Friday, September 1, 2017

Mengetahui Tuberkulosis (TBC)

Selamat datang di blog mas Hardi.


Pada kesempatan kali ini, saya akan coba memberikan informasi mengenai Tuberkulosis (TBC).

TBC...
Apa ya Tuberkulosis itu ?
Bagaimana gejalanya ?
Bagaimana pengobatannya ?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, maka sebaiknya anda baca penjelasan berikut ini.



  Tuberkulosis adalah penyakit paru yang disebabkan oleh bakteri. Tuberkulosis, yang dalam bahasa orang awam disebut dengan “plek paru” merupakan penyakit multisistemik dengan bentuk klinis yang bermacam-macam. Tuberkulosis merupakan penyakit  paling umum yang menyebabkan kematian di seluruh dunia terkait dengan penyakit menular. 

  Penyebab penyakit ini adalah kuman Mycobacterium tuberculosis, yang berbentuk batang (basil) tahan asam. Bakteri ini terbilang “bandel” karena tak sekedar bersarang di paru-paru, namun juga di organ-organ lain selain paru-paru, mulai dari selaput otak hingga tulang.


Tanda dan Gejala
Perlu ditekankan bahwa tanda dan gejala TBC pada anak-anak dan dewasa itu sangat berbeda.

A. TBC pada anak-anak

Pada anak, tidak perlu ada batuk, namun apabila serumah atau ada riwayat terpapar orang yang TBC, dan anak tersebut mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan nafsu makan, demam nglemeng selama 2 minggu, maka sebaiknya dilakukan uji tes mantoux di Puskesmas terdekat.

B. TBC pada orang dewasa
pada orang dewasa, gambaran klinis klasik terkait dengan TB paru aktif adalah sebagai berikut:
Batuk
Berat badan/ anoreksia
Demam
Keringat malam
Hemoptisis/ batuk darah
Nyeri dada (juga dapat hasil dari perikarditis akut tuberkulosis)
Kelelahan


  Selain di paru-paru, TB bisa menyerang ke organ lain seperti selaput otak,kemudian disebut dengan meningitis TB, ke tulang yang disebut dengan Penyakit Pott, ke organ saluran kemih, ke sendi, dan sebagainya.

Metode untuk mengetahui TB adalah sebagai berikut :
  1. Tes kulit tuberkulin Mantoux dengan purified protein derivative (PPD) untuk infeksi aktif atau laten (metode utama)
  2. Memeriksa dahak pasien pada pasien dengan gejala batuk. Pengecatan Basil tahan asam (BTA) dan kultur bakteri: Hasil pengecatan yang negatif tidak serta merta menyingkirkan diagnosis TB; Kultur BTA adalah tes yang paling spesifik untuk TB
  3. Serologi HIV pada semua pasien dengan TB dan status HIV tidak diketahui: Individu terinfeksi HIV berada pada peningkatan risiko untuk TB
  4. Rontgen dada untuk melihat gambaran paru pada pasien TBC.


Perawatan Pasien yang menderita TBC :
Idealnya, pasien TB disolasi pasien di sebuah kamar dengan tekanan negatif
Menggunakan masker sekali pakai yang cukup untuk menyaring basil
Lanjutkan isolasi sampai BTA negatif selama 3 kali berturut-turut pemeriksaan dahak (biasanya setelah sekitar 2-4 minggu pengobatan)

  Masalah utama dalam pengobatan TB adalah lamanya pengobatan sehingga tingkat kepatuhan pasien cenderung berkurang. Hal ini yang memicu resistensi kuman sehingga antibiotik awal tidak mempan. Pasien yang mengalami resistensi disebut kasus MDR-TB. Untuk kasus MDR-TB, pengobatan akan jauh lebih sulit, dengan durasi yang lebih lama, tingkat mortalitas yang lebih tinggi, dan obat tidak sekedar diminum, tetapi ada pula obat yang disuntikan ke penderita.