnya, diamnya pohon bidara yang penuh ulat. Ungkapan ini menggambarkan bagaimana orang yang tampaknya baik (pendiam, santun, tidak banyak bicara), namun sesungguhnya hatinya (perangainya) buruk. Perangai buruk di sini digambarkan sebagai pohon bidara yang penug ulat.

Tekanan pesan yang ingin disampaikan oleh peribahasa ini adalah, orang tetap harus waspada terhadap siapa pun yang penampilan luarnya tampak baik. Siapa tahu di dalam hatinya (pribadinya) terdapat ribuan ulat (sifat buruk) yang disembunyikan. Jadi, prinsipnya, orang jangan sampai terpesona (lengah) oleh keindahan yang kasat mata. Sebab, apabila sampai lengah, ulat-ulat yang tersimpan di dalam hatinya akan segera merayap keluar, menjelma menjadi hama yang ganas, dan tega memangsa apa pun yang disentuhnya.

Memang, untuk mengetahui secara pasti apa yang tersimpan di hati manusia, tidaklah mudah. Namun, demikian, belajar dari berbagai pertanda, aroma, serta suasana yang muncul akan dapat diperkirakan bagaimana isi hati dan pikiran yang bersangkutan. Artinya, apakah diamnya itu memang diam yang sejati, atau diam untuk menyamarkan maksud atau tujuan yang dirahasiakan.