Thursday, September 28, 2017

Manfaat kesehatan dari shalat Dhuha di ajaran umat Islam


Shalat Dhuha adalah shalat orang yang kembali kepada Allah setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena tempat berbaringnya panas."
[HR. Muslim]

Hasil gambar untuk sholat


Shalat Dhuha dapat dikerjakan sekitar 20 menit setelah matahari terbit hingga masuk waktu shalat Zuhur. Namun, waktu yang paling afdhal untuk mengerjakan shalat ini adalah ketika matahari naik sepenggalah atau sekitar pukul 8.00-9.00 WIB. Barangkali, inilah waktu yang dimaksud oleh Rasulullah saw mengenai waktu anak-anak unta bangun karena tempat berbaringnya telah panas.

Buraidah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Dalam tubuh manusia, terdapat 360 persendian dan ia wajib bersedekah untuk setiap persendiannya." 
Para sahabat bertanya, "Siapakah yang sanggup, wahai Rasulullah ?" Beliau menjawab, "Dua rakaat shalat Dhuha sudah mencukupinya."
[HR. Ahmad dan Abu Dawud]

Maksud sedekah bagi setiap persendian adalah melakukan peregangan pada persendian-persendian tersebut, termasuk otot dan tulang. Peregangan sangat diperlukan oleh tubuh sebelum kita melakukan aktivitas. Rasulullah saw menyinggungnya dengan ungkapan yang sangat santun, yaitu 'hak dari setiap persendian'. Dan hal itu cukup dilakukan dengan dua rakaaat shalat Dhuha.

Dr. Ebrahim Kazim, seorang dokter, peneliti, dan direktur Trinidad Islamic Academy, menyatakan bahwa gerakan teratur dalam shalat Dhuha akan menguatkan sendi, otot, dan tendonnya, serta berpengaruh terhadap sistem kardiovaskular. Gerakan dalam shalat Dhuha bisa berfungsi sebagai peregangan dan persiapan untuk menghadapi aktivitas keseharian. Bedanya dengan olahraga biasa adalah shalat Dhuha mempunyai pahala dari Allah SWT.
Dr. Ebrahim Kazim menyatakan, "Ada ketegangan yang lenyap ketika kita mengerjakan shalat. Hal itu terjadi karena tanpa kita sadari, tubuh secara fisiologis mengeluarkan (sekresi) zat-zat seperti enkefalin, endorphin, dan dinorphin. Zat ini sejenis morfin, termasuk opiate. Efek keduanya juga tidak berbeda dengan morfin atau opiate lainnya. Bedanya, zat ini diproduksi sendiri oleh tubuh kita, sehingga lebih bermanfaat dan terkontrol.
Jika benda-benda terlarang seperti morfin dapat memberikan kenikmatan sesaat namun disertai dengan berbagai efek negatif, enkefalin dan endorphin tidak. Kedua zat ini memberikan rasa bahagia, lega, tenang, dan rileks secara alami, menjadikan seseorang terlihat lebih optimis, hangat, menyenangkan, dan memberikan aura positif dilingkungannya.