Google

Thursday, August 9, 2018

Teknik Pembuatan Keputusan: Metode Kartu Konsensus



Apa Yang Dimaksud Dengan Metode kartu Konsensus?
Metode kartu consensus adalah suatu metode diskusi kelompok yang memanfaatkan kartu (kita sebut sebagai kartu konsensus) sebagai peraga untuk menunjukkan posisinya dalam diskusi. Kartu Konsensus dibuat dari potongan kertas yang dilipat sehingga bisa membentuk tiga muka. Masing-masing muka memiliki warna berbeda-beda yaitu merah, kuning, dan hijau. Masing-masing warna dimanfaatkan sebagai alat komunikasi yang menunjukkan posisi pemiliknya:
Merah            = Saya tidak setuju dan tidak mendukung keputusan.
Kuning           = Saya masih menerima keputusan dan mendukungnya.
Hijau              = Saya setuju dan mendukung keputusan.
Konsensus tercapai apabila semua anggota tim menunjukkan kartu hijau dan atau kuning.

Kapan Metode Kartu Konsensus Digunakan?
Metode Kartu Konsensus dimanfaatkan untuk mendapatkan keputusan tim katika:
Þ    Membutuhkan pendapat yang disampaikan secara tatap muka.
Þ    Mendiskusikan suatu masalah rumit yang mengundang berbagai reaksi dan pendapat yang pelik serta bersifat kontradiktif dari anggota tim.
Þ    Akan mengidentifikasi berbagai alternatif untuk memecahkan suatu masalah (misalnya, diskusi untuk menjajagi suatu bidang baru)
Þ    Telah diketahui adanya penghalang potensial yang harus segera dibahas dalam diskusi dan mendapatkan jawaban secepatnya.

Empat Langkah menggunakan Metode Kartu Konsensus
Langkah 1: Menetapkan pokok permasalahan dan tujuan diskusi.
Langkah 2: Menyiapkan pertemuan.
Langkah 3: Menyampaikan pokok permasalahan dan mendiskusikannya.
Langkah 4: Menutup sesi Metode Kartu Konsensus.
Mari kita lihat sebuah contoh..
Pelaksanaaan Metode Kartu Konsensus oleh tim desain pada Perusahaan Sepeda Human Ccle…
Langkah 1: Menetapkan Pokok Permasalahan dan Tujuan Diskusi
Tetapkan pokok permasalahan yang harus dipecahkan. Tentukan pula tujuan yang akan dicapai dari pertemuan tersebut.

Musim liburan sekolah telah di ambang pintu…
Tetapi sepeda Human Cycle belum ada yang terjual. Presiden memanggil sejumlah toko utama yang menjual produknya dan menemukan bahwa 90% pelanggan mengeluh karena sepeda Human Cycle modelnya ketinggalan zaman. Berbekal informasi tersebut, presiden memanggil tim desain dan memintanya untuk memutuskan apa yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan.
Peter, pemimpin tim desain, yakin bahwa perdebatan mengenai desai sepeda pasti akan panas. Oleh karena itu dia menyarankan agar tim menggunakan Metode Kartu Konsensus dalam diskusinya. Tim telah sepakat untuk menerima usul pemimpinnya. Tim secara bersama juga telah menetapkan tujuan pertemuan yaitu: mencari jalan agar perusahan Sepeda Human Cycle bisa berkembang dengan memecahkan masalah usangnya desain…


Langkah 2: Menyiapkan Pertemuan
Dalam menyiapkan pertemuan Metode Kartu Konsensus, ada tiga hal yang harus dilakukan: menetapkan tata tertib dan kerangka waktu pertemuan, menjelaskan penggunaan dan makna dari kartu Konsensus, dan menyusun kartunya.

TATA TERTIB METODE KARTU KONSENSUS
Anggota tim harus bisa melihat dengan jelas anggota yang lain dan kartu konsensusnya.
Moderator mengatur pembicara dan menjaga agar tidak terjadi kebuntuan dalam diskusi kelompok.
Setiap peserta berhak menyampaikan seluruh gagasannya sampai selesai tanpa diinterupsi oleh peserta lain.
Peserta boleh mengajukan pertanyaan setelah mendapat izin dari pemimpin tim.
Siapa saja boleh memberi penilaian asal bersifat terbuka dan bersedia mendengarkan serta gagasan orang lain.

Menyusun Kartu Konsensus
Lipat kertas atau karton berwarna yang telah disiapkan dan bentuk menjadi segi tiga muka. Gunakan kartu ini untuk mengekpresikan pikiran Anda. Tunjukkan warna merah apabila Anda ingin mengatakan “tidak” atau “Saya tidak bisa menerima gagasan yang dikemukakan dan saya tidak berkomitmen untuk mendukungnya.” Warna hijau untuk mengungkapkan “Ya” atau “Saya setuju dengan gagasan yang dikemukakan dan tentu saja saya berkomitmen untuk mendukungnya.” Warna kuning untuk mengatakan “Saya masih bisa menerima gagasan tersebut dan bersedia untuk mendukungnya.”
Sebelum pertemuan dimulai, setiap peserta menunjukkan Kartu berwarna kuning untuk mengindikasikan posisi netral.
Sambil mendengarkan, secepatnya peserta menunjukkan warna hijau, untuk mengungkapkan persetujuannya terhadap pembicara. Jangan tunjukkan warna merah yang berarti stop sampao masalah yang dikemukakan tuntas. Peserta boleh mengubah ke warna lain sesuai dengan sikapnya terhadap gagasan yang dikemukakan.

Peter, pemimpin tim desain…
Telah menjadwalkan pertemuan tim berlangsung selama dua jam. Begitu pertemuan dimulai, Peter membagi kartu Konsensus dan mengumumkan,”Hari ini kita akan mendiskusikan suatu pokok permasalahan untuk mendapatkan keputusan yang sangat penting. Anda telah mendapatkan kartu Konsensus dengan tiga muka yang masing-masing muka memiliki warna yang berbeda merah, kuning, hijau.”
“Siap? Mari kita mulai.”…


Langkah 3: Menyampaikan Pokok Permasalahn dan Mendiskusikannya
Dalam kelompok, pokok permasalahan atau topik yang ada disampaikan dan dibahas satu persatu. Setiap topik dibahas secara tuntas. Setelah suatu persoalan selesai dibahas, pemimpin tim mengidentifikasi peserta yang setuju dengan pembicara- yaitu mereka yang menunjukkan warna hijau. Pemimpin tim juga mengidentifikasi mereka yang tidak setuju dan yang netral  (menunjukkan warna kuning). Tujuan pembahasan adalah mendapatkan sebanyak-banyaknya peserta yang menunjukkan warna hijau.
Selama diskusi, pemimpin tim mendaftar semua gagasan yang muncul.
Perlu diingat, apabila dengan cepat hampir semuanya menunjukkan warna hijau jangan langsung beranggapan bahwa solusi yang didapat adalah solusi yang terbaik. Jangan pula beranggapan solusi yang telah didapat tersebut merupakan satu-satunya cara mencapai Konsensus. Carilah kemungkinan adanya solusi lain yang lebih baik.
Jika semua anggota tim menunjukkan warna merah, mungkin pemimpin tim perlu memecahkan kebuntuandengan memberikan waktu istirahat terlebih dahulu.

Pembicara pertama, Nancy memulai dengan berkata…
“menurit saya, masalahnya bukanlah pada desain, tetapi pada target pasar yang dituju. Jika kita bisa menemukan segmen pasar yang sesuai dengan citra dan produk Human Cycle, mungkin kita bisa lebih berhasil di pasar.” Setelah Nancy mengemukakan pemikirannya, dua rekan nancy menunjukkan kartu hijaunya. Tetapi Diana menggelengkan kepalanya dan menunjukkan kartu merah. Sementara itu, enam anggota tim lainnya menunjukkan kartu warna kuning.
Diana bertanya,”Berarti kita harus mencari pelanggan baru. Siapa yang dimaksud dengan pelanggan baru tersebut? Dimana kita bisa menemukan mereka? Menurut Anda sebaiknya siapa pelanggan baru kita?”
Nancy menjawab,”Baik Diana, target pasar kita saat ini adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Tetapi menurut saya, desain yang kita buat diperkirakan akan menarik bagi orang yang berusia di atas 35 tahun. Lihat saja pada desain keseluruhan, ukuran sadel, warna-warnanya, dan juga keranjang di belakang.”…

Segera setelah Nancy..
Menjelaskan alasan dibalik “pasar diatas usia 35,”anggota tim mengubah posisi kartunya dengan menunjukkan warna hijau. Diana menunjukkan kartu kuning-nya, dan berkata,”Menurut saya, basis pasar kita saat ini adalah orang berusia di atas 35. Lagi pula, siapa yang membelikan sepeda untuk anak usia dibawah 18 tahun? Orang yang berusian di atas 35 juga kan?” Ketika didesak lebih jauh oleh anggota tim yang lain, Diana mengakui bahwa rancangan Human Cycle juga sesuai untuk orang yang berusia di atas 35. Dengan ucapannya ini, dia setuju untuk menunjukkan kartu hijaunya.
Kemudian Peter menghentikan diskusi kelompok dan berkata,”Lihat, kita semua hampir hijau, sedikit kuning, dan tidak ada yang merah. Apakah ini berarti kita telah memecahkan masalah desain dengan mengubah target pasar? Jika memang demikian, berarti betapa mudahnya keputusan ini kita buat.”…

Jefry, desainer terkemuka, mulai tertawa…
Dan mulai ikut ambil bagian dalam diskusi dengan mengingatkan bahwa sumber uang dalam bisnis mereka adalah sepeda anak-anak, bukan sepeda dewasa.”Human Cycle harus melakukan segala hal untuk bisa menrik pasar tersebut,” jelas Jefry, “Jika ada orang telah berusia 28 tahun dan belum pernah membeli sepeda, dia mungkin tidak akan pernah membelinya karena dia tidak akan menginginkan sepeda untukk anak-anak berusia 15 tahun. Tetapi, anak-anak mungkin memiliki dua atau tiga sepeda sekaligus. Kita harus mengubah desain kita agar bis menarik kesetiaan pelanggan muda.”
Begitu Jefry mengemukakan gagasannya, terjadi perubahan besar-besaran pada warna kartu dalam ruangan. Beberapa anggota tim dengan cepat mengubah warna kartunya menjadi merah. Sebagian besar mengubah kartunya menjadi kuning. Mereka yang toleran masih tetap menunjukkan warna hijau. Dua anggota tim ingin mengetahui bagaimana Jefry akan menentukkan desain terbarunya. Jefry membuat sket mengenai proses survei dan tes yang menurutnnya terbaik.
Peter mengingatkan tim bahwa mereka masih memiliki kesempatan menyampaikan dan mendiskusikan lebih banyak gagasan lagi…


Langkah 4: Menutup Sesi Metode kartu Konsensus
Sesi metode kartu konsensus sudah saatnya ditutup bila:
Ø  Semua anggota tim menunjukkan warna hijau atau kuning pada Kartu Konsensusnya, yang mengindikasikan bahwa konsensus telah dicapai (dengan mencakup semua gagasan yang telah disajikan dan digali).
Ø  Pemimpin tim telah mengkaji semua gagasan yang dihasilkan dan yakin bahwa semua orang paham, menerima, dan mendukung gagasan serta implikasinya.
Ø  Anda telah membuat daftar keputusan yang dihasilkan dan menyepakati langkah berikutnya yang sesuai.
Ø  Anda yakin bahwa tidak ada orang yang terabaikan atau menyimpan rasa tdiak puas.
Ø  Anda telah mengucapkan terima kasih kepada semua peserta atas waktu dan pemikirannya.
Setelah diskusi belangsung selama 75 menit..
Kelompok tersebut menyadari bahwa mereka telah “kehabisan pembucaraan.” Peter membaca daftar gagasan yang dihasilkan:
1.      Mensurvei anak berusia dibawah 18 tahun dan mengujinya dengan desain yang baru.
2.      Menargetkan iklan model sepeda yang ada sekarang untuk orang “di atas 35 tahun.” Menargetkan iklan model sepeda rancangan baru untuk anak “di bawah 18 tahun.”
3.      Tidak membuat lagi model sepeda untuk orang “di atas 35 tahun.” Ubah model yang sudah ada secukupnya selama tahun depan agar tampak baru hingga bisa laku terjual.
4.      Selama masa eralihan dari model lama ke model baru, menjual dua model untuk pasar usia di bawah 18 tahun.
5.      Mengusahakan pergantian model lama ke model baru dalam waktu lima tahun.